NovelToon NovelToon
Merawat Majikan Lumpuh

Merawat Majikan Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Nikahmuda / Mafia
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Las Manalu Rumaijuk Lily

Indira termangu mendengar permintaan nyonya Hamidah,mengenai permintaan putra dari majikannya tersebut.
"Indira,,mungkin kekurangan mu ini bisa menjadi suatu manfaat bagi putraku,, mulai sekarang kamu harus menyerahkan asimu buat diminum putraku,kami tahu sendiri kan? putraku punya kelainan penyakit ." ujar nyonya Hamidah panjang lebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

mulai curiga..

Arjuna mengumpat dalam hati. Kedatangan Clarissa yang tiba-tiba adalah gangguan yang paling tidak ia inginkan saat ini. Ia menatap Indira yang masih gemetar dengan kemeja terbuka, lalu beralih ke pintu kamarnya.

​"Masuk ke kamarmu lewat pintu penghubung itu. Sekarang! Jangan bersuara sedikit pun kalau kau tidak ingin ibumu tahu apa yang terjadi di sini," bisik Arjuna dengan nada memerintah yang sangat tajam.

​Indira tidak menunggu dua kali. Ia segera berlari masuk ke kamarnya sendiri melalui pintu alternatif tersebut. Begitu Indira lewat, Arjuna segera menutup pintu rahasia itu—yang dari sisi kamarnya terlihat seperti lemari buku yang menyatu dengan dinding—dan menguncinya secara otomatis lewat remote di saklar lampu.

​Tok! Tok! Tok!

​"Sayang? Aku masuk ya!" suara Clarissa terdengar ceria di balik pintu utama.

​Arjuna dengan cepat merapikan kemejanya yang sedikit berantakan, mengambil sebuah berkas secara acak dari meja kerja agar terlihat sibuk, lalu berseru, "Masuklah."

​Clarissa masuk dengan aroma parfum mahal yang menyengat. Ia mengenakan gaun merah ketat yang sangat kontras dengan kesederhanaan Indira. Wanita itu langsung menghambur ke pelukan Arjuna.

​"Suprise! Tadi aku lewat daerah sini, jadi aku pikir kenapa kita tidak makan malam di rumah saja? Aku sudah pesan makanan dari restoran bintang lima, sebentar lagi sampai," ujar Clarissa sambil mendaratkan ciuman di pipi Arjuna.

​Arjuna memaksakan senyum tipis, meski pikirannya masih tertinggal di balik pintu rahasia itu. "Aku sedang sangat sibuk, Clarissa. Harusnya kau mengabari dulu."

​"Sibuk terus! Kamu bau susu, Juna? Kok aromanya aneh?" Clarissa mengernyit, mulai mengendus-endus sekitar leher dan kemeja Arjuna.

​Jantung Arjuna berdegup lebih kencang, namun wajahnya tetap sedingin es. "Itu mungkin aroma lilin terapi di ruangan ini. Akhir akhir ini aku sering pusing karena audit." Arjuna berbohong.

​"Benarkah? aromanya sangat tidak enak di cium,,seperti susu yang bau basi,,ahhh tidak,,seperti susu bayi begitu,," Clarissa tampak bingung menjabarkan bau nya.

"Ahh sudahlah,,kau datang kemari hanya untuk ini hmm? kalau iya lebih baik kau pulang,jangan menggangguku,,aku sedang sibuk!" Arjuna pura pura tersinggung.

"Sayang,,jangan merajuk dong,,kamu ini sensi banget sih!" Clarissa memeluk Arjuna dengan melingkarkan kedua tangannya dileher pria itu.

"Aku tidak suka di interogasi Clarissa,,kau tau itu!" dengus Arjuna dengan wajah datar.

"Maaf loh,,jangan langsung masukkan ke hati,," Clarissa berusaha terlihat lemah gemulai di hadapan Arjuna demi hubungan mereka tidak kandas.

Clarissa menjauhkan dirinya dari Arjuna,Pura-pura sibuk duduk di sofa,padahal dia sedang mual mencium aroma sesuatu yang membuat perutnya bergejolak.

Sementara di kamar satunya lagi...

​Indira menyandarkan punggungnya di balik pintu penghubung yang tertutup rapat itu. Ia bisa mendengar sayup-sayup percakapan mesra Arjuna dan Clarissa. Air matanya mengalir deras. Ia merasa sangat rendah. Di satu sisi, Arjuna memperlakukannya seperti objek pemuas kebutuhan medis, namun di sisi lain, pria itu memiliki kekasih cantik yang ia tunjukkan pada dunia.

​"Aku tidak bisa terus terusan dijadikan seperti ini,,kalaupun aku menjual asiku,aku akan memompa sendiri,,enak saja dia meng kenyot langsung dari wadahnya,,rugi di aku dong," gumamnya sembari menghapus air matanya.

