NovelToon NovelToon
Mahar 5000

Mahar 5000

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Romantis / Pengantin Pengganti / Duda
Popularitas:132k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

"Maharnya cuma lima ribu? Ya ampun, buat beli gorengan aja kurang!"

Karena penghianatan dari Rava, calon suaminya, Citra memaksa Rama, ayah Rava untuk menikahinya. Tak perduli dengan mahar 5000, asalkan dia bisa membalas perbuatan Rava.

"Aku sudah naik pangkat jadi ibumu! jangan macam-macam denganku!"

baca, tekan suka, tinggalin komentar ya.😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9

“Eh, lihat deh itu! Kemarin anaknya nikah cuma dimaharin 5000 aja.”

Suara serak seorang ibu menembus keramaian kecil di warung depan gang. Tawa-tawa kecil menyusul, samar tapi menusuk seperti jarum halus.

"Eh, yang bener?"

"Loh, kemarin ibu nggak datang?"

Bu Maya yang sedang memilih cabai merah berhenti sejenak. Tatapannya naik perlahan, menatap si mulut ember—Bu Ningsih—yang sedang menyeringai sambil menepuk pundak temannya.

“Eh iya, aku juga denger,” timpal Bu Ririn, mencondongkan tubuhnya ke depan. “Lelakinya itu, ya ampun, jauh lebih tua. Kasihan si Citra, masih muda udah—”

“Udah apa?” potong Bu Maya cepat. Nadanya tegas, membuat ibu-ibu lain menahan tawa yang hendak pecah. “Kalau mau ngomong, jangan setengah-setengah. Anak saya menikah dengan lelaki baik-baik. Mahar lima ribu itu hanya simbol, bukan ukuran kebahagiaan.”

Warung tiba-tiba hening. Hanya suara plastik kresek dan ayam yang berkokok di kejauhan.

“Jadi bener cuma dimahar 5000? Ih, murah bener...”

“Memangnya kenapa?” sela Bu Maya lagi, kali ini dengan nada lebih dingin.

“Jangan-jangan udah bunting lagi, makanya diobral.”

"Heh! Jaga mulut kau, ya! Citra kudidik dengan baik! Enggak ada dia bunting-bunting duluan! Jangan suka nyebar fitnah, hoax!"

Ia meletakkan uang di meja, mengambil belanjaannya, lalu melangkah pergi dengan dagu terangkat. Namun begitu punggungnya menghilang di tikungan, bisik-bisik itu kembali pecah.

“Pasti udah hamil duluan, tuh.”

“Ih, pantes aja buru-buru dinikah.”

“Mana lakinya tua, miskin, mahar lima ribu pula… kasihan bener.”

"Iya, padahal, kan, Citra masih muda dan cantik, kan ya."

"Eh, tapi, kulihat kemarin ganteng kok orangnya."

"Masa Jeng?"

"Iya, aku belum pulang waktu itu. Jadi sempat lihat mukanya, ganteng."

"Heleh, yang tua mana ada yang ganteng."

"Yah, namanya juga sudah barang bekasan, ya diobrallah, Bu Ibu."

####

Di sepanjang jalan dari warung ke rumah, Bu Maya terus mengomel dan menggerutu dengan wajah masam. Pagi ini, moodnya benar-benar sedang diuji.

"Dari mana, May?"

Maya menoleh ke rumah sebelah, tempat tinggal adik iparnya, Yani. Ia hapal betul, adik iparnya itu pasti hanya ingin nyari ribut.

"Habis dari warung?"

"Udah tau nanya," jawab Maya ketus.

"Lah, ditanya baik-baik malah nyolot."

Maya memutar mata malas, "Enggak ada tenaga aku layanin kamu."

"Hihihi, kenapa? Kena mental sama ibu-ibu di warung?"

Maya hanya melirik, tapi bibirnya rapat.

"Makanya, kalau punya anak tuh, jangan keganjenan. Lagian ngapain sih, maksa-maksain nikah? Jadi bahan gosip orang sekampung kan?"

“Yani, kalau kamu nggak punya sesuatu yang baik untuk dikatakan, lebih baik diam.”

Yani justru terkekeh. “Lho, aku cuma tanya, May. Namanya juga keluarga sendiri. Takutnya… ada apa-apa yang disembunyiin.”

