~~
Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 33
***
Jeritan histeris Larasati yang bergema memecah dinding batu sel bawah tanah seketika menghancurkan seluruh keangkuhan dan amarah Raden Mas Baskoro. Pria perkasa berusia tiga puluh lima tahun itu melompat berlutut, jantungnya bagai dihantam palu raksasa saat melihat raga permaisurinya melorot lemas.
Wajah Larasati yang berusia sembilan belas tahun pucat pasi laksana mayat. Jemari halus sang Nyai mencengkeram perut besarnya yang membulat keras di usia kehamilan delapan bulan. Bulir-bulir keringat dingin membasahi dahinya, dan napasnya memburu tersengal pendek menahan gelombang kontraksi hebat yang menghantam rahimnya tanpa ampun.
"Laras! Larasati, Nduk!" teriak Baskoro panik, suaranya bergetar hebat.
Tanpa memedulikan Bagas yang masih terikat bersimbah darah atau para pengawal yang berdiri mematung, Baskoro langsung menyelipkan lengan kekarnya di bawah punggung dan lekuk lutut Larasati. Pria itu mengangkat raga mungil istrinya dalam gendongan yang sangat protektif, merengkuhnya rapat-rapat ke dadanya.
"Sentot! Panggil Mbah Mijil sekarang juga! Panggil seluruh tabib di perbukitan ini! Cepat!" raung Baskoro murka, suaranya menggelegar dipenuhi ketakutan luar biasa saat ia berlari menerobos tangga batu menuju keluar sel bawah tanah.
"Siap, Raden Mas!" sahut Sentot gemetar, seketika berlari kencang membelah halaman joglo.
Baskoro menerobos selasar belakang, melangkah lebar penuh kepanikan menuju kamar utama. Di dalam posisinya, Larasati terus merintih kesakitan. Kepala remajanya terkulai lemah di ceruk leher Baskoro, tangannya mencengkeram erat bahan beskap suaminya, menyalurkan rasa sakit yang luar biasa pada rahimnya.
"S-Sakit... Mas... arghhh! Perut saya... tertekan sekali..." rintih Larasati histeris, air matanya tak henti-hentinya menetes membasahi kulit leher Baskoro.
"Tahan, Nduk... Tahan, sayang. Suamimu ada di sini. Maafkan aku... Maafkan aku!" bisik Baskoro parau, napasnya memburu saat ia menendang pintu kamar utama hingga terbuka lebar.
Dengan ketelatenan yang berantakan oleh kepanikan, Baskoro merebahkan Larasati di atas kasur kapuk yang tebal. Ia memposisikan bantal di bawah kepala dan pinggang istrinya, lalu menyibak kain jarik yang melilit perut membuncit Larasati. Perut yang membawa darah dagingnya itu terasa menegang keras bagaikan batu jati kuno—sebuah tanda bahaya akibat stres emosional berat dan guncangan fisik yang dihantamkan Baskoro sejak semalam.
Larasati memejamkan matanya rapat-rapat, wajahnya menyeringai menahan nyeri yang datang bergulung-gulung. Jemarinya yang gemetar dan dingin mencengkeram erat bantal kapuk dan lengan kekar Baskoro yang berada di sisinya.
"Arghhh! Mas Baskoro... s-sakit sekali...!" jerit Larasati, meremas kulit lengan suaminya hingga memerah.
Baskoro tidak—malahan sama sekali tidak memedulikan rasa sakit di lengannya. Pria tiga puluh lima tahun itu justru berlutut kaku di lantai kayu tepi ranjang. Ia mensejajarkan wajah tegapnya dengan perut membuncit Larasati, membenamkan dahi dan bibirnya di atas permukaan rahim istrinya yang menegang.
Pria perkasa yang ditakuti seluruh juragan perbukitan itu seketika menumpahkan air mata penyesalan yang amat deras. Bahunya yang tegap berguncang hebat di balik beskap luriknya.
"Maafkan bapakmu ini, Nduk... Maafkan aku, Larasati..." rintih Baskoro parau, suaranya pecah oleh keharuan dan ketakutan yang menghancurkan jiwanya. Ia mengecup perut Larasati berulang kali dengan jemari yang gemetar mengelus pinggang istrinya. "Jangan pergi... Tolong jangan serahkan anak kita pada maut... Aku yang salah! Siksa aku, Laras, tapi tolong bertahanlah demi anak kita!"
Pintu kamar utama terbuka kasar. Mbah Mijil—tabib sepuh perbukitan Joglo—melangkah masuk terburu-buru dibantu oleh Mbok Sum yang membawa baskom air hangat dan peralatan herbal.
"Penjenengan minggir dulu, Raden Mas! Berikan ruang untuk Gusti Nyai bernapas!" titah Mbah Mijil tegas, menepis bahu tegap Baskoro tanpa ragu.
Baskoro berdiri dengan tubuh gemetar, bergerak mundur beberapa langkah namun tangannya tidak pernah benar-benar melepaskan genggaman jemari Larasati yang dingin.
Mbah Mijil dengan cekatan mengusapkan minyak adas dan racunan dedaunan hangat di atas perut membuncit Larasati, lalu menekan beberapa titik syaraf di kaki dan pinggang sang permaisuri muda. Mbah Mijil meminumkan beberapa teguk jamu penenang rahim yang pahit ke bibir Larasati yang kering.
