Mahawira adalah penjelmaan dari pecahan jiwa penguasa semesta, kelahirannya bertujuan untuk menegakan keadilan dan kebenaran menolong yang tertindas dan membantu yang lemah.
Dengan sifatnya yang santun dan rendah hati, penampilan yang tampan, tubuhnya yang tinggi serta aroma wangi tubuhnya. Wira selalu menjadi incaran para gadis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon deharung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 9. Level Dewa Bumi
Setelah sampai di Padepokan Gunung Kembar, mereka disambut dengan bahagia oleh Ketua Padepokan serta murid-murid yang lain, padepokan ini terlihat lebih ramai dari biasanya.
Murid-murid baru yang berjumlah lima puluh sembilan orang sudah mulai melakukan latihan dasar, guru-guru di padepokan menerapkan pola latihan yang sama seperti yang diterapkan sang Rsi.
Ketika Rsi Bergunatha meninggalkan Padepokan selama sebulan, Panjalu menyuruh rekan-rekan seperguruannya untuk merekrut murid yang memiliki bakat dan mental yang baik untuk dibawa ke padepokan, agar misi sang Rsi untuk mencetak manusia yang yang berbudi luhur dan berakhlak mulia serta memiliki rasa cinta tanah air yang tinggi dapat segera terwujud kan.
Setelah sedikit beristirahat dan bercengkrama dengan Panjalu dan yang lainnya Rsi Bergunatha memutuskan untuk segera ke pertapaannya dengan istrinya dipuncak Gunung Kembar.
"Ayahanda !, Aku ingin membuat pondok untuk Samadi dipuncak gunung yang satunya," kata Wira pada ayahanda,
"Ibu merasa kamu akan kesepian sendirian disana," timpal ibundanya,
"Aku ingin lebih mandiri Bunda," jawab Wira yakin.
Dengan terpaksa kedua orang tuanya Wira mengijinkan Wira untuk tinggal berpisah di gunung yang berada disebelah barat gunung yang mereka tinggali.
Jarak kedua gunung itu berdekatan namun jika ditempuh dengan jalan kaki dari puncak kepuncak membutuhkan waktu dua belas jam bagi orang awam karna melewati hutan lebat dengan Medan yang terjal, tapi bagi ukuran pendekar suci dengan ilmu peringan tubuh mereka yang tinggi hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit.
Wira mulai menebang kayu yang berdiameter sekitar lima puluh cm untuk tiang-tiang pondok dan kayu untuk papan dipakai dinding, mengumpulkan batu-batu besar yang bisa untuk dijadikan landasan penyangga tiang, mencari bambu untuk dijadikan tali-tali pengikat, mencari kayu- kayu khusus untuk pasak, dan atap yang kuat terhadap air dan panas, dalam kurun waktu seminggu pondok yang cukup besar sudah selesai dibangun.
Ada dua bilik ukuran 6x6 meter, kamar untuk mandi 4x6 meter
Ruang tamu 12x8 meter dan ruang dapur 4x6, meter, Gasebo 8x4, tinggi lantai dari permukaan tanah sekitar 2 meter.
Wira memandangi hasil karyanya dengan puas.
Kemudian dia membuat empat gentong air yang besar untuk menampung air dikamar mandi dan dapur serta membuat 2 gentong air berukuran sedang untuk membawa air dari sumber air dekat pondoknya, sekitar satu kilometer dari puncak gunung, di lereng sebelah barat ada sumber air yang sangat jernih Wira biasa mandi disana.
Setiap saat gentong-gentong air itu selalu penuh, untuk persiapan sewaktu malam hari ke kamar mandi atau keperluan lainnya.
Saat ini Wira sedang giat berlatih tenaga dalam dan energi Qi, dia ingin dalam beberapa bulan ke depan sudah bisa menerobos level Pendekar Dewa Bumi, Wira berniat untuk mengembara menambah pengetahuan dan meluaskan pengalaman.
Untuk menerobos dari tingkat fana ketingkat surgawi sangat susah, di seluruh penghuni bumi yang mampu menembus level Pendekar Dewa Bumi tak lebih dari hitungan jari.
Kraaakk..... Boom....
Sesuatu yang retak dan kemudian meledak terdengar dalam diri wira,
"Level Dewa Bumi," batin Wira senang
Boom.........,
Sekali lagi terdengar ledakan,
"Aku mencapai level Dewa Bumi tingkat satu,"
Wira masih duduk bersila untuk menyetabilkan energinya. Setelah beberapa saat Wira keluar dari pondoknya dan menjauh sekitar lima kilometer bersiap jika petir surgawi menyambar agar tidak merusak pondoknya.
Langit mulai gelap dalam radius puluhan kilo meter, mendung gelap bergumpal-gumpal.
Wira belum pernah melihat dalam kehidupannya saat ini, tetapi berdasarkan pengetahuannya di kelahiran masa lalunya dia yakin petir surgawi akan menyambar dirinya karna memiliki kemampuan menantang surga.
Wira berdiri tegak bersiap-siap untuk menerima Sambaran petir,
Srerereeettt........ srererett ......... srerereeettt...
Duar.........duaaarrrrr.......duaaaarr
Srerereeettt........ srererett ......... srerereeettt...
