NovelToon NovelToon
Kembar Genius Sang Mafia

Kembar Genius Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius / Roman-Angst Mafia
Popularitas:462.9k
Nilai: 5
Nama Author: kenz....567

"Ahh!"

"Kamu harus melahirkan pewarisku, Amoera ... untuk menebus dosa ayahmu!"

Perang berdarah antar-organisasi memaksa Amoera, putri tunggal mafia Blood Dominion, jatuh ke tangan Leon D'Alterio. Pemimpin kejam Cosa Nero itu menuntut balas dendam atas kematian orang tuanya, dan Amoera harus melahirkan pewarisnya.

Namun takdir berjalan brutal. Amoera melahirkan bayi kembar laki-laki, tetapi Leon merebut bayi yang hidup dan mengusir Amoera bersama bayinya yang dianggap telah mati.

Empat setengah tahun berlalu. Amoera kembali sebagai pembunuh bayaran dingin dengan misi mutlak. menghabisi pewaris Cosa Nero, yang tak lain adalah putranya sendiri.

Saat laras pistol telah membidik target, kebenaran fatal terkuak. Leon tertegun melihat bocah di samping Amoera yang sangat mirip dengan putranya.

"Kamu mau membunuh putramu sendiri, Amoera?"

Ketika rahasia masa lalu terbongkar, siapakah yang akan hancur dalam lingkaran balas dendam ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kelahiran Penerus Cosa Nero

Amoera yang terengah-engah mencoba mengalihkan pandangannya pada Lula, memberi isyarat agar pelayan itu memeriksa apa yang sedang terjadi. Lula melangkah mendekati dokter yang tengah sibuk memberikan pertolongan pertama, mencoba menepuk-nepuk punggung kecil bayi itu agar mengeluarkan suara. Namun sayang, tubuh mungil itu tetap bergeming. Kulitnya tampak pucat kebiruan, seolah tidak pernah ada denyut kehidupan di dalamnya sejak awal. Air mata Lula seketika jatuh. Ia berbalik dan menatap Amoera sambil menggelengkan kepalanya perlahan dengan tatapan penuh duka.

Amoera tahu ada yang salah. Ikatan batin sebagai seorang ibu menembus batas keheningan itu, hatinya hancur berkeping-keping. Begitu melihat gelengan kepala Lula, tangis Amoera pecah seketika, meratapi takdir bayinya yang malang.

Brak!

Pintu kamar mendadak terbuka dengan kasar. Leon D'Alterio melangkah masuk dengan aura intimidasi yang pekat. Pakaian hitamnya masih ternoda oleh cipratan darah segar, dan terdapat sebuah luka goresan baru di pipinya, sebuah tanda bahwa ia baru saja memenangkan peperangan besar di luar sana.

"Apa bayinya sudah lahir?" tanya Leon dengan nada suara datar tanpa emosi, seolah baru saja menanyakan hal yang sepele.

"Su-sudah, Tuan ...," jawab salah seorang dokter dengan suara bergetar ketakutan.

Leon melayangkan pandangannya ke arah dua bayi tersebut. Salah satu bayi masih berada di dalam gendongan dokter, sementara bayi yang satunya lagi telah diletakkan di dalam boks bayi khusus. Leon melangkah mendekati dokter yang memegang bayi yang diam, lalu menatapnya dengan kening berkerut. Bayi di dalam boks terus menangis dengan kencang, sedangkan bayi di hadapannya ini sama sekali tidak bersuara.

"Kenapa dia tidak menangis?" tanya Leon, nadanya merendah, namun sarat akan ancaman.

"Tuan ... maafkan kami. Kami tidak tahu jika bayi kedua ini ternyata sudah meninggal di dalam kandungan," ucap sang dokter dengan kepala tertunduk dalam. "Bayinya tidak dapat diselamatkan, bahkan sejak pertama kali dikeluarkan."

