Nyari ide itu susah lho, so please jangan plagiat!
Marisa Ayu (Caca) selalu hidup sendiri tanpa kehadiran ayah dan ibunya yang super sibuk. Untung saja ada Rani sahabat yang sedari kecil menemaninya melalui hari-hari hampa di hidupnya.
Sampai ia bertemu Rendi Wijaya yang membuka hatinya dan membuatnya merasakan jatuh cinta.
Bagaimana kisah cinta pertama Caca akan berakhir ?
Enjoy reading...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie Junaeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Minta Maaf
Sebelum membaca Vie mohon klik tombol Like jangan lupa ya, terus di vote juga, Rate bintang lima juga ya, apalagi mau kasih koin seikhlasnya boleh banget...
Happy Reading 😘😘😘
*****
Di rumah Rendi.
"Inikah namanya cinta oh inikah cinta, cinta pada jumpa pertama, cihuy, uhuy, I love you dah Caca pokoknya mah." Rendi bersenandung sambil menari-nari memasuki rumahnya setelah mengantar Caca pulang.
"Eh Caca, kok bisa ada disini?" tanya Rendi pada Caca yang tiba-tiba muncul sambil tersenyum lalu menghilang menyisakan bayangan dirinya di cermin di hadapan Rendi.
"Hadeh ini gue kenapa sih, ampun deh bener ini mah gue jatuh se jatuh jatuhnya cinta sama elo Ca, oh Caca I love you so much dah pokoknya mmmuaah." Rendi memberikan flying kiss pada bayangan di cermin itu sambil tak henti-hentinya bersenandung lagu inikah cinta dari boyband ME yang hits banget pada masanya.
***
Di kamar Caca.
Caca merebahkan diri di kamarnya dirinya masih terbayang adegan barusan bersama Rendi.
"Aduh kok gue jadi gini sih kok elo muter-muter terus sih di kepala gue Ren."
Caca menutup wajahnya berkali-kali dengan bantal sambil berguling-guling di atas kasurnya saking senangnya sampai menindih Kitty si kucing peliharaan Caca yang tersayang.
Caca teringat seketika untuk menghubungi Rani ia bergegas untuk menghubungi Rani untuk memohon maaf pada Rani. Caca berusaha untuk menghubungi Rani dengan ponselnya, namun Rani tidak mau menerima telepon darinya, pesan chat darinya pun cuma ceklis biru.
"Ah si Rani pesen gue cuma dibaca doang lagi." gumam Caca.
Apa gue kerumah nya yak, tapi udah malem.
batin Caca sambil melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh saat itu.
"Ah bodo ah gue nekat aja daripada Rani terus-terusan ngambek nanti sama gue." gumam Caca lalu diraihnya sweater berwarna coklat yang menggantung di belakang pintu kamarnya.
Caca menemui mbok Nah mencoba ijin dengan mbok Nah karena dia harus segera pergi ke rumah Rani.
"Mau kemana sih non udah malem tau?" tanya mbok Nah mengingatkan Caca.
"Mau kerumah Rani bentar doang sih mbok, ini penting." jawab Caca memohon.
"Udah malem non, mau naik apa coba kesana nanti kalau diculik gimana apa ketemu setan di jalan hiyyy?" tanya mbok Nah lagi mulai khawatir dan mencoba menakuti Caca.
"Tenang mbok aku naik sepeda kok mbok, bentar doang kok, aku yakin gak apa-apa, kan ada satpam komplek nanti aku minta aja temenin." jawab Caca.
"Bentar tunggu sini biar mbok yang panggil satpamnya." perintah mbok Nah sambil memanggil pak satpam yang berada di pos ujung rumahnya.
Akhirnya Caca bersepeda ditemani Pak Satpam yang jalan dibelakang nya. Sampai ke depan rumah Rani.
Rumah Rani sudah gelap, tetapi adik Rani belum tidur dan membukakan pintu untuk Caca.
"Tumben banget kak, malem - malem gini nyamperin kakak gue, mana cuma pake piyama ckckkckc." ucap Anto adik Rani.
"Penting nih gue, Tante sama om udah tidur belom?" tanya Caca pada Anto.
"Udah, mau gue panggilin?" goda Anto.
