Di Benua Langit Sembilan, Xiao Yuan adalah jenius tak tertandingi yang memegang Sumsum Naga Suci. Namun, di malam pernikahannya, ia dikhianati oleh tunangannya, Ling’er, yang meracuninya dan membedah tulang naganya untuk diberikan kepada kekasih gelapnya. Xiao Yuan dibuang ke Jurang Keputusasaan dalam kondisi cacat.
Namun, takdir tidak berhenti. Roh Naga Kuno yang tertidur di dasar jurang menyatu dengan jiwanya yang hancur. Dengan bantuan Yun’er, gadis misterius dari klan terbuang, Xiao Yuan merangkak naik dari neraka. Kali ini, ia tidak akan menjadi pelindung dunia, melainkan Dewa Naga yang akan menghancurkan siapa pun yang pernah menginjaknya. "Jika langit menghalangi jalanku, aku akan merobek langit!".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Perjamuan Darah di Gerbang Menara
Angin di kaki Menara Keputusasaan tidak lagi membawa debu pasir merah, melainkan bau karat dan jerit keheningan dari jiwa-jiwa yang terperangkap dalam fondasi menara tersebut. Xiao Yuan berdiri membeku di depan gerbang raksasa yang terbuat dari campuran logam langit dan tulang naga yang telah menghitam. Matanya yang merah menyala menatap pemandangan di depannya dengan kemarahan yang melampaui batas kewarasan manusia.
Yun’er, cahaya di tengah kegelapannya, berlutut dengan leher yang ditempel belati perak oleh Pendeta Agung Aliansi Dewa. Long Chi dan Baraka terkapar di sampingnya, tubuh mereka terikat oleh rantai suci yang menghisap energi kehidupan mereka setiap detiknya.
"Xiao Yuan... jangan..." bisik Yun’er, suaranya parau namun matanya tetap memancarkan cinta yang tak padam. Melalui ikatan jiwa, Xiao Yuan bisa merasakan dinginnya bilah belati itu di kulit lehernya sendiri.
Pendeta Agung itu tersenyum tenang, senyum yang hanya dimiliki oleh mereka yang merasa telah menjadi wakil tuhan. "Kau telah menempuh perjalanan jauh, putra Ye Ling. Namun, setiap langkahmu hanyalah menuju tempat penyembelihan yang sudah kami siapkan. Berlututlah, dan serahkan Mahkota Tulang itu, maka aku akan membiarkan gadis ini mati dengan cepat tanpa rasa sakit."
Xiao Yuan mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya menembus telapak tangan, mengalirkan darah emas kehitaman yang menetes ke tanah. "Kau bicara soal belas kasih, namun tanganmu berbau busuk seperti bangkai. Kalian para Dewa... kalian tidak lebih dari pemulung yang takut pada cahaya sejati."
"Lancang!" Pendeta itu menekan belatinya, membuat garis tipis darah merah muncul di leher Yun’er.
Xiao Yuan merasakan rasa perih itu di lehernya sendiri melalui ikatan jiwa. Hatinya seolah diremas oleh tangan raksasa. Di saat itulah, ia merasakan botol Darah Iblis Kuno pemberian Hong Yue di dalam sakunya berdenyut kencang, seolah-olah cairan di dalamnya memiliki detak jantung sendiri yang memanggilnya.
"Minumlah... dan kau akan menjadi kematian itu sendiri..." suara bisikan iblis terdengar di telinganya.
"Yuan, jangan!" Yun’er berteriak, seolah ia bisa mendengar bisikan itu. "Jika kau meminumnya, kau tidak akan pernah bisa kembali! Jangan biarkan mereka menang dengan menghancurkan jiwamu!"
Xiao Yuan menatap Yun’er, lalu menatap Menara di belakang sang Pendeta di mana ibunya mungkin sedang menderita. Ia merasa terjepit di antara dua jurang. Namun, tiba-tiba, tanda hitam di dahinya meledak dengan rasa sakit yang luar biasa. Memori tentang pengkhianatan Ling’er, pencabutan sumsum naganya, dan kehinaan yang ia terima di dasar jurang berputar seperti badai di kepalanya.
"Jika menjadi manusia berarti harus melihat orang-orang yang kucintai disiksa..." Xiao Yuan mengeluarkan botol itu. Cairan ungu di dalamnya tampak mendidih. "Maka aku memilih untuk menjadi iblis yang akan menghapus namamu dari sejarah!"
Tanpa ragu, Xiao Yuan menghancurkan segel botol itu dengan giginya dan meminum isinya dalam satu tegukan.
DEG.
Waktu seolah berhenti. Seluruh lembah mendadak menjadi hening total. Detak jantung Xiao Yuan berhenti sejenak, lalu meledak dengan dentuman yang begitu keras hingga mengguncang fondasi Menara Keputusasaan.
"ARGHHHHHHHHH!"
Xiao Yuan melolong, namun suara yang keluar bukan lagi suara manusia. Itu adalah raungan naga kuno yang bercampur dengan tawa iblis dari neraka terdalam. Rambut putih-hitamnya memanjang dan berubah menjadi warna ungu gelap yang memancarkan api hitam. Sisik-sisik naga yang tadinya emas kini berubah menjadi hitam legam dengan tepi yang tajam seperti silet. Sepasang sayap naga besar yang robek-robek namun perkasa meledak dari punggungnya, menghancurkan zirah yang tersisa.
Pendeta Agung itu terbelalak, langkahnya mundur dengan gemetar. "K-kau... kau berani menyerap darah iblis kuno?! Kau adalah penghinaan bagi garis keturunan naga!"
