"Sekali saja kita melangkah melewati batas ini, Arden... semuanya tidak akan pernah sama lagi."
Alyssa tidak pernah menyangka pernikahannya akan menyeretnya ke dalam pusaran dosa yang terlarang. Sebagai istri yang berbakti, ia selalu menekan keinginan pribadinya demi menjaga kehormatan keluarga besar suaminya.
Namun, benteng pertahanan itu runtuh saat Arden—adik iparnya—kembali dari luar negeri.
Arden bukan lagi remaja tanggung yang dulu ia kenal. Pria itu telah menjelma menjadi sosok dewasa yang penuh pesona, perhatian, dan diam-diam menawarkan kehangatan yang tak pernah Alyssa dapatkan dari suaminya sendiri.
Di sisi lain, Arden tersiksa. Semakin ia mencoba menjauh, semakin ia mendambakan Alyssa—wanita yang seharusnya haram untuk ia sentuh.
Kini, keduanya terjebak dalam tarik ulur perasaan yang menyiksa. Antara kesetiaan pada keluarga, atau menyerah pada godaan gairah yang candu.
Saat batas suci itu akhirnya dilanggar, siapkah mereka membayar harga yang teramat mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.7 -Perlakuan yang Berbeda
Tante Indah memukul setir mobilnya dengan kesal. Dadanya bergemuruh hebat karena Arden tiba-tiba saja datang dan merusak seluruh rencana yang sudah ia susun rapi. Harusnya, hari ini ia bisa memojokkan Alyssa lebih jauh di depan ibunya, sekaligus memuluskan jalan agar wanita itu segera didepak dari keluarga Narendra melalui perceraian.
“Sudahlah, Tante, jangan marah-marah terus. Bagaimana kalau sekarang aku yang traktir makan siang di L’Atelier de Joël Robuchon?” tawar Hanum, mencoba meredakan kekesalan wanita paruh baya di sampingnya.
“Restoran Prancis mewah di kawasan SCBD yang dapat penghargaan internasional itu?” tanya Tante Indah, seketika matanya berbinar penuh semangat. Rasa kesalnya menguap begitu saja.
“Iya, Tante,” kekeh Hanum dengan nada manis yang tampak sangat elegan.
“Ya sudah, ayo! Tunggu apa lagi? Mood Tante benar-benar berantakan sekali setelah melihat orang-orang miskin seperti mereka tadi,” cibir Tante Indah penuh sinis, membuat Hanum tersenyum tipis penuh kemenangan.
Tante Indah segera mengarahkan laju mobilnya membelah jalanan menuju kawasan elite SCBD di Jakarta Selatan. Hanum sendiri sama sekali tidak khawatir soal tagihan mahal yang akan mereka habiskan di restoran bintang lima itu nanti. Sebab, di dalam dompetnya, tersimpan sebuah kartu kredit khusus ber-limit besar yang diberikan oleh Adrian secara cuma-cuma.
Fasilitas mewah yang bahkan tidak pernah dicicipi oleh Alyssa selaku istri sah, justru Adrian serahkan begitu saja ke tangan wanita lain.
Berbanding terbalik dengan kemewahan yang dikejar Tante Indah dan Hanum, Arden justru membawa Alyssa dan Tania ke tempat yang jauh dari kata elite. Alyssa sempat merasa bingung ketika mobil Arden berhenti di area taman kota yang dipenuhi oleh deretan pedagang kaki lima.
“Aku lapar sekali, Tante, Kak. Jadi, temani aku makan bakso di sini dulu, ya?” Arden mengulas senyum tipis, menatap kedua wanita itu dengan pandangan hangat.
Alyssa dan Tania saling melirik satu sama lain, namun akhirnya mereka mengangguk setuju.
Sebuah kedai bakso sederhana di pinggir jalan menjadi tujuan utama Arden siang itu. Arden tahu betul, terkadang semangkuk kuah hangat yang sedikit pedas jauh lebih ampuh untuk membangun kembali suasana hati seseorang daripada makanan mewah berharga jutaan rupiah. Ia hanya ingin memastikan bahwa sisa-sisa kecemasan di hati Alyssa akibat serangan panik tadi bisa perlahan mereda.
Dan usahanya berhasil. Suasana santai di pinggir jalan serta obrolan ringan yang Arden bangun perlahan membuat Alyssa bisa mengulas senyum tipisnya kembali.
Setelah selesai makan dan memastikan kondisi Alyssa benar-benar pulih, Arden mengantarkan mereka kembali pulang ke rumah Tania. Di sinilah mereka sekarang, duduk bersantai di ruang tamu yang tenang.
“Terima kasih banyak ya, Arden. Hari ini kami benar-benar sudah sangat merepotkan,” ucap Tania hangat sembari meletakkan cangkir teh hangat untuk pemuda itu.
“Sama sekali tidak merepotkan, Tante. Lagipula, aku kan sekalian ingin menjemput Kak Alyssa untuk pulang ke rumah,” balas Arden santai, melirik lembut ke arah Alyssa.
Alyssa yang saat itu sedang merapikan cangkir kosong di dapur seketika menegang mendengarnya. Sejujurnya, hatinya menolak keras. Ia teramat enggan untuk kembali ke rumah dingin tersebut.
“Aku... ingin menginap di sini saja dulu beberapa hari, Arden. Aku sudah mengirim pesan izin pada Mas Adrian kok,” sahut Alyssa dari arah dapur dengan nada suara yang sedikit dipaksakan agar terdengar biasa saja.
Arden terdiam sejenak, lalu mengangguk maklum tanpa berniat mendesak lebih jauh. Tak lama kemudian, ia berpamitan untuk pulang setelah sebelumnya meletakkan sebuah bingkisan di atas meja ruang tamu.
