Pernikahan yang Ayra perjuangkan selama bertahun-tahun ternyata hanyalah kebohongan yang dibungkus cinta.
Dia begitu mencintai Arga, suaminya. Pria itu terlihat sempurna dimatanya—dewasa, perhatian, dan selalu mampu membuat Ayra merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Hingga suatu hari, semuanya hancur dalam sekejap.
Ayra menemukan fakta menyakitkan yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh Arga. Suaminya ternyata memiliki wanita lain dibelakangnya. Bukan orang asing… melainkan sekretaris pribadinya sendiri.
Yang lebih menghancurkan, hubungan terlarang itu telah melahirkan seorang anak laki-laki.
Anak yang selama ini Ayra rawat sepenuh hati. Anak yang dia peluk setiap malam. Anak yang dia anggap sebagai pelipur lara karena rumah tangganya belum juga dikaruniai buah hati.
Namun nyatanya… putra kecil itu adalah darah daging suaminya bersama wanita simpanannya.
Hati Ayra runtuh seketika. Semua kasih sayang, pengorbanan, bahkan cintanya terasa dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15 ~ Aku Akan Pergi
Arga melangkah mendekat perlahan. Aura dingin pria itu langsung memenuhi lorong apartemen sempit tersebut.
“Aku tanya sekali lagi…” suaranya rendah penuh penekanan. “Apa yang kamu lakukan disini?”
Ayra menatap Arga beberapa detik. Dadanya terasa sesak melihat pria itu justru berdiri dekat Shella.
Tatapan wanita itu perlahan berubah penuh kecewa. “Harusnya aku yang bertanya seperti itu.” balasnya lirih. “Kenapa Mas ada disini?”
Deg. Wajah Shella langsung pucat.
Sementara Arga tampak menahan rahangnya kuat sebelum akhirnya menjawab dingin, “Lebih baik kita pulang sekarang.”
Ayra tertawa kecil. Terdengar pahit. “Jadi benar… Kalian memang punya hubungan selama ini?”
“Ra.” Arga menatapnya tajam. “Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”
“Lalu seperti apa?!” bentak Ayra untuk pertama kalinya tepat diwajah suaminya.
Shella sampai tersentak kaget.
“Apa yang aku lihat sekarang masih kurang jelas?" bisiknya tajam. "Suamiku mendatangi seorang wanita diapartemen pribadinya... Masih belum cukup!"
“Dengarkan aku dulu.”
“Untuk apa?!” air mata Ayra mulai jatuh. “Untuk dengar alasan lain lagi?”
Arga mengusap wajahnya kasar, jelas mulai kehilangan kesabaran. “Aku kesini karena urusan pekerjaan.”
Ayra langsung tertawa tidak percaya.
“Pekerjaan?” ulangnya sinis. Tatapannya turun menatap Shella yang masih memakai piyama tipis. “Dengan pakaian seperti itu?”
Deg.
Shella buru-buru merapatkan cardigan tipisnya dengan wajah panik.
“Mbak… berhenti memandangku rendah seperti itu!”
“Diam!” bentak Ayra tajam. Kakinya melangkah mendekat lalu menarik sedikit ujung piyama Shella dengan mata penuh emosi.
“Ini yang kalian sebut pekerjaan?! Wanita ini bahkan lebih mirip seperti jalang dibandingkan sekertaris!"
“CUKUP, AYRA!” bentak Arga keras.
Ayra langsung terdiam. Lorong apartemen itu mendadak sunyi, hati Ayra terasa semakin hancur. Karena sejak tadi Arga tidak sekalipun mencoba memahami kenapa dirinya. Pria itu hanya terus membela Shella.
Perlahan Ayra tertawa kecil sambil menghapus air matanya kasar. “Aku mengerti sekarang…”
Tatapan Arga berubah samar. “Ra…”
“Aku yang sudah mengganggu kalian, kan?”
“Jangan bicara sembarangan.”
“Baik…” bisiknya lirih. “Aku tidak akan mengganggu kalian lagi.” Setelah mengatakan itu, Ayra langsung berbalik pergi.
“AYRA!” Arga spontan mengejar lalu menangkap pergelangan tangan istrinya.
Namun Ayra langsung menepis kasar sentuhan itu. “Jangan sentuh aku…” suaranya pecah. “Aku jijik.”
Deg. Tatapan Arga langsung berubah. Rahangnya mengeras kuat mendengar ucapan itu.
Sementara Ayra mundur beberapa langkah sambil menahan tangis. Dia tidak sudi meneteskan air matanya untuk penghianatan menjijikkan seperti ini.
“Lebih baik kamu selesaikan urusanmu dengan jalang itu..” bisiknya lirih.
Ayra berlari turun dari apartemen dengan napas tidak beraturan.
Brak!
Pintu mobil dibanting keras sebelum wanita itu langsung menyalakan mesin dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Air mata yang sejak tadi berusaha dia tahan akhirnya jatuh tak terbendung lagi.
Sementara dari belakang, Arga buru-buru menyusul keluar apartemen.
“AYRA!” teriaknya panik.
Namun mobil itu sudah melaju pergi meninggalkan mereka. Rahang Arga mengeras kuat.
Shella berdiri dibelakangnya sambil menangis pelan dan memegangi pipinya yang masih memerah. “Mas… aku minta maaf…” lirih wanita itu gemetar.
Namun Arga sama sekali tidak menoleh padanya. Tatapannya masih lurus menatap jalan kosong didepannya.
“Kalau terjadi sesuatu sama Ayra…” suaranya rendah penuh emosi. “Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri.”
