"Astangfirullah Pak, ini bukan hukuman tapi menindas namanya!" Pekik Nabila kala menatap bukuu setebal tembok di depannya.
"kalau tidak mau silahkan keluar dari daftar Siswi saya!" jawab pria yang amat di kenal kekillerannya.
huff!
Nabila tak dapat membantah selain pasrah ia tidak mau mengulangi mata kuliah satu tahun lagi hanya demi satu kesalahan.
Tetapi Nabila pikir ini bukan kesalahan yang fatal hanya dosennya memang rasa sensitiv terhadap dirinya, Nabila tidak tahu punya dendam apa Pak Farel sehingga kesalahan kecil yang Nabila perbuat selalu berujung na'as.
Yuk lanjut baca kisah Nabila yang penuh haru dan di cintai oleh dosennya sendiri secara ugal-ugalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana fatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Lanjut tutup mata
Nabila tercengang karena Alka walau mulutnya pedas seperti cabe ia masih punya sisi yang baik, tapi Nabilla merasa canggung di suapin suami galaknya itu.
"Ayo makan, kamu masih sangat lemas kalau tidak segera di isi perutnya yang ada kamu tambah lemas, Nabila." ucap Alka sambil menyuapkan sendok ke mulut Nabila.
"Sa-ya bisa makan sendiri, Pak," Nabila berusaha menolak dengan sopan.
Alka menghela napas kasar, istrinya ternyata keras kepala juga.
"Berapa kali saya katakan kamu jangan sok kuat, kalau terjadi sesuatu tetap saya nanti yang di salahkan, atua kamu sengaja biar saya di marahin orang tua." akhirnya Nabila membuka mulutnya dan menerima suapan dari Alka dari pada dirinya terus-terusan di tuduh.
"Kok Bapak, belum juga pakek baju, kan sudah mandi?" tanya Nabila melirik sekilas ke arah Alka, pria itu entah sadar atau tidak kalau dirinya sedari belum memakai baju.
Alka menunduk melihat pada dirinya sendiri, tapi sayang bibir Alka justru tersenyum semir.
"Kamu tergoda, dan ingin itu lagi," kata Alka tanpa dosa.
Nabila mengerutkan kening,"Tidak Pak, hanya saja aneh, kenapa Bapak tidak malu?" balas Nabila, yang justru mengejek Alka.
"Kenapa malu, saya tidak mengombar di depan orang banyak, di sini hanya ada istri saya, kamu lupa kalau aurat suami istri itu seperti apa?" ucap Alka setengah menekan kalimatnya, ia kasih Nabila berani mengatakan dirinya begitu, benar tidak sopan.
"Maaf Pak, bukan maksud saya menuduh bukan-bukan tapi kan Bapak tahu kita baru menikah dan tentu hal begini belum buat saya nyaman dan ini karena belum terbiasa," ucap Nabila coba membela diri.
"Berarti mulai sekarang kamu harus terbiasa karena ke depannya saya bakal seperti ini kalau di kamar," ucap Alka santai.
Selesai makan, Nabila bangkit untuk membereskan sisa makanannya ia tidak mau di anggap lemah sama Alka, karena memang saat ini rasa sakitnya malu mengurang tapi badannya masih terasa pegal, dan jika Nabila bilang mau tidur lagi ia takut Alka mengira dirinya sengaja memancingnya.
"Menyebalkan, kenapa itu orang masih saja songung sih, padahal selama ia sudah berani mengambil keperawanan gue," sungut Nabila kesal.
Antara lelah dan bingung ia mau ngapain saat ini, sedang Alka sudah lebih dulu berada di atas kasur rebahan sambil memainkan ponselnya.
Karena hati Nabila masih kesal ia dari dapur pura-pura tidak melihat Alka, dengan berjalan santai mengambil ponsel dan memilih duduk di shofa yang ada di balkon tapi sebelum itu Nabila mengambil hijab bergonya jadi ia tidak perlu khawatir jika ada orang yang melihatnya.
Melihat Nabila duduk di shofa luar tanpa menyala dirinya, Alka menyerngit heran karena sikap Nabila seolah ia tidak menganggap keberadaan dirinya, dan itu semua tanpa Alka sadari kalau sikap Nabila itu karena dirinya sendiri yang buatnya sakit hati oleh ucapan padasnya.
Sebenarnya Alka kesal melihat Nabila yang acuh terhadap dirinya tapi karena melihat Nabila yang lagi bersantai menikmati ombak dan angin ia biarkan anak itu bersenang-senang sendiri.
Namun satu menit berlalu Alka merasa tidak nyaman berada di kamar berduaan dengan sang istri tapi tidak bisa dekat-dekat dengannya.
"Masak bulan madu seperti ini, kayak orang musuhan, nggak jelas banget," batin Alka.
"Nabila," panggil Alka tak betah.
Nabila menoleh, ia menatap wajah suaminya yang kusut berada di atas kasur.
"Iya Pak, ada apa?" tanya Nabila.
"Boleh mintak tolong?"
"Apa?" jawab Nabila cepat.
"Bisa nggak kalau di ajak suami bicara itu, datang ke sini, apa kamu memang tidak tahu cara menghargai suami?" lagi-lagi ucapkan Alka melukai hati Nabila.
Nabila yang lelah tidak mau berdebat kali ini, langsung beranjak menuju ke tempat Alka.
