⚠️⚠️ NO PLAGIAT!!
UPDATE SETIAP HARI KAMIS & MINGGU JAM 21.00 WIB
Hari-hari bahagia Silvia mendadak hancur begitu saja karena dirinya yang tiba-tiba mengandung anak dari pacarnya.
Di tengah-tengah reputasi buruknya itu, apakah Silvia dapat bertahan?
Yuk pantauin terus ceritanya! 😉
-----
Cerita ini dibuat berdasarkan imajinasi author semata. Jangan lupa untuk like, comment, dan vote ceritanya ya para readers yang budiman..
-----
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Revina Willy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bareng Farel
"Hah.. ya udah deh, ntar gue bakal ngomong sama ibu." Ucap Farel.
Seketika perasaanku jadi tenang karenanya. Aku sudah susah payah membujuknya sejak tadi. Akhirnya Farel mengalah juga.
"Wah! Seriusan? Horeee.. thanks banget lho."
Tanpa sadar aku memeluk Farel. Farel tampak terkejut. Terbukti dari kedua matanya yang melebar seketika. Apa ada hal yang salah? Skinship seperti ini kan sudah sangat sering aku lakukan sejak dulu hingga rasanya tidak aneh lagi. Lalu kenapa dia terkejut begitu?
"Iya.. udah sana! Ngapain nempel-nempel ke gue!" Farel mendorong pelan tubuhku agar menjauh dari dirinya.
Sebenarnya kenapa sih? Pipi Farel tampak merona. Setiap aku berusaha untuk menatap matanya, Farel selalu mengalihkan pandangannya lebih dulu. Aku tidak pernah melihat Farel bersikap seperti ini. Dia seperti sengaja membuat jarak denganku.
Sesaat ingatan waktu itu terlintas di pikiranku. Apa Farel suka denganku? Bukannya aku kepedean. Malah sebaliknya. Bukankah hal aneh jika aku tidak menyadarinya? Farel sudah menunjukkannya sejelas ini. Sewaktu di ruang komputer waktu itu, bahkan kali ini. Aku tak mungkin berpura-pura tidak tau kan?
Sampai akhirnya, aku dan Farel tidak saling berbicara satu sama lain hingga sampai ke sekolah. Setiap aku melirik ke arah Farel, aku hanya melihat dirinya yang sedang menatap ke arah kaca jendela mobil.
Aku tidak suka diperlakukan seperti ini. Jika pemikiranku yang mengatakan kalau Farel menyukaiku itu salah, lalu apa kesalahanku hingga dia bersikap seperti ini padaku?
Aku kesal karena sikapnya. Dan karena aku sangat penasaran, aku malah jadi semakin jengkel padanya. Baiklah! Jika dia tidak mau menghiraukan ku, aku juga tak akan mengacuhkannya.
Setibanya di sekolah, aku langsung membuka pintu mobil, berjalan keluar, dan menutupnya lagi dengan cukup keras. Aku tidak peduli bagaimana respon Farel atau siapapun yang melihat tindakanku barusan. Jika Farel mau marah, silahkan saja aku tak peduli.
"Lu kenapa sih? Pak Sebas jadi kaget tuh." Ucap Farel yang sudah keluar dari mobil.
"Memangnya kenapa?" Tanyaku sambil melototinya.
Seketika itu pula, Farel langsung mengatupkan mulutnya dan menoleh ke arah lain, tanpa ada satupun kata yang keluar dari mulutnya lagi.
Aku dan Farel berjalan berdampingan menyusuri koridor sekolah yang sangat panjang. Sambil menyandang ransel sekolahku, kakiku terus melangkah melewati setiap keramik putih di bawahku.
Ku lirik Farel yang berjalan di sebelah kiriku. Farel terus saja memainkan rambutnya yang tak kunjung rapi sejak tadi. Farel pasti ingin terlihat tampan untuk berurusan dengan perempuan lagi.
"Eh Sil! Itu Surya kan?"
Sesaat kami berdua hampir berjalan melewati ruang BK, Farel tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia bertanya padaku sembari jari telunjuknya itu menunjuk ke arah ruang BK.
Karena Farel mendadak berhenti begitu, langkahku juga jadi ikut terhenti karenanya. Aku langsung menoleh ke arah dimana Farel menunjuk.
Di depan ruangan BK terlihat Surya sedang berdiri dengan pandangan menunduk, dengan kedua tangannya diletakkan di belakang.
Ada Pak Herman, guru BK yang sangat menjunjung tinggi kedisiplinan di hadapan Surya di sana. Pak Herman terlihat sangat marah. Aku tak tau apa yang terjadi pada Surya. Aku juga tak bisa mendengar ucapan Pak Herman karena posisiku saat ini lumayan jauh dengan mereka.
"Anak itu masuk BK lagi ya? Udah ga aneh lagi sih."
Aku memutar kedua bola mataku dan menghela nafas panjang. Apa yang Surya lakukan sampai dirinya dipanggil ke hadapan Pak Herman lagi?
Ruang BK sudah seperti rumah kedua bagi Surya. Itu karena Surya lebih sering menghabiskan waktunya di sana. Bahkan dalam sebulan saja, dia mungkin bisa dipanggil lebih dari sepuluh kali ke ruangan itu.
Oh iya! Aku lupa. Selain Surya, ada satu orang lagi yang selalu dipanggil menghadap Pak Herman. Aku tidak mengenalnya, tapi aku pernah bertemu dengannya secara tidak sengaja. Orang itu adalah murid perempuan yang juga berada di dalam satu angkatan dengan Rendi.
