NovelToon NovelToon
Cewe Cegil Vs CEO Dingin

Cewe Cegil Vs CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nalara amora

"Apa gunanya menjadi istri CEO kalau hatinya saja sedingin es kutub?"

Hidup Aratala Arasunya Grita tak pernah mudah. Sejak kecil di panti asuhan hingga berjuang demi biaya kuliah semester dua, Aratala sudah kenyang dengan kerasnya hidup. Namun, sebuah insiden sepeda listrik mempertemukannya dengan seorang wanita elegan—yang secara mengejutkan memintanya menjadi istri anaknya.

Elio Lerian Raymond, CEO muda yang dingin dan ceplas-ceplos, bukanlah pria yang mudah ditaklukkan. Awalnya Aratala menolak, namun angka fantastis yang ditawarkan mampu membungkam egonya.
Lagipula, ini cuma kontrak, pikir Aratala.
Namun, bagaimana jika pernikahan atas dasar kontrak dan kebutuhan biaya panti ini justru membawanya ke dalam pusaran perasaan yang tidak pernah ia rencanakan? Apalagi saat sang CEO mulai menunjukkan sisi posesifnya yang tak terduga.

Selamat datang di kehidupan penuh drama antara Cewe Cegil vs CEO dingin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

satu kemarahan elio

Dengan langkah ringan tanpa dosa, Aratala berjalan keluar kamar menuju area dapur dan ruang tengah bernuansa modern minimalis di rumah mewah elio. Begitu menuruni beberapa anak tangga kecil menuju ruang tengah, aroma harum kopi hitam bercampur wangi roti panggang langsung mengusik indra penciumannya.

Langkahnya terhenti seketika.

Di pulau dapur (kitchen island), sosok Elio sudah berdiri di sana. Pria itu sudah berganti pakaian dengan kemeja hitam kasual yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengannya yang tegas. Di hadapannya terdapat dua cangkir kopi panas dan beberapa porsi sarapan sederhana yang tertata rapi.

Seolah memiliki radar pendeteksi, Elio langsung menolehkan kepalanya begitu mendapati kehadiran Aratala. Netra kelam pria itu menatap tajam ke arah Aratala dari ujung kepala hingga kaki—terutama pada bekas area tulang keringnya yang tadi ditendang.

Aratala yang tadinya sempat ciut langsung memasang wajah sok tidak berdosa. Ia berjalan mendekat dengan dagu terangkat, mencoba mendahului interogasi.

"Pagi lagi, Pak elio yang terhormat," sapa Aratala dengan senyum semanis madu, sengaja menarik kursi meja makan lalu duduk santai di depan piring sarapan. "Wah, baunya enak juga. Nggak nyangka selain jago meluk anak orang pas tidur, kamu bisa siapin sarapan juga, ya?"

Elio mendengus pelan. Pria itu berjalan mendekat membawa cangkir kopinya, lalu menarik kursi tepat di sebelah Aratala—bukan di depannya, membuat jarak di antara mereka kembali menipis secara berbahaya.

"Tendangan kamu lumayan juga pagi-pagi, Aratala," ujar Elio dengan suara baritonnya yang tenang, namun menyiratkan nada ancaman terselubung. Ia meletakkan cangkirnya di atas meja, lalu menumpukan kedua sikunya di permukaan meja sambil menatap lurus ke arah sang istri. "Mau saya balas dengan cara apa sekarang? Mau tendang balik, atau mau bayar denda karena udah bikin suami kamu pincang sebelum jam kantor?"

Aratala mengerjap-ngerjapkan matanya, sama sekali tidak gentar. Ia meraih sepotong roti panggang, menggigitnya pelan, lalu menoleh dengan seringai tipis.

"Denda? Ih, pelit banget," balas Aratala santai, sengaja memiringkan kepalanya menantang. "Lagian, siapa suruh cari gara-gara duluan? Makanya, kalau harimau lagi mode galak, jangan coba-coba diganggu."

Elio terdiam sejenak. Alih-alih marah, sudut bibirnya justru terangkat membentuk seringai penuh arti yang membuat bulu kuduk Aratala meremang seketika.

"Harimau, ya?" bisik Elio pelan, mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Aratala. "Biar saya kurung sekalian di kamar ini supaya nggak bisa ke mana-mana lagi, gimana?"

🌴🌴🌴

Ancaman kecil itu mendadak buyar ketika Aratala melirik jam dinding di ruang makan. Wajahnya langsung berubah panik.