Maya mencoba nahan diri, tapi Yani malah makin menjadi. "Kalian enggak simpan foto nikahnya, May? Wah, jangan-jangan tuh laki udah peyot ya? jelek ya? Miskin ya? Hahahah."

geram, Maya memukulkan sayur Kangkung ke karah Yani. "Jaga mulut kau ya? Makanya nongol pas nikahan Citra, jadi nggak penasaran. Penasaran kamu kan? Nanti kalau lihat, pasti kaget!"

"Heh, kau ya!? Main tapok-tapok aja!" teriak Yani dengan berkacak pinggang.

Pak Haris yang mendengr suara ribut-ribut, langsung keluar dari dalam rumah.

“Yani, sudah cukup,” katanya tenang tapi berwibawa. “Jangan bikin suasana panas. Maya, kamu masuk aja, jangan diladeni.”

“Tapi, Mas—”

“Masuk, Maya,” tegasnya lagi.

Bu Maya mengembuskan napas keras, lalu melangkah ke dalam. Namun sebelum menutup pintu, ia sempat menoleh sebentar. Kebetulan saat itu ia baru saja melihat Cantika baru turun dari ojek online.

“Yani, daripada sibuk ngurus anak orang, mending urus anakmu sendiri. Jangan sampai nanti malah terbukti, yang hamil duluan itu bukan Citra, tapi Cantika.”

Kata-kata itu menghantam seperti cambuk. Wajah Yani memerah, matanya membulat marah.

“Mulutmu itu ya, Mbak! Seenaknya aja ngomong! Anak aku nggak kayak anakmu yang malu-maluin keluarga!”

Pintu rumah Bu Maya tertutup keras.

Begitu sampai di rumah, Bu Maya langsung meletakkan kantong belanja dengan keras di meja makan. Napasnya memburu, bukan karena lelah berjalan, tapi karena panas di dada yang tak kunjung padam.

“Sudah seminggu, ya Allah… seminggu lebih mereka masih aja ngomongin anakku!” gerutunya sambil menata cabai dan bawang dengan gerakan kasar. “Nggak punya kerjaan lain apa, selain ngomongin keluarga orang?”

Sementara itu,

Di ruang tengah, Cantika baru saja pulang. Rambutnya masih lembap, matanya sayu, tapi senyum di bibirnya belum sempat merekah ketika mendengar ibunya dan Bude Maya saling berteriak.

“Ma… kenapa sih tadi ribut lagi sama Bude?” tanyanya pelan.

Yani mendengus, masih kesal. “Biarin aja, bude kamu itu emang nyolot! Ngomong anak orang hamil segala. Padahal anaknya sendiri yang kawin sama kakek-kakek.”

“Ma…” Cantika menarik napas panjang.

“Emangnya kenapa? jangan menggurui mama!” seru Yani lagi. “Kamu cepat aja resmikan pernikahanmu sama Rava! Biar orang-orang tahu, yang pantas buat Rava itu kamu, bukan si Citra itu!”

Cantika terdiam. Ia menatap ibunya dengan campuran bingung dan tidak nyaman.

“Ma, Rava belum mau, kok,” ujarnya hati-hati. “Katanya, kalau kita langsung resepsi sekarang, orang-orang malah ngomong lebih parah. Soalnya Citra baru aja menikah. Nanti malah aku yang dibilang rebut calon orang.”

Yani menatap anaknya tak percaya. “Kamu enggak ngrebut, Cantika! Kamu yang kenal duluan sama Rava! Bukan Citra!”

Cantika menghela napas pelan. Memang dulu dia dan Rava pernah satu SMP, bahkan sampai SMA. Sementara dengan Citra baru satu sekolah saat SMA. Cantika sendiri tak habis pikir, kenapa Rava bisa lebih memilih Citra dibanding dirinya.

#####

Sementara itu, di kota lain, Citra duduk di Selasar halaman depan. Layar menampilkan beberapa chat dengan teman-teman yang sempat berinteraksi dengan Rava. Mereka tak ada yang tau di mana mantan pacarnya itu.

"Aneh banget, dia ngilang kemana sih? Udah dicari rumah, di sekolah, bahkan di tempat yang sering kami kunjungi dulu. Tapi semuanya enggak ada."

