Luna Anatasya Gerraldy seorang mahasiswa semester akhir harus berusaha keras untuk mengikuti pendaftaran magang di sebuah perusahaan terbesar, di negeri ini.
Kisah cintanya dimulai saat bertemu dengan Reza Aditya Winajaya seorang CEO yang berstatus Single Daddy yang ternyata adik dari Dosen killernya. Segalanya berubah saat seorang bocah laki-laki berusia tiga tahun memanggilnya 'Mommy' dan malah mengikat Luna dengan Reza semakin erat hingga keduanya saling jatuh cinta.
Bagaimana kisah keduanya saat tahu masalalu mereka seperti benang merah, yang dimana semua terasa mimpi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NOVIA IP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09. Pria Dimasa Lalu
♥♥♥
Sejak kejadian malam itu ia tidak bisa tidur nyenyak, dan terus terbayang kejadian yang demi kejadian diantara mereka. Berjalannya waktu Luna dan Reza selalu sempat beberapa kali berangkat kekantor bersama, dan seperti biasanya turun diperempatan kantor agar tidak mengundang curiga karyawan disana. Meskipun sering bersama dalam satu tempat, mereka berdua masih merasa canggung.
Hati yang mulai berangsur-angsur tumbuh sedikit demi sedikit belum juga mempastikan perihal hati mereka masing-masing. Memang sulit untuk keduanya untuk mengakui bahwa isi hati mereka, yang pernah disakiti, dan pernah menyakiti seseorang dimasa lalu. Dan menunggu keduanya untuk siap membuka kembali hati mereka. Dan Reza sudah memberikan sebuah keluarga untuknya yang sudah lama dia rindukan.
Tujuh tahun sepeninggalan Ibunya, dan tiga tahun sepeninggalan Anggi amat sangat menyakitkan hatinya apalagi memori-memori kebersamaan mereka berputar dipikirannya.
"Apa ada sesuatu yang kamu pikirkan, Luna?", Rani mencoba membuyarkan lamuan perempuan disampingnya yang sejak tadi terlihat banyak pikiran.
Luna menoleh, "Aku kangen sama Ibu dan kak Anggi?", ucapnya dengan mata yang sedikit merah.
"Yang sabar, mereka sudah hidup bahagia disana", Rani memeluk Luna yang sedang duduk disamping tempat duduknya.
Luna hanya mengangguk setuju dan menyekatkan air mata dengan kedua tangannya.
Rani melepas kembali pelukannya dan berkata, "Kita istirahat. Mbak lapar, kamu mau lapar juga kan?" ucapnya sambil memegang perutnya yang merenggek minta diisi.
"Ayo".
Mereka berjalan keluar kantor untuk makan direstoran Italy yang baru saja buka seminggu lalu. Restoran terlihat luas dengan Design Vitange yang diwarnai warna merah membuat tempat ini terkesan hangat dan elegant. Seorang pelayan wanita menghampiri mereka dengan semyum ramah, "Buon pomeriggio" ucap pelayan itu sembari memberikan menu makanan.
Keduanya tidak lama untuk memilih makanan karena pelayan wanita itu, memberikan rekomendasi menu best seller direstoran ini, sambil menunggu makanan datang.
"So, bagaimana hubungan kamu sama pria yang kamu ceritakan?", tanya Rani menunggu jawaban Luna.
"Oh itu! _" terdiam sesaat karena secara tiba-tiba Mbak Rani bertanya soal pria yang dia sukai. "Entahlah, aku juga tidak tahu?", ucapnya.
"Bagaimana bisa? Seperti yang kamu ceritakan dia selalu bersikap manis saat kalian bersama. Apakah pria itu belum menyatakan cinta sama kamu?", Rani tegas.
"Belum, mungkin dia menganggap aku sebagai adiknya", kata Luna berharap.
"Ayolah Luna, mungkin dia butuh waktu. Kalau kamu tidak sabar, kamu duluan saja menyatakan cinta padanya. Itu tidak terlalu buruk", Sarah menyarankan.
"No, masa aku duluan sih. Nanti dia pikir aku perempuan kepedean".
Disela-sela obrolan pelayan wanita tadipun datang dengan menu pesanan keduanya sembari berucap, "Toscana, dan Calamari Frittelle dan dua Mojito Drink nya", sambil meletakannya dimeja dan sebelum pergi pria itu tersenyum, "Buon Appetito", sopanya dan meninggalkan keduanya.
Grazie!