"Astaga, jam berapa ini?! Aku bisa telat masuk kelas!" seru Aratala spontan. Ia buru-buru menghabiskan sisa rotinya, lalu bangkit dari kursi dengan tergesa-gesa untuk menyambar tas kuliahnya.

Selesai bersiap dengan kilat, Aratala berdiri di depan pintu utama, siap melangkah pergi ke kampus. Hari ini, ia mengenakan off-shoulder top berwarna hitam model asimetris yang mengekspos bentuk bahu jenjang dan lehernya yang mulus, dipadukan dengan celana panjang abu-abu berpotongan longgar bertali serut, serta menenteng tas tangan hitam berhiaskan gantungan bintang yang senada. Rambut gelapnya ditata setengah updo dengan beberapa helai helaian membingkai wajahnya yang cantik.

Namun, begitu langkah Aratala bergeser ke arah pintu, suara deheman berat dari arah ruang tengah menghentikannya.

Elio yang tadinya duduk santai kini sudah berdiri. Pria itu melangkah mendekat, namun begitu netra tajamnya menangkap keseluruhan penampilan Aratala hari ini, raut wajahnya langsung berubah drastis. Alis tebal pria itu menukik tajam, sementara rahangnya mengeras seketika.

Bagi Elio, pakaian yang dikenakan istrinya itu jelas-jelas kekurangan bahan. Bahu terbuka, potongan pas badan yang mengekspos lekuk, serta model baju yang terlalu mencolok mata sama sekali tidak mendapat restu dari sang CEO posesif.

Elio menghentikan langkah Aratala dengan mencengkeram tali tas gadis itu pelan, lalu menariknya mundur agar berdiri tepat di hadapannya.

"Mau pergi pake pakaian seperti itu, Aratala?" tanya Elio dengan suara rendah, dingin, dan penuh penekanan mutlak. Netra kelamnya menatap tajam dari bahu terbuka sang istri hingga turun ke bawah. "Baju ini kurang kain, atau memang sengaja mau pamer ke seluruh kampus?"

Aratala mendengus sebal, memutar bola matanya malas sambil melipat tangan di dada. "Ih, sibuk banget deh! Ini namanya fashion, Pak. Modis, tahu! Masak mau kuliah pakai taplak meja?" protes Aratala sengit, sama sekali tidak gentar dengan aura mengintimidasi yang mulai menguar dari tubuh suaminya.

"Ganti sekarang atau aku ga anterin kamu ke kampus " ancam elio

" ikh bodo amat, aku mau di jemput my sweet Bastian"

Mata Elio langsung menyipit tajam begitu mendengar nama itu lagi meluncur begitu saja dari bibir aratala Atmosfer di ruang depan mendadak mendingin, berubah drastis dari nada menggoda menjadi ancaman yang nyata.

"Bastian?" desis Elio berbahaya, rahangnya mengeras sempurna.

sebelum pria itu sempat bertindak lebih jauh untuk menahan atau menyeret Aratala kembali, gadis itu sudah lebih dulu melangkah mundur. Dengan gerakan tangannya yang lincah, Aratala menepis kasar tangan Elio dari tali tasnya.

"Udah ya, bye-bye Pak Suami! Jangan kangen!" seru Aratala tanpa rasa berdosa.

Tanpa membuang waktu lagi, ia langsung berbalik dan berlari kecil, membuka pintu, lalu ngibrit keluar menuju lift dengan senyum penuh kemenangan. Ia sama sekali tidak peduli pada tatapan tajam dan aura membunuh yang ditinggalkan Elio di ambang pintu.

Di dalam, Elio berdiri mematung dengan tangan terkepal di sisi tubuhnya. Napasnya memburu, menahan gejolak emosi—antara rasa cemburu yang tiba-tiba membakar dadanya dan keinginan besar untuk menyusul serta menyeret Aratala kembali detik itu juga.

Bastian... batin Elio penuh peringatan, sementara sudut bibirnya tertarik membentuk garis lurus yang dingin. Cari mati rupanya mahasiswa itu.

🌴🌴🌴

Belum sempat bayangan Aratala menghilang sepenuhnya di balik pintu lift, suara getaran keras berpadu dengan nada dering klasik langsung memecah keheningan apartemen yang mendadak terasa hampa itu.

Elio melirik ponselnya yang tergeletak di atas meja dapur. Layar benda pipih tersebut menyala terang, menampilkan satu nama yang langsung membuatnya mendengus kasar.

Rehan.

