Felix yang kecewa karena kekasihnya berselingkuh dengan orang lain, menghabiskan malam penuh gairah bersama seorang gadis penyanyi bar.
Syerly adalah seorang penyanyi bar yang cantik. Suara Syerly membuat Felix terpesona.
tetapi, semuanya berubah ketika Felix mengetahui kebenarannya.
Syerly ternyata sudah memiliki kekasih, dan kekasih Syerly adalah orang yang berselingkuh dengan pacarnya sendiri.
"Mengapa kau pura-pura tidak mengenaliku? Apa kau takut, pacarmu tahu?" Felix mendorong tubuh Syerly ke dinding.
Syerly hanya tertawa kecil, sambil menatap Felix.
"Kita hanya cinta satu malam. Mengapa kau menganggap serius? Atau... "
Syerly menarik kerah Felix dan wajah mereka sangat dekat.
"Kau mulai ketagihan denganku." Senyum kecil dari bibir Syerly membuat jantung Felix berdetak kencang.
"Ya." Felix tidak menyangkal. dia berbisik didekat telinga Syerly.
"Bahkan suara desahanmu masih aku ingat dengan jelas."
Hubungan mereka makin rumit dan berbahaya. Dan menja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti yulia Saroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Syerly memetik gitarnya. Memainkan sebuah lagu. Didalam bar pengunjung sangat ramai malam itu. Ketika mendengar lagu yang dinyanyikan Syerly, semua orang yang sibuk berbicara mulai diam. Mendengarkan nyanyian Syerly yang lembut.
Felix tahu, Syerly akan tampil disebuah Bar. Ia datang dan langsung duduk dikursi depan.
Syerly mengedipkan matanya saat menoleh kepada Felix. Gadis itu terlihat nakal, tapi mempesona. Felix tidak dapat menahan getaran pada dadanya.
"Felix..." suara seorang gadis yang sengaja didekatkan pada telinganya, mengganggu Felix yang sedang menikmati penampilan Syerly.
"Apa kau sendirian?"
Felix menoleh. Seorang gadis berpakaian minim sudah duduk di sampingnya, tersenyum menggoda.
"Aku sedang menunggu seorang teman." Jawab Felix dengan sedikit senyum.
Sebagai seorang playboy, Felix sudah terbiasa dengan perhatian seperti ini. Kemana pun ia pergi, selalu ada gadis-gadis yang berusaha mendekat.
"Bagaimana kalau kau menunggu temanmu sambil duduk denganku?" Tawar gadis itu dengan lembut.
Gadis didepannya memang cantik, dan sesuai selera Felix. Tapi untuk kali ini, Felix tidak tahu mengapa, ia tidak tertarik sama sekali.
"Maaf." Katanya singkat, tapi sopan.
"Sepertinya aku melihat temanku."
Alasan itu bukan sepenuhnya kebohongan. Dari kejauhan, Felix melihat Thea baru saja memasuki bar.
Felix langsung berdiri dan melangkah mendekat.
"Thea..." panggilnya.
Thea menoleh. Wajahnya langsung berubah terkejut saat melihat Felix berjalan ke arahnya. Jarak mereka tinggal beberapa meter ketika tiba-tiba seorang pria datang dan memeluk Thea dari samping.
Langkah Felix terhenti.
Meski ia sudah tahu Thea berselingkuh, kenyataan yang terpampang di depan matanya tetap saja menyesakkan.
Beberapa detik berlalu sebelum Felix kembali melangkah lagi, kali ini langkahnya lebih cepat.
Thea terlihat semakin pucat dan gugup. Tanpa sadar, ia mendorong pria itu menjauh.
Peter sempat kebingungan, namun saat melihat Felix mendekat, ia langsung paham situasinya genting. Ia berdiri di depan Thea, seolah ingin melindunginya.
"Minggir!" Kata Felix dingin.
