NovelToon NovelToon
Pedang Penjaga Langit

Pedang Penjaga Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Aura hitam pekat yang berbau busuk seketika menyelimuti seluruh area desa. Rumah-rumah kayu di sekitarnya mulai berderit hebat seolah hendak roboh, bahkan beberapa bagian genting mulai berjatuhan ke tanah akibat tekanan Qi yang begitu masif.

Arga merasakan dadanya menyempit dan napasnya menjadi sangat berat. Alam Fondasi—inilah lawan dengan tingkat kultivasi tertinggi yang pernah ia hadapi seorang diri sepanjang hidupnya.

Pria berjubah hitam itu menyeka sisa darah di sudut bibirnya dengan perlahan. Tatapannya menatap Arga bagai elang yang mengunci mangsa. "Kau telah berani menghancurkan pusaka jiwaku, Bocah. Malam ini, aku akan membuatmu menyesal karena pernah dilahirkan ke dunia ini."

Boom!

Dalam sekejap mata, sosok pria itu lenyap dari tempatnya berdiri.

Mata Arga membelalak sempurna karena terkejut. "Cepat sekali!"

Buk!

Belum sempat Arga memasang kuda-kuda bertahan, sebuah pukulan mentah berlapis Qi hitam menghantam telak perutnya. Tubuh Arga terpental belasan meter ke belakang hingga menabrak pagar kayu desa sampai hancur. Seteguk darah segar langsung menyeruak memenuhi mulutnya.

"Arga!" teriak Nara histeris.

Melihat temannya terkapar, Nara dengan cepat menarik busurnya dan melepaskan tiga anak panah sekaligus ke arah musuh. Wus! Wus! Wus!

Namun, pria berjubah hitam itu bahkan tidak sudi menoleh. Ia hanya mengibaskan sebelah lengan jubahnya dengan santai. Seketika itu juga, ketiga anak panah milik Nara hangus berubah menjadi abu bahkan sebelum sempat menyentuh helai pakaian pria itu.

Nara menggertakkan giginya erat-erat, tubuhnya bergetar. Perbedaan tingkat kekuatan di antara mereka benar-benar terlalu jauh seperti langit dan bumi.

Di dalam kesadarannya, suara Guru Tian terdengar mengalun dengan sangat tenang. "Arga."

"Senior..." sahut Arga sambil menahan rasa sakit yang membakar perutnya.

"Apa pelajaran pertama yang kuajarkan kepadamu saat kau terpaksa menghadapi lawan yang jauh lebih kuat?"

Arga terdiam sejenak, mengingat kembali memori latihannya. Detik berikutnya, sepasang matanya langsung berbinar cerah. "Jangan lawan kekuatannya secara langsung.. lawanlah kesombongannya!"

"Bagus," Guru Tian tersenyum puas. "Jika kekuatan fisikmu belum setara, maka gunakanlah otakmu."

Arga perlahan bangkit berdiri. Ia sengaja membuat gerakannya terlihat sempoyongan dan tidak stabil, lengkap dengan helaan napas yang dibuat tersengal-sengal parah, seolah-olah ia sudah berada di ambang batas kemampuannya.

Melihat kondisi itu, pria berjubah hitam itu tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Apa kau sudah menyerah, Bocah?"

Arga tidak memberikan jawaban. Alih-alih menyerang, ia justru tiba-tiba memutar tubuhnya dan berlari kencang menuju sebuah gudang tua yang terletak di ujung desa.

"Hahaha! Masih berniat melarikan diri rupanya?" Pria berjubah hitam itu segera melesat mengejar tanpa keraguan sedikit pun. Baginya, Arga hanyalah seekor tikus yang sedang terjebak.

Namun, begitu melangkah masuk ke dalam gudang tua yang remang-remang itu, Arga mendadak menghentikan langkah kakinya. Pria berjubah hitam itu menyusul masuk dan langsung menyeringai sinis. "Jalan buntu. Kau salah memilih tempat persembunyian."

"Tidak," Arga berbalik, mengulas senyum tipis yang penuh arti. "Justru tempat inilah yang sejak awal paling kuinginkan."

