Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.
Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 SWMU
Malam di mansion Mahendra tidak pernah benar-benar hening. Selalu ada suara samar dari mesin pendingin udara yang bekerja di balik dinding, atau derit halus lantai kayu di lorong-lorong jauh yang seolah menyimpan napas para penghuninya yang terdahulu. Nadia berbaring di tempat tidur king size yang dilapisi sutra dingin, menatap pantulan lampu jalan yang menembus celah gorden, membentuk garis-garis panjang di langit-langit seperti jeruji penjara.
Bramantya belum kembali ke kamar. Pria itu seolah memiliki energi yang tak terbatas, atau mungkin, ia terlalu takut untuk membiarkan pikirannya beristirahat dalam gelap.
Nadia memiringkan tubuhnya, merasakan saku piyamanya yang berat oleh ponsel rahasia yang ia sembunyikan. Kalimat Adrian di kantor tadi sore terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak: “Dia yang menyuruhku mendorongnya!”
Ketukan pelan di pintu mengejutkannya. Itu bukan ketukan otoriter Bramantya.
"Non... ini saya," bisik sebuah suara dari balik kayu jati yang tebal.
Nadia segera bangkit dan membuka pintu. Bi Inah berdiri di sana dengan wajah yang sangat pucat, tangannya gemetar memegang sebuah botol obat kecil. "Tuan Adrian... beliau mengamuk di paviliun belakang. Tuan Bramantya sedang di sana. Non, saya mohon, jangan keluar dari kamar malam ini. Apa pun yang Non dengar."
Nadia merasakan dorongan adrenalin yang mendadak. "Apa yang terjadi pada Adrian, Bi?"
"Tuan Besar sedang... 'menenangkan' beliau," suara Bi Inah menghilang menjadi isakan kecil. "Setiap kali Tuan Adrian mulai bicara tentang Nona Maya, Tuan Besar akan memberinya obat itu. Obat yang membuat orang lupa akan namanya sendiri."
Nadia terpaku. Bramantya tidak hanya memegang rahasia adiknya; ia secara aktif menghancurkan kewarasan Adrian untuk memastikan rahasia itu tetap terkubur. "Bi, aku harus melihatnya."
"Jangan, Non! CCTV di koridor ini aktif!"
Nadia menarik napas panjang. Ia teringat akan dead zone lima menit yang ia pelajari semalam. "Berapa lama lagi petugas keamanan berganti shift, Bi?"
Bi Inah melirik jam dinding di lorong. "Sepuluh menit lagi. Pukul dua pagi."
"Tunggu aku di sini, Bi. Aku hanya ingin memastikan Adrian tidak mati di tangan kakaknya sendiri."
Nadia bergerak seperti bayangan di antara pilar-pilar besar mansion. Udara malam di luar terasa lembap dan berat. Paviliun belakang adalah bangunan bergaya kolonial yang terpisah dari rumah utama, biasanya digunakan untuk tamu atau keluarga yang butuh 'privasi'.
Saat ia mendekat, ia mendengar suara barang pecah. Prang! Disusul oleh suara erangan yang memilukan.
Nadia mengintip dari balik jendela kaca yang buram. Di dalam ruangan yang hanya diterangi satu lampu gantung redup, ia melihat Adrian terjepit di kursi besi. Tangannya diikat ke belakang. Bramantya berdiri di depannya, masih mengenakan kemeja kerjanya yang rapi, meski lengan bajunya digulung hingga siku.
"Kau terlalu lemah, Adrian," suara Bramantya terdengar sangat jernih dan tenang, kontras dengan kekacauan di ruangan itu. "Maya mati karena dia mencampuri urusanku. Kau ingin menyusulnya hanya karena kau tidak bisa menahan lidahmu setelah dua gelas wiski?"
"Bunuh saja aku, Bram! Bunuh aku seperti kau membunuhnya!" teriak Adrian dengan sisa kekuatannya.
Bramantya meraih rahang Adrian, mencengkeramnya dengan kekuatan yang membuat wajah Adrian memerah. "Mati itu terlalu mudah untukmu. Kau harus tetap hidup untuk melihat betapa besarnya kerajaan yang kita bangun di atas darahnya. Kau adalah pengingat bagiku, Adrian. Pengingat bahwa kesetiaan itu mahal harganya."
Bramantya kemudian mengambil suntikan dari tangan seorang pria berbadan tegap di sampingnya. Dengan dingin, ia menusukkannya ke lengan Adrian. Nadia menutup mulutnya agar tidak menjerit. Ia melihat Adrian perlahan-lahan terkulai, matanya berputar ke atas, dan tubuhnya menjadi lemas.
