Yuri meremas gaunnya yang cantik melihat mantan suaminya terlihat bahagia di atas pelaminan. Padahal 1 minggu yang lalu putusan cerai di sahkan oleh pengadilan. Yang menjadi istri baru mantan suami adalah Arimbi sahabat baiknya yang dengan tega merebut kebahagiannya disaat Yuri berjuang untuk mendapatkan sang buat hati.
Air matanya berusaha ditahan agar tidak tumpah membasahi dan merusak riasan wajahnya yang sudah sempurna. Disaat Yuri berusaha tetap tegar sebuah tangan menggenggam tangannya dan memberikan sebuah kekuatan baru.
"Apa kamu ingin membalaskan dendam mu kepada mereka?" ucap Gio
"Apa aku bisa??" jawab Yuri ragu -ragu
Gio yang merupakan atasannya ditempat kerjanya yg baru tak sengaja bertemu di pesta resepsi David dan Arimbi. Hubungan keduanya pun sebatas karyawan dan atasan.
"Menikahlah denganku dan lahirkanlah anak untukku"
"Itu tidak mungkin, aku mandul!!" Ucapnya tegas.
"Percayalah padaku. Kamu bisa menggunakan seluruh kekayaan yang aku miliki untuk membalaskan dendammu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membangun Kehidupan Baru
Dengan berat hati Yuri menatap rumah yang sebentar lagı dia tinggalkan. Bukan perkara harga rumahnya namun seluruh hasil kerja keras Yuri yang telah dimulai sejak sekolah menengah dipergunakan untuk membeli rumah tersebut. Selain itu banyak kenangan manis saat Yuri dan David masih terikat pernikahan, tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar.
Disambut senyuman manis Laura, Yuri berjalan dengan lebih tegar meski hatinya begitu berat meninggalkan semua. Tetapi luka yang tengah Yuri rasakan haruslah sembuh agar mampu membangun kembali kehidupannya yang telah dihancurkan. Tak mungkin Yuri berlarut-larut dalam kekecewaan dan kesedihan yang mendalam, Yuri yakin Tuhan akan memberikan kebahagian yang lain di masa depan.
"Dasar wanita bodoh, sudah hidup enak dijamin anak saya malah belagu ingin berpisah. Sekarang rasakan saja hidup kamu yang sengsara mulai saat ini. Siapa juga yang mau dengan wanita mandul seperti kamu! Sudah ada buktinya bukan jika anak saya subur dan kamu yang mandul!!" hujat Yola mengiringi langkah Yuri meninggal rumah miliknya.
Sesuai kesepakan, rumah tersebut menjadi milik David jika Yuri memutuskan untuk bercerai dengan David. Senyum sinis Yola berikan setelah berhasil mengusir "mantan istri" David serta mendapatkan apa yang menjadi keinginannya.
"Yuri apa kamu tidak bisa mempertimbangkan keinginan kamu untuk berpisah? Apa kamu sudah tidak mencintai Mas lagı Yuri??" David masih berusaha untuk menahan Yuri pergi, cintanya yang dalam tak rela melihatnya menjauh.
Disamping Yola, Arimbi mengandeng tangan calon ibu mertuanya. Dia sedang berusaha mengambil hati dan perhatian Yola dengan demikian semakin mudah merebut hati David. Rengekannya saat David yang masih perhatian dengan Yuri membuat Yola semakin kesal dengan Yuri yang dikiranya tengah bermain drama.
"David untuk apalagi kamu menahan wanita tak berguna seperti itu, seharusnya sudah kamu buang sejak lama. Sudah ibu katakan jika dia adalah wanita mandul. Sekarang kamu masuk dan urus ibu dari calon anak kamu ini. Sejak pagi dia belum sarapan, apa kamu tidak kasihan sama sekali!! Biar wanita itu menjadi urusan ibu!!!" gerutu Yola, dia menarik tangan David agar masuk ke dalam rumah dan tidak menangisi kepergian Yuri.
Semakin mantap hati Yuri untuk segera pergi dari rumah itu, bahkan dia tidak mempedulikan apa yang terjadi di belakangnya. Meskipun jauh di lubuk hatinya yang terdalam masih ada sedikit cinta untuk David, tetapi akan lebih sakit jika dia tetap bertahan.
Laura membantu Yuri memasukkan koper dan barang bawaan sahabatnya yang lain, segera membawa Yuri ke tempat tinggalnya yang baru. Tak sedikitpun Yuri menoleh ke arah rumah yang tiga tahun ini dia tinggalin, dia sudah yakın akan meninggalkan semua kenangan pahit dan memulai kehidupan baru di tempat yang baru pula. Dengan jumlah uang yang dia miliki di rekeningnya hasil pekerjaan freelance yang dia lakukan, Yuri mampu menyewa sebuah rumah kecil.
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐
Hampir dua jam dia menjalani sidang perceraiannya hari ini, sidang mediasi berjalan cukup alot karena David menginginkan rujuk dan mengajukan keberatan atas gugatan cerai yang dilakukan Yuri. Cuaca di siang hari yang begitu terik, membuat tenggorokannya menjadi kering.