"Jangan marah dengan Thea!" Kata Peter tenang, meski ia juga gugup.
"Salahkan aku saja! Karena aku yang menggodanya." Lanjutnya.
Tapi kata-kata Peter tidak membuat Felix tenang, Felix semakin marah.
"Minggir!"
Thea tahu ia tak bisa lagi bersembunyi. Dengan langkah gemetar, ia maju.
"Fel..." panggil Thea pelan.
"Tolong dengarkan aku!" Thea mendongak dan menatap Felix.
"Aku dan Peter, kita..."
Thea belum menyelesaikan kalimatnya, ketika Felix memotong kalimatnya.
"Pacaran."
Thea menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak... kamu salah. Kita tidak seperti itu."
Melihat Thea yang masih berusaha menyangkalnya tanpa perduli dengan laki-laki disampingnya, yang menahan sakit hati.
Felix mengembuskan napas pelan, tatapannya tetap tenang namun dingin.
"Jika kamu tidak lagi menyukaiku, kamu bisa memintaku untuk putus."
Nada suara Felix yang datar justru membuat Thea terluka.
"Mengapa kau bisa mengatakan seperti itu dengan tenang? Apa karena kau ingin berpacaran dengan Syerly?" bentak Thea.
"Dan kau disini, karena ingin bertemu dengan dia kan?" Thea menatap Felix dengan tajam.
Felix menatapnya datar.
"Semua ini, tidak ada hubungannya dengan dia."
Thea terdiam saat Felix melanjutkan dengan suara pelan namun jelas.
"Sebenarnya aku sudah tahu kau diam-diam berpacaran dengan dia."
Thea menatap Felix dengan terkejut, lalu beberapa detik kemudian wajahnya kembali tenang.
"Lalu mengapa kau diam saja?" Katanya lirih.
"Apa sangat menyenangkan mempermainkanku?"
Felix mengernyit bingung.
"Aku tidak..."
"Lalu apa?" Suara Thea bergetar.
"Selama ini kau tidak pernah perduli dengan perasaanku. Bahkan saat kau tahu aku berselingkuh, kau masih bisa bersikap tenang. Fel, aku tanya padamu. Apa kau pernah menyukaiku?"
Felix terdiam. Ia tidak mampu menjawab.
Selama ini ia memang tidak pernah percaya pada cinta. Hubungan baginya hanyalah permainan. Ketika bosan, ia akan pergi tanpa ragu.
Bahkan saat pertama kali melihat Thea bersama pria lain, ia tak berniat membuat keributan. Felix memilih diam, membiarkan Thea bersenang-senang di belakangnya, sambil menunggu gadis itu sendiri yang meminta putus.
"Maaf." Kata Felix akhirnya.
Permintaan maaf itu tidak membuat Thea bahagia, tapi malah membuat gadis itu semakin sedih.
"Apakah akhirnya kita akan putus?" Tanya Thea dengan suara lirih menahan tangis.
"Bukankah itu pilihan yang terbaik untuk kita?" Jawab Felix tenang.
Felix menatap Peter.
Laki-laki itu tampak tulus memeluk dan menenangkan Thea yang menangis.
Perasaan Felix campur aduk.
Meski tahu Peter berpacaran dengan Syerly, tetapi melihat orang itu dapat membuat Thea nyaman, Felix akhirnya memilih diam.
Thea telah menemukan kebahagiaannya.
Ia tidak berhak merusaknya.
Namun rasa lega itu tak bertahan lama.
Tatapan Felix terhenti pada sosok yang membuat jantungnya berdegup kencang.
Syerly turun dari panggung.
Felix panik. Ia takut Syerly melihat Peter bersama Thea akan membuatnya terluka karena perselingkuhan mereka.
Dengan cepat, Felix menghampiri Syerly. Saat Syerly hendak menoleh ke arah Peter, Felix berdiri menghalangi pandangannya.
