Warning! 21+
Evellyn seorang gadis muda berusia 17 tahun terpaksa melarikan diri dari rumah. Gadis yang bahkan belum lulus sekolah itu terpaksa melepaskan diri dari jerat sang ibu tiri yang ingin menjual dirinya, karena terlilit hutang judi disebuah pusat perjudian kasino.
Namun kesialan terjadi saat dirinya dalam misi pelarian diri. Gadis itu terjebak dalam situasi yang tidak kalah rumit dan menegangkan. Evelly terjebak diantara orang-orang yang menguasai dunia bawah tanah.
Akankah Evelly berhasil lolos?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neti Jalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Ikut Liburan
"Rasanya lumayan juga, ternyata anak kecil ini tidak bisa diremehkan," batin Ivanka.
Ivanka memakan masakkan Evellyn dengan lahap. Saat ini Ivanka, Yansen dan Evellyn memang tengah makan malam bersama disatu meja yang sama.
"Darimana kamu belajar memasak? rasa masakkan kamu lumayan juga." tanya Ivanka.
"Dai aplikasi YT nyonya. Selebihnya otodidak." Jawab Evellyn.
"Kamu bisa belajar dari dia kalau kamu mau," timpal Yansen.
"Ngapain belajar masak kalau sudah ada uang. Uang bisa membeli makanan apapun yang kita mau. Atau kita bisa menyewa pembantu untuk masak buat kita."
Yansen hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Ivanka. Pria itu tahu betul kalau kekasihnya itu tidak suka hal yang repot atau hal yang bisa merusak kuku-kuku cantiknya.
"Sayang. Kapan kamu akan mengajakku liburan? kamu kerja terus, katanya kamu mau mengajakku naik kapal pesiar?"
"Lusa."
"Sungguh lusa?" wajah Ivanka semringah.
"Aku akan menyuruh Zavier mengatur semuanya."
"Hisssttt...emangnya perlu kita liburan pakai ngajak para cecunguk itu, teman-temanmu itu suka resek."
"Jangan begitu, meski mereka bukan orang yang kamu sukai, tapi mereka adalah sahabatku."
"Ya...ya..ya..baiklah." ujar Ivanka cemberut.
Ting tong
Ting tong
Evellyn segera membukakan pintu untuk tamu tersebut. Saat pintu terbuka, Evellyn melihat 3 sekawan sudah berada dihadapannya.
"Hai...bocil," sapa owen.
"Hai kak, silahkan masuk kak."
Owen, Zavier dan Diego masuk kedalam rumah itu dan melihat Yansen tengah makan malam bersama Ivanka.
"Ketiga pria itu duduk diruang tamu sembari menunggu Yansen selesai makan malam. Setelah menunggu hampir 10 menit, Yansen menyudahi makan malamnya yang nikmat dan bergabung bersama teman-temannya.
Sementara itu Evellyn membuatkan 4 cangkir kopi untuk pria yang tengah berkumpul itu.
"Udah ngamar aja cewek loh, baru juga abis makan. Pasti udah nggak sabar tuh minta di ehem," ujar Owen.
"Udah puas siang tadi pastinya," timpal Diego.
"Benar kata Ivanka, kalian ini emang suka resek."
"Resek membahas kebenaran," ucap Zavier.
"Ada tugas buat loe vier,"
"Apaan?"
"Lusa kita pergi liburan dengan kapal pesiar, loe urus semuanya."
"Apa kita juga boleh bawa para gadis? kan dingin bray, masa cuma loe yang butuh kehangatan," tanya Owen.
"Terserah." Jawab Yansen.
"Asyekkk" tutut Owen.
Evellyn yang selesai membuat minuman, meletakkan kopi itu diatas meja.
"Makasih bocil," ujar Owen.
"Sama-Sama kak," ucap Evellyn.
"Bocil diajak juga sen?" tanya Zavier.
"Buat apa?" tanya Yansen.
"Kali aja diajak. Barangkali dia juga butuh refreshing," ucap Zavier.
Yansen melirik kearah Evellyn yang berpura-pura tidak mendengar.
"Tanya langsung orangnya," ujar Yansen.
"Cil, mau ikut liburan nggak?" tanya Zavier.
"Nggak usah kak. Eve dirumah saja." Jawab Evellyn.
"Kenapa nggak ikut? kita akan liburan pakai kapal pesiar loh," ujar Diego.
Evellyn melirik kearah Yansen yang tampak cuek, Evellyn kemudian menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Nah gitu dong, kamu juga butuh hiburan. Besok ikut kakak ke Mall," ujar Zavier.
"Ke mall?" tanya Evellyn.
"Ya. Besok kita belanja buat persiapan liburan. Kamu butuh baju renang dan baju pantai. Nggak mungkin dong kamu liburan kepantai pakai baju sekolah," jawab Zavier.
Evellyn menahan tawanya mendengar ucapan Zavier.
"Ya baiklah, besok Eve akan ikut kakak," tutur Evellyn.