"Bapak, mau minta tolong apa?" tanya Nabila pura-pura lembut.
"Nah gitu, kan enak di dengar." Nabila menatap malas.
"Buatkan saya kopi, tapi Jangan terlalu manis," pinta Alka.
"Ini Pak, kopinya," Nabila menyerahkan secangkir kopi lengkap dengan tutupnya, setelah itu Nabila langsung pergi lagi tapi terhenti saat Alka bersuara lagi.
"Kamu mau kemana?" tanya Alka.
"Saya cuma mau duduk di sana Pak," sahut Nabila.
"Kenapa tidak di sini saja?" ujar Alka.
"Nggak papa Pak, biar saya di duduk di sana aja," tolak Nabila bukan apa-apa ia hanya tidak ingin ganggu Alka yang lagi istirahat.
"Kamu kenapa sih, bisa nggak nurut, saya ini suami kamu loh!" Alka yang tahu istrinya itu masih capek agar bisa istirahat tapi sayang ucapannya bukan membuat Nabila simpati tapi justru sebaliknya
"Bapak sendiri kenapa juga, bisanya hanya merintah terus tanpa bertanya dahulu pada saya." sungut Nabila kesal.
"Apa salahnya saya hanya meminta kamu untuk istirahat di sini, ini bukan merintah." CK Alka karena Nabila makin berani.
"Apa bedanya kalau maksa!" Nabila langsung membaringkan tubuhnya ke atas kasur lalu menarik selimut menutupi seluruh wajahnya.
"Udah ya, sekarang saya sudah istirahat tolong jangan ganggu saya, mau tidur." pekik Nabila menyentil Alka dengan kata tolong.
Di skak begitu kini Alka sudah mati kutu, dan tidak bisa membantah ucapan isterinya.
"Sial, dia benar langsung tidur," gumam Alka padahal tadi hanya modusnya saja biar bisa berduaan dengan istrinya di atas ranjang tapi ia terlanjur meminta Nabila istirahat.
Karena di lihat istrinya benar tidur, Alkapun mengalah karena dirinya juga capek, apa lagi istrinya itu pasti lebih capek.
Alka menaruk ponselnya di atas nakas lalu ia menarik selimut untuk ikut tidur, satu menit, dua menit sampai jam sepuluh siang mereka sama-sama terlelap dengan nyenyak, dan tanpa tereasa di luar hujan mulai turun kala menyambut siang hari.
Saat hujan berusaha menerobos melewati celah jendela, saat itu juga udara dingin mulai menyusup. Ke dua pasangan yang sedang terlelap tak terasa tidurnya sudah bukan lagi seperti tadi yang saling memunggungi, melainkan saling berpelukan.
Alka bergeliat duluan karena merasa ada yang membebani dirinya dan siapa sangka kala matanya kebuka ia di suguhkan dengan wajah indah Nabila tapi tak beraturan dengan hijab yang masih di kenakan sehingga Alka melihat Nabila sedikit tidak nyaman tidurnya.
"Huh! dasar cewek angkuh, apa susahnya sih di buka kamu sendirikan yang tidak nyaman," gumam Alka.
Setelah membuka hijab Nabila siapa sangka kancing baju Nabila terbuka dan itu menampakkan buah dada Nabila begitu merona, bekas merah di sana masih ada membuat Alka terbayang oleh kegiatan semalam, tiba-tiba pusaka bawahnya bergerak tak mau diam.
"Huf! gimana caranya ya," batin Alka.
Alka memperbaiki bantal Nabila dengan mengukungnya, dan tak lama Nabila bergeliat.
"Pak, kamu mau apa?" tanya Nabila karena suaminya sudah berada di atasnya.
"Tidak usah banyak tanya, saya begini salah kamu sendiri, kamu pikir dengan cara baju mu begitu, saya tidak tergoda jadi kamu harus bertanggung jawab," ucap Alka alibi.
Nabila menyerngit sambil menatap ke bawah, ia kaget kenapa kancing bajunya bisa lepas semua, atau jangan-jangan memang suami mesumnya itu yang sengaja berbuat tetapi belum Nabila membela diri Alka sudah lebih dulu menerkam bibirnya hingga buat Nabila suruh bernapas dan perlahan ada rasa masuk berbeda.
Nabila tak dapat bergerak lagi, kalau tangan Alka begitu lihat meraba keseluruh punggungnya melalui celah yang ada, sedang melahab habis-habisan.
Dan jangan salahkan Nabila jika wanita itu ikut hanyut dalam permainan Alka jika laki-laki itu begitu lembut memberikan rangsangan.
"Emm..., Pak," gumaman dan desahan bercampur keluar dari bibir Nabila di mana lebih menonjol desahan yang menunjukkan Nabila mulai larut dalam cinta.
"Sial, kenapa benda ini sudah buat saya candu," batin Alka, rasanya tak ada puasnya ia bermain dengan tubuh indah sang istri, gimana tidak, buah apel dua itu terasa kenyal dan menagih apa lagi wangi tubuh Nabila membuat Alka selalu rindu, entah bagaimana cara wanita itu merawat tubuhnya.
Puas Alka bermain di area sumber kepuasannya kini saatnya Alka menjelajah lebih dalam lagi, dengan gerakan cepat Alka melepas pakaiannya sendiri lalu melepas piyama milik sang istri sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua, selanjutnya hanya athor yang tahu....
Wkwkwkw.