Dengan gerakan tegas, Elio menyambar ponsel itu dan langsung menempelkannya ke telinga tanpa basa-basi.

"Ada apa?" sambar Elio langsung, suaranya terdengar jauh lebih dingin dan tajam dari biasanya, cukup membuat siapa pun di seberang sana merinding seketika.

"P-pagi, Pak Elio," suara Rehan terdengar sedikit bergetar di ujung sambungan, seolah bisa merasakan aura membunuh yang terpancar dari bosnya meski hanya lewat gelombang suara. "Saya cuma mau mengingatkan, jadwal rapat koordinasi dengan klien dari korporat utama dimulai setengah jam lagi. Dan... em, dokumen laporan keuangan kuartal ini sudah ada di meja Bapak."

Elio memejamkan matanya sejenak, menekan pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Bukan karena urusan kantor, melainkan karena ulah sang istri kontrak yang baru saja kabur bersama pria bernama Bastian itu.

"Batalkan atau undur setengah jam," perintah Elio mutlak, tidak memberi ruang untuk bantahan.

"T-tapi Pak, kliennya sudah menunggu di ruang rapat utama..." cicit Rehan panik.

"Saya tidak peduli," tukas Elio penuh penekanan. Netra kelamnya menatap tajam ke arah pintu utama yang sudah tertutup rapat. "Kumpulkan data lengkap mengenai mahasiswa bernama Bastian di Fakultas Ilmu Budaya atau semacamnya sekarang juga. Kirim ke ponsel saya dalam waktu lima menit, atau jabatan kamu sebagai sekretaris saya pertaruhkan."

Klik.

Tanpa menunggu jawaban atau kebingungan lebih lanjut dari Rehan, Elio langsung memutus sambungan sepihak. Pria itu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, sementara rahangnya mengeras sempurna.

Berani sekali gadis itu menantang batas kesabarannya pagi ini.

Suara deru mesin berkapasitas besar yang bertenaga langsung memecah keheningan di area drop-off lobi rumah besar elio begitu Aratala tiba. motor sport bongsor berwarna hitam legam yang tampak sangat gahar, terparkir sempurna di sana.

Bastian, yang duduk di atas jok tinggi motor sport-nya, melepas helm full-face miliknya lalu menyunggingkan senyuman lebar ke arah Aratala. "Nih, Biar gak telat ngebutnya," candanya sambil melempar satu helm cadangan kepada Aratala.

Aratala menangkap helm itu dengan sigap, lalu terkekeh puas. "Nah, gitu dong! Kalau pakai ini kan rasanya kayak dibonceng pembalap, bukan tukang ojek langganan," ledeknya santai.

Tanpa pikir panjang, Aratala langsung menaiki jok belakang motor sport tersebut dengan agak kesulitan karena tinggi joknya, lalu memposisikan duduknya dengan mantap. Ia meraih kedua bahu Bastian begitu motor mulai melaju membelah jalanan kota yang mulai padat.

Angin pagi langsung menerpa bahu mulusnya dan rambut hitam yang dibiarkan tergerai indah di balik helm yang belum dikancingkan benar. Aratala menikmati kebebasan itu sepenuhnya, benar-benar melupakan ancaman dan tatapan membunuh dari sang suami di lantai atas sana

🌴🌴🌴.

1
partini
elio kata"mu itu weleh
Nalara amora: tenang kaaa😭🙏
total 1 replies
partini
masih juga nyalahin orang lain situ tuh yg sarappp pak elio,, jangan lah unboxing kaya gitu trauma loh bukanya suka malah benci
Nalara amora: kaaaaaaa😭😭
total 1 replies
partini
good story
Nalara amora: ahhhhhh makasihh kaaa😄🤭🤭
total 1 replies
partini
busettt agresif sakleeee angel ini pura ' nih ceo ga mau di kokop 🤭
aduh mau di apain si cegil jangan kokop pula biar liur najis angel ilang
ko bisa sih Thor angel bebas masuk apa ga ada bodyguard satpam gitu
Nalara amora: tebak hayoo kaa🤭🤭
total 1 replies
partini
ya elah di tuduh menggoda dasar CEO 1/2 ons ,,noh si angel datang jadikan pelampiasan emosi mu dasar CEO murahan
partini: esmosi aku thor🤭🤭 ,cegil ga boleh bersentuhan ma laki" lain eh dianya mah bebas grepek"😂
total 2 replies
Nalara amora
bagus bgt nih cerita nya, rekomendasi buat yg pengen baca yg manis manis plus ada tom and jary nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!