"Wah, Toscana nya lembut dilidah", ucap Rani merasa senang.
"Calamari Frittelle nya juga enak lembut didalam, renyah diluar. Kita tidak salah tempat saat makan", seru Luna menikmati hidangannya.
"Iya".
Suasana yang tadinya menyenangkan berubah menjadi ketegangan dimata Luna, saat pria itu menghampirinya dan menatap intim.
"Lama, tidak bertemu Luna".
•••
Flash Back
"Lepas! Aku bilang Lepasin", teriak Luna dengan tatapan tajam menusuk kearah pria dihadapannya.
Pria itu tetap menahan tangannya dengan erat tanpa bicara sepatah katapun.
Ada beberapa murid dengan seragam putih abu-abu melihat pertengkaran kedua selewat karena tidak ingin mencampuri urusan kedua.
"Dengerin penjelasan aku dulu?", pria itu dengan wajah pucat.
"Penjelasan apa lagi? Semuannya sudah jelas Aldo Mahendra!", sentak Luna pada pria itu.
"Yang kamu lihat itu_", kata Aldo terhenti saat pipinya terasa perih dengan tamparan keras diwajah.
PLAK!
Tamparan kedua melayang mulus diwajahnya Aldo yang hanya diam tanpa ingin memandang wanita dihadapannya yang sangat kecewa dengan sikapnya.
"KITA PUTUS!" suara keras Luna membuat Aldo menoleh.
Kantin♥
Sebelumnya, Luna dan Geng Bajaj nya sedang makan dikantin sekolah. Tiba-tiba seorang perempuan datang menghampiri dia yang sedang menyantap baso setan dihadapanya. Sontak ia pun menoleh kearah suara dan menatap tajam karena merasa amat sangat terganggu saat akan menyantap makanan favoritnya.
"APA?", kesal Luna.
"Sorry ganggu, tapi kamu dipanggil Pak Indra diperpustakaan", perempuan itu sedikit gugup karena Luna menatapnya bengis.
"Ini kan jam istirahat, jangan bohong kamu?".
"Benar!"
Tak lama Abel bersuara dalam obrolan keduanya, "Mungkin dia nangih buku Novel yang udah kamu pinjem diperpustakaan dan belum dibalik-balikin".
Plak! Luna memukul keningnya pelan sesaat meratapi pikirannya, "Mampus, aku belum balikin buku novel yang diperpustakaan, tapi udah kelewat masa pinjemannya". Katanya.
perempuan yang memberitahunya pun pergi begitu saja tanpa permisi. Dia pun menjadi gelisah tak karuan bercampur aduk, karena yang tahu Pak Indra sangat galak dan yang lebih parah bau badannya yang tidak tahan saat berada didekatnya berasa ingin muntah.
"Emang udah kelewat berapa hari?", tanya Rara yang sedang menyuapkan makana kedalam mulutnya sendiri.
"Satu tahun", singkat Luna membuat Rara dihadapannya tersedak, dengan sigap Abel mengelus pundak temanya dan memberikan air mineral untuk diminum.
"Maling", ucap spontan Rara dengan reflek Abel menutup mulutnya agar suaranya tidak menjadi pusat perhatian murid dikantin yang sedang makan.
"Sembarang kalau ngomong". Ketusnya dan sejenak melanjutkan ucapanya, "Aku lupa".
Karena tidak ingin memperpanjang pembicaraan, bergegas menuju perpustakaan dan dia melihat diluar jendela tidak ada siapa-siapa. Tapi saat terdengar bunyi sesuatu jatuh didalam dia pun bergegas masuk, berpikir Pak Indra sedang merapihkan buku-buku didalam.
Luna pun menelusuri rak -rak buku yang mejulang tinggi dan mencium khas buku diseliran hidungnya.
Langkah kaki yang tadinya terus melangkah tiap rak tiba-tiba terhenti saat melihat seorang pria dan wanita dibalik rak buku sedang asyik bercumbu dengan gairah, dengan pria sedang memegang erat pinggang si wanita. Dan sebaliknya wanita itu melingkarkan kedua tanganya dileher pria tersebut.
Saat itu pula, tiba-tiba wajah pria yang sedang asyik bercumbu itu mengendurkan wajahnya perlahan dan memperlihatkan keseluruhan wajah si pria. Lunapun sontak terkejut saat melihat wajah pria dihadapannya yang ternyata adalah kekasihnya sendiri.
