Keisya Mahardika hanya punya satu keinginan sederhana, yaitu memiliki seorang mama.
Sayangnya, ayahnya, Arya Mahardika, adalah CEO dingin yang lebih mencintai pekerjaannya daripada urusan hati. Sampai suatu hari Keisya bertemu Alya di kantor ayahnya, wanita baik hati yang langsung ia pilih menjadi calon mamanya.
Sejak saat itu, dimulailah berbagai misi rahasia sang mak comblang cilik untuk mendekatkan mereka berdua.
Di balik rencana-rencana kecil yang lucu dan menggemaskan, perlahan dua hati yang sama-sama terluka mulai saling menemukan.
Tapi apakah cinta bisa benar-benar tumbuh dari ulah seorang anak kecil?Atau justru sang mak comblang cilik harus menerima bahwa tidak semua keinginan bisa menjadi kenyataan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
“Lalu… ucapan kamu yang tadi, benar? Kamu mau menjadi mama Keysa?” tanya Arya pelan.
Alya terhenyak. Tubuhnya sejenak langsung kaku. Ia menundukkan kepalanya cepat, menatap jari-jari tangannya yang saling bertaut di pangkuan. Pipinya memanas, warna merah muda merayap naik hingga ke telinga. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Pertanyaan yang barusan dilontarkan Arya bagaikan cermin yang memantulkan ucapannya sendiri di depan kedua guru tadi.
Ia mengatakannya sebagai calon maam Keysa dengan tegas, penuh keyakinan, di saat emosi menguasai. Tapi sekarang, di bawah tatapan Arya yang serius, ucapan itu terasa jauh lebih berat. Ia hanya spontan saja. Ia ingin melindungi Keysa, ingin membela gadis kecil itu dari guru yang acuh tak acuh. Ia tidak sempat berpikir panjang tentang makna di baliknya.
Detik-detik berlalu dalam keheningan. Alya merasakan degup jantungnya sendiri yang semakin kencang. Ia bisa merasakan pandangan Arya yang tidak berpaling darinya, menunggu jawaban dengan sabar. Rasa malu, bingung, dan sesuatu yang lebih dalam bercampur aduk di dadanya.
“Aku…” Alya membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Suaranya nyaris hilang. Ia menggigit bibir bawahnya pelan, mencoba merangkai kata-kata yang tepat. “Aku bilang seperti itu karena terpaksa. Kedua guru itu tidak memperbolehkanku ikut campur"
Ia mengangkat wajah sedikit, masih belum berani menatap langsung mata Arya. “Tapi… aku tidak bohong sepenuhnya. Keysa sudah masuk ke dalam hatiku. Aku sayang sama dia, aku ingin melindunginya, aku ingin melihatnya tersenyum lagi. Tapi menjadi mama it
itu keputusan besar. Aku takut tidak cukup baik untuk Keysa. Aku takut merusak sesuatu yang sudah kamu bangun selama ini.”
Suara Alya bergetar di akhir kalimat. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Di dalam hati, ia sendiri belum siap mengucapkan ya dengan sepenuhnya.
Hubungan mereka masih baru. Rahasia tentang asal-usul Keysa baru saja terbongkar. Segalanya terasa terlalu cepat, terlalu dalam, terlalu berat.
Arya tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Alya dalam diam, seolah sedang membaca setiap keraguan dan ketulusan yang tersembunyi di wajah perempuan itu. Ada kelembutan di matanya, ada rasa lega, dan ada harapan yang pelan-pelan tumbuh kembali.
Di ruang perawatan tidak jauh dari mereka, Keysa terbaring dengan darah Alya yang mengalir perlahan ke tubuhnya. Gadis kecil itu tidak tahu bahwa di luar, dua orang dewasa yang paling ia sayangi sedang menghadapi pertanyaan yang bisa mengubah segalanya.
Alya menunduk lagi, menunggu reaksi Arya. Jantungnya masih berdegup kencang. Ia tidak tahu apakah kejujurannya barusan akan membuat Arya menjauh atau justru semakin dekat. Tapi setidaknya, ia sudah berbicara dari hati.
*****
Di dalam ruang perawatan yang sunyi, monitor jantung Keysa berdetak stabil dan teratur. Cahaya lampu di atas ranjang disetel redup agar tidak mengganggu, hanya menyisakan sinar lembut yang menerangi wajah gadis kecil itu. Kantong darah yang berisi darah Alya sudah hampir kosong, menetes perlahan melalui selang infus yang tersambung di lengan kecilnya.
