Novel ini mengikuti Event #Mengubah Takdir
Antasya Misya adalah seorang Siswi kelas 12 IPA 3 di SMA Negeri 1 Pelita, Anta adalah nama panggilannya. Dia anak yatim ayah nya meninggal sekitar 5 tahun lalu karena sebuah insiden kecelakaan. Anta di sekolah selalu menjadi bahan Bully an entah karena penampilan nya atau tata bahasa.
“Jadi bahan Bully adalah rutinitas ku. Melihat tetangga mengucilkan ku adalah pemandangan ku setiap hari. Tidak ada yang berteman dengan ku adalah hal yang sudah biasa” ~ Antasya Misya
“Bersabar dan tetap menjalani dengan ikhlas adalah prinsip ku” ~ Antasya Misya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Widia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 009 Membantu Om Abraham
Malam hari tepat pukul 19:00 Ketika Anta belajar ternyata ia kehabisan bolpoin (pulpen) membuat Anta harus keluar dari rumah. Dengan segera Anta menyambar tas kecil milik nya, kemudian memasukkan 1 botol air mineral, uang dan handphone nya ke tas kecil selempang milik nya. Setelah itu Anta bergegas untuk mengganti pakaian nya. Tepat pukul 19:15 Anta mulai berjalan kaki ke Toko Buku yang ada di jalan Merapi sekitar 1 km. dari tempat tinggal Anta.
Sampai di Toko Buku Anta Segera membeli Dua buah bolpoin yang ada di barisan paling depan kemudian membawanya ke kasir untuk membayar bolpoin nya.
"Semuanya sepuluh ribu kak!" Ucap karyawan toko BUKU tersebut.
Kemudian Anta membuka tas nya dan mengambil satu lembar uang dengan nominal 10.000 kemudian menyerahkan uang itu ke karyawan toko Buku.
"Trimakasih kak di nanti kunjungan nya kembali" Ucap karyawan toko Buku itu dengan ramah di sertai senyuman yang selalu mengembang, kemudian karyawan itu memberikan satu kantong kresek berisi bolpoin yang tadi di beli oleh Anta. Anta pun segera mengambil satu kantong kresek itu, kemudian memasukkan nya ke tas.
"Iya" Sahut Anta juga dengan ramah dan senyum yang selalu mengembang.
"Malam - malam gini enak nya kemana yah" Gumam Anta seorang diri dan kemudian Anta melihat ke arah taman Kota. "Ke taman ah" Ucap Anta kemudian Anta menyebrang jalan raya dan duduk di salah satu kursi taman. Pandangan Anta tidak lepas dari satu keluarga yang sedang asik bermalam sabtu di taman keluarga kecil itu terlihat sangat bahagia bisa bercanda ria satu sama lain. Tanpa permisi air mata Anta menetes membasahi pipi, Anta mengingat - ingat kapan terakhir kali ia bersama keluarga lengkap nya bercanda dan berbahagia bersama 'Sangat lama' Anta tidak pernah merasakan bahagia.
Angin malam berhembus dengan sepoi - poi dan semilir - milir menerbangkan poni rambut milik Anta membuat semua orang betah di taman itu tak terkecuali bagi remaja 18 tahun berinisial A. yaps Anta masih setia berada di taman itu meski satu persatu orang pulang karena waktu sudah mulai larut.
Pukul 23:00 Anta pun memutuskan untuk pulang. Bahkan ketika Anta tidak pulang pun juga tidak ada yang mencari nya. 😥
Anta pun juga pulang dengan berjalan kaki. Di tengah perjalanan pulang, ketika sampai di kawasan hotel secara tidak sengaja Anta melihat seorang pria kira - kira berusia sekitar 35 tahun tengah baku hantam dengan 5 orang preman. Pria yang sedang baku hantam itu mengenakan pakaian kantor yang lengkap mulai dari Celana bewarna hitam, Kemeja bewarna putih dilengkapi jas warna hitam di sertai dasi yang masih terpasang di lehernya.
Coba kalian bayangkan 1 orang melawan 5 orang apakah seimbang dan adil.
Melihat itu Anta segera bersembunyi di balik pohon yang tidak jauh dari tempat baku hantam itu. Dan sial nya tempat yang di gunakan baku hantam adalah di dalam gang jadi ketika malam begini tidak ada yang keluar karena semua sedang istirahat alias tidur.
Terlihat bahwa yang 1 preman itu tengah menenteng sebuah tas kerja warna hitam.
Preman yang menenteng tas itu memakai pakaian serba warna hitam itu berlari dari gang menuju jalan raya.
Pria yang tengah di kepung oleh 4 orang preman itu berusaha untuk kuat dan ingin mengejar preman yang memakai pakaian serba warna hitam yang sedang menenteng tas kerja milik nya. Tapi sudah tidak bisa lantaran. Tiba - tiba dari arah belakang ada yang memukulnya dengan balok kayu yang sangat besar.
dan. ...
