NovelToon NovelToon
Scandal In Berlin

Scandal In Berlin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers
Popularitas:811
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Kharisma

Maximilian Hoffmann, CEO raksasa otomotif Jerman yang dingin, memiliki satu tujuan: menghancurkan sisa-sisa keluarga Adler yang ia yakini sebagai penyebab kehancuran ayahnya. Kesempatan itu datang saat Sophie Adler melamar menjadi sekretaris pribadinya dengan identitas tersembunyi demi membiayai pengobatan ayahnya. Max yang sudah mengetahui rahasia Sophie, sengaja menjebaknya dalam lingkungan kerja yang toksik dan penuh tekanan di kantor pusat mereka di Berlin. Namun, di balik dinding kaca yang kaku, ketegangan benci mulai berubah menjadi obsesi posesif. Di tengah sandiwara cinta dan dinginnya musim dingin Eropa, mereka menemukan bahwa musuh yang sebenarnya bukanlah satu sama lain, melainkan rahasia kelam yang terkubur jauh di masa lalu keluarga mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mulai percaya

Lampu kamar ayahnya berpendar hangat, sangat kontras dengan kedinginan yang Sophie rasakan di ruang kerja Max beberapa jam lalu. Setelah tumpukan dokumen itu selesai ia bedah di bawah tatapan tajam Max, pria itu akhirnya membiarkannya pergi—meski tanpa kata-kata, hanya dengan lambaian tangan kasar yang menyembunyikan keletihan luar biasa.

Kini, Sophie duduk di sisi tempat tidur ayahnya. Ruangan itu sunyi, hanya diisi oleh suara teratur dari mesin pemantau jantung dan desis oksigen. Ia meraih tangan Hans yang kurus, menggenggamnya erat di antara kedua telapak tangannya, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya ke sana.

"Ayah..." bisik Sophie lirih. Matanya yang sembab menatap wajah Hans yang tampak begitu damai dalam tidurnya yang dipicu obat-obatan. "Apartemen kita sudah tidak ada. Papan itu... semua catatanku terbakar habis."

Ia terdiam sejenak, menundukkan kepala hingga keningnya menyentuh punggung tangan sang ayah. Air matanya jatuh perlahan, membasahi kulit keriput Hans.

"Tapi aku janji, Ayah. Aku tidak akan berhenti. Aku sudah melihat angka-angka itu di komputer Max. Kebenaran itu ada, tersembunyi di balik tumpukan angka yang dibuat Richard. Aku akan membuktikan bahwa kau tidak bersalah, lalu kita akan pergi jauh dari sini."

Sophie menarik napas panjang, mencoba menenangkan isaknya. Ia terdiam cukup lama, sebelum akhirnya ia mulai menceritakan sosok yang kini menjadi pelindung sekaligus penjara bagi mereka.

"Ayah tahu? Pria yang membawamu keluar dari api itu... dia adalah putra dari musuh kita," Sophie bercerita dengan suara yang sangat lembut, seolah sedang mendongeng. "Dia pria yang sangat menyebalkan. Dia arogan, posesif, dan selalu bertindak seolah dunia adalah miliknya. Dia seringkali membuatku ingin berteriak karena keras kepalanya."

Sophie tersenyum tipis, sebuah senyum pahit namun penuh rasa terima kasih yang tak bisa ia ungkapkan langsung pada orangnya.

"Tapi di balik semua topeng itu, Ayah... dia adalah pria yang baik. Berkali-kali dia menyelamatkanku." Sophie memejamkan mata, memutar kembali memori saat mobilnya mati di pinggir jalan yang gelap, teror sabotase lift di kantor yang nyaris merenggut nyawanya, hingga peristiwa kebakaran kemarin malam. "Dia tidak peduli pada lukanya sendiri, dia tidak peduli bahwa dia adalah seorang Hoffmann. Dia hanya ingin kita selamat. Aku benar-benar telah berhutang nyawa padanya, Ayah."

Sophie memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan satu tetes air mata terakhir jatuh dan pecah di atas tangan ayahnya, membawa serta doa tulus yang ia simpan untuk sang musuh yang diam-diam telah mencuri hatinya.

