NovelToon NovelToon
Telat Nikah?

Telat Nikah?

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Lin_iin

Aku tidak peduli meski kini usiaku sudah menginjak angka 27 tahun. Yang katanya jika perempuan sudah berumur 27 tahun artinya Tuhan sudah angkat tangan dalam mengurusi jodohku. Aku juga tidak terlalu pusing dengan cibiran tetangga maupun Ibuku sendiri yang mengatakan diriku sudah terlalu tua, hanya untuk menjalani hubungan layaknya anak SMA yang masih saja pacaran.

Ibu bilang, alasanku tidak segera menikah karena aku yang tidak serius menjalin hubungan dengan Kenzo, pacarku. Padahal itu tidak benar. Aku serius, sangat serius malah menjalin hubungan dengannya.

Aku hanya belum siap. Ya, hanya belum siap, kami hanya butuh waktu untuk membuat kami yakin untuk naik ke pelaminan.

Menikah itu tentang kesiapan mental. Aku jelas tidak ingin menikah di saat mentalku belum siap. Aku tidak ingin ketidaksiapan mentalku mempengaruhi keluarga kecilku kelak. Tidak perduli jika usiaku sudah masuk kategori telat menikah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lin_iin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenapa Jadi Begini?

###

"Mbak, ada titipan undangan," kata Sandra saat melihatku memasuki butik.

Aku baru saja pulang dari minimarket, habis belanja keperluan pribadi dan membeli persediaan kopi instan, teh celup, dan beberapa cemilan untuk karyawanku dan tamu. Sandra langsung berdiri dari kursinya dan menghampiriku, sembari menyodorkan sebuah amplop undangan pernikahan berwarna merah marun dengan ukiran berwarna gold di setiap sudutnya, dan pita berwarna senada dengan ukiran sebagai hiasan.

"Dari siapa?"

"Mbak Arisha. Mbak Arisha juga ngundang Mas Kenzo, beliau akan sangat senang jika Mbak Qilla ngajakin Mas Kenzo juga. Soalnya tadi Mbak Arisha yang kasih sendiri, Mbak."

Aku mengangguk paham, "Oke, nanti aku kabarin orangnya bisa apa enggaknya," ucapku sebelum naik ke lantai atas. "Belanjaan aku bongkar di atas dulu ya, jadi harap bersabar menunggu. Aku mau beres-beres sekalian," imbuhku setengah bercanda.

"Halah, udah jamnya mau pulang, kalau nunggu Mbak Qilla beberes dulu keburu kitanya sampai di rumah to," celetuk Mbak Husna yang diikuti tawa renyah dari Jihan dan juga Sandra. Membuatku akhirnya ikut tertawa.

"Ya kalau gitu, jangan pulang dulu. Lembur," candaku yang langsung ditolak Mbak Husna habis-habisan.

Aku kembali tertawa sambil menggelengkan kepala, baru kemudian mulai menaiki anak tangga.

Begitu sampai di lantai atas, aku langsung meletakkan belanjaanku dan undangan pernikahan dari Arisha di atas meja. Kemudian menghempaskan bokongku di sofa, baru kemudian meraih amplop undangan yang tadi sempat ku letakkan di atas meja.

"Kapan nih acara resepsinya," gumanku sembari membuka pita pada hiasan amplop. "wah, tinggal minggu depan. Kenzo kira-kira bisa enggak, ya? Apa aku dateng sendiri aja? Eh, tapi enggak enak sama Arisha."

Meski dengan sedikit bimbang, aku akhirnya memutuskan untuk menghubungi Kenzo. Lebih baik menanyakan langsung pada orangnya saja, ketimbang aku memutuskan sendiri. Kalau Kenzo bisa, ya dateng sama Kenzo. Tapi kalau Kenzo-nya nggak bisa ya, dateng sendiri aja.

"Cie cie, ada yang udah kangen. Kangen berat ya, sampai telfon duluan?" Suara Kenzo langsung menyapa gendang telingaku, saat sambungan terhubung.

Aku tersenyum sembari mendengkus samar. Meski dalam hati sedikit membenarkan kalimatnya.

"Assalamualaikum," ucapku mengabaikan pertanyaannya.

Dan dapat kudengar suara berdecak dari seberang. Dan kalau boleh menebak, sekarang ekspresi Kenzo pasti sedang cemberut sekarang ini.

"Iya, wallaikumsalam. Iih, kamu itu nggak asik banget sih. Nyebelin," rajuk Kenzo kemudian.

Aku hanya tertawa mendengarnya sembari menggelengkan kepala tak habis pikir.

"Udah deh, ngambeknya. Ini aku mau tanya sesuatu sama kamu nih, kamu lagi sibuk enggak?"

