NovelToon NovelToon
Story Of Love

Story Of Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:303
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Nastiti

Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?

layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.

Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....


Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Setelah adzan Maghrib terdengar, kami segera turun ke musholla untuk sholat. Baru setelah itu kami pulang. Bang Rengga mampir ke kasir sebentar untuk pamit dan mengambil pesanan yang entah kapan dia pesan.

Setelah beberapa puluh menit akhirnya kami sampai juga di rumah. Setelah mesin motor di matikan, lelaki berumur dua puluh delapan tahun itu segera turun dari motornya.

"Masuk dulu, Bang." ajak ku.

"Iya, Abang duduk di teras aja ya. Sambil ngadem." ucapnya.

"Iya." jawabku. "Abang mau di buatin kopi apa teh?" tawar ku.

"Teh aja, Yang. Takut nggak bisa tidur ntar malam."

Aku mengangguk lalu berbalik. Belum sempat masuk, lelaki itu kembali memanggil.

"Yang, ini bawa masuk sekalian." ucapnya sambil mengulurkan paper bag yang berisi baju batik dari dalam tas rangselnya.

Aku kembali mengangguk dan menerima paper bag tersebut.

"Assalamu'alaikum," ucapku saat sampai di ruang tengah dimana ada Bapak dan Ibu.

"Waalaikumsalam," jawab Bapak dan Ibu bersama.

"Sudah pulang, Mbak?" tanya Ibu.

"Iya, ini tadi di bawain sama Bang Rengga camilan dari cafe nya. " ucapku sambil meletakkan kardus dalam kresek di atas meja.

"Sekarang Bang Rengga nya dimana?" tanya Bapak.

"Ada di teras, Pak. Mau ngadem katanya."

"Ya udah, Bapak ke depan dulu. Mbak bersih-bersih aja dulu. Biar segar. Jangan lupa bawakan minuman ke depan ya nanti." ucap Bapak.

"Biar Ibu aja yang buat minuman, Pak." sela Ibu. "Nanti habis bersih-bersih Mbak langsung ke depan ya!"

"Njeh, Bu. Pak, Mbak bersih-bersih sebentar njeh. Minta tolong temani Bang Rengga didepan. Takutnya di bawa kabur sama nyamuk." ucapku lalu terkekeh.

Bapak segera beranjak ke depan sambil tertawa, hendak menemani Bang Rengga yang sedang santai di teras rumah.

"Eh, iya lupa. Ini ada baju buat Bapak, Ibu, Azka juga Putri buat hari Minggu nanti." ucapku pada Ibu setelah mengambil baju milikku.

"Duh, pasti dari Bang Rengga ya Mbak. Jadi nggak enak ini Ibu sama Bapak."

"Mbak sudah bilang sama Bang Rengga, Bu. Tapi dia nya maksa. Ya sudah, iyain aja daripada dengerin dia ngomel kayak emak-emak pas akhir bulan kehabisan gas sama air galon." jawabku sambil bercanda kemudian masuk ke kamar.

Setelah mencuci muka dan berganti baju, aku langsung ke depan, bergabung dengan Bapak, Ibu, dan Bang Rengga. Ternyata di sana juga ada Azka dan Putri yang ternyata baru pulang dari cek kandungan.

"Gimana, Dek? Apa kata dokter?" tanyaku pada Putri.

"Tetep, Mbak. Kalau Minggu besok belum ada tanda-tanda kontraksi Senin pagi di minta langsung ke Rumah sakit lagi. Harus Caesar katanya." jawab Putri terlihat sedih dan cemas  jadi satu.

Kupeluk adik ipar ku itu. Dia menangis, setelah beberapa lama dan Putri juga sudah tenang, kulepas pelukan ku.

"Sabar ya, entah itu mau lahiran normal, atau Caesar. Itu sama-sama berjuang lho Dek. Sama-sama berjuang buat menghadirkan malaikat kecil buat keluarga kecil kalian. Bahkan proses recovery nya jauh lebih lama Ibu yang lahiran dengan Caesar daripada yang lahiran normal. Kamu yang tenang, bawa dalam doa aja ya. Biar semua lancar. Semua Ibu itu wanita hebat."