"Tarik napas perlahan, Gusti Nyai... Hembuskan lewat mulut. Jangan ditahan di dada," bimbing Mbah Mijil lembut. "Iki kontraksi palsu yang teramat kuat akibat guncangan batin. Rahim Anda tegang luar biasa, tapi janin di dalam masih bertahan. Tenangkan pikiran Anda, Gusti..."
Larasati mengikuti petunjuk Mbah Mijil dengan sisa tenaganya. Napasnya yang tadinya tersengal pendek perlahan-lahan mulai teratur. Setelah hampir satu jam berjuang dalam ketegangan yang mencekam, rasa sakit yang mencengkeram perut bawahnya perlahan mereda. Ketegangan keras di rahimnya melunak kembali, membiarkan raga remajanya yang lelah terkulai pasrah di atas kasur kapuk.
Waktu bergulir menuju sore hari. Suasana kamar utama terasa teramat hening, dingin, dan kaku.
Mbah Mijil dan Mbok Sum telah melangkah keluar setelah memastikan kondisi fisik Larasati membaik dan janin berusia delapan bulan itu aman dari ancaman kelahiran prematur. Namun, luka di jiwa sang permaisuri tidak ikut terobati.
Larasati terbaring miring menghadap dinding kayu jati, tertutup selimut jarik hingga sebatas dada. Wajah cantiknya yang berusia sembilan belas tahun masih pucat, namun tatapan matanya yang redup kini terlihat kosong dan membeku seutuhnya.
Di sisi ranjang, Baskoro duduk bersimpuh di atas lantai batu. Pria tiga puluh lima tahun itu telah menanggalkan beskapnya, membiarkan dada bidangnya terekspos. Wajah tegapnya dipenuhi rasa bersalah yang teramat dalam. Perlahan, tangan besar Baskoro terangkat, hendak mengusap helai rambut hitam Larasati yang terurai di atas bantal.
"Laras..." bisik Baskoro lembut, suaranya sarat akan permohonan ampun.
Namun, sebelum jemari Baskoro sempat menyentuh helai rambutnya, Larasati sedikit memalingkan kepalanya menjauh. Tubuhnya menegang halus, secara terang-terangan menolak sentuhan suaminya.
Tangan Baskoro terhenti di udara, membeku. Rasa sakit yang tajam menghantam dada sang juragan tanah melihat penolakan dingin dari permaisurinya.
"Larasati... tatap suamimu ini, Nduk," mohon Baskoro dengan suara bariton yang parau dan pecah. Ia memberanikan diri mendekatkan wajahnya. "Marah padaku, Laras. Caci maki aku... pukul dadaku ini jika itu bisa meredakan rasa sakitmu. Tapi tolong... jangan diamkan aku seperti ini..."
Larasati tetap menatap lurus ke arah dinding jati yang bisu. Tidak ada air mata lagi yang menetes dari pelupuk matanya; selayaknya telaga yang telah kering oleh gempuran fitnah dan tuduhan kejam semalam.
"Saya sudah tidak memiliki rasa marah pada Anda, Mas Baskoro," ucap Larasati pelan. Suaranya terdengar sangat datar, dingin, dan hampa—sesebuah nada suara yang jauh lebih menakutkan daripada bentakan murka.
Baskoro menelan ludah, tenggorokannya terasa tersumbat duri raksasa. "Larasati..."
"Raga dan desahan saya semalam sudah saya serahkan secara patuh untuk melayani cemburu buta Anda," lanjut Larasati lirih, napasnya terdengar halus namun menusuk tepat di pusat ego Baskoro. "Anak di dalam rahim ini pun telah berjuang bertahan hidup dari tuduhan haram yang Anda lontarkan. Sekarang... saya mohon, jauhkan raga dan tangan Anda dari saya."
"Nduk, aku dibutakan oleh cemburu... Kertas itu—"
"Kertas itu hanyalah alasan bagi Anda untuk meragukan kesucian saya, Mas," potong Larasati tegas, memutar pelan matanya untuk menatap lurus ke dalam manik mata Baskoro. Tatapan matanya begitu bening, namun sama sekali tidak memancarkan hangatnya cinta yang dulu pernah ada. "Jika Anda masih menganggap benih di perut saya ini haram, biarkan saya merawatnya sendiri di kamar ini sampai ia lahir. Tapi setelah itu... Anda bebas melakukan apa pun pada saya."
Larasati kembali memalingkan wajahnya ke arah dinding, memejamkan kelopak matanya rapat-rapat dan menarik selimut jariknya lebih tinggi.
"Keluarlah, Mas Baskoro. Saya ingin beristirahat," pungkas Larasati dingin.
Baskoro mematung di lantai kayu. Setiap kata yang keluar dari bibir manis istrinya terasa bagaikan sembilu yang menguliti jiwanya tanpa ampun. Pria perkasa yang biasanya memerintah ratusan abdi dalem itu kini tidak berdaya, hancur oleh penyesalan atas perbuatannya sendiri.
Dengan langkah yang amat berat dan dada yang hancur berkeping-keping, Baskoro berdiri perlahan. Ia menatap punggung Larasati yang terbaring kaku untuk terakhir kalinya, sebelum akhirnya berbalik melangkah keluar kamar utama dengan hati yang tertutup kegelapan mendalam.
Bersambung
eh kadang2 Baskoro 40 Larasati 17..
kadang balik lg Baskoro 35 Larasati kadang 19 kadang 17😄