Tanpa Sophie sadari, di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Maximilian berdiri mematung. Ia mendengar setiap kata, setiap getar suara, dan setiap doa yang diucapkan Sophie untuknya. Genggamannya pada gagang pintu mengeras, bukan karena amarah, melainkan karena rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya.

Maximilian melepaskan pegangan pada gagang pintu dengan gerakan sangat pelan, seolah takut suara sekecil apa pun akan menghancurkan momen kejujuran yang baru saja ia curi dari bibir Sophie. Ia berbalik, melangkah menjauh menuju ruang kerjanya dengan perasaan yang bergejolak hebat. Kata-kata Sophie—tentang dirinya yang terjebak dalam jaring kebohongan Richard—terus terngiang seperti lonceng peringatan di kepalanya.

Sampai di ruang kerja, Max menyalakan kembali layar monitor. Ia tidak lagi menatap dokumen itu dengan mata seorang atasan yang angkuh, melainkan dengan ketajaman seorang detektif yang mencari retakan pada dinding beton. Ia mulai mencocokkan argumen Sophie tentang stempel waktu dan aliran dana bypass dengan data internal yang hanya bisa diakses oleh level CEO.

Semakin dalam ia menggali, semakin Max merasakan mual di perutnya. Laporan-laporan ini memang dimanipulasi secara artistik; sangat rapi, namun memiliki pola yang sama—pola yang dirancang untuk mengambinghitamkan Hans Adler.

Tepat saat ia menemukan dokumen digital yang membuktikan adanya penghapusan log aktivitas sistem pada malam sabotase sepuluh tahun lalu, pintu ruangan terbuka. Lucas masuk dengan napas yang tidak teratur.

"Tuan," suara Lucas berat, membawa kabar yang lebih dingin daripada salju musim dingin. "Saya baru saja menerima laporan dari Nyonya Beatrice. Tuan Richard... beliau telah memerintahkan anak buahnya untuk melacak posisi kita."

Max mengangkat wajahnya, tatapannya tajam. "Biarkan saja. Dia tidak akan bisa menembus enkripsi lokasi ini dengan cepat."

"Bukan itu saja, Tuan," Lucas menjeda, matanya menatap Max dengan tatapan iba sekaligus waspada. "Tuan Richard memberikan perintah eliminasi total. Beliau menargetkan keluarga Adler dan… Anda juga, Tuan. Siapa pun yang ada di vila ini dianggap sebagai musuh yang harus dimusnahkan."

Max tertegun. Kursi kebesarannya seolah berhenti berputar. "Aku?" bisiknya tak percaya. "Ayahku memerintahkan untuk membunuh darah dagingnya sendiri?"

Keheningan menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik yang menyakitkan. Max tertawa getir, sebuah tawa kering yang pecah di tenggorokan. Rasa tidak percaya itu perlahan berubah menjadi kepastian yang mutlak. Jika Richard sampai tega melenyapkan putranya sendiri, maka semua yang dikatakan Sophie benar adanya. Richard tidak melakukannya hanya karena dendam pada Hans, ia melakukannya karena ia adalah iblis yang berusaha mengubur kejahatannya di bawah tumpukan mayat, termasuk mayat anaknya sendiri.

"Begitu rupanya," desis Max. Matanya kini berkilat dengan kegelapan yang mematikan. "Dia lebih takut pada kebenaran daripada kehilangan satu-satunya anak yang ia miliki."

Keraguan Max sirna sepenuhnya. Rasa hormat dan loyalitas yang ia jaga selama puluhan tahun hancur berkeping-keping. Sekarang, ia tidak lagi memiliki alasan untuk melindungi nama baik keluarga Hoffmann yang busuk.

"Lucas," panggil Max, suaranya kini tenang namun mengandung otoritas yang sangat berbahaya.

"Iya, Tuan?"

"Perkuat keamanan di seluruh titik buta vila ini. Aktifkan protokol pengamanan tertinggi. Jika pembunuh bayaran itu sampai menemukan tempat ini, pastikan tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menginjakkan kaki di teras depan," perintah Max. Ia berdiri, menatap layar monitor yang menampilkan bukti kejahatan ayahnya. "Jangan biarkan siapa pun mencelakai Adler. Terutama Sophie. Lindungi dia dengan nyawamu jika perlu."