“Ini untuk Kak Alyssa,” ujar Arden sebelum melangkah keluar pagar.
Setelah Arden pergi, Alyssa termenung menatap paper bag mewah dari butik ternama di tangannya. Dadanya mendadak terasa sesak saat menyadari satu kenyataan pahit: suaminya sendiri bahkan tidak pernah sekalipun memberinya hadiah atau kejutan manis selama empat tahun pernikahan mereka.
“Terima kasih, Arden...” bisik Alyssa teramat lirih, hampir seperti embusan angin.
Tania yang memperhatikan putrinya dari balik pintu hanya bisa menatap dengan pandangan sendu. Sebagai ibu, hatinya hancur melihat sang anak begitu tersiksa dalam pernikahan yang hampa akan kasih sayang.
Tak terasa waktu sore pun tiba. Adrian melangkah masuk ke dalam rumahnya yang besar dengan tubuh yang lelah setelah seharian bekerja di kantor. Biasanya, begitu ia membuka pintu, sosok Alyssa akan selalu menyambutnya dengan senyuman dan bantuan untuk membawakan tas kerjanya. Namun kali ini, suasana rumah terasa sunyi senyap dan dingin.
“Mas Adrian sudah pulang,” sapa Bi Sri, asisten rumah tangga di rumah itu, yang kebetulan sedang lewat di area depan.
“Di mana Alyssa, Bi?” tanya Adrian refleks, matanya menyapu sekeliling ruang tengah yang kosong.
“Non Alyssa sedang berada di rumah ibunya, Mas. Katanya, beliau mau menginap di sana beberapa hari,” beritahu Bi Sri jujur apa adanya.
Adrian terdiam seketika. Ia meraba saku celananya, mengambil ponsel, dan mengecek ruang obrolannya dengan sang istri. Benar saja, di sana ada sebuah pesan singkat dari Alyssa yang sempat ia abaikan beberapa jam yang lalu.
[Aku izin ke rumah Ibu. Mungkin akan menginap beberapa hari.]
Adrian menatap layar datar itu sejenak sebelum memasukkannya kembali ke saku celana. “Ya sudah. Tolong buatkan aku kopi hitam ya, Bi. Antar dan letakkan saja di ruang kerja.”
“Baik, Mas,” balas Bi Sri pelan.
Bi Sri hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya menatap punggung Adrian yang melangkah menjauh menuju ruang kerjanya. Ada rasa iba sekaligus heran yang menggelayut di benak wanita paruh baya itu.
“Mas Adrian ini aneh sekali. Giliran orangnya ada di rumah dicuekin setengah mati, giliran orangnya pergi baru dicari-cari,” gumam Bi Sri lirih sebelum melangkah ke arah dapur.
*
*
Sementara itu, di dalam kamarnya yang tenang di rumah Tania, Alyssa duduk termenung di tepi ranjang. Matanya masih tertuju pada paper bag mewah berlogo butik ternama yang tadi diletakkan oleh Arden. Dengan tangan yang sedikit ragu, ia membuka perekat kemasannya dan mengeluarkan isinya.
Alyssa tersentak pelan. Secarik kain berbahan premium dengan warna pink lembut yang sangat anggun meluncur keluar. Ada aksen renda halus di bagian kerah dan lengannya—sebuah gaun yang tampak sangat manis, berkelas, sekaligus anggun.
Tania yang baru saja masuk ke dalam kamar sambil membawakan camilan ikut tertegun melihat keindahan gaun tersebut.
“Wah... gaunnya indah sekali, Sa. Siapa yang memberikan ini untukmu?” tanya Tania lembut, mendudukkan diri di samping putrinya.
“Arden, Bu...” lirih Alyssa. Jemarinya mengusap permukaan kain gaun yang terasa begitu dingin namun sangat lembut di kulitnya. “Tadi saat di mal, katanya dia tidak sengaja melihat gaun ini dan teringat padaku, jadi dia membelikannya.”
Tania tersenyum tipis, namun sorot matanya menyiratkan keharuan sekaligus kekhawatiran yang mendalam. “Adik iparmu itu anak yang sangat baik dan peka, Sa. Dia tahu bagaimana cara menghiburmu yang sedang sedih hari ini. Cobalah, Ibu ingin melihatnya jika kamu pakai.”
Alyssa bangkit dari ranjang, berjalan ke depan cermin besar dan mencocokkan gaun itu di tubuhnya. Pas sekali. Warnanya yang lembut membuat kulit putih Alyssa terlihat semakin merona sehat dan cantik. Namun, alih-alih tersenyum lebar, setitik air mata hangat justru kembali menggenang di sudut matanya yang indah.
Hatinya berbisik miris. Empat tahun menikah dengan Adrian, kenapa justru adik iparnya yang tahu bagaimana cara memperlakukannya secara layak sebagai seorang wanita? Sementara suaminya sendiri... jangankan memberi hadiah manis, mengingat ukuran pakaian istrinya saja mungkin Adrian tidak pernah sudi.
“Terima kasih banyak, Arden,” gumam Alyssa dalam hati, memeluk gaun pemberian adik iparnya itu dengan perasaan yang campur aduk antara haru dan takut.
Entah mengapa, rasa sesak dan luka akibat cemoohan Tante Indah serta Hanum di restoran tadi perlahan-lahan mulai terkikis, digantikan oleh kehangatan aneh yang dihadirkan oleh sosok Arden. Sebuah kehangatan yang perlahan mulai menembus batas etika yang selama ini Alyssa jaga rapat-rapat.
Bersambung ...
udah'lh Al., lepasin aja., laki² seperti itu tidak pantas d'tunggu
Aku muak sama Kamuuuu...!!!
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