"Buru yuk! Palingan ntar dia juga bakalan masuk kelas. Daripada kita yang telat." Ajakku pada Farel.
"Oh, ya udah yuk jalan." Jawab Farel.
Karena harus melewati ruangan BK yang berisi guru-guru killer, aku dan Farel berjalan perlahan sembari menunduk dan berusaha agar tidak melihat Surya yang sedang dimarahi. Salah-salah, kami bisa saja ikut terkena imbasnya.
"Kamu ini mau jadi apa? Kalau begini terus, masa depan kamu bisa hancur!"
"Bapak sudah capek mengingatkan kamu terus Surya! Anak berandalan kaya kamu ini harus diapakan supaya ngerti?"
Kali ini aku bisa mendengar perkataan yang Pak Herman lontarkan pada Surya. Karena jarakku yang sangat dekat bahkan tidak sampai 1 meter ini, cukup memudahkanku untuk menguping.
DUK
Tanpa sengaja aku menabrak seseorang. Aku terlalu fokus menguping sampai tidak menyadari ada seseorang yang berjalan dari arah berlawanan.
"Eh sorry."
Ucap orang itu padaku dengan ekspresi datar. Setelah berkata seperti itu, dia pergi begitu saja tanpa basa-basi. Dia bahkan tidak membiarkan aku menjawab ucapannya itu lebih dulu.
Tapi tunggu! Sepertinya wajahnya itu terlihat tidak asing! Orang itu adalah murid perempuan yang aku ceritakan tadi. Bibirnya yang selalu berwarna merah terang yang penuh dengan gincu itu membuatku mudah mengenalinya.
Baru saja aku memikirkannya tadi, dia sudah muncul saja di hadapanku. Apa dia tidak tau etika seorang pelajar? Bibirnya itu merah sekali!
Padahal aku dan perempuan itu hampir tak pernah bertemu. Tapi entah kenapa aku tidak menyukainya. Dan sepertinya, untuk kedepannya pasti akan terus seperti itu.
"Nah ini dia orangnya! Kemana aja kamu Mawar? Bukannya bapak sudah memanggil kamu dari tadi? Kenapa baru datang?" Tanya Pak Herman dengan nada tinggi.
Hm? Pak Herman bicara apa tadi? Mawar? Bukannya itu nama yang kak Sera sebut di kantin kemarin? Aku ingat kak Sera menyuruhku berhati-hati dengan orang bernama Mawar. Apakah dia orang yang kak Sera maksud?
"Btw, itu kakak kelas yang selalu bareng Surya kan?" Tanya Farel sambil menatap wajahku.
"Kayanya sih iya, dia kan selalu bareng Surya mulu kalau urusan BK. Padahal tuh kakel udah kelas 3. Emangnya dia ga takut apa kalau sampai ga lulus?" Kataku.
Ku lipat kedua tanganku. Entah kenapa moodku tiba-tiba menjadi tidak bagus karena membahas kakak kelas itu.
"Haha sabar.. kenapa malah elu yang sewot coba? Kan dia yang ga lulus. Bukan urusan kita kan?" Balas Farel sambil mengusap kepalaku.
"Ngapain lo pegang-pegang kepala gue? Singkirin! Lo ngatain gue pendek ya?"
Ku kerutkan kedua alisku. Padahal aku sedang tidak datang bulan, tapi entah kenapa rasanya aku ingin marah-marah saja sejak tadi.
"Iya, nih! Udah kan? Nyentuh dikit doang. Terus siapa juga yang ngatain lu? Situ sendiri yang asal nuduh."
Farel tersenyum miring. Aku jadi semakin kesal karena responnya yang seakan seperti sedang meledekku.
"Minta maaf! Atau gue aduin lu ke tante!" Ancamku sambil merengut.
"Duh.. ntar gue beliin HP baru deh buat lu."
Farel menghela nafas. Haha! Aku sudah mengenalnya sejak kecil. Selama berteman dengannya, aku jadi tau kelemahannya. Farel itu sangat takut pada ibunya. Dia pernah berkata padaku, ibunya itu sangat menyeramkan ketika marah.
Farel juga mengatakan kalau dirinya tidak ingin membuat ibunya marah lagi. Karena ibunya sangat menyayangiku, aku jadi bisa mempermainkan Farel sekali-kali.
"Ga mau! Kalau cuma HP, gue sih juga bisa." Tolakku.
"Hadeh, gue lakuin apa aja deh! Tapi plis jangan kasih tau ibu!" Pintanya padaku.
"Hm.. apaan ya? Kalau gitu lu jadi model make up gue ya! Ga boleh nolak!" Kataku.
"Apa?! Make up? Ga mau ah! Emangnya gue cewek? Pake make up segala!" Protes Farel.
"Eits! Ga boleh nolak! Atau.. lo mau gue aduin ke tan-"
"Iya-iya deh! Plis jangan ngadu ke ibu!"
Farel terlihat panik. Sepertinya dia memang sangat takut dengan tante. Padahal aku juga tidak ingin mengadukan hal seperti ini pada tante. Karena sebenarnya.. aku juga takut pada tante. Hihi maaf Farel.
"Nah gitu dong!"
Aku tersenyum senang. Tanpa ada beban, aku terus saja melanjutkan langkahku bersama Farel hingga tiba ruangan kelas kami.