Putri mengangguk. Sekarang ganti Ibu yang memeluk istri dari adikku itu. Aku bergeser, pindah duduk di sebelah Bang Rengga.

Setelah mengobrol beberapa lama, Bang Rengga pun pamit karena hari juga sudah malam.

"Besok Abang agak siangan ya, ambil tagihannya."

"Tumben ngikut hari Selasa? Biasanya Rabu." ucapku saat berdiri di samping motor yang sudah di naiki Bang Rengga.

"Iya, sudah ada yang pegang area Probolinggo nya. Abang cuma pegang Malang, sama karesidenan Kediri."

"Ow.... Ya sudah. Besok aku siapin. BG nya belum di teken sama Pak Wandi. Tapi udah disiapkan kok."

Bang Rengga mengangguk, "Abang pulang dulu ya, nanti sleep call ya, Yang."

"Iya, Hati-hati jangan ngebut ya."

"Iya, sayang. Assalamu'alaikum," ucap Bang Rengga.

*****

Pagi ini aku datang agak terlambat ke kantor karena drama motor yang susah nyala. Aku baru ingat kalau bulan ini belum ku bawa service. Akhirnya pertolongan pertama pada ojol agar tidak terlalu terlambat.

Lumayan lah, terlambat lima belas menit. Kulihat sudah ada beberapa orang suplier yang antri ambil tagihan.

Setelah mengambil berkas tagihan, segera kulayani mereka satu persatu sesuai antrian mereka datang.

Hingga agak siang, semua antrian selesai. Akupun kembali ke ruangan. Baru juga duduk, terdengar salam dari suara yang tidak asing buatku.

"Waalaikumsalam, iya dokter mari silahkan masuk ada yang bisa di bantu?" tanyaku.

"Mbak, mau pesen obat tapi aku mau tanya-tanya harga dulu bisa?"

"Bisa dokter. Mari silahkan duduk."

Agak lama juga aku melayani pesanan dokter Dian. Setiap pesan, dia memang selalu menanyakan opsi lain dengan kualitas bagus dan harga murah. Maklumlah, kebanyakan pasien kliniknya adalah masyarakat kelas menengah ke bawah. Bahkan menurut cerita beliau, kadang ada pasien yang membayar dengan sayuran hasil panen halaman rumah. Meskipun dia sebenarnya menggratiskan biaya layanan dan obat di kliniknya.

Kulihat sekilas sudah ada Bang Rengga yang menunggu di depan ruangan serius menatap tablet ditangannya. Sesekali dia menatap ke arahku. Tatapannya tajam, membuat aku sedikit salah tingkah saat tak sengaja beradu pandangan dengannya. Akupun berpikir, apa ada yang salah? Tumben sekali dia menatapku seperti itu.

Hampir satu setengah jam, aku baru selesai melayani dokter Dian. Dokter itupun pamit setelah mengucapkan terimakasih.

"Akhirnya.... " ucapku... lalu segera beranjak menyiapkan tagihan para suplier yang sudah sabar menanti dari pagi.

Sekarang giliran Bang Rengga, dia masuk sambil membawa satu plastik hitam yang lumayan besar. Dia letakkan di atas meja ku, lalu dia mengambil kursi yang ada di sebelahku. Kemudian dia tukar dengan kursi yang ada di depan.

"Kenapa?" tanyaku heran.

"Kursinya panas! Bekas dokter ganjen." jawabnya.

Aku sampai melongo mendengar jawaban ajaib dari Bang Rengga.

"Apaan sih? Nggak jelas banget."

"Emang harus gitu duduknya di samping kamu? Nggak bisa gitu di depan kamu sini. Berbatasan meja." protesnya

Baru aku paham arti tatapan tajam lelaki ini sedari tadi.

"Ada aroma terbakar Mbak Bon, tapi bukan kayu. " goda Mbak Nita.

Aku hanya bisa menggelengkan kepala.

"Ya sudah, maaf. Lain kali kalau dia datang lagi bakal aku suruh duduk di pojokan sana. Oke?" tanyaku.

"Ya nggak gitu juga kali, Yang." jawabnya lirih.

"Maaf, pantatnya bisulan ya, Pak? Udah ambil kursi tapi kursinya di anggurin aja?" tanyaku menggoda.