Pria berjubah hitam itu mengernyitkan dahi, merasa ada yang tidak beres. Saat itulah indranya baru menyadari kondisi sekeliling. Di atas lantai kayu gudang yang berdebu itu berserakan puluhan gentong tanah liat berukuran besar.

Tanpa membuang waktu, Arga langsung menghunus Pedang Penjaga Langit. Sret! Dalam satu tebasan melingkar yang cepat, seluruh gentong di ruangan itu pecah bersamaan, menumpahkan cairan kental berbau menyengat yang langsung membanjiri lantai. Itu adalah minyak lampu cadangan milik desa.

Pria berjubah hitam itu melangkah maju dengan angkuh, mengabaikan cairan yang merendam sepatunya. "Dasar bodoh. Kau pikir genangan minyak seperti ini bisa menembus Qi pelindungku dan melukaiku?"

"Aku tahu minyak ini tidak bisa melukaimu," balas Arga tenang seraya merogoh saku pakaiannya dan mengeluarkan sepasang batu api kecil. "Ini memang bukan untuk melukaimu. Cuma untuk... mengganggumu saja."

Ceklek!

Arga memercikkan batu api tersebut. Percikan bunga api kecil langsung jatuh tepat ke atas genangan minyak di dekat kakinya.

Whoosh!

Dalam hitungan detik, seluruh isi gudang tua itu meledak dan berubah menjadi lautan api yang berkobar dahsyat. Asap hitam yang sangat pekat dan menyesakkan dada langsung membubung tinggi, memenuhi seisi ruangan dan memutus jarak pandang secara mutlak.

"Sialan!" umpat pria berjubah hitam itu saat pandangannya mendadak tertutup total oleh asap dan api.

Di luar gudang, Guru Tian tampak tersenyum puas dari dalam liontin. "Bagus sekali. Para kultivator yang terlalu terbiasa mengandalkan Qi pelindung sering kali melupakan hukum alam yang paling sederhana."

“Aaargh!”

Tiba-tiba, sebuah jeritan kesakitan yang tertahan terdengar memecah gemuruh kobaran api dari dalam gudang. Jeritan itu bukan disebabkan oleh luka bakar, melainkan karena...

Sret!

Bilah tajam Pedang Penjaga Langit tiba-tiba melesat dari balik pekatnya asap dan menusuk tepat di bahu kiri pria berjubah hitam tersebut. Akibat pandangan dan indra penciumannya yang terganggu oleh asap minyak, ia sama sekali tidak mampu mendeteksi arah datangnya serangan mendadak itu.

Arga dengan sigap langsung menarik kembali pedangnya dan melompat mundur untuk menjaga jarak. Meskipun luka tusukan itu tidak tergolong dalam, serangan tersebut sudah lebih dari cukup untuk memecah konsentrasi dan memantik amarah lawannya hingga ke puncaknya.

Pria berjubah hitam itu berjalan keluar menembus kobaran api dengan wajah yang dipenuhi jelaga hitam. Sepasang matanya kini memerah menyala akibat amarah yang meledak-ledak.

"Bagus... Sungguh luar biasa," desisnya dengan suara yang bergetar menahan murka. "Sudah lama sekali rasanya tidak ada seorang anak kecil yang berhasil melukaiku hingga dua kali."

Pria itu perlahan mengangkat kedua telapak tangannya ke udara. Detik berikutnya, pusaran Qi hitam yang sangat pekat berkumpul secara masif, memadat dan membentuk sebuah tombak energi sepanjang dua meter yang memancarkan aura kematian yang mengerikan.

Guru Tian yang semula bersikap tenang, kini mendadak mengubah ekspresi wajahnya menjadi sangat serius di dalam alam kesadaran Arga.

"Arga... segera menjauhlah dari posisimu sekarang juga!"

Arga tersentak mendengarnya. "Kenapa, Senior?"

"Serangan yang sedang ia siapkan berikutnya adalah teknik tingkat tinggi dari Alam Fondasi," ujar Guru Tian dengan nada mendalam. "Serangan murni seperti itu... sudah tidak akan bisa kau hadapi atau akali dengan tipu muslihat medan lagi."

1
Was pray
lemah
Was pray
MC nya berhati baik dan punya empati tapi sayang blo'on
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!