Matanya melihat sebuah kedai kopi yang ada di persimpangan jalan, entah mengapa ingin rasanya dia membeli sebuah minuman di kedai tersebut. Dia merasa sepertinya satu cup es kopi akan menyegarkan tenggorokannya.
Bruugghh
Sreettttt
Sreettttt
Yuri yang tidak fokus berjalan tiba-tiba menabrak seseorang hingga cup kopi yang dia pegang jatuh dan tumpah. Beberapa dokumen milik pria tersebut juga berjatuhan dan basah terkena cairan kopi yang tumpah. Panik melihat kertas berharga itu rusak dan basah, pria itu segera mengambilnya di lantai, berharap masih bisa diselamatkan.
"Nona bagaimana ini rusak semua kan gambar designnya? Bisa tamat kalau begini karir saya!!!" gerutu pria tersebut karena design yang akan digunakan untuk presentasi hari ini basah dan rusak.
"Maafkan saya Pak, saya tidak sengaja," ucap Yuri menyesal.
"Lalu bagaimana ini Nona, apa ucapan maafku bisa menyelamatkan karir saya hari ini. Tidak kan!!" umpatnya dengan kedua mata memerah.
"Antar saya menemui boss anda, saya yang akan bertanggung jawab," seru Yuri yakin, bagaimana juga dia harus bertanggung jawab karena telah melamun saat berjalan.
"Apa kamu yakın nona? Boss saya bukan sembarang, dia sangat kejam!!" sahut pria tersebut sambil berbisik.
"Yang penting dia tidak memakan atau membunuh orang kan?" tanya Yuri memastikan.
"Anda bercanda Nona? Yang benar saja, boss saya bukan kanibal!!"
"Ya sudah antarkan saya menemui beliau, apa beliau ada disekitar sini atau di kantor?" tanya ulang Yuri, sebenarnya ada keraguan dalam hatinya.
Bagaimana jika boss pria tersebut seorang pria yang mesum dan akan menculiknya begitu saja. Bagaimana juga jika boss pria tersebut merupakan sindikat perdagangan wanita, ah pikiran Yuri semakin kalut.
Setelah menilik penampilan Yuri dari atas sampai bawah, pria tersebut segera menarik tangan Yuri dan membawanya ke hadapan bossnya yang sedang menunggu di parkiran. Karena tak punya banyak pilihan, pria itu terpaksa membawa Yuri kehadapan bossnya yang terkenal sangat tegas dan kejam.
Setelah sampai di depan mobil sang boss, pria tersebut mengetuk kaca mobil, tak berselang lama kaca pun turun dan memperlihatkannya sesosok pria berkaca yang berkarisma dan berwibawa. Pria itu seketika menjadi panas dingin saat mendapatkan tatapan yang menusuk dari sang boss, begitu juga Yuri. Aura mencekam ini seperti sedang menonton film horor sendirian di tengah malam.
"Mana kopinya?" tanya sang boss
"Mmmm.. ma--maaf boss belum saya pesan soalnya anuu boss---" Pria tersebut menjadi gugup, dia sungguh ketakutan.
"Ada apa!!"
Suara baritonnya membuat Yuri merinding, sangat dingin dan terkesan cuek membuatnya ikut terpaku dan seolah-olah tengah terintimidasi.
"Maafkan saya boss, ada sedikit masalah, gam-gambar untuk Singapore Festival terkena tumpahan kopi dan rusak," terang pria tersebut dengan gugup, kepalanya tertunduk dan tidak berani menatap bossnya yang masih berada didalam mobil.
Glek
Glek
Yuri menelan salivanya, ingin rasanya dia kabur dan meninggalkan tempat ini sejauh mungkin. Tetapi dia juga tidak mungkin lari dari tanggung jawabnya dan membuat orang lain mendapatkan masalah besar.
"Ziyan!!!!!"
Tak lama seorang pria tak kalah tampan dan berwibawa keluar dari pintu penumpang dan membukakan pintu untuk sang boss. Keluarlah sang boss dari mobilnya dan berdiri tegap menjulang. Yuri pun seketika terpana dengan kegagahan pria tersebut, bukannya Yuri tak pernah melihat pria tampan tetapi Yuri sangat menyukai pria dengan karisma yang menawan.
Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi apapun, tetapi Yuri dapat merasakan jika sang boss itu tengah menahan emosi. Bulu -bulu halus di tangan Yuri seketika berdiri merinding saat hawa dingin seakan menyentuhnya.
"Dia siapa?"
Tatapannya menghunus langsung ke arah Yuri, langsung menundukkan kepalanya tak berani lagı menatap langsung matanya meskipun seperti ada mantra sihir yang membuat Yuri ingin terus melihatnya.
"Wanita ini yang tidak sengaja menabrak saya boss, dan kopi miliknya jatuh dan mengotori gambar desain ini, boss," terang pria tersebut menceritakan kejadian yang sebenarnya.
Secepat kilat tangan sang boss mengambil gambar desain yang telah rusak dan meremas kertas tersebut menjadi berbentuk bola.
