NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Pak AL

Istri Kontrak Pak AL

Status: tamat
Genre:Slice of Life / Pernikahan Kilat / CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:18.6k
Nilai: 5
Nama Author: Asni Diyanti

Ketika hidup tak lagi memberi ruang bernapas—diusir dari kos, ditolak pekerjaan, dan janji keluarga di kampung tak kunjung ditepati—Cika memilih langkah paling nekat: menawarkan pernikahan kontrak.

Al, CEO muda dan dingin, tak mencari cinta. Tapi ia butuh istri, cepat dan tanpa drama. Tawaran Cika datang di saat yang tepat—meski ia yang menentukan semua syarat dan batasannya.

Mereka hanya sepakat satu hal: tak melibatkan perasaan.

Namun, siapa yang bisa mengatur hati?
Ketika peran pura-pura perlahan terasa nyata, dan rumah yang dingin mulai hangat oleh tawa, benarkah mereka masih bisa berpura-pura?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Cinta dan Profesionalitas

Pagi itu langit Jakarta masih diselimuti awan mendung tipis yang menggantung rendah, seolah menahan cahaya matahari untuk tidak sepenuhnya menyinari kota. Udara terasa sedikit lembap, dan suasana pagi itu membawa perasaan yang tidak biasa bagi Cika.

Ia melangkah keluar dari apartemen dengan napas yang sedikit lebih berat dari biasanya. Jantungnya berdetak lebih cepat, seolah mengikuti langkahnya yang berusaha tetap tenang. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja di YukBelanja sebagai karyawan resmi.

Bukan lagi pelamar.

Bukan lagi gadis yang kebingungan mencari arah hidup.

Kini, ia adalah bagian dari perusahaan besar yang, tanpa ia rencanakan, juga menjadi tempat di mana suaminya berada.

Cika mengenakan kemeja biru muda yang rapi dipadukan dengan rok span hitam selutut. Rambutnya dikuncir ke belakang dengan sederhana, memberikan kesan profesional tanpa terlihat berlebihan. Ia ingin hari pertamanya berjalan sempurna, atau setidaknya… tidak meninggalkan kesan buruk.

Di dapur, Al sudah duduk dengan laptop terbuka di depannya. Tangannya memegang cangkir kopi, dan matanya tampak fokus pada layar, meskipun ia jelas menyadari kehadiran Cika.

“Sarapan dulu,” ujar Cika pelan sambil meletakkan sepiring roti dan telur dadar di meja.

Al melirik sekilas, lalu mengangguk kecil. “Makasih. Kamu siap?”

Cika mengangguk. “Iya… walaupun rasanya masih campur aduk.”

Al menutup laptopnya perlahan, lalu menatap Cika sejenak. “Nggak usah terlalu tegang. Anggap saja kamu mulai dari awal. Di kantor, kamu adalah diri kamu sendiri.”

Cika terdiam sesaat, menyerap kalimat itu.

“Nggak ada yang tahu soal kita,” lanjut Al. “Kecuali kamu yang bilang.”

Cika mengangguk pelan, lalu mengambil tasnya. Kalimat itu seharusnya membuatnya tenang, tetapi entah kenapa, justru menyisakan pertanyaan kecil di dalam hatinya.

Suasana kantor YukBelanja pagi itu sudah ramai sejak awal. Karyawan berlalu-lalang dengan langkah cepat, sebagian membawa laptop, sebagian lagi sibuk dengan berkas dan ponsel di tangan. Suara ketikan keyboard dan percakapan ringan bercampur menjadi satu, menciptakan ritme kerja yang terasa hidup.

Cika berjalan pelan menuju lantai lima, tempat divisi operasional berada. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah masuk, mencoba menenangkan dirinya.

“Selamat pagi!”

Suara dari belakang membuatnya menoleh. Seorang perempuan dengan blazer hitam dan senyum ramah berdiri di sana.

“Kamu Cika, ya? Aku Rani, senior kamu di divisi ini. Ayo, aku tunjukkan tempat dudukmu.”

Cika tersenyum, sedikit lega.

Mereka berjalan menyusuri ruangan yang cukup luas, dipenuhi meja kerja dengan komputer yang tersusun rapi.

“Kamu sebelumnya kerja di mana?” tanya Rani sambil berjalan santai.

“Pernah kerja di restoran, dan sempat magang di startup kecil,” jawab Cika jujur.

Rani mengangguk. “Berarti kamu sudah terbiasa dengan ritme cepat. Tapi di sini mungkin sedikit berbeda. Lebih terstruktur, tapi juga lebih padat.”

Cika tersenyum kecil. “Aku akan coba menyesuaikan.”