Citra kembali menelusuri akun media sosial Rava. Bahkan dia sempat menggunakan akun baru hanya untuk mencari. Tapi, akunnya Rava tak aktif.

Citra mengembuskan napas berat. Ia menatap halaman taman yang hijau, lalu berbisik pelan, “Kamu di mana, Rava? Kenapa ninggalin aku kayak gini…”

Pikirannya melayang ke hari pernikahan itu—hari yang seharusnya jadi momen bahagia, tapi berubah jadi kabut malu. Rava tak datang. Lalu muncullah Rama yang sama bingungnya.

“Aku nggak akan lupain ini, Rava,” gumamnya getir. “Aku pasti bakal balas semua perbuatanmu. Tapi, gimana aku bisa balas kalau kamu aja ngilang gini?”

"Cit!"

Citra tersentak, dia buru-buru menutup ponselnya dan menyimpan di meja sebelah dia duduk.

"Iya, pak Rama?"

Rama muncul dan langsung duduk di samping Citra. Mereka hanya bersekat meja.

"Pak Rama udah pulang?" tanyanya basa-basi.

"Nih."

"Apa ini pak?"

Citra menerima amplop biru bertuliskan sebuah bank ternama.

"Itu buku tabungan, sama ATM," jelas Rama enteng."Kita kan udah nikah, jadi aku harus penuhin kebutuhan kamu. Itu nafkah dariku."

Citra tercekat, dia membuka amplop itu, beserta buku tabungan. Di sana tertera nama Citra Kirana Larasati.

"Li-lima belas juta, Pak?" ujarnya tercengang. Nominal yang sangat besar untuknya.

Rama mengangguk, "Sementara segitu dulu, ya."

Citra tercengang lagi, "Se-sementara, Pak?"

Rama terkekeh geli dengan respon Citra yang sampai ternganga itu.

"Kalau sementara, jadi ada kemungkinan lebih besar, ya Pak?"

Rama mengacak rambut Citra, gemas juga. "Ayo ikut!"

"Ke-kemana, Pak?"

"Mama sama papa berencana silaturahmi ke rumah Ayah. Jadi, kita harus bawa-bawa oleh-oleh," kata Rama sambil berdiri. "Skalian, aku mau bungkam mulut nyinyir tetanggamu," sambungnya tersenyum penuh arti.

"Enak aja aku dikatain orang tua kere."

1
partini
ku kira suaminya lani tegas ehh melohoyyy,dah tau lihat pula istri nya kaya gitu
Rahmawati
selamat ya citra dan Rama, akhirnya Rama akan punya darah daging sendiri
Rahmawati
kayaknya fadli nih yg bunuh daud
Rahmawati
penasaran siapa yg ngomong sama Daud tadi itu,
Rahmawati
lani ketakutan gitu, berarti bener rava buka anak biologis rama
Rahmawati
nah nah, apa rava bukan anak Rama ya
Rahmawati
opo meneh to, nenek peyot😂
Rahmawati
setres bu lani ini, gagal move on padahal udah punya suami
Rahmawati
makanya belajar sopan santun km cantika
Rahmawati
ke PD an km lani😂
Rahmawati
enaknya punya mertua kayak bu lilis
Dhita💋🄳🄾🅄🄱🄻🄴'🄰👻ᴸᴷ
anak ku lahir Oktober 2011
meninggal Juni 2012
Dhita💋🄳🄾🅄🄱🄻🄴'🄰👻ᴸᴷ
ya allah cerita ini sama seperti aku yang kehilangan anakku di usia 7 bulan sedih
😭😭
tenny
suaminya lani namanya rubah2 kadang Fahri kadang Fadli entah mana yg bener 😄
tenny: semangat Thor 🤣🤣🤣
total 2 replies
Rahmawati
cantika gk tau diri bgt
Rahmawati
syukurin km rava, siapa suruh tinggal dirumah rama
Ma Em
Innalillahi wainnailaihi rojiun Cinta anak yg blm punya dosa pasti akan masuk sorga , semoga Cantika dan Rava diberikan kesabaran menghadapi cobaan ini manusia hanya berusaha tapi nasib Allah yg menentukan .
Rahmawati
gk boleh dong, nanti rava gangguin citra lagi
Rahmawati
beruntung bgt pak Rama dapet gadis ting ting
Rahmawati
dih si pak Bram cuma numpang beol😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!