Wajah Shella langsung pucat. Dadanya bergemuruh hebat mendengar ucapan tersebut. Shela benci. Sangat benci saat Arga terus saja memikirkan tentang Ayra, meskipun Shella telah memberikan segalanya tapi nyatanya Arga tidak pernah benar-benar bisa mencintainya.
Selalu nama Ayra yang menjadi pemenangnya. Kenyataan ini membuat hati Shella benar-benar marah.
Tanpa menunggu lagi, Arga segera masuk kedalam mobilnya lalu menyusul Ayra.
"Aku ikut!" ucap Shella cepat.
•••
Sepanjang perjalanan, Ayra terus mengemudi dengan tangan gemetar. Dadanya terasa sesak sampai sulit bernapas.
Bayangan Arga yang berdiri didepan Shella terus terulang didalam kepalanya.
Sakit.
Sangat sakit.
Begitu sampai dirumah, Ayra langsung turun dari mobil dan berlari masuk tanpa mempedulikan siapa pun.
Brak!
Pintu kamar dibuka kasar. Sampai Nyonya Ratna yang melihatnya juga ikut terkejut.
"Astaga!" tubuh wanita paruh baya itu sedikit tersentak dan langsung memegangi dadanya.
Ayra langsung membuka lemari lalu memasukkan pakaian-pakaiannya kedalam koper dengan tangan gemetar.
Sementara dibawah, Arga masuk dengan wajah panik, Nyonya Ratna langsung buru-buru menahannya.
“Arga! Sebenarnya ada apa ini?!”
“Nanti saja aku jelaskan!” jawab Arga cepat. Pria itu langsung berlari menaiki tangga.
Sementara dibelakang, Shella masuk dengan wajah pucat.
Nyonya Ratna langsung mengernyit saat melihat pipi Shella merah bekas tamparan.
“Shella… apa yang sebenarnya terjadi?”
Shella menoleh dan langsung memeluk tubuh Nyonya Ratna dan menceritakan tentang semua yang terjadi padanya.
•••
Saat Arga sampai dikamar, Ayra sudah selesai membereskan barang-barangnya. Wanita itu keluar sambil menarik koper.
“Ra…” napas Arga masih memburu. “Kamu mau kemana?”
Ayra tidak menjawab.
Pria itu langsung menahan koper Ayra. “Ra, tolong…” suaranya melemah. “Ini masih bisa dibicarakan baik-baik.”
Ayra akhirnya berhenti. Tatapannya perlahan naik menatap Arga. Mata wanita itu merah karena menangis.
“Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.” suaranya lirih namun dingin. “Semuanya sudah jelas.”
“Ra, dengarkan aku dulu—”
“Aku sudah terlalu sering mendengarkan Mas!” potong Ayra cepat. “Sekarang giliran Mas yang mendengarkan aku!”
Arga langsung terdiam.
“Aku lelah menjadi orang bodoh.” lanjut Ayra dengan suara bergetar. “Aku dan Sam akan pergi dari rumah ini.”
“Ra…”
“Mulai sekarang nikmati saja hidup Mas bersama wanita itu.” Setelah mengatakan itu, Ayra kembali menarik kopernya.
Namun Arga langsung menahan tangan wanita itu erat. “Aku tidak akan membiarkan kamu pergi.”
“Kenapa?” Ayra tertawa kecil pahit. “Bukankah kalau aku pergi, Mas jadi lebih bebas?”
“Ra, berhenti bicara seperti itu.” suara Arga mulai terdengar frustrasi. “Aku bisa jelaskan semuanya. Kita bisa membicarakan ini baik-baik.”
“Cukup!” tolak Ayra keras. “Aku tidak ingin mendengar apa pun lagi!”
Wanita itu langsung menarik tangannya kasar lalu bergegas turun sambil membawa koper.
Brak!
Arga menghantam udara kosong dengan tinjunya frustasi.
“Harghh!”
•••
“Bi Imah?” panggil Ayra setibanya diruang tengah.
Tak lama kemudian wanita paruh baya itu buru-buru datang. “Iya Nyonya?”
“Tolong bereskan semua barang-barang Samuel. Jangan lama-lama.”
Bi Imah tampak kaget sesaat, namun akhirnya mengangguk pelan. “B-baik Nyonya…”
Wanita itu segera berjalan cepat menuju kamar Samuel. Sementara Ayra langsung menuju ruang bermain.
Disana Samuel sedang duduk dilantai sambil sibuk menyusun lego kecilnya.
“Sam…” panggil Ayra lirih.
Bocah itu langsung menoleh lalu tersenyum lebar. “Mama!”
Samuel buru-buru bangkit lalu memeluk kaki Ayra erat. Dan entah kenapa, pelukan kecil itu justru membuat tangis Ayra hampir pecah lagi.
Wanita itu berjongkok lalu memeluk Samuel erat. “Sam… Kita pulang kerumah sekarang ya?”
Samuel mengedip bingung. “Tapi Sam belum selesai main…”
“Nanti kita lanjut dirumah.” Ayra mengusap rambut putranya lembut. “Sekarang ikut Mama dulu ya?”
Samuel diam beberapa detik. Namun akhirnya bocah kecil itu mengangguk patuh.
“Okay!”
Ayra tersenyum tipis meski matanya masih basah. Wanita itu berdiri lalu menggandeng tangan mungil Samuel keluar dari ruang bermain.
Begitu sampai diruang utama, koper Samuel ternyata sudah siap. Bi Imah berdiri disampingnya dengan wajah cemas.
“Terima kasih, Bi.” ucap Ayra pelan.
Lalu tatapannya turun pada Samuel.
“Ayo sayang…”
Namun tiba-tiba Suara Nyonya Ratna menggema keras memenuhi ruangan. Langkah Ayra langsung terhenti.
“Samuel tidak akan pergi dari sini!”