Kecubung Biru hanya bisa menatap getir. Akan Bumi Menoreh yang membara.
Diantara pertikaian ayah dan pamannya, Pulung Jiwo dan Ronggo Pekik.
Juga mesti membantu perjuangan Diponegoro dalam melawan Kumpeni.
Perang ini mesti mengabaikan segala kepentingannya, asmara yang membara dan kesehariannya yang sunyi, untuk dilewatkan bersama kepingan dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon C4703R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang saudara
Tak ada tanda-tanda dimana dia berada. Mungkin disana. Mungkin di suatu tempat. Itu yang selalu menjadi pertanyaan dalam benak kami. Bagai hilang di telan bumi. Dia begitu piawai dalam melakukan tindak diam-diam.
Yang tak diketahui musuh. Hal ini yang membuat masalah bagi kami. Yang tak segera dapat menemukannya. Dan mau tidak mau harus meneliti satu demi satu tempat-tempat yang dimungkinkan dia berada. Ini yang membutuhkan waktu tak sedikit.
Lama sudah pencarian kita. Yang memang tak mengerti persembunyian dia. Atau mungkin dia tak bersembunyi. Tapi berada pada suatu tempat yang kami tak ketahui. Serta jauhnya jarak yang hendak kami tuju. Membuat tak bisa dalam waktu dekat menujunya.
Karena kami juga tak bisa melewati jalan biasa. Takut kepergok Sama pasukan keraton dan para Kumpeni itu. Kalau kepergok, bisa jadi tujuan kita menjadi sia-sia. Karena akan terjadi perselisihan. Yang belum tentu kita menangkan. Sehingga sebisa mungkin kita menjangkau tujuan dengan melewati perjalanan sunyi.
Kita mencari ke desa asal si Ronggo Pekik. Barangkali disana. Dirumahnya pun sepi. Tak ada yang melihat keberadaannya.
“Kosong,“ ucapku. Setelah meneliti rumahnya yang tak ada orang sama sekali.
“Dia tak ada disini. Ayo kita cari di tempat lain. Barangkali di hutan. Aku pernah mendengar dia memiliki tanah disana.“
Kami mencari ke tepi hutan. Di tanah yang dulu miliknya. Barangkali disana ada. Benar....
Di satu pondok, di tepi hutan, ada yang terikat.
Kecubung Biru.
“Bapak....”
Segera kami mendapatkannya. Lalu melepaskan semua ikatan di tubuhnya. Nampak keadaannya menyedihkan sekali.
“Kau tak apa-apa?”
“Bapak aku takut.”
Kecubung Biru terisak sembari erat memeluk ayahnya.
“Sudah..”
Pulung Jiwo hanya bisa menenangkan putrinya. Dia paham apa yang dialami putrinya itu benar-benar mengenaskan.
“Kemana dia?“
“Mencari makan mungkin,“ jawab Kecubung Biru. “Dia kasar.“
“Kurang ajar dia! Akan kuberi pelajaran,“ ujar Pulung Jiwo marah. Segera dia mencari Ronggo Pekik.
Tak berapa lama,
“Eh... ada tamu.“
Ronggo Pekik datang dengan santainya sembari membawa sesuatu di tangan. Rupanya dia sudah tahu resikonya. Sebagai seorang yang sudah berbuat kurang ajar bagi rekannya tentu akan membuat amarah. Dan mungkin tak hanya sepele, tapi perhitungan yang mengerikan bakalan dia terima. Semua itu rupanya sudah dia perhitungkan sepanjang dia membawa lari anak orang itu.
“Kurang ajar kamu! Apa yang kau lakukan itu jahat! Kau apakan anakku?” Pulung Jiwo langsung mencecar dengan berbagai pertanyaan dengan nada panas akibat amarah yang menggelegak.
“Kukira kau sudah mati. Makanya kubawa dia. Kasihan dia kalau harus hidup sendirian. Dan kujadikan istri,” jawabnya dengan enteng.
“Bedebah kamu!“
Pulung Jiwo melemparkan pedangnya ke arah Ronggo Pekik. Berharap temannya itu mati saja daripada hanya menyengsarakan keluarganya.
Hampir kena. Untung berhasil mengelak.
“Sudahlah. Kau serahkan saja dia padaku. Aku akan membahagiakannya.“ Ronggo Pekik terus mengoceh tidak karuan yang membuat Pulung Jiwo bertambah marah.
Pulung Jiwo mengejar Ronggo. Segala pusaka dia pakai untuk melemparnya.
Ronggo melawan. Daripada mati konyol.
“Sudah kubilang kau lemah.”
“Awas kamu!”
Mereka berdua saling kejar. Ronggo pekik menghindar tiap lemparan lawannya akan mengena. Dan giliran dia membalas. Sekali tendang. Lalu mundur.
Berikutnya meraih senjata. Dan dibabatnya Pulung Jiwo. Ronggo Pekik hampir menusuk Pulung Jiwo. Tapi Pulung Jiwo meraih tombak. Dia pakai untuk menangkis serangan tersebut.
Sekaligus dipakai untuk menusuknya. Membuat Ronggo mundur. Dia tahu kekuatan Pulung Jiwo yang juga teman semenjak lama. Bakalan langsung tamat riwayatnya kalau sampai tubuhnya terkena senjata ampuh itu.
Tiba-tiba dia meraih tanganku.
sejauh mana mengerti detilnya Thor 🤗🤗🙏🙏 ada yang ingin saya ketahui
Kutunggu kedatangan kalian
Terima kasih