Setelah kesalahan yang dilakukan akibat jebakan orang lain, Humaira harus menanggung tahun-tahun penuh penderitaan. Hingga delapan tahun pun terlewati, dan ia kembali dipertemukan sosok pria yang dicintainya.
Pria itu, Farel Erganick. Menikahi sahabatnya sendiri karena berpikir itu adalah kesalahan diperbuat olehnya saat mabuk, namun bertemu wanita yang dicintainya membuat Farel tau kebenaran dibalik kesalahan satu malam delapan tahun lalu.
Indira, sang pelaku perkara mencoba berbagai cara untuk mendapat kembali miliknya. Dan rela melakukan apapun, termasuk berada di antara Farel dan Humaira.
Sebenarnya siapa penjahatnya?
Aku, Kamu, atau Dia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girl_Rain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Imam Khalis
Pukul delapan pagi pasutri baru telah tiba di restoran. Saat ini mereka berada dalam ruangan khusus bersama seorang pria dengan anak laki-laki di pangkuannya.
"Heh, berani juga lo nunjukin diri setelah kemarin nggak hadir di pernikahan gue," singgung Farel berekspresi datar.
"Kan elu yang ngajak ketemuan. Lagian ya kali gue sempat nyimpan waktu kalo Lo ngasih taunya malam sebelum acara? Pas gue bertugas di luar kota lagi," balas Imam mengulirkan bola matanya.
"Surprise gitu."
"Matamu."
"Aaa, sini 'yuk sama, Tante." Humaira kegirangan akan kehadiran makhluk kecil itu. Mengulurkan kedua tangan dengan harapan anak kecil itu diberikan kepadanya.
Namun Imam justru memindahkan anak laki-lakinya ke sampingnya. "Maaf, Tanzhif tidak boleh berada dalam pangkuan wanita lain."
Humaira menganga. "Kata-katamu seperti menyatakan aku ini pelakor. Yang aku minta gendong itu anaknya Khalisah, bukan suaminya Khalisah."
"Iya, yang kamu minta itu anakku, bukan aku. Kalau aku mah ogah," balas Imam mengibas tangannya seakan jijik.
Humaira sampai menatap tidak percaya atas kelakuan suami sahabatnya. "Gila ya."
Sedangkan Farel cuma tersenyum atas keposesifan sahabatnya.
"Mau bagaimana lagi, ibunya saja nggak sempat pegang, masak aku biarin wanita lain menyentuhnya," terang Imam tersenyum pada putranya.
"اللہ اکبر!" Humaira menghempaskan diri ke sofa. Dirinya kehilangan kata-kata terhadap pernyataan Imam yang terdengar dibuat masuk akal.
"Sudah, kalian jangan ngelirik anakku, anakku sehat. Kalian katakan saja urusan kalian mengajakku ketemuan," tutur Imam ikut menyandarkan diri ke sofa. Sesekali memerhatikan Tanzhif yang duduk anteng sambil mengisap roti selai vanila.
Untuk seorang anak berumur satu tahun, Tanzhif termasuk anak yang tidak berisik bahkan kelewat tenang menurut Humaira. Namun hal tersebut bukanlah sesuatu yang menenangkan bagi Humaira, justru menimbulkan kesedihan di hatinya.
"Apa selama ini kamu selalu membawa Tanzhif ikut denganmu?" tanya Humaira yang masih tertarik membahas anak sahabatnya.
"Ya, begitulah. Aku tidak tenang meninggalkannya dalam pengasuhan orang lain di rumah," jawab Imam.
"Terus kamu bawa bertugas memangnya bikin kamu tenang? Kamu Intel yang tugasnya selidiki tempat kejadian. Kamu nggak takut Tanzhif kenapa-kenapa?"
"Aku belum lama ini kembali berkerja, soalnya setelah lahir Tanzhif aku cuti selama sepuluh bulan. Dan baru kemarin dapat tugas terjun langsung ke lepangan, Alhamdulillah aku nggak terlalu sibuk."
"Alhamdulillah, pangkat kamu bos."
"Iya." Imam mengusap kepala anaknya. Tanzhif tertawa-tawa.
Pandangannya anak itu terfokus pada Humaira yang membuat-buat gerakan tangan.
"Ngomong-ngomong, Ed-Imam.... Gue perlu bantuan lo. Gue mau lo tangkap papanya Indira." ujar Farel.
"Papanya Indira? Indira punya papa?" Bingung Imam, karena setahunya selama masa pertemanan mereka enggak pernah ada istilah papa bagi Indira.
Farel mengangguk. "Iya, aku beberapa kali udah bertemu dengannya. Dia mafia."
"Hah, beneran?" Imam syok berat.
"Iya. Aku menyelidikinya dulu untuk berjaga-jaga dan menjauhkannya dari Indira. Dia mengerikan, pertama kali bertemu denganku dia membawa pistol. Padahal waktu itu aku masih anak-anak."
Langkahnya yang lebar dan menipis jarak hingga tinggal satu meter, berhasil menciptakan getaran pada kaki Farel yang saat itu berusia sepuluh tahun. Namun Farel tetap berdiri tegak dan menepuk lengan yang memeluknya dari belakang. Farel ketakutan, akan tetapi keberadaan Indira yang bergantung padanya menimbulkan keinginan untuk menghadapinya.