Lucas mengangguk mantap, menyadari bahwa tuannya baru saja mendeklarasikan perang terhadap ayahnya sendiri. "Saya laksanakan, Tuan."

Setelah Lucas pergi, Max berdiri di dekat jendela, menatap hutan gelap di luar sana. Ia tahu Richard akan datang dengan segala kekuatannya, tapi Max juga tahu satu hal: ia tidak akan membiarkan api yang sama menghanguskan Sophie untuk kedua kalinya.

...****************...

Begitu pintu ruang kerja tertutup, Lucas tidak membuang waktu satu detik pun. Karakter tenang dan sopan yang biasa ia tunjukkan di depan Sophie menguap, digantikan oleh efisiensi dingin seorang mantan letnan unit taktis elit yang kini menjabat sebagai garda terakhir Maximilian Hoffmann.

Lucas melangkah cepat menuju ruang kendali bawah tanah vila—sebuah bunker tersembunyi yang hanya diketahui olehnya dan Max. Di sana, deretan layar monitor menampilkan sudut pandang 360 derajat dari kamera thermal dan sensor gerak yang tertanam di pepohonan hutan Schwarzwald.

"Aktifkan Protokol Iron Curtain," perintah Lucas pada dua operator keamanan yang sudah bersiaga di sana.

Jari-jemarinya menari di atas keyboard dengan kecepatan yang mengerikan. Dalam hitungan detik, serangkaian barikade baja ringan muncul dari bawah tanah di sekeliling perimeter utama vila. Sensor laser yang tadinya pasif kini berpendar merah tipis di antara batang-batang pohon pinus, siap mendeteksi anomali sekecil apa pun.

"Tuan, ada pergerakan tiga kilometer dari gerbang luar. Lima kendaraan SUV hitam tanpa plat nomor," lapor salah satu operator.

Lucas menyipitkan mata menatap layar. Ia mengenali taktik itu—taktik pengepungan yang sering digunakan oleh tim pembersih Richard. "Mereka bergerak lebih cepat dari perkiraanku. Richard benar-benar sudah kehilangan kesabaran."

Lucas meraih radio taktisnya. "Unit Satu dan Dua, ambil posisi di Point Alpha. Gunakan peluru perumpuh jika memungkinkan, tapi jangan ragu untuk eliminasi jika mereka melewati garis merah. Jangan biarkan satu pun peluru mengarah ke sayap medis atau ruang kerja Tuan Muda."

Keahlian Lucas bukan hanya pada teknologi, tapi pada antisipasi. Ia tahu Richard pasti sudah meretas satelit cuaca untuk memantau vila ini. Dengan cepat, Lucas meluncurkan serangkaian signal jammer yang akan menciptakan "titik buta" di atas wilayah vila, membuat pantauan udara Richard menjadi buram dan tak berguna.

Ia kemudian memeriksa layar yang menampilkan koridor menuju kamar Hans dan Sophie. Ia melihat Sophie masih berada di samping Hans melalui kamera tersembunyi. Lucas menghela napas pendek. Ia harus memastikan benteng ini tak tertembus, karena ia tahu bagi Max, kegagalan Lucas berarti hilangnya alasan pria itu untuk tetap hidup.

"Lucas di sini," ia berbisik ke radio pribadinya. "Pastikan semua jalur keluar darurat bersih. Jika situasi memburuk, kita bawa Tuan Muda dan Nona Adler lewat jalur bawah tanah. Dan satu hal lagi..."

Lucas mengisi peluru ke dalam senjata laras pendeknya dengan bunyi klik yang mantap. "Siapa pun yang menembakkan peluru pertama ke arah vila ini, pastikan mereka tidak punya kesempatan untuk menembakkan yang kedua."

Di bawah komando Lucas, vila yang tadinya tampak seperti bangunan mewah yang damai kini berubah menjadi mesin perang yang mematikan. Ia adalah bayangan Maximilian, tangan yang melakukan pekerjaan kotor agar Max bisa tetap menjaga Sophie di dalam jangkauan matanya.

1
Amaya Fania
loh bukannya max punya adek kemarin?
Ika Yeni
ceritanyaa bagus torr menarikk,, semangat up ya thir😍
Babyblueeee: Ditunggu yaaaa 🤭
total 1 replies
Amaya Fania
udah gila si richard, anak sendiri mau dipanggang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!