"Syer..." panggil Felix lirih.
Syerly menatapnya dan melihat kesedihan di wajah Felix.
"Ada apa?"
"Maukah kamu temani aku sebentar?" Suara Felix terdengar rapuh, tidak seperti dirinya yang biasa.
Syerly mengangguk.
Lalu Felix menggenggam tangan Syerly dan membawa gadis itu pergi.
Ada senyum kecil yang tersungging pada wajah Felix.
Meski dibenaknya, semuanya terasa semakin rumit.
Thea berselingkuh dengan Peter.
Peter diam-diam juga menjalin hubungan dengan Syerly.
Lalu bagaimana sekarang?
Felix membawa pergi pacar Peter.
Sungguh hubungan yang rumit dan berubah menjadi menakutkan.
Duduk disebuah sudut Bar, Syerly menemani Felix yang sedang minum.
"Ada apa, Fel? Mengapa kau terganggu?" Tanya Syerly lembut, sambil memainkan gelas bir ditangannya.
"Atau Bar ini terlalu jelek dibandingkan dengan Bar-bar mewahmu, yang selalu kau kunjungi?"
Felix yang masih terjebak dalam pikirannya perlahan menoleh, menatap Syerly yang kini duduk di hadapannya.
"Tidak." Jawab Felix singkat.
"Bar ini sebenarnya bagus." Felix mendekatkan tubuhnya kedepan, menatap Syerly sambil merendahkan suaranya.
"Karena ada kau disini."
Syerly sama sekali tidak terpengaruh oleh godaan Felix yang khas seperti playboy. Dengan senyum kecil yang tak sampai ke matanya, ia menatap Felix malas.
"Jika kau terganggu karena memikirkan orang lain, kau bisa pergi!" Kata Syerly dingin.
"Jangan tebar pesonamu didepanku! Itu benar-benar membuatku jijik."
Felix terdiam mendengar kata-kata Syerly yang terlalu jujur itu.
Ia mengambil gelas birnya lagi lalu meminumnya sekaligus.
"Kau benar." Kata Felix akhirnya.
"Aku memang sedang memikirkan seseorang." Felix mendesah pelan , lalu tersenyum kecil.
"Tapi, aku sudah merasa baik-baik saja sekarang. Karena melihatnya bertemu dengan seseorang yang membuatnya bahagia."
Diam-diam, Syerly melirik ke arah Peter dan Thea yang terlihat bersama di kejauhan. Lalu pandangannya kembali pada Felix yang masih menyimpan kesedihan.
Ada senyum kecil dibibirnya yang ia sembunyikan. Akhirnya ia tahu mengapa Felix melamun selama ini.
Seorang Dj mulai memutar musiknya. Alunan musik dari Dj menggema di dalam bar. Dentumannya membuat suasana hidup, lampu-lampu berkelip mengikuti irama. Memaksa orang-orang untuk menari dan larut menikmati malam.
Syerly meneguk birnya lalu berdiri. Lampu-lampu berwarna, memantul di wajah Syerly yang kini bergerak selaras dengan dentuman musik. Rambutnya bergoyang lembut mengikuti irama, senyumnya tetap terukir indah.
Saat Syerly menarik kerahnya, Felix seolah ditarik kedalam dunianya. Lengan Felix otomatis melingkar pada tubuh Syerly. Melindungi dari tabrakan orang-orang.
Mereka berdua berdiri berhadapan. Syerly menari dengan percaya diri tapi tidak berlebihan. Gerakannya sangat alami mengikuti irama musik.
Tatapan Felix tidak lepas dari wajah Syerly, matanya yang berkilau dengan tawa kecilnya.
Felix tidak mampu menahan diri, ia mengecup pipi Syerly dengan lembut.
Dunia terasa berhenti. Jantungnya berdetak dengan cepat. Untuk sesaat, Felix lupa segalanya. Yang ada hanyalah gadis didepannya.