"Ya, kalau aku sih biasanya emang sibuk. Cuma berhubung kamu duluan yang telfon, aku enggak jadi sibuk deh. Ada apa emangnya?"

"Apaan sih, nggak lucu banget."

"Loh, aku emang nggak lagi ngelucu ini."

"Iya, iya. Minggu depan kamu ada acara?"

"Kenapa?" Suara Kenzo berubah serius.

"Aku dapet undangan nikahan dari salah satu customerku. Kalau kamu nggak sibuk, bisa temenin aku?"

"Kapan?"

"Minggu depan."

"Waduh! Minggu depan aku udah janji sama Kesha buat nganter dia ke Bogor nih. Gimana?"

"Oh, ya udah kalau ada acara. Aku dateng sendiri aja."

"Apa aku batalin aja janjiku sama--"

"Enggak usah!" potongku cepat. "Aku dateng sendiri aja, atau sama Sandra."

"Maaf ya," sesal Kenzo terdengar tak enak.

Aku tersenyum kecut sembari menggeleng. Meski pada kenyataannya Kenzo tak melihatnya.

"Its okay. Ya udah, aku tutup ya. Sorry kalau mengganggu waktu sibuk kamu."

"Iya, nggak papa."

"Ya udah, aku tutup," ucapku sebelum mengakhiri sambungan.

"Iya. Jangan lupa jaga kesehatan dan jangan kangen!" balas Kenzo sebelum sambunhan terputus.

Aku hanya menjawab dengan gumanan dan langsung mengakhiri panggilan. Entah kenapa aku merasa sedikit lega karena Kenzo tak bisa menemaniku, tapi di sisi lain aku juga merasa sedikit kecewa dengan sikapnya yang sedikit berbeda, seperti ada pembatas di antara kita, sehingga kami tak bisa bersikap seperti biasa. Semakin dipikirkan, aku merasa semakin ragu dengan hubungan kami, membuatku teringat dengan kalimat Mas Adi. Ah, sudahlah. Lebih baik aku mulai membereskan barang belanjaanku daripada memikirkan sesuatu yang tidak jelas seperti ini. Membut pusing saja.

*****

Aku merasa cukup menyesal karena memaksakan datang kondangan ke acara nikahan, yang hanya segelintir orang saja yang ku kenal. Jika seperti ini, aku bisa mati kutu di dalam. Meski aku mengenal cukup dekat dengan yang punya hajat sekalipun. Tapi jika mengingat tamu sebanyak ini, mana sempat si pangantin atau pemilik hajat menemaniku mengusir rasa bosan. Jelas tak akan terjadi.

"Harusnya aku tadi ajak Jihan aja," gerutuku menyesali perbuatanku.

Hanya karena Sandra tidak bisa menemaniku, akhirnya aku malah dengan gegabahnya datang seorang diri. Ck. Benar-benar menyebalkan.

"Katanya punya pacar, kok kondangan datang sendiri terus. Beneran udah ada yang punya belum sih, Mbak?"

Dalam hati aku langsung mengumpat kesal, saat menemukan senyuman penuh kemenangan dan nada biacara penuh sindiran yang sedang ditampilan Reynand sekarang ini. Dan sekarang aku benar-benar merasa sangat menyesal karena datang sendiri.

"Ditanya itu dijawab, bukan malah bengong."

Aku berusaha memaksakan senyumku. "Saya rasa, saya tidak punya hak untuk menjawab pertanyaan anda," ketusku kemudian.

"Masih judes aja, mulutnya pedes kayak bubuk cabe yang diiklanin anaknya Sule, yang levelnya 30. Tapi kenapa gue tetep suka."

Aku mencoba tak mengubris gumannya yang cukup keras itu. Dan memilih untuk segera bergabung dengan kerumunan tamu yang sedang antri untuk bersalaman dengan sang pengantin. Setelah selesai bersalaman, aku harus segera pulang, agar tak perlu repot-repot bertemu dengan pria menyebalkan yang sok ganteng itu.

Namun nasib baik sepertinya belum berpihak padaku. Karena tepat saat kedua kakiku melangkah menjauhi dari kerumunan tamu, tangan kananku tiba-tiba dicekal seseorang. Dan saat aku membalikkan badan, aku langsung menemukan wajah  sumringah Reynand dengan senyuman yang sulit aku artikan.

"Mau ke mana?"

Aku menaikkan alisku sebelah. Heran, kenapa juga aku harus memberitahunya.

"Saya rasa ini bukan urusan anda. Dan bisa anda lepaskan tangan saya?"

Reynand mangguk-mangguk, sembari melepaskan tanganku dan mengangkat kedua tangannya sendiri tinggi-tinggi.

