NovelToon NovelToon
Level Maks Sebelum Dunia Berubah

Level Maks Sebelum Dunia Berubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: D'Silent Novel

Pada malam Tahun Baru 2035, seluruh manusia di bumi menerima sebuah notifikasi misterius yang muncul tepat di depan mata mereka.

【Integrasi Dunia akan dimulai dalam 365 hari.】

Tak ada yang tahu siapa pengirimnya. Tak ada yang mampu menjelaskan bagaimana layar itu muncul. Setelah berbulan-bulan tanpa kejadian apa pun, dunia mulai melupakannya dan menganggapnya sebagai fenomena aneh semata.

Namun, tidak dengan Leon.

Di malam yang sama, ia menerima notifikasi kedua yang hanya bisa dilihat olehnya.

【Sistem Simulasi Satu Tahun berhasil diaktifkan.】

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 — Bayangan di Balik Seleksi (Bagian 1)

Leon dan Riven mempercepat langkah menuruni Bukit Embun.

Matahari sudah mulai naik tinggi.

Artinya, waktu ujian terus berjalan.

Meskipun mereka telah memperoleh Bunga Fajar, ujian belum berakhir.

Mereka masih harus kembali ke Desa Aster.

"Jangan lengah."

kata Leon.

"Biasanya perjalanan pulang justru lebih berbahaya."

Riven mengangguk.

"Aku juga berpikir begitu."

Selama perjalanan turun, keduanya tetap waspada.

Namun yang membuat Leon heran adalah...

Semua jebakan yang sebelumnya mereka lewati kini tidak lagi aktif.

Lubang-lubang perangkap telah tertutup.

Jaring yang sempat jatuh telah menghilang.

Bahkan jalur anak panah kayu kini tampak seperti jalan biasa.

"Penguji mematikannya..."

gumam Leon.

"Tidak."

Suara seseorang terdengar dari belakang.

Leon dan Riven langsung berbalik.

Orion berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya.

"Jebakan itu tidak dimatikan."

"Lalu?"

"Kalian sudah lulus."

"Jebakan hanya menguji mereka yang masih mengikuti ujian."

Leon sedikit terkejut.

Berarti mekanisme ujian jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan.

Orion melangkah mendekat.

Tatapannya berhenti pada kantong kecil di pinggang Leon.

"Bunga Fajar?"

Leon mengangguk.

"Ya."

Orion tersenyum tipis.

"Bagus."

"Tapi..."

"...aku tidak ingat menanam bunga sebanyak itu di puncak."

Kalimat itu membuat Leon dan Riven saling berpandangan.

Mereka sama-sama teringat pada pohon putih dan Moon Fox.

Namun keduanya memilih diam.

Orion memperhatikan ekspresi mereka beberapa saat.

Lalu ia terkekeh pelan.

"Tenang."

"Setiap pemburu memiliki rahasianya sendiri."

"Aku tidak akan bertanya lagi."

Meski begitu, jauh di dalam hati Orion, rasa penasaran semakin besar.

Tak lama kemudian, gerbang Desa Aster mulai terlihat.

Belasan peserta sudah lebih dulu kembali.

Sebagian membawa Bunga Fajar.

Sebagian lagi tampak kecewa karena gagal.

Beberapa peserta bahkan mengalami luka cukup serius.

Ada yang lengannya diperban.

Ada yang berjalan terpincang-pincang.

Ada pula yang kehilangan lencananya dan langsung dinyatakan gugur.

Ketika Leon dan Riven memasuki alun-alun desa, Garrick berdiri di depan meja penilaian.

"Serahkan Bunga Fajar kalian."

Leon mengeluarkan bunga yang telah berubah menjadi cahaya di dalam kantong khusus.

Begitu kantong dibuka, bunga putih itu kembali muncul dalam kondisi segar.

Garrick memeriksanya dengan teliti.

Kemudian ia mengangguk puas.

"Lulus."

Riven juga dinyatakan lulus.

Senyum lebar langsung menghiasi wajahnya.

"Ini pertama kalinya..."

"...aku berhasil melewati ujian pertama."

Leon ikut tersenyum.

"Selamat."

Namun suasana bahagia itu tidak berlangsung lama.

Tiba-tiba terdengar teriakan dari arah gerbang desa.

"Tolong!"

"Monster!"

Seluruh pemburu langsung menoleh.

Seorang peserta berlari memasuki desa dengan tubuh penuh luka.

Pakaiannya dipenuhi bercak darah.

Napasnya tersengal.

Ia jatuh berlutut di depan Garrick.

"Hutan..."

"...ada monster yang tidak pernah kami lihat."

Garrick langsung berubah serius.

"Tenangkan dirimu."

"Ceritakan perlahan."

Pemuda itu berusaha mengatur napas.

"Wujudnya..."

"...seperti manusia."

"Tapi seluruh tubuhnya tertutup sisik hitam."

"Mata merah."

"Dan..."

"...ia membunuh lima peserta hanya dengan satu ayunan tangan."

Suasana desa mendadak sunyi.

Semua orang membeku.

Rowan langsung melangkah maju.

"Itu tidak mungkin."

"Tidak ada monster seperti itu di sekitar Greenwood."

Pemuda tersebut menggeleng keras.

"Aku melihatnya sendiri!"

"Ia bahkan..."

"...berbicara."

Kalimat terakhir itu membuat seluruh tetua desa saling berpandangan.

Monster yang bisa berbicara...

Bukan lagi ancaman biasa.

Di sisi lain alun-alun, Leon merasakan dadanya tiba-tiba berdenyut.

Kotak Warisan Penjaga di dalam tasnya memancarkan cahaya redup.

Bersamaan dengan itu, suara sistem terdengar.

Ding!

【Peringatan Darurat】

Energi Abyss terdeteksi.

Ancaman di luar skenario simulasi telah memasuki wilayah Greenwood.

Wajah Leon langsung berubah.

"Di luar... skenario?"

Lyra muncul di sampingnya.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu...

Wajah Administrator itu terlihat benar-benar panik.

"Leon..."

"...ini buruk."

"Sangat buruk."

"Apa yang terjadi?"

Lyra menatap ke arah hutan dengan mata gemetar.

"Seharusnya..."

"...mereka baru datang setahun lagi."

"Tapi sekarang..."

"...Abyss sudah mulai menyerbu dunia ini lebih awal."

Di kejauhan, jauh di dalam Hutan Greenwood, sesosok makhluk bersisik hitam berdiri di atas tumpukan tubuh monster yang telah mati.

Mata merahnya menatap lurus ke arah Desa Aster.

Lalu ia tersenyum.

"Akhirnya..."

"...aku menemukan jejak sang pewaris."

Dan untuk pertama kalinya, Leon akan menghadapi musuh yang bukan berasal dari sistem, bukan pula salah satu Penjaga, melainkan makhluk dari Abyss musuh yang bahkan ditakuti oleh para Administrator.

1
Dragonovic#
semoga seru nih 🫡
D'Silent Novel: Kalo ada masukan atau pun kritik, langsung komen aja ya 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!