''Duakkk" Pria itu langsung tumbang dengan darah mengalir di punggung nya.
"Akhhhh....." rintih pria itu kesakitan. Pandangan pria itu tak lepas dari preman yang membawa kabur tas kerja nya.
Karena merasa pria yang baru saja di pukul dengan balok kayu tadi sudah sekarat dan tidak bisa bangun lagi lantas 4 preman itu meninggalkan pria itu sendiri. 4 Preman itu meninggalkan pria itu dan menaiki motor gede nya,kemudian menancapkan gas dan menghilang dari mata Pria itu.
Anta yang saat itu masih fokus pandangannya ke preman yang membawa kabur tas milik pria itu. Dari sini Anta dapat menyimpulkan bahwa 5 preman itu sedang menjalankan niat yang jelek (pencuri, maling)
Tanpa berfikir 2 kali Anta segera mengambil 1 tongkat besi yang tidak jauh dari tempatnya berdiri dan mengarahkan nya ke kepala preman yang membawa kabur Tas itu.
Dan.......
"Duakkk" Suara tongkat besi itu mengenai kepala preman itu dan detik berikutnya preman itu sudah pingsan.
Tanpa basa - basi Anta mengambil tas yang tadi sempat di ambil oleh preman itu, dan berlari ke arah pria yang kini hampir pingsan.
"Om......, om, tidak apa - apa?, apa yang sakit om?" Tanya Anta dengan lembut di sembari ia memapah tubuh Pria itu ke salah satu kursi panjang yang ada di pinggir gang tersebut.
Pria itu lantas menggelengkan kepala. dan memeragakan cara orang minum. Anta yang mengerti segera mengambil satu botol air mineral yang ada di tas kecil nya. kemudian membuka tutup botol nya dan mengarahkan mulut botol itu ke mulut pria itu. Setelah pria itu meneguk 3 kali tegukan air, pria itu lantas baru berbicara.
"Makasih ya nak, udah mau menyelamatkan Om dari orang suruhan rival Om tadi" Ucap Pria itu dengan tulus kepada Anta dan tak lupa senyum yang terukir di bibir nya.
"Iya, om sama - sama. kan sesama manusia harus saling membantu" Jawab Anta dengan senyum yang mengembangkan.
"Oh, aku kira tadi preman taunya orang suruhan rival nya Om" Batin Anta dengan mengamati keadaan Pria yang ada di samping nya itu.
"Sebelum nya kenalin nama Om yaitu Abraham Danadyaksa, kalau nama kamu siapa?" Tanya Om Abraham kepada Anta sembari memperkenalkan diri.
"Nama Aku Antasya Misya om, panggil aja Anta" Jawab Anta dengan menyebutkan nama nya.
"Oh Anta yah, nama yang bagus kayak orang nya cantik" Puji Om Abraham kepada Anta, sedangkan Anta oh dia malu - malu kucing.
"Ahh, om bisa aja" Sahut Anta.
Kemudian Anta menyerahkan tas kerja yang ia pegang milik Om Abraham ke orang nya. Dan kemudian Om Abraham mengecek isi dari tas nya, dan setelah mengeceknya Om Abraham bisa bernafas lega.
"Alhamdulillah Surat kontrak nya masih ada" Ucap Om Abraham sembari perlahan - lahan berdiri dari tempat duduk nya.
"Hati - hati om!!" peringat Anta sembari membantu Om Abraham berdiri.
"Biar Anta antar aja Om!" Tawar Anta dengan senang hati.
"Beneran nggak ngerepotin kamu?" Tanya Om Abraham sekali lagi kemudian di jawab gelengan oleh Anta, dan detik berikutnya Om Abraham sudah di papah oleh Anta menuju ke Hotel yang berlantai 10 dan tanpa mereka sadari ada seseorang yang memotret Anta dan Om Abraham secara diam - diam.
Sampai di kamar hotel.....
Om Abraham dan Anta duduk saling berhadapan di sofa yang ada di hotel itu.
"Ini uang buat kamu" Ucap Om Abraham memberikan 50 lembar uang berwarna merah bergambar bapak proklamator (Rp. 100.000) berarti total uang itu adalah 5 juta.
"Tidak usah om Anta Ikhlas" Anta mulai menolak dengan halus.
"Om juga ikhlas kok, kalau nggak ada kamu malah Om kehilangan Aset, investasi Om, dan kerja sama juga saham Om. ini nggak seberapa kok"
Setelah berdebat cukup panjang akhirnya Anta menerima uang peberian Om Abraham kepadanya dan setelah memasukkan ke dalam tas Anta pamit ingin pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul 00:00 Om Abraham pun menyuruh sopir pribadiku untuk mengantarkan Anta dan tidak mungkin kan jika Om Abraham mengantarkan Anta di buat berdiri aja susah.
jangan lupa mampir iya
udah aku kasih mawar 🌹