"Apa?! Bagaimana bisa?!" sentak Leon brutal. Tatapannya menajam bagai mata pisau, membuat atmosfer kamar seketika membeku. "Bukankah selama ini kalian mengatakan bahwa kedua bayiku sehat?! Bagaimana bisa kalian seceroboh ini hingga membuat salah satu penerusku tiada, hah?!"

Seluruh orang di dalam ruangan itu menciut ketakutan. Kedua dokter itu gemetar hebat, tahu betul bahwa Leon bisa saja mencabut nyawa mereka detik ini juga tanpa ragu. Namun, Leon tidak melanjutkan amarahnya. Pria itu berbalik dan melangkah mendekati boks bayi tempat putranya yang hidup tengah menangis keras. Ia menatap bayi mungil itu dengan pandangan yang dalam.

"Bayi ini ... laki-laki? Mereka kembar laki-laki?" tanya Leon memastikan.

"I-iya, Tuan. Keduanya laki-laki," jawab dokter dengan sisa keberaniannya.

Leon menarik satu sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis yang mengerikan. "Setidaknya ... masih ada satu penerusku yang bertahan hidup untuk memimpin Cosa Nero," bisik Leon pelan.

Kalimat dingin itu merayap masuk ke telinga Amoera yang tengah sekarat di atas ranjang. Di tengah rasa sakit yang mendera fisik dan batinnya yang hancur karena kehilangan salah satu buah hatinya, ia menatap punggung pria kejam itu dengan dendam yang membara.

"Baj1ngan ...," desis Amoera lirih, sebelum akhirnya kegelapan total merenggut kesadarannya dan membuatnya jatuh pingsan.

.

.

.

.

Amoera perlahan mengerjapkan matanya yang terasa berat. Ingatan tentang rasa sakit yang merobek tubuhnya beberapa saat lalu berputar kembali bak kaset rusak. Detik berikutnya, jantung Amoera berdegup kencang saat menyadari ada tubuh mungil yang terbaring kaku tepat di sebelah lengan kirinya.

Dengan napas tertahan, wanita itu beranjak duduk meski rasa perih di perut bawahnya luar biasa menyiksa. Jari-jemarinya mencoba mengelus dada bayi kecil yang terpejam itu. Namun, kulit itu terasa dingin. Dada mungil itu tetap diam, tanpa ada debar kehidupan yang berdenyut di sana.

"Bayi itu tidak berhasil selamat, akibat kecerobohanmu sendiri," suara berat tiba-tiba memotong kesunyian.

Leon berdiri di kegelapan sudut kamar, melangkah maju dengan keangkuhan yang tak berkurang sedikit pun. "Bisa-bisanya kamu tidak sadar jika ada yang salah dengan kandunganmu?" lanjut pria itu dingin.

Amoera membeku. Kalimat Leon menghantam relung hatinya yang terdalam. Air matanya kembali luruh, mengalir deras membasahi pipi tanpa bisa ia cegah. Wajah mungil bayi yang tampak tertidur abadi itu membuat batin Amoera teriris hebat. Dengan penuh rasa cinta yang bercampur keputusasaan, ia meraih tubuh rapuh itu ke dalam pelukannya. Ia menggendongnya dengan amat hati-hati, lalu mengecup keningnya dengan begitu lembut.

"Untungnya, masih ada bayi yang lain. Jika tidak, waktu penahananmu di tempat ini akan jauh lebih panjang," ucap Leon datar. Tatapan matanya yang sehitam jelaga menatap lurus pada Amoera, tanpa ada secercah pun rasa kasihan terhadap wanita yang baru saja kehilangan separuh jiwanya tersebut.

Amoera menarik napas panjang dan dalam, mencoba mengumpulkan seluruh sisa harga diri dan kekuatannya yang telah hancur. Ia menghentikan isaknya, lalu mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Leon yang tak berdasar.

"Bisa aku bawa bayi ini? Biarkan aku menguburkannya sendiri," ucap Amoera dengan suara yang penuh sesak oleh kepedihan.