Raut wajah Keysa yang tadinya pucat kini mulai kembali memerah. Napasnya lebih lega, dada kecilnya naik turun dengan tenang. Perawat yang bertugas memeriksa vital sign-nya beberapa kali, lalu tersenyum lega saat melihat hasilnya membaik. Luka di keningnya sudah dijahit rapi dan ditutup perban putih bersih. Meskipun masih ada sedikit bengkak, kondisi keseluruhan sudah jauh lebih stabil.
Dokter masuk sebentar, memeriksa catatan medis, lalu mengangguk puas. “Transfusi berjalan baik. Tekanan darahnya sudah naik, dan tidak ada reaksi alergi. Dia akan sadar dalam waktu dekat,” ucap dokter pelan kepada perawat sebelum keluar lagi.
Tak lama kemudian, kelopak mata Keysa yang tertutup rapat mulai bergetar. Ia mengerang pelan, suara kecilnya serak karena kelelahan. Jari-jari mungilnya bergerak di atas selimut, seolah mencari sesuatu. Perlahan, matanya terbuka. Pandangannya masih kabur, tapi ia bisa melihat langit-langit putih dan aroma obat yang familiar.
“Papa” gumamnya lemah, suaranya nyaris tak terdengar.
Di luar ruang perawatan, Arya dan Alya yang sedang menunggu langsung berdiri saat perawat keluar dan memberi isyarat. Mereka masuk bersama-sama dengan langkah hati-hati.
Arya langsung mendekati ranjang, wajahnya penuh lega sekaligus rasa bersalah. Alya berdiri di sisi lain, tangannya sedikit gemetar saat melihat Keysa sudah membuka mata.
Keysa mengedip beberapa kali, mencoba fokus. Saat matanya bertemu dengan wajah Arya, senyum kecil langsung muncul di bibirnya yang kering. “Papa, kepala Key cakit banget hiks” bisiknya.
Arya langsung meraih tangan kecil putrinya, mengecupnya lembut. “Papa tahu, Sayang. Papa minta maaf. Sabar ya, nanti sembuh kok"
Keysa mengangguk pelan, lalu matanya beralih ke Alya. Saat mengenali wajah yang familiar itu, matanya langsung berbinar meski masih lemah. “Aunty Alya… Aunty di cini juga?”
Alya tersenyum, menahan air mata yang nyaris tumpah. Ia mengusap rambut Keysa dengan sangat lembut. “Iya, Sayang. Aunty di sini. Aunty tidak akan pergi.”
Keysa mengangkat tangan kecilnya yang bebas, mencoba meraih jari Alya dengan lemah. Matanya yang masih sayu menatap Alya penuh harap.
“Aunty… Meleka bilang aunty nda mau jadi mama Key, coalnya Key nakal. Meleka juga celing ejek-ejek Key anak halam,” ungkapnya pelan, suaranya bergetar karena masih lelah.
Alya terdiam sejenak, hatinya langsung teriris. Ia menggenggam jari kecil Keysa dengan lembut.
“Key malah, Key balas Meleka. Tapi Meleka malah dorong Key, campai kening Key berdalah,” lanjut Keysa, air matanya mulai menggenang di ujung mata.
Alya mengangguk pelan, suaranya bergetar menahan emosi. “Iya, Sayang. Aunty senang bisa membantu. Keysa harus cepat sembuh, ya. Nanti Aunty temani terus.”
Keysa mengangguk kecil, lalu memejamkan mata lagi karena kelelahan. Tangan kecilnya tetap menggenggam jari Alya erat-erat, seolah takut dilepaskan.
Arya yang berdiri di sisi lain ranjang menatap putrinya dengan wajah tegang. Ia dan Alya saling bertukar pandang dalam diam.
Keduanya tidak menyangka bahwa selama ini gadis kecil itu selalu dirundung teman-temannya. Ucapan anak haram yang dilontarkan Mereka membuat dada Arya sesak, sementara Alya merasa marah sekaligus sedih.
Mereka berdua menyadari bahwa luka di kening Keysa hanyalah puncak dari sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang selama ini tersembunyi di balik keceriaan gadis kecil itu.
Keysa hanya anak yang tidak beruntung, bukan sebagai anak haram. Di usianya yang masih bayi dia harus menyandang status sebagai anak yatim piatu. Tapi dengan adanya Arya dan sang oma, membuat gadis kecil itu tidak pernah kekurangan kasih sayang.
Tapi teman-temannya mengira sebagai anak dari hasil gelap. Mereka tega merundungnya sampai membuatnya celaka seperti ini.
Arya ingin marah, ingin memukul pelakunya. Tapi sayangnya mereka masih seumuran putrinya yang belum tahu apa-apa.