"Ikut Papa pulang, Indira." Suaranya yang berat seolah memecahkan kepala Farel.
Farel menekan kuat giginya.
"Enggak mau, aku nggak mau sama, Om." Indira sendiri pun takut, tapi tidak mau menuruti orang yang menyebutkan diri sebagai papanya.
"Aku Papa kamu, Indira. Kalau kamu nggak ikut Papa, kamu bakal tinggal dimana? Mama kamu udah nggak ada," tanya Alex yang seperti membentak itu.
"Indira tinggal bersamaku!" seru Farel secara lantang.
Alex terkejut diiringi tawa jenaka. "Indira tinggal bersama kamu, memangnya kamu punya apa?"
"Aku punya semuanya! Aku akan menjaga, Indira!"
"Menjaga Indira, benarkah?" Alex mengeluarkan pistol dan menyodorkannya tepat di dahi Farel.
Spontan mata Farel melotot atas keterkejutannya, tubuhnya pun langsung merosot sakit takutnya.
"Farel!" Kejut Indira. Dia pun memundurkan langkahnya.
"Kamu bilang akan menjaga Indira, bukan? Itulah janjimu padaku. Kalau kamu melanggar janji, aku akan membunuhmu." Setelah mengatakan itu, Alex meninggalkan mereka.
"Hari-hari selanjutnya sangat jarang kami bertemu, hanya sesekali dalam beberapa tahun Om Alex datang dan meminta Indira pulang bersamanya. Meski begitu, gue tau om Alex selalu menempatkan penjaga di sisi Indira. Indira yang pingsan gara-gara penyakitnya kumat, memerlukan orang untuk membawanya ke rumah sakit," terang Farel.
Imam tampak berpikir. "Ini sulit, soalnya gue memerlukan bukti kejahatan untuk menangkapnya. Namun laporan atas ancaman semalam bisa gue proses."
Lantas Farel meletakkan map di atas meja. "Ini beberapa bukti kejahatan om Alex yang sudah gue kumpulin, ini bisa diterima 'kan?"
"Yah, meski ilegal.... Baiklah." Imam membuka dan membacanya. Reflek saja menjentikkan jari pada kertas itu. "Boleh juga. Penjahat kelas kakap rupanya."
"Tapi ini diluar ranah etiket kerja gue. Gue cuma bisa melapor ke yang dibidang ini," lanjut Imam.
"Baiklah. Mohon bantuannya."
Makanan yang sudah dipesan di awal pun tiba, mereka menyantapnya sambil mengobrol hal-hal ringan.
"Ngomong-ngomong, Humaira berhenti bekerja di toko kue almarhumah Khalisah," timpal Farel membuat Humaira seketika menatapnya.
"Iya, gua bakal nyari pengelola baru," sahut Imam, lalu meminum kopi susunya.
"Aku nggak setuju, aku masih mau bekerja. Khalisah menitipkan tokonya padaku," ucap Humaira menunduk.
Imam meletakkan cangkir. "Aku mengerti perasaanmu. Tapi kemungkinan mencelakaimu di toko oleh mafia ini lebih besar ketimbang di rumah. Setidaknya kamu tidak akan terlalu risih dengan bodyguard yang berada di sekeliling rumahmu, ketimbang di toko."
"Dan lagi, kamu berstatus istri sekarang. Berada di samping suamimu sudah menjadi kewajibanmu," sambung Imam.
Farel menggenggam tangan Humaira. "Maaf, aku egois di bagian ini. Aku mau Kamu di sisiku saja. Lagi pula, jika mengingat sifat Khalisah, kamu lebih tahu apa yang bakal dikatakannya."
Humaira membalas genggaman tersebut. Bibirnya menyungging senyum. "Iya, kamu benar. Khalisah pasti melarangku bekerja."
Farel tersenyum juga.
Di sisi lain.
Indira yang mengetahui telah ditinggal sendirian di rumah ini, memutuskan untuk berkeliling rumah yang ukuran lebih kecil ketimbang mansion lamanya.
"Cinta ya? Tapi rumah yang diberikan kepadaku lebih besar."
Rasa panas yang dirasakan sudah membuatnya melepas hijab sadari tadi, lalu berjalan ke kolam renang.
Indira melepas high heels dan menyentuhkan kakinya pada air di kolam renang. Bibirnya menyungging senyum remeh.
Terdengar dering ponsel. Indira merogoh saku baju gamis dan melihat kontak nama yang menelpon. Dia mengangkatnya. "Halo, Oma."
"Bagaimana.... Apa kamu berhasil masuk ke rumah mereka? Gimana reaksi perempuan $ialan itu?"
"Aku berhasil, mereka nggak berkutik. Tapi Humaira kelihatan nggak terganggu atas kehadiranku," tutur Indira.
"Wanita $ialan itu memang pandai berpura-pura. Aku yakin dia telah menyiapkan rencana untuk mengusirmu."
"Jangan khawatir, Oma. Aku tidak akan kalah, aku pasti akan merebut Farel kembali."
"Ya, buat wanita itu jera."
"Baik, Oma." Dan panggilan pun berakhir dari Oma Rena.
...🌾🌾🌾🌾...