"Silahkan. Lagipula bayi itu tak lagi bernyawa. Aku tidak membutuhkannya," sahut Leon kejam, tanpa secuil pun belas kasih untuk darah dagingnya yang telah tiada. Bagi seorang pemimpin mafia sepertinya, sesuatu yang tidak berguna tidak layak untuk dipertahankan.

Amoera mengangguk pelan. Dengan tubuh yang masih lemas, ia memaksakan diri untuk turun dari ranjang. Kedua lengannya mendekap erat tubuh bayinya yang kaku. Melihat pergerakan nekat wanita itu, Leon kembali angkat bicara.

"Tunggu matahari terbit. Kamu baru beristirahat setengah jam pasca melahirkan. Aku tidak mau dinilai terlihat kejam oleh wanita yang baru saja melahirkan," ucap Leon dingin.

Mendengar hal itu, satu sudut bibir Amoera terangkat, membentuk senyuman sinis yang sarat akan kebencian. Wanita itu menoleh, menatap Leon dengan pandangan tajam.

"Tidak mau terlihat kejam?" desis Amoera rendah. "Dengan kamu menculikku dan membalaskan dendam masa lalumu padaku, kamu sudah menjadi pria paling kejam di dunia ini, Leon."

Amoera membalikkan tubuhnya, menolak untuk menatap pria itu lebih lama lagi. "Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau. Sekarang, aku pergi."

Ia mulai melangkah tertatih-tatih keluar dari kamar. Rasa sakit yang luar biasa menjalar di setiap persendian tubuhnya, namun rasa sakit itu tidak ia pedulikan sama sekali. Dorongan untuk segera keluar dari neraka ini jauh lebih besar daripada rasa sakit fisiknya. Leon sempat berniat melangkah untuk mengejarnya, berniat menahan wanita keras kepala itu sampai pagi tiba. Namun, langkah pria itu mendadak tertahan.

Suara tangisan bayi yang sangat kencang tiba-tiba pecah dari dalam boks bayi di sudut ruangan. Putra mereka yang hidup terbangun, menangis histeris seolah tahu bahwa ibu kandungnya sedang melangkah pergi meninggalkannya selamanya.

Amoera mendengar jeritan tangis bayinya yang menggema memilukan. Langkah kaki Amoera sempat terhenti di ambang pintu, hatinya terasa seperti diremas kuat. Namun, ia memejamkan mata dan kembali berjalan, mempererat dekapannya pada bayinya yang sudah tak bernyawa di pelukan.

"Tunggu Mommy, sayang ... tunggu. Mommy pasti akan kembali untuk mengambilmu dari pria kejam itu," bisik Amoera dalam hatinya yang paling dalam.

.

.

.

.

Leon rupanya telah menyiapkan sebuah mobil hitam untuk mengantar Amoera keluar dari area mansion yang terletak jauh di dalam hutan belantara tersebut. Di dekat mobil yang terparkir di halaman, seorang pria paruh baya membungkuk hormat, lalu membukakan pintu belakang untuk Amoera.

Namun, tepat saat Amoera bersiap melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kendaraan, sebuah suara terengah-engah dari arah belakang menghentikan gerakannya.

"Queen, tunggu!" seru suara itu.

Amoera menoleh cepat. Lula, tampak berlari menyusulnya dengan napas yang memburu. Tanpa membuang waktu, Amoera langsung memeluk wanita paruh baya itu dengan erat, menumpahkan segala rasa terima kasih yang tak sempat ia ucapkan.

"Lula ...,"

"Queen, aku akan ikut denganmu. Aku sudah meminta Tuan Leon untuk memecatku dari sini. Aku ingin ikut dan mengabdi bersamamu saja," ucap Lula dengan tatapan penuh harap. Air matanya jatuh membasahi pipinya yang mulai berkerut, sementara Amoera hanya bisa menatapnya dengan tangis tanpa suara.

"Tidak bisa, Lula. Kamu harus tetap tinggal di sini," ucap Amoera dengan suara berbisik, sementara air matanya terus mengalir membasahi wajahnya yang pucat. "Jaga putraku ... jaga dia baik-baik sampai aku kembali dan mampu membawanya pergi dari tempat ini. Jaga dia untukku, aku mohon. Jangan biarkan iblis itu membuat putraku tumbuh menjadi iblis kejam sepertinya. Tolong, Lula ... jangan biarkan itu terjadi."