"Bawa dia ke kamarnya. Pastikan dia tidak bangun sampai acara yayasan lusa," perintah Bramantya sambil mengelap tangannya dengan sapu tangan putih.
Nadia segera mundur, berlari kembali menuju rumah utama secepat mungkin sebelum dead zone berakhir. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga ia merasa bisa pingsan kapan saja. Ia sampai di kamarnya tepat saat jam menunjukkan pukul 02.05 pagi.
Pagi harinya, suasana di meja makan terasa sangat normal—yang mana merupakan hal paling menakutkan bagi Nadia. Bramantya duduk di sana, membaca koran bisnis sambil menyesap kopi hitamnya. Tidak ada tanda-tanda pria yang semalam menyuntik adiknya sendiri dengan obat penenang dosis tinggi.
"Kau tampak pucat pagi ini, Nadia," ucap Bramantya tanpa mengalihkan pandangan dari korannya. "Apakah kau bermimpi buruk lagi?"
Nadia duduk di seberangnya, mencoba memegang garpunya dengan stabil. "Hanya kurang tidur. Suara angin di paviliun belakang cukup kencang semalam."
Gerakan tangan Bramantya terhenti. Ia meletakkan korannya dan menatap Nadia dengan pandangan yang sangat dalam, seolah-olah ia sedang membedah setiap lapisan pikiran istrinya. "Angin di Mahendra memang terkadang membawa suara-suara aneh. Kau sebaiknya tidak terlalu memikirkannya."
"Bram," Nadia memberanikan diri. "Tentang ekspansi ke Singapura... aku ingin membawa Adrian bersamaku. Dia butuh suasana baru agar bisa pulih dari ketergantungannya."
Ini adalah pertaruhan besar. Jika ia bisa membawa Adrian keluar dari jangkauan Bramantya, ia akan memiliki saksi kunci yang hidup.
Bramantya tersenyum tipis, senyuman yang membuat Nadia merasa seperti mangsa yang sedang diperhatikan predator. "Adrian sedang dalam perawatan intensif di bawah pengawasanku, Sayang. Dia terlalu rapuh untuk bepergian. Mengapa kau tiba-tiba begitu peduli padanya?"
"Karena dia adikmu. Dan aku istrimu. Bukankah itu artinya dia juga tanggung jawabku?"
Bramantya berdiri, berjalan mengitari meja dan berdiri di belakang kursi Nadia. Ia meletakkan kedua tangannya di bahu Nadia, meremasnya dengan lembut namun posesif. "Tanggung jawabmu adalah tetap terlihat cantik dan suci di depan kamera. Serahkan urusan kotor keluarga ini padaku."
Ponsel di atas meja berdering. Nama yang muncul adalah Komisaris Utama. Bramantya mendecak. "Aku harus pergi. Ingat, siang ini kau ada pertemuan dengan firma hukum untuk finalisasi dokumen yayasan. Jangan membuat kesalahan, Nadia."
Setelah Bramantya pergi, Nadia segera masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu. Ia menyalakan keran air dengan volume maksimal untuk meredam suara, lalu mengeluarkan ponsel rahasianya.
Ia mengetik pesan untuk Yudhistira: “Dia menyekap Adrian di paviliun. Beri dia obat penenang saraf. Aku butuh cara untuk menyelundupkan Adrian keluar saat keberangkatan ke Singapura. Apakah timmu bisa masuk lewat jalur belakang?”
Beberapa menit kemudian, balasan masuk: “Terlalu berisiko. Penjagaan di paviliun menggunakan sensor panas. Tapi ada satu celah: lusa adalah peringatan kematian Ibu Mahendra. Bramantya selalu pergi ke makam sendirian selama dua jam. Itulah waktu kita.”
Nadia menghabiskan siang harinya di kantor yayasan, namun pikirannya melayang ke Panti Asuhan Kasih Ibu. Mengapa Bramantya memilihnya dari sana sepuluh tahun lalu? Ia mulai mencari di arsip digital yang ia minta dari sekretaris pribadinya, berpura-pura ingin menulis biografi perjalanan hidupnya sendiri sebagai profil yayasan.
Di sana, ia menemukan sesuatu yang janggal. Pada tahun 2012, panti asuhan itu menerima sumbangan anonim terbesar dalam sejarahnya, tepat satu minggu sebelum Nadia mendapatkan beasiswa penuh dari Mahendra Group. Namun, di tahun yang sama, ada laporan kebakaran kecil di ruang arsip panti asuhan tersebut.