"Ya udah, Eve naik duluan keatas ya kak? udah ngantuk banget soalnya."
"Selamat malam bocil...." Zavier, Owen dan Diego mengucapkan selamat malam untuk Evellyn secara bersamaan.
"Malam kak." Jawab Evellyn.
Evellyn bergegas naik keatas untuk beristirahat.
"Masih dingin aja loe sama si bocil," ujar Zavier.
"Harus menjaga jarak antara majikan dan pembantu." Jawan Yansen.
"Kaku amat idup loe Sen. Jangan terlalu keras sama dia, walau bagaimanapun dia masih anak-anak," timpal Diego.
"Apa yang ingin kalian bahas, sehingga datang kemari?" tanya Yansen mengalihkan pertanyaan.
"Mereka sudah mulai berani menyentuh perbatasan kita. Mereka ingin mengambil alih wilayah pengedar."
"Ckk...sepertinya mereka menjadi merajalela sejak kita gagal menumpasnya malam itu, menurutmu kapan waktu yang pas untuk kita membuat kejutan kembali?" tanya Yansen.
"Pulihkan dulu dirimu, liburan lusa merupakan obat yang pas untuk masa pemulihanmu. Setelah itu kita akan menyusun kembali rencana yang lebih matang." Jawab diego.
"Baiklah," Yansen menurut.
"Sayang," rengek Ivanka dari atas tangga.
"Wewe gombel datang," bisik Diego.
"Dia kekasihku," Yansen mengingatkan.
"Lebih tepatnya selimut tebalmu," timpal Owen sembari terkekeh.
"Kalian pulanglah! nanti kita akan bahas lagi setelah liburan,"
"Ya..ya..ya..kami tahu, malam ini ranjangmu bergoyang," ejek Diego.
"Ya sudah kita pulang bray. Jangan ganggu singa yang mau kawin," timpal Zavier sembari berdiri dari duduknya.
Tanpa menggubris ucapan para sahabatnya, Yansen segera menaiki tangga dan masuk kedalam kamar bersama Ivanka.
"Kamu sungguh tidak sabaran, apa tadi siang belum puas bagimu?"
"Tentu saja tidak. Kamu sudah tahu, aku tidak akan pernah merasa puas saat bermain denganmu," ujar Ivanka.
"Malam ini mulutmu manis sekali, hingga aku ingin menegukmu hingga tandas," tutur Yansen.
Yansen dan Ivanka kembali bercu*bu mesra, suara-suara aneh kembali terdengar dari kamar itu, yang membuat Evelly merinding saat melewatinya.
"Katanya orang kaya, buat kek peredam suara. Dasar pasangan mesum," gerutu Evellyn.
Evellyn segera masuk kamarnya setelah mengambil air minum dibawah. Sementara itu, dua insan dikamar sebelah masih asyik menghabiskan malam yang panas dan panjang.
****
"Pembantumu ikut?" tanya Ivanka.
"Ya. Lumayan ada yang bisa disuruh-suruh." Jawab Yansen asal.
"Oh...baguslah." ucap Ivanka.
Sepanjang perjalanan menuju pelabuhan Evellyn hanya diam saja. Sementara itu orang-orang yang berada satu mobil dengannya sedang bernyanyi-nyayi.
Evellyn merasa kagum, saat mereka tiba disebuah pelabuhan, Gadis itu disuguhkan pemandangan laut dan juga megahnya sebuah kapal pesiar milik Yansen. Setelah berada didalam kapal, para wanita dipersilahkan untuk mengganti pakaian termasuk Evellyn. Semua orang yang berada dikapal itu mengganti pakaian mereka tak terkecuali Yansen dan para sahabatnya.
"Mana ini para gadis kita, lama amat. Aku sudah tidak sabar melihat pemandangan indah nomor dua setelah laut ini," ujar Owen.
"Ckk...dasar mesum," ledek Diego.
"Kayak loe nggak aja Go," ucap Owen.
Tidak berapa lama kemudian para gadis bawaan Owen dan teman-temannya muncul dengan pakaian bikini yang super sexy.
"Ini baru surga dunia sebenarnya," tutur Zavier sembari terkekeh.
Sementara ditempat berbeda, Ivanka dan Yansen sedang berada didepan kapal sembari menikmati indahnya laut dengan saling berpelukkan. Yansen memeluk Ivanka dari belakang, sambil sesekali tangan nakalnya mere**s gunung favoritnya.
"Bocil kemana?" tanya Zavier.
"Siapa? gadis kecil itu?" ujar gadis yang Zavier bawa.
"Iya."
"Dia sepertinya tidak akan keluar dari kabin,"
"Kenapa?"
"Dia bilang malu keluar, karena dia belum pernah pakai bikini."
Zavier tertawa keras saat mendengar ucapan gadis itu. Dia tahu Evellyn gadis belia yang masih polos, namun dia tidak menyangka kalau Evellyn gadis yang pemalu.
TO BE CONTINUE...🤗🙏
klw Ivanka bukan perawan tua tp kek gadis rasa janda udah bolong semua