Lula terisak semakin keras, dadanya naik turun menahan kesedihan yang mendalam. "Queen ...,"

"Lula, tolong titip ini." Amoera dengan cepat melepas kalung perak yang melingkar di lehernya, lalu meraih tangan Lula dan meletakkannya di atas telapak tangan pelayan itu.

"Berikan ini pada putraku jika waktunya sudah tepat. Ini adalah kalung yang dulu diberikan oleh ibu kandungku sendiri. Kenalkan aku pada putraku lewat kalung ini," ucap Amoera penuh permohonan.

Lula mengangguk kuat-kuat, menggenggam kalung perak itu dengan sangat erat seolah benda itu adalah amanah paling berharga dalam hidupnya. Ia kembali memeluk Amoera sekilas, memantapkan hati untuk mengemban tugas berat yang baru saja diletakkan di atas pundaknya.

"Aku pergi dulu, Lula." Amoera melepaskan pelukan mereka dan melangkah masuk ke dalam mobil.

Pintu mobil ditutup dengan bunyi debuman pelan. Kendaraan roda empat itu perlahan bergerak maju, meninggalkan Lula yang berdiri diam sembari melambaikan tangannya dengan air mata yang terus bercucuran menatap kepergian sang nyonya.

Sementara itu, di dalam pelukan keheningan mobil yang berjalan membelah hutan, Amoera menunduk. Ia menatap bayinya yang tampak tertidur dengan begitu damai di dalam dekapannya. Isak tangisnya kembali terdengar lirih, meratapi nasibnya yang harus membawa pulang sesosok jasad bayi yang tak lagi bernyawa. Sang sopir yang duduk di kursi kemudi sempat melirik melalui spion tengah, menatap iba sejenak sebelum akhirnya kembali memfokuskan pandangannya.

Mobil hitam itu akhirnya bergerak melewati gerbang besi tinggi yang dijaga ketat oleh puluhan pria bersenjata. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama terkurung, Amoera kembali melihat jalanan umum dan dunia luar.

"Kenapa kamu memilih pergi dibandingkan hidup bersama Mommy, sayang? Mommy sekarang sendirian ... rasanya Mommy mau mati saja," ucap Amoera dengan nada suara yang tertahan di tenggorokan, menahan sesak yang teramat sangat.

"Bangun, sayang ... lihat Mommy. Lihat Mommy, nak ...," ucap Amoera kembali, jemarinya mengusap pipi bayi itu dengan putus asa.

Namun, di tengah kepasrahannya yang mendalam karena tahu bayi itu tidak akan pernah menyahut, sebuah keajaiban yang tak masuk akal mendadak terjadi. Amoera tiba-tiba merasakan sebuah sentuhan halus, seperti tendangan kecil yang sangat lemah tepat di bagian perut bawahnya yang bergesekan dengan posisi sang bayi.

Amoera seketika menghentikan tangisnya. Napasnya tercekat. Matanya membulat sempurna ketika melihat kelopak mata bayi yang semula terpejam rapat itu kini perlahan bergerak mengecap, sebelum akhirnya mengerjapkan matanya pelan. Tubuh mungil yang semula kaku itu mulai menggeliat pelan, seolah merasa tidak nyaman akibat dekapan Amoera yang terlalu erat.

Seluruh tubuhnya seketika menegang, merasa syok dan mengira bahwa dirinya sedang berada di dalam sebuah mimpi yang teramat indah. Untuk beberapa waktu, ia hanya bisa mematung seperti patung batu. Namun, bayi di dalam dekapannya itu terus bergerak, jemari kecilnya mulai terbuka, dan bibir mungilnya mengerucut pelan, memperlihatkan sepasang manik mata yang indah dan bersih tepat di depan wajah Amoera.

