Alea adalah wanita malang yang terpuruk dan hampir gila karena kehilangan bayi dan suaminya dalam satu waktu. Namun di saat itulah ia bertemu dengan seorang wanita asing yang memberikan bayi laki-laki padanya. Tanpa menaruh curiga Alea menerima bayi itu.
Siapa yang sangka jika bayi tersebut akan merubah masa depannya. Sebab bayi laki-laki itu ternyata adalah putra dari seorang konglomerat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 9 Rewel
Pagi hari sebelum berangkat bekerja, Alea melipat kemeja putih yang semalam ia cuci. Memasukkannya ke dalam paper bag agar mudah dibawa ke restoran. Pemilik kemeja bilang akan datang hari ini untuk mengambilnya.
Selesai dengan semua persiapan, Alea segera menggendong Shane. Kondisi bayi itu masih panas, tapi sudah sedikit turun suhunya. Tidak sepanas kemarin.
Dengan semangat yang sama setiap hari, Alea melangkah keluar dari apartemen. Berharap hari ini pekerjaannya berjalan lancar, sampai ia gajian di awal bulan nanti.
Sayangnya, baru saja sampai di restoran, Nyonya Merry menyuruhnya kembali pulang.
"Nyonya kumohon pertimbangkan lagi. Aku butuh pekerjaan ini untukku dan Shane. Tolong pikirkan lagi untuk tidak memecatku," mohon Alea.
"Maafkan aku Alea, aku tidak bisa lagi memperkerjakanmu di sini. Aku butuh orang yang profesional. Bukan yang ceroboh."
Alea menyadari ucapan Nyonya Merry, tapi ia tak berhenti memohon. "Aku berjanji akan profesional, Nyonya. Aku tidak akan ceroboh lagi."
"Apa kau bisa meninggalkan Shane di rumah?"
Alea terkejut dengan pertanyaan Nyonya Merry. Bagaimana mungkin bosnya menanyakan itu. Sementara selama ini ia biaska bekerja dengan membawa Shane. "Nyonya, Shane masih menyu*u padaku. Bagaimana mungkin aku meninggalkannya di rumah?"
Nyonya merry mende*ah kasar. "Kalau begitu, keputusanku untuk tidak mempekerjakanmu lagi di sini adalah tepat. Aku tidak bisa menerimamu bekerja bersama putramu karena itu sangat mempengaruhi pekerjaanmu. Sekali lagi maafkan aku Alea, keputusanku sudah bulat."
Nyonya Merry mengulurkan sebuah amplop dan menaruhnya di tangan Alea, lalu pergi meninggalkan Alea ke ruangannya.
Alea menatap hampa pada amplop coklat di tangannya. Air matanya mendadak luruh. Dalam hati berkecamuk pilu. Membayangkan nasibnya ke depan bersama Shane. Ia menatap Shane yang tertidur. Bayi itu terlihat lelap. Mungkin efek obat yang tadi ia berikan sebelum berangkat.
"Kita pulang, Sayang," gumam Alea.
Berat hati, Alea meninggalkan restoran. Baru juga melangkah keluar restoran, Alea teringat akan kemeja yang ia cuci semalam. Ia pun kembali masuk.
"Mau apa lagi, Alea? Bukankah bos sudah menyuruhmu pulang? Apa kau tidak dengar, hah!" Carmen yang masih membersihkan meja langsung menghadang Alea begitu wanita itu kembali masuk ke restoran.
Alea mengangkat sebuah paper bag. "Aku ingin menitipkan ini. Barangkali pemiliknya akan datang untuk mengambil."
Dengan kasar Carmen merebut paper bag dari tangan Alea. "Kalau begitu pulanglah!"
Alea langsung balik badan. Tanpa pamit pada Carmen.
"Bagusnya memang seorang sepertimu tidak bekerja di sini. Dasar penjilat!" umpat Carmen.
Alea mendengar apa yang Carmen ucapakan, tapi ia tak ingin membuat keributan apa lagi masalah. Ia lanjutkan langkah untuk meninggalkan restoran.
Sepanjang jalan, Alea terus meratapi nasibnya yang tak beruntung. Mendadak banyak kekhawatiran melanda dalam dada. Namun, ia tak bisa berbuat banyak.
***
"Sttt ... tenanglah, Sayang. Ibu ada bersamamu. Ayo minum lagi?" bujuk Alea pada Shane yang terus saja menangis. Bayi itu bahkan tidak mau menyusu.
Sejak pulang dari restoran tadi pagi, Shane menjadi gelisah. Terus saja rewel. Alea bingung menghadapi Shane yang tak seperti biasanya.
"Sayang, kumohon tenanglah." Alea sampai menangis, karena tidak tahu harus berbuat apa. Tidak ada orang lain yang membantu atau sekadar memberitahu apa yang harus Alea lakukan untuk membuat Shane berhenti menangis.
"Shane, tenanglah. Ayo minum lagi. Jangan menangis seperti ini." Alea sedikit berteriak. Ia frustasi dengan bayinya. Shane semakin menangis kencang, dan Alea pun sama. Ia juga menangis.
Sambil menggendong Shane, Alea terduduk lemas di lantai. Bersandar ujung ranjang, ia ikut menangis bersama Shane.
"Jangan seperti ini, Shane. Ibu takut," ujar Alea memeluk putranya. Ia menempelkan pipinya pada pipi Shane. Kulit bayi itu terasa panas.
Obat yang ia berikan tadi sore sepertinya hanya punya efek menurunkan suhu sebentar saja, karena sekarang bayi kecil itu kembali panas.
Alea bangkit. Sudah saatnya ia membawa Shane ke rumah sakit. Ia tidak mau ambil resiko jika terlalu lama membiarkan Shane tanpa pertolongan. Bagaimanapun, Shane harus kembali sehat. Alea menyambar tas miliknya, berangkat ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit Shane langsung mendapatkan pertolongan. Tim medis bekerja cepat untuk menyelamatkan Shane.
Alea juga memberikan informasi yang diminta oleh dokter. Seperti kapan mulai panas, dan juga sudah berapa lama bayi itu tak mau minum asi. Dengan informasi yang Alea berikan, mempermudah petugas medis memberikan pertolongan pada Shane. Terbukti jika bayi itu mulai tenang dan tertidur setelah mendapatkan suntikan obat.
Petugas medis langsung memindahkan Shane dari ruang IGD ke ruang perawatan. Melihat Shane yang sudah tertidur lelap di dalam bok bayi, Alea pergi keluar untuk mencari makan. Sejak pagi, ia belum memasukkan apa pun ke lambungnya selain minum air putih di rumah.
Ia membeli roti dan juga air mineral. Ia rasa semua itu sudah cukup untuk mengganjal perutnya yang kosong. Tak ingin lama-lama meninggalkan Shane, Alea langsung membayar dan pergi dari cafetaria yang ada di lingkungan rumah sakit.
Langkahnya terburu-buru, karena takut jika Shane terbangun.
Bruk!
Alea terjatuh karena menabrak seseorang. Begitu mendongak, Alea sedikit terperangah.
"Kamu?" tanya orang itu. Tak kalah kaget dengan Alea.