"Ahh rese Lo, gue mau ketemu Rani, bukan bokap nyokap elo tau, gue langsung keatas yak." ucap Caca langsung menuju kamar Rani di lantai dua.
Caca tau kalau Rani tidak pernah mengunci pintu kamarnya, jadi Caca langsung masuk ke dalam kamar Rani.
"Ran, maafin gue yak." ucap Caca sambil memeluk sosok dibalik selimut itu.
Lampu kamar Rani menyala dan ternyata Rani datang dari arah kamar mandi lalu menyalakan lampu saat itu.
"Ngapain Lo Ca malem-malem kerumah gue pake peluk guling gue segala?" tanya Rani.
"Eh elo disana, ini eh ihhhh apaan nih jadi yang gue peluk dari tadi guling ya?" ucapnya sambil langsung berdiri disamping kasur Rani.
"Ran, maafin gue ya jangan marah please cuma elo yang gue punya kalo elo marah gue sama siapa Ran?" ucap Caca dengan nada memelas lalu menangis tersedu-sedu.
"Siapa yang gak marah, gue udah elo boongin gitu." jawab Rani
"Gue gak boong kok, kan elo gak pernah tanya." jawab Caca mencoba membela diri dengan isak tangisnya.
"Ya mana gue tau kalo elo jalan sama Rendi." jawab Rani seraya duduk di sudut kasurnya menjauhi Caca.
"Ya gue pikir kenapa harus bilang juga ke elo, gue kan ketemu sama Rendi kebetulan doang cuma bentaran doang kok." ucap Caca sambil mendekati Rani dan berlutut dihadapannya.
"Bentaran doang? hah bentar doang?" bentak Rani.
"Iya beneran sumpah deh Ran." Caca masih mencoba memohon maaf dari Rani.
"Elo cari buku bareng, terus makan bareng, terus dianter pulang pula segitu aja elo bilang bentar?" tanya Rani kali ini nadanya sudah meninggi.
"Oke gak bentar, tapi kan cuma itu doang Ran udah gak pernah ketemuan juga kecuali hari ini bareng elo juga kan tadi." ucap Caca dengan nada lebih memelas.
Hati Rani terbakar cemburu sebenarnya namun melihat Caca yang berlutut dengan tatapan memelas seperti itu dia jadi tak tega. Dia juga sadar hanya dia yang Caca punya untuk menjalani hidup Caca yang sudah berat. Caca tidak pernah ingin mempunyai banyak teman, bagi Caca cukup Rani saja temannya. oleh karena itu banyak orang-orang disana yang menganggap Caca sombong, kurang mau bergaul dengan teman-teman lain baik di sekolah, di rumah bahkan di kampus sekarang.
"Oke, gue maafin tapi lain kali elo harus cerita segala apapun yang berhubungan dengan Rendi, oke....?" tanya Rani dengan tegas pada Caca.
"Oke janji."
jawab Caca sambil memeluk sahabatnya itu dengan erat.
"Makasih Rani makasih sayangku sahabatku tercinta." Caca mencium pipi Rani berkali-kali.
"Idih lepas, lepasin gue, jijik banget gue ih." Rani mencoba mendorong Caca lepas dari dirinya.
"Makasih ya." ucap Caca masih memeluk Rani dari samping.
Ada perasaan lega dihati Caca yang membuatnya lebih leluasa bernafas sekarang.
Pukul setengah satu pagi saat itu di jam dinding kamar Rani dan mereka masih asik mengobrol sembari tiduran.
Caca akhirnya menelpon mbok Nah memutuskan untuk menginap dirumah Rani malam itu.
Persahabatan itu saling melengkapi, saling ada satu sama lain baik susah maupun senang, saling percaya satu sama lain menerima kelebihan dan kekurangan sahabatnya. Sahabat juga harus mengingatkan jika sahabatnya salah dan selalu mendukung dalam hal apapun asal yang terbaik bagi sahabatnya.
***
Bersambung...
duuhhh author makin auto baper nih nulisnya... 😂😂😂
Tengok novel ku lainnya ya
- Pocong Tampan
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
Vie love you all readers....😘😘😘
Caca rendi saudara😱😱