Bang Rengga hanya diam, dia mengeluarkan isi dari kresek hitam tadi. Rupanya nasi kotak. Baru ingat aku kalau jam makan sudah hampir lewat. Dia letakkan satu nasi kotak di atas meja Mbak Nita.

"Makan sore Mbak Bon, karena makan siang udah lewat jam nya gara-gara dokter nggak seberapa ganteng."

Aku dan Nita tertawa mendengar ucapan Bang Rengga.

Bang Rengga juga mengambilkan satu kotak untukku. Dan satu lagi untuknya.

"Numpang makan ya, Bu." ucapnya menggodaku.

"Iya, Abang makan dulu. Aku ambil air minumnya ya." ucapku sambil berdiri hendak mengambil air mineral yang biasa di sediakan untuk tamu di depan.

Tidak lama aku sudah kembali dengan tiga botol sedang air mineral untuk kami bertiga. Bang Rengga berdiri agar aku bisa masuk ke belakang meja ku karena posisi duduknya yang menghalangi jalan.

"Makan dulu, Yang. Taruh dulu kerjaannya. Habis makan kerjain lagi."

"Iya." jawabku sambil. Memberekan beberapa berkas agar sedikit longgar.

"Weh... Ada Mas Rengga, sudah lama Mas?"

Sebuah suara membuat aku berhenti ketika akan menyiapkan sesendok nasi ke mulut. Sedangkan Nita hampir saja menyemburkan nasinya saat mendengar hal itu.

"Mas... mas.... Kamu pikir siapa? Enteng banget panggil Mas." tegur Nita pada Riska. Anak gudang yang biasa membantuku menerima kiriman barang jika pekerjaan ku sedang banyak. Dia memang agak ganjen, dari tatapannya, aku mengerti kalau dia menaruh hati pada Bang Rengga.

"Berapa gram Pak, beratnya.. " tanya Nita "Mas kuning apa Mas putih?" goda nya lagi.

"Makan, Ris." ucap Bang Rengga singkat.

Riska tersenyum manis pada Bang Rengga. "Mbak Nita kenapa sih, sirik aja. Kan Mas Rengga nya belum nikah, masak aku panggil Bapak? Mas Rengga nya aja diam kok aku panggil Mas. Kenapa situ yang marah?" ucap Riska.

"Astaga, nih anak. Terserah kamu deh!" jawab Nita akhirnya.

"Aku emang belum nikah, tapi udah OTW nikah lho ya..." jawab Bang Rengga setengah memperingatkan Riska setelah dia selesai makan.

Aku hanya diam saja melanjutkan makan, buatku nggak penting meladeni Riska. Sudah sering juga dia bersikap tidak jelas pada ku saat tahu Mas Yunus menaruh hati padaku. Entah kali ini seperti apa lagi sikapnya padaku jika tahu akulah calon istri Bang Rengga.

"Ow... Baru OTW kan.. Belum nikah... " ucapnya tidak tahu malu. "Mbak Rani, nih faktur kiriman barang dari pagi sampai siang tadi."

"Iya, makasih ya Riz." jawabku.

"Iya, sama-sama. Mas Rengga, Riska balik ke dalam dulu ya." pamitnya lalu keluar dari ruanganku.

"Bang, ini tagihannya. Cek dulu ya. Barangkali ada yang kurang." ucapku sambil menyerahkan BG dan slip tagihan yang sudah dititipkan minggu lalu.

"Iya, Abang cek tagihan. Kamu pilih cincin ya, Yang." ucapnya sambil menyerahkan ponsel pintar miliknya yang sudah ada beberapa foto cincin couple di galeri nya.

"Itu di toko punya temen aku kuliah dulu. Kamu pilih aja ya, yang mana yang kamu suka."

Ucap Bang Rengga.

"Harus gitu pilih sekarang?"

"Iya, nanti tinggal Abang kabari ke teman Abang pilihan kamu yang mana. Nanti malam biar di bawaain sama teman Abang pas dia habis tutup toko."

Beberapa saat aku melihat dan membandingkan, ada sekitar tujuh pilihan hingga akhirnya ada satu model yang sederhana tapi elegan menurutku.

"Yang ini aja gimana, Bang?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!