Dia segera menukar seragamnya dengan pakaian rumahan.

kulitnya yang sangat putih dan mulus sangat kontras di bajunya yang berwarna hitam.

Setelahnya Indira keluar kamar,menuju paviliun belakang dimana letak kamar ibunya.

"Bu,,sedang apa?" Indira menghampiri ibunya didapur.

"Menyiapkan makan malam nak,,kamu sendiri ngapain disini?" ibunya balik bertanya.

"Mau buat jus,,aku lapar,," kekehnya berusaha ceria didepan ibunya.

"Biar Siti yang buatkan,,kamu duduk saja disana,,nanti den Arjuna marah kalau ketahuan kamu berkeliaran disekitaran dapur." peringat ibunya.

"Bik Siti yang manis dan bahenol,,buatin jus pokat dong untukku!" Indira merayu pelayan yang bernama Siti itu dengan senyum jahilnya.

"Mau berapa banyak untukmu hmm? satu gelas besar atau kecil?" tanya Siti.

"satu ember kalau bisa bik," canda Indira.

"ohhh,,bagaimana kalau satu galon saja? lebih banyak kan?" sambut Siti lagi dengan candaan.

"Sudah,,sudah,,jangan becanda terus,,Siti,tolong buatkan jus untuk Indira ya?" pinta Darsih pada pelayan juniornya.

"Baik bik Darsih." pelayan itu mengangguk patuh.

"Bu,,aku nggak tahan terus terusan begini,," rengek nya pada sang ibu dengan manja.

Indira memeluk ibunya dari belakang,lalu merebahkan kepalanya di punggung ibunya.

"Sabar lah ya nak,,den Arjuna pasti akan sembuh sebentar lagi,,tolong nyawanya nak,,obat penawar sakitnya ada padamu,,,ibu kasihan pada den Arjuna,," ibunya mencoba membujuk putrinya supaya berhenti merengek apalagi mengeluh soal asi.

"Sampai kapan bu? lama lama aku seperti dikekang habis,bahkan sekolah ku pun dipindahkan tanpa persetujuan ku," rengeknya mendesah.

"Kamu juga beruntung kan den Arjuna menguras asimu? dengan begitu kamu tidak merasa kesakitan lagi,"

"Tapi aku tidak suka bu,,lebih baik aku kerumah sakit menghentikan produksi asi ku ini,,dengan begitu tuan Arjuna tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan ku."

"Indira,,tolong jangan mematikan seseorang karena keegoisan mu sayang,,kamu ingin menghentikan produksi asimu,sementara seseorang bergantung pada cairan yang hendak kamu hentikan,,apa jadinya nanti den Arjuna kalau asimu terhenti?"

Bagi Indira kata kata ibunya sangat pro pada putra majikannya,,bukan dengannya.

"Sebelumnya kan bukan aku yang mendonorkan asi pada tuan Arjuna? kenapa sekarang seolah aku yang bertanggung jawab atas beliau?" protes Indira kesal.

Darsih menghela nafas panjang,

"Anggap saja kejadian yang menimpamu ini adalah perwakilan semesta buat menolong den Arjuna,,"

"Terserah ibu saja kalau begitu,tapi kalau nanti yangku sudah terkumpul banyak,dan aku sudah lulus sekolah,kita akan pindah dari sini," tegas Indira lalu beranjak dari sana.

​Kembali ke Kamar Arjuna

​Clarissa mulai merasa bosan karena Arjuna terus-terusan menatap layar tabletnya. Matanya kemudian tertuju pada sebuah termos pendingin kecil yang ada di atas meja nakas Arjuna.

​"Ini apa, Sayang? Jus?" Clarissa hendak meraih termos yang berisi kantong asi Indira tersebut.

​"Jangan disentuh!" bentak Arjuna spontan, suaranya menggelegar di dalam ruangan.

​Clarissa tersentak, wajahnya memerah karena malu dan terkejut. "Kenapa kamu membentakku? Aku cuma mau lihat!"

​"Itu... itu obat khusus dari dokterku. Tidak boleh terkontaminasi atau terbuka di suhu ruangan," Arjuna berusaha merendahkan suaranya, meski matanya berkilat marah.

​"Kamu makin aneh sejak kita jarang bertemu, Arjuna. Ada yang kamu sembunyikan dariku?" Clarissa berdiri, menatap Arjuna dengan penuh kecurigaan. "Jangan-jangan kamu menyembunyikan perempuan lain di rumah ini?"

​Clarissa mulai berjalan mengelilingi kamar Arjuna, dan langkahnya berhenti tepat di depan lemari buku yang sebenarnya adalah pintu rahasia menuju kamar Indira.

​"Kenapa lemari ini ada lubang kuncinya?" tanya Clarissa sambil memegang handel pintu yang tersamar.

​Bersambung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!