Kania harus mengalami malam tergelap dalam hidupnya, ia dinodai dan kehilangan harga dirinya. Ketika kebenaran terungkap, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya justru menjadi hakim yang paling kejam.
Tunangannya, Haris, langsung memutuskan pertunangan mereka, menganggap Kania sudah kotor dan tak layak lagi bersanding dengannya. Bahkan ayah kandungnya sendiri membuangnya, menyebutnya telah mencoreng nama baik keluarga.
Tanpa dukungan siapa pun, Kania terhempas ke jalanan, hingga seseorang mengulurkan tangan dan membantunya untuk bangkit dari keterpurukan.
Kini, ia kembali bukan lagi sebagai wanita lemah yang diusir, melainkan sebagai sosok yang berani menantang takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
"Vic..."
Suara itu nyaris berbisik, terbawa angin malam yang sejuk, namun bagi Victor seolah kata itu bergema sangat jelas di telinganya. Tatapan tajamnya melembut seketika, dan untuk pertama kalinya, wajah tegas itu kehilangan sedikit ketegasan yang biasanya menyelimutinya.
Ia melangkah selangkah lebih dekat, hingga jarak di antara mereka menjadi sangat dekat. Cahaya lampu taman memantul lembut di wajahnya, menampakkan sisi yang tak pernah ia tunjukkan kepada orang lain.
"Vic," ulangnya pelan, seolah menikmati bunyi kata itu. "Itu kedengarannya jauh lebih baik. Panggil aku begitu saja."
Kania mengangguk pelan, dadanya terasa lebih ringan dari sebelumnya. Rasa takut dan jarak yang selama ini ia rasakan perlahan luruh, digantikan oleh rasa aman yang tak pernah ia kira akan ia temukan lagi.
"Baik... Vic."
Victor menatapnya lekat-lekat.
"Minggu depan ada pesta tahunan Blackwood Corp," ucapnya, suaranya tenang namun tegas, seolah setiap kata yang diucapkannya adalah keputusan yang tak bisa diganggu gugat. "Aku ingin kamu menemaniku ke sana. Di hadapan semua orang, aku akan mengumumkan secara resmi bahwa kamu adalah tunanganku."
Kania menahan napas sejenak, matanya tak berkedip menatap pria itu. Ini bukan sekedar undangan. Ini adalah pernyataan bahwa ia tidak lagi bersembunyi, dan Victor tidak akan membiarkan siapa pun meremehkannya lagi, termasuk dari keluarga yang sudah membuangnya.
"Aku siap," jawabnya tegas.
Victor mengangguk pelan, "Sekarang istirahatlah. Sampai jumpa besok, Kanaya."
Ia melangkah menuju mobil yang menunggunya, masuk ke dalam mobil, dan kendaraan itu perlahan melaju menghilang di balik pintu gerbang yang kembali tertutup rapat. Setelah Victor pergi, Kania masuk ke dalam rumah, ia duduk di sofa dan memikirkan kata-kata Victor yang ingin mengajaknya ke pesta.
"Keluarga Wijaya dan keluarga Baskara pasti akan datang ke pesta itu. Aku harus siap."
-
-
-
Haris melangkah perlahan mendekati sofa tempat ibunya duduk. Suara televisi bergema pelan, namun ia tak mempedulikannya sedikit pun. Ia berdiri tidak jauh dari Nyonya Astrid, menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya yang tak bisa lagi ia pendam.
"Ibu..." panggilnya pelan namun serius. "Aku ingin bertanya sesuatu."
Nyonya Astrid menoleh perlahan, lalu menurunkan volume televisi. Senyum lembut yang biasa ia berikan kini tampak sedikit dipaksakan. "Ada apa, Haris? Wajahmu tampak begitu serius."
Haris menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan suara yang bergetar samar. "Tadi aku ke ruangan Ayah. Secara tidak sengaja aku melihat... ada foto Tante Kirana tersimpan rapi di dalam buku kenangan milik Ayah. Kenapa, Bu? Mengapa Ayah menyimpan foto mendiang ibu Kania? Apa sebenarnya hubungan mereka dulu?"
Wajah Nyonya Astrid sedikit menegang, namun ia segera berusaha menenangkan diri. Ia tersenyum tipis, lalu menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya. "Duduklah dulu. Jangan terlalu banyak berprasangka."
Haris duduk perlahan, matanya tak lepas dari wajah ibunya.
