Rara Danira, seorang gadis yang berasal dari keluarga kaya raya, namun kurang perhatian dari keluarnya.
Suatu saat dia masuk ke dalam sebuah situs terlarang dan mencari seorang laki-laki dewasa untuk menjadi sugar baby.
Levis Morelli, seorang laki-laki berusia 37 tahun yang mencari sugar baby untuk melampiaskan segala hasratnya, namun tidak ingin menikah karena di tidak percaya dengan yang namanya pernikahan.
Akankah keduanya bisa menjalani kehidupan ini dengan baik? atau malah menjadi Boomerang bagi mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Kabar Baik
Levis sudah kalang kabut. Dirinya benar-benar sangat mengkhawatirkan keadaan Rara saat ini. Dia sudah selesai sejak tadi dan dia terus mencari keberadaan gadis itu. Namun, hingga saat ini dia belum menemukan keberadaannya juga.
"Astaga, di mana aku harus mencari mu, Rara." gumam Levis yang mulai frustrasi dengan semua ini.
Di saat dia panik, tiba-tiba saja ponselnya berdering dan itu panggilan masuk dari Rara. Melihat nama gadis cantik kesayangannya tertera di layar ponselnya membuat Levis langsung menjawabnya dan memberondong Rara dengan banyak pertanyaan.
"Oh, astaga Baby. Where are you Rara? Aku mencari mu sudah seperti orang gila. Bahkan aku tidak bisa menghubungi diri mu. Sekarang katakan di mana kamu. Aku akan menjemput mu sekarang, baby. Rara, hey jawab aku baby, di mana kamu?" tanya Levis yang mulai panik dengan semua ini.
"Hem, aku udah di rumah." jawab Rara dengan perasaan menyesal, karena baru sempat atau lebih tepatnya baru sempat menghubunginya.
"Oh, di rumah." gumam Levis yang sedikit merasa lebih tenang.
Tapi, itu hanya bertahan sedetik saja, karena setelah dia menyadarinya dia kembali bertanya dengan Rara.
"What?! Rumah?" pekik Levis setelah menyadari semua ini.
"Rumah mana, baby? Kau tau aku mencari mu sudah seperti orang gila. Aku tidak bisa menghubungimu, aku juga tidak mendapatkan balasan pesan darimu. Aku benar-benar sudah seperti orang gila di sini. Tapi dengan begitu mudahnya kamu mengatakan kamu berada di rumah. Rumah mana, baby? rumah mana yang kamu maksud. Apa hotel atau-"
"Aku udah di udah di rumah aku." jawabnya lagi yang membuat Levis semakin merasa frustrasi dengan hal ini.
"Rumah kamu. Tapi bagaimana bisa baby? Kita di Singapura, atau memang kamu ada rumah di Singapura? Atau-"
"Aku pulang sama papi, aku. Tadi pas di mall gak sengaja ketemu sama papi dan papi marah. Terus aku di ajak pulang, dan sekarang aku udah ada di rumah." jelasnya lagi yang membuat Levis semakin frustrasi dengan hal ini.
Sungguh, dia benar-benar merasa bingung dan tidak tau harus bagaimana lagi menghadapi semua ini. Dia bahkan sampai mengusap wajahnya dengan frustrasi, sangking khawatirnya dengan Rara.
"Oh, baiklah!. Aku hubungi lagi nanti oke. Aku harus kembali sekarang."
"Iya," jawab Rara yang juga ikut merasa bersalah dengan semua ini.
"Bye, baby. See you." ucap Levis sebelum mengakhiri panggilan telepon mereka berdua.
Setelah panggilan berakhir, Rara baru saja hendak merebahkan tubuhnya. Tapi, tiba-tiba saja maminya masuk dan duduk di sampingnya.
"Rara, sayang. Kamu dari mana aja? Mami khawatir sama kamu, Rara. Gimana ceritanya kamu bisa sampai Singapura sana? Kamu sama siapa?" tanya Danira yang sengaja memberondong istrinya dengan pertanyaan beruntun.
"Rara capek, mi. Rara mau tidur." ucapnya yang tidak ingin bicara dengan maminya.
Entah mengapa setiap mendengar orang tuanya bilang khawatir tentang dirinya membuat Rara merasa tidak percaya. Dia seperti merasa aneh began hal itu. Seperti ada sesuatu yang aneh yang membuatnya tidak ingin membahasnya lagi.