Duar.........duaaarrrrr.......duaaaarr
Srerereeettt........ srererett ......... srerereeettt...
Duar.........duaaarrrrr.......duaaaarr
Sembilan kali petir menyambar tubuh Wira, dengan pengetahuan dari kitab Dipangkara Raja Langit dan pengalaman di kelahiranya dimasa lalu Wira memiliki cara untuk menyerap energi petir yang masuk kedalam dirinya.
Mendung di langit belum hilang malah semakin pekat dan berwarna agak kemerahan, Wira melihat keatas,
"Petir Asura ," gumam Wira dia sudah pernah merasakan dimasa lalu, sekarang dia jauh lebih siap,
Srerereeettt..............
Srerereeettt..............
Srerereeettt..............
Duuaaaaaaaaaaaaarrr..............
Duuaaaaaaaaaaaaarrr..............
Duuaaaaaaaaaaaaarrr..............
Cahaya terang putih yang berbentuk seperti akar pohon sebesar dua pelukan menyambar tubuh Wira sebanyak tiga kali,
Wira segera menyerap energi yang dihasilkan dari ledakan petir sebanyak tiga kali yang menyambar tubuhnya,
"Akhirnya selesai," demikian Wira membatin,
Ketika dia mau beranjak dari tempatnya berdiri kembali Wira disambar petir,
Duuaaaaaaaaaaaaarrr rrrrrr........
Duuaaaaaaaaaaaaarrr rrrrrr........
Duuaaaaaaaaaaaaarrr rrrrrr........
Wira berusaha keras untuk menyerap energi petir yang sangat dahsyat yang masuk kedalam tubuhnya.
Wira kehabisan tenaga dan mulai goyah tidak bisa lagi berdiri tegak, dia mengambil posisi duduk agar tidak jatuh sewaktu-waktu.
Dengan usaha yang keras akhirnya Wira bisa menyerap energi petir tanpa ada kendala yang cukup berarti,
Begitu dia membuka mata kembali Petir yang lebih besar ukurannya menyambar tubuhnya.
Duuaaaaaaaaaaaaarrr rrrrrr........
Duuaaaaaaaaaaaaarrr rrrrrr........
Duuaaaaaaaaaaaaarrr rrrrrr........
Tubuh Wira mulai goyah karna energi petir yang maha besar memasuki tubuhnya, sekuat tenaga Wira berusaha menjaga tubuhnya tetap seimbang dan berusaha menyerap energi yang masuk dan meledak-ledak didalam tubuhnya, lima menit kemudian setelah selesai menyerap seluruh energi petir Wira terkapar tidak sadarkan diri karna kelelahan yang amat sangat.
Hampir empat jam Wira terkapar pingsan sampai kemudian hujan deras yang tercurah dari langit membangunkannya, Wira segera berjalan tertatih-tatih menuju pondoknya.
Tanpa membersihkan diri terlebih dahulu Wira langsung tidur di biliknya sampai kokok ayam hutan di pagi hari membangunkan dirinya.
Wira bangun dengan kondisi yang segar bugar tanpa kurang suatu apapun, luka-luka yang terjadi akibat sambaran petir yang terakhir telah hilang karna daya regenerasi tubuhnya yang luar biasa.
"Dewa Bumi tingkat dua," gumam Wira bahagia,
"Sangat sesuai dengan penderitaan yang aku alami akibat sambaran petir kemaren," batin Wira sambil tersenyum.
Tulang, otot, sumsum, darah serta kulitnya sudah ditingkat yang terbaik, demikian juga dengan jurus-jurus yang dilatihnya sudah dilevel Ilahi, Wira merasa siap untuk melakukan pengembaraan.
Jurus tangan kosong yang ada dalam kitab Jurus Samudra Memecah Karang yang merupakan kitab jurus tingkat ilahi sudah dikuasai dengan sempurna oleh Wira, demikian juga dengan ilmu memanahnya, serta ilmu menggunakan senjata kapak sudah mencapai tingkat tinggi.
Wira sudah mampu membidik sasaran sejauh 50 kilometer dengan tepat ditengah-tengah sasaran, mampu menembus sasaran yang terhalang oleh pohon maupun batu sejauh lima kilo meter dengan tepat sasaran.
Jika menggunakan Busur saktinya yang bernama Busur Wijaya, dan Panah Pusaka yang bernama Pinaka, Wira mampu mengenai sasaran dengan tepat sejauh kemampuan matanya memandang dengan halangan batu atau pepohonan bahkan bukit.
Jurus Lebur Jagat yang dipelajari oleh Wira adalah jurus yang menggunakan senjata kapak, Wira juga sudah selesai mempelajari sampai tahap akhir.
Senjata Kapak Pusaka yang ada di cincin dimensinya jarang dia gunakan karna selama ini Wira lebih sering berlatih dengan menggunakan Pusaka level Bumi.
Kapak Parasu demikian nama pusaka kapak yang dimiliki oleh Wira adalah kapak pusaka tingkat Ilahi.
aku mampir nih.
mampir juga di karyaku ya😊😊
aku kirim mawar yahhh
padahal kesemsem tuh pemimpinnya..
ternyata oh ternyata 😂