"Dulu, Ayahmu, Tante Kirana dan Om Aryan memang berteman baik," jawabnya tenang, berusaha seolah hal itu adalah hal yang sangat wajar. "Mereka adalah teman kuliah. Jadi wajar saja jika Ayah kamu masih menyimpan kenangan tentangnya, terlebih setelah Tante Kirana meninggal dunia. Itu hanya rasa hormat kepada teman lama, tidak lebih."
Namun penjelasan itu tak sepenuhnya menenangkan hati Haris. Ia melihat kilatan kegelisahan yang cepat hilang dari mata ibunya, nada bicaranya yang sedikit terlalu hati-hati, dan cara tangannya saling meremas tanpa sadar. Ada sesuatu yang disembunyikan. Ia bisa merasakannya dengan kuat.
"Apa benar hanya itu, Bu?" tanyanya lagi pelan. "Ibu yakin tidak ada hubungan yang istimewa antara Ayah dan Tante Kirana?"
Nyonya Astrid menatapnya tajam sejenak, lalu kembali tersenyum namun kali ini lebih dingin. "Kamu terlalu banyak berkhayal, Haris. Sudahlah, jangan pikirkan hal-hal yang tidak perlu. Itu sudah masa lalu."
Haris mengangguk pelan, menelan rasa ingin tahu yang masih mengganjal kuat di tenggorokannya. Ia tahu, jika ia menekan lebih jauh lagi, ibunya pasti akan menutup diri sepenuhnya. Maka ia memilih diam, meski di dalam hatinya, keyakinan itu semakin tumbuh.
"Baiklah, Bu. Maaf sudah mengganggu," ucapnya singkat, lalu berdiri dan berjalan menjauh, meninggalkan ibunya yang masih duduk diam dengan napas yang baru saja dihembuskan lega namun penuh kegelisahan.
Langkah kaki Haris terasa berat saat ia menaiki tangga menuju kamarnya. Di balik pintu yang tertutup rapat, ia tidak bisa memejamkan mata sedikit pun. Pertanyaan demi pertanyaan terus berputar di kepalanya, menimbulkan rasa curiga yang semakin tak terbendung.
Ia teringat kembali tatapan sedih ayahnya setiap kali nama Kania disebut, penolakan ayahnya saat keluar Wijaya ingin mengganti tunangannya menjadi Luna, dan kini foto Tante Kirana yang tersimpan begitu rapi. Ada sesuatu yang salah. Ada benang merah yang selama ini disembunyikan darinya.
-
-
-
Udara masih terasa sejuk saat Kania melangkah keluar menuju halaman. Bian sudah menunggu di sana dengan sikap yang sangat hati-hati.
"Selamat pagi, Nona Kanaya," sapanya sopan sambil sedikit menunduk. Matanya tak lepas dari sekeliling, tetap waspada mengawasi setiap sudut yang mungkin menyembunyikan bahaya.
Kania menatapnya sejenak, lalu mengangguk singkat. "Pagi. Ayo berangkat."
Mereka masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan. Sepanjang perjalanan, suasana hening. Bian duduk di kursi penumpang depan, sesekali melirik ke arah belakang lewat spion, memastikan tidak ada kendaraan yang mengikuti.
"Bian, bagaimana kamu bisa menjadi orangnya Victor?" tanya Kania tiba-tiba. "Apa yang terjadi sebenarnya? Dia mengancammu?"
Bian menatapnya sekilas lewat spion tengah, lalu mengarahkan kembali pandangannya lurus ke jalanan, "Tidak, Nona. Justru Tuan Victor yang sudah mengambil saya dari gerbang kematian. Dia penyelamat saya."
Kania mengangguk-anggukkan kepalanya dan tidak bertanya lagi. Victor memang terlihat dingin dan kejam, tapi justru sikap itulah yang sudah membawanya bangkit dari keterpurukan.
Setelah tiga puluh menit berkendara, mobil sampai di halaman gedung perkantoran. Bian turun lebih dulu untuk membukakan pintu bagi Kania. Baru saja Kania melangkah beberapa langkah menuju pintu utama gedung, sebuah suara terdengar memanggil namanya.
"Permisi, Nona Kanaya."
-
-
-
Bersambung...
mungkin sakit hati karna bapak Haris masih cinta sama mama Kania yg kandung😏
sabar ya pemirsa, bentar lagi malam pesta dimulai😁
lanjut dong thor🤭🤭