"Ba-bagaimana bisa ...," gumam Amoera pelan.

Ia langsung melempar pandangannya ke arah depan, memastikan sang sopir tidak menyadari perubahan situasi ini melalui kaca spion. Dengan gerakan sigap, Amoera segera menarik kain penutup untuk menutupi wajah bayinya, membatasi setiap pergerakan sang anak agar tidak menimbulkan suara yang mencurigakan.

Anak buah Leon tidak boleh ada yang tahu tentang hal ini. "Jika sampai pria baj1ngan itu tahu bayiku masih hidup ... dia pasti akan merebutnya dariku lagi," batin Amoera dengan detak jantung yang berpacu liar karena was-was.

Namun, ketakutannya kian memuncak saat bayi kecil itu mulai mengeluarkan suara rengekan kecil, bersiap untuk menangis karena lapar. Tanpa berpikir panjang, Amoera dengan sigap membuka kancing pakaiannya dan menyusui bayi itu, menutupi seluruh bagian dadanya dengan kain gendongan rajut yang tebal. Ia sempat didera rasa cemas yang luar biasa, namun beruntung, sang sopir di depan tetap fokus mengemudikan mobil tanpa menaruh curiga sedikit pun.

"Antar saja aku sampai ke batas kota. Setelah itu, kamu boleh pergi dan kembali ke mansion," ucap Amoera dengan nada suara yang dibuat sedatar mungkin.

"Baik, Nyonya," jawab sang sopir patuh.

Amoera kembali menunduk, menatap dalam-dalam pada bayinya yang kini tengah fokus menyusu padanya. Air susu ibu yang sempat ia kira tidak akan pernah berguna kini mengalir lancar, memberikan kehidupan bagi sang putra untuk pertama kalinya. Air mata kebahagiaan Amoera menetes tanpa suara, membasahi pipi bayinya. Bayi ini tidak meninggal. Semesta mengembalikan nyawa anaknya khusus untuk menemaninya hidup di dunia yang kejam ini.

"Mommy tahu ... kamu tidak akan membiarkan Mommy hidup sendirian di dunia ini, sayang ...," bisik Amoera penuh keharuan.

_______

1
kaylla salsabella
eh perasaan ku dikit banget ya🤭🤭
𝕙𝕚𝕜
ՆคՈʆ౮੮қคՈ ᵗʰᵒʳʳʳʳ💪💪💪💪💪
bunda fafa
eh...🤣🤣🤣pengen ya 🥱
bunda fafa
cieee...sudah merasa nyaman donk 😁
bunda fafa
ciee...menyerah tanpa syarat donk si amoe...🤣
bunda fafa
hahaha musang birahi..kl Enzo bilang singa kentut.. Eren bilang musang kejam skr amoe bilang musang birahi 🤣🤣
bunda fafa
jelas di bw ke kamar si singa🤣
bunda fafa
eh cut cut..nikahin dl lah🤣nanti bablas sampai lahir adiknya si Enzo sm Eren loh🤣
🇦 🇵 🇷 🇾👎
🤣🤣🤣🤣🤣🤣❤
bunda fafa
trs bilang leon..will you marry me 😁
bunda fafa
ajak nikah sono si amoe biar resmi jd ny leon😁
bunda fafa
semoga segera bs melihat' ya Eren..
🇦 🇵 🇷 🇾👎
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
bunda fafa
amoe gmn perasaan km setelah mendengar kejujuran singa tua?😁
bunda fafa
knp gak kena serangan jantung sj sih si Nini pelet 🤣
NUR..8537
makasih kak Ra unt up.. nya 🙏😘 sukses slalu kak 💪😘
NUR..8537
sabar ya amoera..Olang tua itu gak bisa romantis kyk..nya😂😂😂
Bunda SalVa
nah kan mending nurut aja Amoe , si singa lagi ngajak baikan itu 😄😄
Bunda SalVa
kirain kucing birahi Amoe 🤣🤣🤣
Sri Rahayu
sebenarny leon dan amoera sudah menikah blm kak🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!