"Rara, mami serius. Kenapa kamu seperti ini? mami khawatir sama kamu tapi kamu sendiri malah bersikap begini pada mami. Apa kamu sudah lupa jika mami ini mami kamu? mami yang melahirkan kamu, dan mami juga-"
"Rara tau kok, mi kalau mami itu maminya Rara. Mami itu yang udah melahirkan Rara. Tapi apa mami lupa kalau Rara ini anak mami? Bukannya mami sendiri yang bilang kalau mami itu maminya Rara, kan? Terus Rara ini apa, mi? Rara ini anak mami, tapi mami gak pernah sekali pun mikirin Rara. Mami sama papi sibuk sama dunia kalian aja. Kalian itu egois! Kalian egois!" seru Rara yang membuat mereka langsung terdiam.
Bukan hanya Danira saja yang terdiam saat Rara menceritakan semua ini. Tapi Anton juga merasakan hal yang sama. Dia juga ikut merasakan sakit hati yang Rara ungkapkan.
"Kalau keluar tutup pintunya, Mi. Rara capek, mau tidur." katanya yang sengaja mengusir Danira dari dalam kamarnya.
Danira merasa kecewa dengan reaksi Rara terhadapnya. Dia benar-benar tidak menyangka jika Rara bisa bersikap seperti ini padanya dan mengusirnya dari dalam kamar.
"Hey, sudah jangan menangis." ucap Anton ketika istrinya baru saja keluar dari dalam kamar Rara, putri mereka.
"Anton, Rara -"
"Aku tau. Sekarang biarkan dia sendiri dulu. Itu lebih baik. Dari pada kita terus Mengkhawatirkan dirinya lebih baik kita me time." ajak Anton pada istrinya, Danira.
Mereka berdua pergi dari depan pintu kamar Rara. Banyak hal yang mereka ceritakan di sini karena bagaimanapun mereka telah salah.
Sebagai orang tua kolase Mereka salah. Mereka pikir selama ini dengan mereka bekerja dan mencukupi segala kebutuhan putrinya, itu akan baik-baik saja. Tapi pernyataan yang tidak seperti itu. Mereka merusak mental Putri mereka sendiri.
Ternyata Rara yang terlihat biasa jadi luar, dia terasa begitu rapuh di dalam dirinya. Hanya bik Jum saja yang mengetahui seperti apa luka hatinya selama ini akibat kurangnya kasih sayang dari kedua orang tuanya.
"Hey, tidak ada yang salah di sini. Kita hanya butuh waktu untuk memperbaikinya. Lagi pula apa yang kita lakukan saat ini itu demi masa depannya. Demi kebaikannya, agar tidak merasakan susah. Jadi menurutku kita tidak terlalu harus memikirkan hal ini." ucap Anton yang membuat Danira mulai kesal dengan suaminya.
"Kamu tau nggak sih, kalau kebutuhan anak itu bukan hanya tentang materi saja. Kamu sadar nggak selama ini kamu nggak punya waktu untuk anak kamu? kamu nggak punya waktu untuk aku, kamu tersedia sibuk dengan bisnismu itu. Kamu pergi ke sini, pergi ke sana hanya untuk meeting. Lalu bagaimana dengan kami? apa kamu juga melupakan kami?" tanya Danira yang membuat Anton hanya bisa menghilangkan kepalanya saja.
Diaa benar-benar tidak yakin jika itu adalah istrinya karena selama ini, Danira tidak pernah mengatakan hal yang tidak tidak tentang dirinya ataupun pekerjaannya.
Anton semakin terdiam ketika mendengar penuturan istrinya. Danira benar-benar menjelaskan dan memaparkannya dengan jelas, bahwa apa yang dilakukan suaminya itu berdampak buruk bagi mereka. Terutama pada mental Rara yang masih belum bisa menerima semua kenyataan.
"Oke, fine. Aku minta maaf!" ucap Anton yang mulai mengalah dengan istrinya.
"Sayangnya maaf kamu terlambat untuk Rara, Mungin?" ujar Danira yang sudah lihat secara langsung bagaimana kecewanya gadis itu pada dirinya.
"Kalau kamu mau mencobanya, silahkan datangi kamar Rara, dan tanyakan apa yang kamu inginkan darinya atau sebaliknya juga." lanjut Danira dan setelahnya dia langsung pergi meninggalkan suaminya begitu saja di sana
****
udh buang aja lah laki modelan si anton itu
kog makin jengkel sama orang 1 ini....
jgn ada drama salah paham dan danira dgn anton baikan lagi
🙏👍🌹❤
anton bener " tk punya perasaan pda rara
bikin nyesel thor telah megabaikan rara