Luna berlari keluar perpustakan dan tanpa sadar sudah menangis. Pria itu menyadari kedatangan Luna yang melihat apa yang mereka berdua lakukan, pria itu berlari keluar dan mengejar Luna, meninggalkan wanita yang tadi dia cumbu.
Wanita itu hanya diam melihat pria yang bersamanya meninggalkan kegiatannya sepihak, dengan menompangkan kedua tangan didepan dadanya wanita itupun tersenyum menang dan sinis.😏
Flash Back End
•••
"Lama, tidak bertemu Luna". Masih terkejut Luna melihat kedatangan pria itu tiba-tiba dihadapanya.
Rani disampinya dengan sopan mempersilahkan pria yang tidak dia kenal yang menggunakan seragam yang dipastikan seorang chef orang yang Luna kenal.
Namun melihat ekspresinya yang tidak begitu senang dengan kedatangan pria yang sekarang duduk bersama mereka.
"Anda Chef disini?", Rani memecahkan keheningan diantara keduanya.
"Benar, saya Chef disini dan pemilik restoran ini juga?", jawabnya sambil melirik Luna yang masih diam tanpa menyapa.
Luna bangun dari tempatnya bergumam, "Ayo Mbak kita kembali kekantor, bentar lagi masuk".
"Luna", seru Aldo
"Ah benar bentar lagi masuk, chef makananya benar-benar enak", seru Rani, dan menoleh pada Luna. "Aku bayar dulu ya", sambil memegang Bill ditanganya dan bergegas menuju kasir untuk membayar.
Keduanya hanya mematung sementara Aldo terus memanggil namanya yang dipedulikan Luna.
"Kamu mau terus kayak begini?", kata Aldo dengan wajah lelah.
Luna tidak menjawab
Melihat Mbak Rani selesai membayar, Luna pun meninggalkan pria itu tanpa bicara satu kata dibibirnya, dan terus berjalan tanpa ingin menoleh kebelakang. Rani pun mengikuti langkah perempuan didepan yang sudah dia anggap sebagai adiknya.
Luna maafkan aku.
Pria itu yang masih memandang Luna yang sudah pergi meninggalkanya.
•••
Saat Luna yang sedang duduk melamun memikirkan kembali kejadian tadi direstoran.
Terdengar suara telpon berbunyi, Luna pun mengambil ponselnya dan tanpa permisi jantungnya mulai berdebar-debar saat melihat nama orang tersebut yang sudah membuat dirinya panas dingin.
Drrt, Drrt video call masuk
'Mas Reza'
Mas Reza mau ngapain video call. Gumamnya dan menekan tombol terima.
Dilihatnya pria itu bersama anaknya melambaikan jari-jarinya kearah Luna.
Biboy
Mommy
Reza
Apa aku menggangumu
Luna
Sama sekali tidak menggangu
Hatinya merasa senang
Reza
Biboy terus merengek ingin bertemu, Makanya aku Video call biar Biboy bisa lihat kamu
Sebenarnya aku juga ingin melihat kamu, dalam hati
Luna
Kenapa tidak datang keapartemen aja, kalau Biboy ingin bertemu
Reza
Itu akan aku lakukan, sayangnya kami berada dirumah Uncle Biboy
Luna
Oh begitu
Reza
Apa kamu sakit?
Luna
Tidak, aku cuma merasa lelah
tiba-tiba Biboy angkat suara
Biboy
I miss you
Luna
Miss you too
Reza
Kamu lebih baik istirahat, aku nggak mau nanti kamu sakit
Reza perhatian
Luna
Iya
Dengan wajah yg sudah merah merona
Reza
Aku tutup yah, bye
Luna
Bye
Video call pun berakhir
Lunapun hanya bisa tersenyum manis, sejenak melupakan pikirannya yang tadi kacau balau.
Disisi lainya~
Reza terus tersenyum sumbringah setelah selesai acara video call nya dengan Luna. perempuan itu sangat special dihatinya sekarang, dan tanpa dia sadari didepan meja sudah ada pria yang memperhatikan sembari tadi.
Dan mengoda Reza yang terlihat senang, tanpa mengetahaui apa yang sudah membuat pria dingin yang dikenalnya ini bisa mengeluarkan banyak ekspresi yang sudah lama tidak dia lihat sebelumnya.
"Diam kamu Aldo!!!!"
♥♥♥
dikoreksi lagi ya thor
menagis => menangis
berjakan => berjalan
calon suami => calon istri
Reza => bi
sedikir => sedikit