Nadia menghubungi seorang teman lama dari panti, seorang pria bernama Rian yang kini menjadi petugas administrasi di sana.
"Rian, ini Nadia. Kau ingat kebakaran tahun 2012?"
"Nadia? Oh, Tuhan, sudah lama sekali. Ya, aku ingat. Itu bukan kebakaran biasa, Nad. Semua dokumen anak-anak angkatan kita hangus. Tapi ada satu hal yang aneh... sehari sebelum kejadian, aku melihat seorang pria tinggi mengenakan jas mahal masuk ke ruang kepala panti. Dia membawa koper besar."
"Pria itu... apakah dia memiliki bekas luka kecil di dekat alis kirinya?" tanya Nadia, mendeskripsikan ciri fisik Bramantya muda.
"Iya! Bagaimana kau tahu? Dia tampak sangat berwibawa. Setelah dia pergi, Ibu Panti mendadak bisa membiayai renovasi seluruh gedung dan menyekolahkanmu ke luar negeri."
Nadia merasa jantungnya seolah ditarik keluar. Jadi, Bramantya tidak hanya memilihnya; pria itu telah 'membeli' identitasnya. Ia menghancurkan masa lalu Nadia agar Nadia tidak punya tempat untuk kembali. Ia adalah produk yang diciptakan oleh Bramantya Mahendra.
"Terima kasih, Rian. Tolong jangan beritahu siapa pun aku meneleponmu."
Nadia menutup telepon. Ia menatap dinding kaca kantornya yang memperlihatkan gedung-gedung beton Jakarta. Ia merasa seperti burung dalam sangkar emas yang seluruh sejarah hidupnya ditulis oleh sang pemilik sangkar.
Tiba-tiba, pintu kantornya terbuka. Bukan asistennya, melainkan Yudhistira yang menyamar sebagai kurir pengantar dokumen. Pria itu memakai topi rendah dan masker.
"Kau punya waktu tiga menit," bisik Yudhistira sambil meletakkan sebuah map di meja. "Bramantya sedang di jalan menuju sini. CCTV lantai ini sudah aku lumpuhkan selama lima menit."
"Yudhistira, dia membeliku," ucap Nadia dengan suara bergetar.
Yudhistira menatapnya dengan tajam di balik topi. "Dia melakukan lebih dari itu, Nadia. Panti asuhan itu bukan hanya tempat penampungan. Itu adalah tempat di mana keluarga Mahendra mencari 'donor'. Kau tahu mengapa kau selalu diminta tes kesehatan berkala setiap tiga bulan sejak kita menikah?"
Nadia menggeleng, keringat dingin mulai membasahi punggungnya.
"Adrian butuh transplantasi hati tahun depan karena gaya hidupnya yang rusak. Bramantya tidak ingin mendonorkan miliknya. Dia mencari seseorang dengan kecocokan genetik yang sempurna sepuluh tahun yang lalu. Dan orang itu adalah kau, Nadia."
Dunia Nadia mendadak runtuh. Pernikahan ini, cinta palsu ini, posisi direktur ini... semuanya hanyalah persiapan untuk sebuah prosedur medis yang mungkin akan mengakhiri hidupnya demi menyelamatkan adik sang monster.
"Sekarang kau mengerti?" Yudhistira memegang tangan Nadia. "Kau bukan permaisurinya. Kau adalah suku cadangnya."
Suara lift berdenting dari kejauhan. Bramantya sudah sampai.
"Pergilah!" bisik Nadia.
Yudhistira segera keluar melalui pintu tangga darurat tepat saat pintu lift terbuka. Nadia segera duduk di kursinya, membuka map yang ditinggalkan Yudhistira, dan berpura-pura membacanya.
Bramantya masuk ke ruangan dengan langkah yang mantap. "Kau tampak sangat serius, Sayang."
Nadia mendongak, menatap pria yang selama ini ia panggil suami, namun kini ia lihat sebagai iblis paling murni di dunia. Ia tersenyum, senyum paling manis yang pernah ia buat. "Aku hanya sedang merencanakan masa depan kita, Bram. Masa depan yang sangat... transparan."
Bramantya mengelus rambut Nadia. "Aku senang mendengarnya. Karena lusa, setelah peringatan kematian Ibu, kita akan memulai babak baru."
Nadia mengangguk. Di dalam hatinya, ia berbisik: Ya, Bram. Babak di mana aku akan melihatmu membusuk di dalam kekuasaanmu sendiri.