Xiao Yuan tidak bicara. Ia bergerak. Kecepatannya bukan lagi kilat, ia seolah-olah melompati ruang. Sebelum Pendeta itu sempat menggerakkan belatinya, Xiao Yuan sudah berada di depannya.
SRAK!
Tangan Xiao Yuan yang kini berupa cakar iblis mencekik leher sang Pendeta. Dengan satu sentakan, ia mengangkat pria tua itu tinggi-tinggi. Cahaya suci yang melindungi sang Pendeta hancur berantakan seperti kaca yang dipukul palu godam.
"Tadi kau bilang... siapa yang harus mati lebih dulu?" suara Xiao Yuan kini berlapis-lapis, sangat berat dan penuh kebencian.
"T-tolong... ampun..."
"Ampun adalah kata yang tidak ada dalam kamus iblis," desis Xiao Yuan.
Dengan tangan satunya, Xiao Yuan merenggut belati perak dari tangan Pendeta tersebut dan menusukkannya tepat ke jantung pria tua itu. Namun, ia tidak berhenti di sana. Ia menyalurkan energi Naga Es Neraka yang telah bercampur dengan Darah Iblis ke dalam tubuh sang Pendeta.
Pria tua itu membeku dari dalam, sementara apinya membakar kulit luarnya. Dalam hitungan detik, sang Pendeta Agung Aliansi Dewa hancur menjadi debu yang bahkan tidak sempat terbang tertiup angin.
Xiao Yuan berbalik ke arah Yun’er. Rantai suci yang mengikat gadis itu hancur seketika saat Xiao Yuan melambaikan tangannya. Ia mendekati Yun’er, namun Yun’er tampak ketakutan melihat sosok Xiao Yuan yang sekarang. Aura kematian yang keluar dari tubuh Xiao Yuan begitu kuat hingga bunga-bunga es di sekitar mereka layu dan berubah menjadi abu.
"Yuan... apakah itu benar-benar kau?" bisik Yun’er sambil menyentuh pipi Xiao Yuan yang kini tertutup sisik hitam.
Xiao Yuan tertegun. Ia melihat tangannya yang berdarah, lalu melihat ketakutan di mata wanita yang paling ia cintai. Untuk sesaat, kewarasannya kembali. Ia merasakan perih yang luar biasa di dalam jiwanya; rasa sakit karena menyadari bahwa ia telah menjadi monster demi menyelamatkan mereka.
"Aku... aku minta maaf, Yun'er," ucap Xiao Yuan, suaranya kembali sedikit manusiawi namun penuh luka.
Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Gerbang Menara Keputusasaan terbuka perlahan. Dari dalam kegelapan yang pekat, muncullah Ling’er. Ia mengenakan jubah permaisuri yang terbuat dari bulu burung phoenix hitam, dan di sampingnya berdiri Xiao Tian yang sudah pulih, dengan mata yang kini berwarna ungu sama seperti Xiao Yuan.
"Selamat datang di perjamuanmu, Xiao Yuan," Ling’er tersenyum manis, sebuah senyuman yang kini terasa sangat menjijikkan bagi Xiao Yuan. "Kau sudah meminum darah itu, persis seperti yang direncanakan Hong Yue. Sekarang, kau adalah kunci yang sempurna untuk membuka Gerbang Iblis."
Xiao Yuan menoleh ke arah kegelapan hutan di mana Hong Yue tadi menghilang. Ia menyadari satu hal yang menghancurkan hatinya: Hong Yue bukan membantunya, ia adalah bagian dari rencana Ling’er untuk membuat Xiao Yuan kehilangan kemanusiaannya agar kekuatannya bisa digunakan sebagai kunci.
"Hong... Yue..." Xiao Yuan menggeram, Glaive Naga Kiamat di tangannya mulai bergetar hebat.
"Jangan salahkan dia, Yuan. Dia hanya seorang pedagang, dan aku menawarkannya harga yang tidak bisa ia tolak," Ling’er melangkah maju, memegang sebuah rantai yang ujungnya terhubung ke dalam kegelapan menara. Ia menarik rantai itu, dan sesosok wanita keluar dengan langkah terseret.
Ye Ling. Ibu Xiao Yuan.
Kondisi Ye Ling sangat memprihatinkan. Matanya tertutup kain hitam, dan di sekujur tubuhnya tertancap paku-paku perak yang menghisap esensi naganya.
"Ibu!" Xiao Yuan berteriak, ia hendak melesat maju namun Xiao Tian menghalangi jalannya dengan pedang ilahinya yang kini telah menghitam.
"Langkahmu berhenti di sini, monster," Xiao Tian mencibir. "Mari kita lihat, siapa naga yang lebih kuat: aku yang diberkati langit, atau kau yang dikutuk neraka?"
Pertempuran terakhir di gerbang menara pecah. Langit di atas Menara Keputusasaan runtuh, meteor-meteor hitam berjatuhan dari angkasa saat dua kekuatan naga terbesar bersinggungan.
Di tengah pertempuran, Yun’er menyadari bahwa setiap kali Xiao Yuan menyerang, nyawa ibunya, Ye Ling, justru semakin terkuras karena paku-paku perak itu terhubung dengan energi Xiao Yuan. "Yuan, berhenti! Mereka menggunakan energimu untuk membunuh ibumu!" teriak Yun’er. Namun, Xiao Yuan yang sudah dirasuki darah iblis tidak bisa lagi menghentikan serangannya. Tiba-tiba, Ye Ling berbicara dengan suara batin yang hanya bisa didengar oleh Xiao Yuan: "Anakku... bunuh aku sekarang. Jika aku mati, segel menara ini akan hancur dan kau akan bebas. Lakukan demi klan kita.
perjuangan suamiku:istriku surgaku😍
perjuangan suamiku:istriku Surgaku😍