"Tapi saya tidak bisa membiarkan tamu spesial adik saya, pergi begitu saja tanpa mencicipi menu hidangan yang sudah susah payah kami siapkan. Jadi, mari saya antar ke ba--"

"Tidak. Terima kasih," selaku memotong kalimatnya dengan ketus.

Reynand kembali mengangguk, meski ekspresi wajahnya tidak terlihat seperti orang yang betul-betul paham.

"Tapi saya tipekal orang yang tidak suka jika diperkataan saya dibantah," balas Reynand tak mau kalah.

Aku mendengkus kasar. "Itu jelas bukan urusan saya."

"Benarkah? Apa kamu tipekal orang yang suka menarik perhatian?"

"Maksudnya?" Aku memandangnya tak paham.

Reynand memajukan badannya kemudian berbisik. "Saya cukup ahli membuat lawan bicara saya menuruti permintaan saya, dengan cara menarik perhatian di sekitarnya. Bagaimana, mau mencoba?"

"Apa itu sebuah ancaman?"

Reynand mengangguk. "Bisa jadi."

Aku berdecak jengkel karena kalah. Dengan pasrah aku pun berjalan ke

catering stand diikuti Reynand di belakangku yang sedang tersenyum penuh kemenangan. Membuatku gemas untuk mengumpatinya.

"Silahkan menikmati hidangannya. Saya undur diri. Jika butuh bantuan, bisa lansung memanggil saya."

Setelah mengucapkan itu, dia langsung pergi begitu saja tanpa menunggu jawabanku sama sekali.

Sialan. Kenapa jadi begini?

Tbc,

Saya kembali😥

Apa ada yang merindukan saya?

Mas Ken Ken?

Atau Mamas Rey?

Eh, nggak ada ya?

Ya syudah.

Saya nggak usah terusin. Udah gitu aja.

1
Sheety Saqdiyah
gaya bahasa & penulisannya ok, jd nyaman bacanya..
sayangnya baru nemu di penghujung tahun ini..
Ulil Baba
kalau gk gitu nikah udah lama tapi belum hamil pasti banyak yang tanya gitu udah bati durung /udah isi belum,, gimana perasaan mu
Jessica
Luar biasa
Lia Kiftia Usman
itu bedanya rey dan kenzo...
Lia Kiftia Usman
gpp kali...harga menunjukkan kwalitas Alhamdulillah uang hilang gantinya ruko daripada uang hilang ikutan 'judol'..ups🤭
Lia Kiftia Usman
sip... harus itu..memahami rasa menjadi pihak ibu...
Lia Kiftia Usman
aq baca ulang thor karyamu...
Lia Kiftia Usman: siap..
total 2 replies
Quinn Cahyatishine
Luar biasa
Quinn Cahyatishine
aku baca ulang udah agak lupa jalan ceritanya,krn udah lama banget, 🤭
Vie ardila
Luar biasa
Afnina Helmi
udh gk keitung berapa kali aq mampir kesini, krn seseru ini cerita ny
yani djamil
bagus banget, bacanya enak, mengalir tdk ribet, kosa katanya jg bagus, syg terlambat nemunya, semangat Thor /Drool//Good/
yani djamil
bagus banget..enak bacanya, serasa denger org ngobrol...syng baru Nemu..uwun teh ShaNti udh d tunjukin novel yg bagus.. semangat Thor /Good//Pray/
Lina Herlina Hardjati
cuusss
Lilis Rosmayati
ga sk sm qilla. kasian sm kenzo yg bgitu baik. kesha bener nikah ato tinggalin . ngegantung ank orng si qila. nyebelin
Rozzy Haris
ko aku kaya ga ikhlas ya kalo ga sama Kenzo Aqila nya
Alea
ya udah deh Kenzo nya buat aku aja.
gemes banget sama Qila.cowok sebaik sesabar itu kok ditolak nikah.
Kenzo juga,kayak nggak ada cewek lain aja yg mau dinikahin
Alea
baca novel ini karna liat di...di profil mom Shanti.
Di profil ya namanya?
atau apalah namanya🤔pokoknya intinya tau novel ini karena liat mom Shanti yg promosiin.
maciw mom Shanti
Arha🥰: sma kak 😁
iseng buka profilny kak shanti niat cari rekomendasi novel yg bagus, eh nemu ini😁
total 1 replies
Alea
kalau aku diajak nikah sama laki laki kayak Kenzo langsung mau aja dong jangan sampai dia capek nunggu aku siap,terus malah kecantol cewek lain
Oetaribardaini
Masha Allah baru novel yg seru di Noveltoon kyk gni bagus banget ...
Arha🥰: bener kak, alurny spt nyata g terlalu d buat2 kyak novel laennya..
mgkin ad judul novel yg bsa d rekomendasikan kak😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!