"Sampah!!!"
Sang bos melemparkan gumpalan kertas tersebut ke arah pria itu dengan kekuatan penuh, terlihat jelas dari guratan di lehernya yang mengisyaratkan jika sang bos tengah emosi.
"Kembali ke kantor dan kemarin barang-barangmu, besok tidak perlu bekerja kembali!! Dasar tidak berguna!!"
Deg
Pria tersebut langsung bersimpuh memohon belas kasihan dari bossnya agar tidak dipecat. Memang ini bukan kesalahannya tetapi bossnya itu tidak mentolerir kesalahan sekecil apapun. Apalagi gambar design tersebut akan pakai untuk mendaftar pada acara yang sangat penting.
Merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi, Yuri mulai memikirkan apa yang dia lakukan. Yuri juga tak bisa berdiam diri melihat orang lain sampai harus kehilangan pekerjaannya karena kecerobohannya.
"Maaf Pak, saya yang akan bertanggung jawab tapi saya mohon bapak jangan pecat dia. Saya yang akan memperbaiki gambar desain tersebut," ucap Yuri langsung tanpa basa basi.
Dua bola mata dengan manik hitam legam langsung terarah pada diri Yuri. Sorot matanya seakan ingin menelan wanita mungil itu sekaligus, ada juga rupanya orang yang tidak takut padanya.
"Siapa kamu hah!!" sentak sang boss
"Yu-yuri," cicit Yuri sambil memainkan jari jemarinya.
"Siapa kamu berani berbicara dengan saya!! Panggil saya boss, saya bukan bapak kamu!!" serunya dengan nada suara yang naik hampir satu oktaf sehingga mengundang beberapa orang yang ada di area sana melihat ke arah mereka.
"Ma--maaf." Yuri kehilangan nyalinya, rasanya ingin menangis dibentak oleh orang yang tidak dia kenal dihadapan umum.
Pria yang disamping sang boss kemudian berbisik sesuatu.
"Masuk ke mobil!!"
"Saya??" tanya Yuri memastikan.
"Memangnya ada orang lain selain kamu di sini hah!!"
Pria disamping sang boss memberikan kode kepada Yuri agar mengikuti kemauan bossnya, namun Yuri yang tidak paham justru terdiam. Yuri kebingungan harus melakukan apa, dia membayangkan jika boss tersebut akan membawanya ke suatu tempat dan kemudian menjadikannya budak.
"CEPAT MASUK!!!"
Yuri terkejut dan refleks masuk ke dalam mobil, duduk di kursi belakang. Tak lama boss tersebut menyusul duduk sebelah Yuri dan pintu tertutup rapat. Yuri terjebak, dia merapatkan dirinya pada sisi pintu berusaha menjaga jarak takut orang yang tidak dia kenal berbuat macam-macam. Ah bodohnya Yuri kenapa tidak lari saja namun justru terbawa arus mengikuti perintah pria itu.
"Dengan cara apa kamu akan bertanggung jawab? Apa kamu tidak tahu seberapa penting gambar desain tersebut yang sudah kamu rusak dengan kopi murahan milikmu itu."
Ucapan Boss tersebut sungguh melukai hatinya, tapi tak banyak yang bisa Yuri lakukan.
"Jika kamu berpikir untuk menjual tubuhmu saya tidak butuh, banyak wanita yang lebih cantik dan seksi yang bisa saya beli!!" ucapnya dengan angkuh.
" Hei jaga ucapan kamu Pak!!" mereka berdua beradu pandang, saling menatap.
Tapi sedetik kemudian Yuri kembali menundukkan kepalanya, kehilangan nyali saat melihat ketegasan dari kedua bola mata pria di sebelahnya itu.
"Panggil saya Boss Gio!"
"Boss Gio," cicit Yuri mengucap nama pria tersebut.
"Saya ulangi, dengan cara apa kamu bertanggung jawab?"
Glek
Glek
Mendadak mulut dan lidahnya menjadi kaku, aura Gio terlalu kuat dan mengintimidasi Yuri. Belum lagı di dalam mobil ada tiga pria yang bisa saja berbuat buruk kepada dirinya yang hanya seorang wanita lemah.
"Sa-saya akan mencoba menggambar ulang gambar desain tersebut," jawab Yuri dengan suara yang lirih.
"Apa kamu pikir ini taman kanak-kanak yang bisa kamu menggambar sesuka hati. Asal kamu tahu, desain ini akan digunakan pada acara festival design musim panas internasional," ucap Gio sambil melihat ke arah jam tangannya.
Dua jam lagı, batas pengumpulan design dan pendaftaran peserta Singapore Festival, namun 10 gambar design yang rencananya akan didaftarkan sudah rusak.
"Saya seorang lulusan fashion designer, meskipun hasil tangan saya tidak sebagus gambar desain yang telah rusak setidaknya saya mencoba untuk bertanggung jawab," jawab Yuri dengan penuh keyakinan.
Gio melihat kesungguhan di mata Yuri, meskipun meragukan tidak ada salahnya untuk dicoba. Lagi pula dia tidak ada pilihan lain.