“Tenang saja, aku bantu,” ujar Rani ringan.

Kalimat itu cukup untuk membuat kegugupan Cika sedikit berkurang.

Hari pertamanya berjalan cukup lancar.

Ia dikenalkan dengan anggota tim, diajari sistem kerja dasar, dan mulai menangani email pelanggan menggunakan template yang sudah disediakan. Rani beberapa kali membantu ketika Cika terlihat ragu, dan itu membuatnya lebih percaya diri.

Namun menjelang siang, sesuatu yang tidak ia harapkan mulai muncul.

Saat Cika berada di pantry untuk mengambil air minum, ia tanpa sengaja mendengar percakapan dua karyawan di dekatnya.

“Eh, kamu sadar nggak yang anak baru itu…” bisik salah satu dari mereka.

“Yang mana?”

“Itu, yang barusan masuk divisi operasional. Kayaknya aku pernah lihat dia bareng Pak Al.”

“Serius? Yang waktu dijemput mobil hitam itu?”

“Iya, mirip banget. Rambutnya, cara jalannya juga.”

Cika langsung membeku.

Tangannya yang memegang gelas terasa dingin.

Ia tidak menoleh, tidak bergerak, hanya berdiri diam selama beberapa detik sebelum akhirnya memilih pergi seolah tidak mendengar apa pun.

Namun langkahnya terasa lebih berat dari sebelumnya.

Ia kembali ke meja kerja dengan wajah yang sedikit pucat, mencoba tetap fokus pada layar komputer di depannya. Tetapi pikirannya tidak lagi sepenuhnya berada di sana.

Ia lupa satu hal.

Di tempat seperti ini, sesuatu sekecil apa pun bisa dengan mudah menjadi bahan pembicaraan.

Sore hari, ketika jam kerja hampir selesai, Cika berjalan menyusuri lorong menuju lift. Ia menghela napas pelan, seolah melepaskan beban yang sejak siang tadi ia tahan.

Ia tidak menyadari bahwa dari balik kaca di lantai atas, seseorang memperhatikannya.

Al.

Ia berdiri diam, menatap ke arah bawah saat melihat Cika membungkuk sopan kepada beberapa senior sebelum masuk ke dalam lift. Dari jarak itu, ia bisa melihat kelelahan yang coba disembunyikan gadis itu.

Al menutup laptopnya perlahan.

Ia tahu, ini baru permulaan.

Dan cepat atau lambat, semua ini tidak akan bisa tetap tersembunyi.

Sesampainya di apartemen, Cika langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Ia melepas sepatu dan menyandarkan kepalanya, menatap langit-langit tanpa benar-benar melihat apa pun.

Pintu kamar terbuka.

Al keluar, masih mengenakan pakaian kerja.

“Bagaimana hari pertama?” tanyanya.

“Lumayan,” jawab Cika pelan. “Tapi… kayaknya ada yang mulai curiga.”

Al berjalan mendekat, lalu duduk di seberangnya. “Tentang kita?”

Cika mengangguk. “Mereka pernah lihat aku bareng kamu. Aku nggak bilang apa-apa, tapi… mereka mulai mengaitkan.”

Al terdiam sejenak.

“Kalau kamu mau tetap merahasiakan, aku akan jaga jarak di kantor,” katanya akhirnya.

Cika menatapnya. “Tapi kalau suatu saat ketahuan?”

Al membalas tatapan itu dengan tenang. “Kita hadapi sama-sama.”

Kalimat itu sederhana.

Namun cukup untuk membuat dada Cika terasa lebih ringan.

“Kamu nggak sendirian,” tambah Al pelan.

Cika tidak menjawab.

Namun kali ini, ia tidak lagi merasa harus menahan semuanya sendirian.

Malam itu, mereka makan bersama di meja kecil apartemen.

Tidak banyak percakapan.

Namun keheningan yang ada bukan lagi karena canggung.

Melainkan karena mereka mulai terbiasa dengan keberadaan satu sama lain.

Di bawah atap yang sama, dua orang yang awalnya hanya terikat kontrak perlahan mulai memahami sesuatu yang tidak tertulis di dalam perjanjian itu.

Bahwa ada hal-hal yang tidak bisa diatur.

Tidak bisa dibatasi.

Dan tidak bisa dihindari.

Termasuk… perasaan.

1
Kevin Wowor
Author, chapter baru kapan? Saya ketagihan nih!
Asni Diyanti: terimakasih! wait tidak lama lagi.
total 1 replies
<|^BeLly^|>
Nggak bisa bayangkan hidup tanpa cerita dan karakter dalam karya ini!
Asni Diyanti: eh gimana maksudnya kak?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!