NovelToon NovelToon
Sistem Kuliner Absolute Sang Raja Dapur

Sistem Kuliner Absolute Sang Raja Dapur

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Isekai
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Arka kehilangan segalanya dalam satu malam ketika warung makan peninggalan almarhum orang tuanya dihancurkan oleh lintah darat dan kekasihnya meninggalkannya demi pria kaya yang sombong. Di ambang keputusasaan saat mencoba memasak seporsi nasi goreng terakhir di tengah puing-puing warungnya, sebuah suara mekanis misterius tiba-tiba bergema di dalam kepalanya. Berbekal Sistem Kuliner Sakti yang memberinya hadiah uang tunai dan keterampilan tingkat dewa setiap kali pelanggannya merasa puas, Arka memulai langkah balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Suasana warung yang tadinya dipenuhi tawa dan obrolan seketika berubah menjadi sunyi senyap.

Para pelanggan yang sedang mengantre mundur beberapa langkah dengan wajah ketakutan melihat kedatangan empat preman berwajah beringas itu.

"Woi, minggir kalian semua, jangan menghalangi jalan kami!" Teriak salah satu preman berbadan paling besar sambil mendorong dada seorang pekerja kantoran.

Pekerja kantoran itu terhuyung ke belakang dan hampir jatuh jika tidak ditangkap oleh temannya.

Preman berbadan besar yang merupakan pemimpin kelompok itu berjalan mendekati gerobak Arka dengan langkah angkuh.

Brak!

Ia menendang salah satu kursi biru yang masih kosong hingga terpental menghantam tiang tenda.

"Hei penjual miskin, kau belum bayar uang keamanan bulan ini kepada kami." Ucap preman itu sambil memamerkan tato naga di lengan kanannya.

Arka menatap preman itu dengan tatapan dingin tanpa ada rasa takut sedikit pun di matanya.

Ia mengenali wajah mereka sebagai preman pasar yang sering memalak pedagang kecil di sekitar area ini.

"Saya sudah bayar uang keamanan kepada pengurus RT setempat, tidak ada urusan dengan kalian." Jawab Arka dengan nada datar sambil terus mengaduk nasi goreng di wajannya.

"Berani kau melawan perintah kami ya, kau mau meja-meja barumu ini kami hancurkan?" Preman kedua maju dan menggebrak meja kosong di dekatnya.

Beberapa pelanggan wanita mulai berbisik-bisik ketakutan dan berniat pergi meninggalkan antrean.

Melihat hal itu, jantung Arka berdegup kencang karena ia sangat membutuhkan lima pelanggan lagi untuk menyelesaikan misinya.

Jika pelanggan ini kabur, ia tidak akan punya waktu lagi untuk mencari pelanggan baru karena batas waktunya sudah semakin menipis.

"Tunggu sebentar, kalian tidak boleh merusak tempat ini!" Tiba-tiba sebuah suara lantang terdengar dari arah meja yang ditempati Laras dan teman-temannya.

Bima berdiri dari kursinya dengan wajah memerah menahan marah sambil menunjuk ke arah para preman itu.

Sikap arogan yang ia tunjukkan saat baru datang tadi kini berubah menjadi keberanian untuk membela warung favorit barunya.

"Wah, ada anak kampus yang mau jadi pahlawan kesiangan rupanya." Pemimpin preman itu tertawa mengejek sambil berjalan mendekati Bima.

Laras dan dua teman perempuannya terlihat pucat dan mencoba menarik baju Bima agar duduk kembali.

Namun Bima tidak bergeming sedikit pun dari tempatnya berdiri.

"Asal kalian tahu saja, pamanku adalah kepala polisi di daerah ini." Bima mengeluarkan ponselnya dan mengarahkannya kepada para preman.

"Kalau kalian berani membuat keributan di sini, aku akan menelepon pamanku dan kalian semua akan membusuk di penjara hari ini juga." Ancaman Bima terdengar sangat serius dan meyakinkan.

Mendengar kata kepala polisi, langkah pemimpin preman itu seketika terhenti dan wajahnya terlihat sedikit ragu.

Mereka hanya preman bayaran kelas teri yang disuruh oleh Dimas, berurusan dengan polisi tentu saja bukan bagian dari rencana mereka.

"Sialan, bocah ini ternyata punya bekingan polisi." Bisik salah satu preman kepada pemimpinnya dengan raut wajah panik.

Namun rasa malu karena ditantang oleh seorang mahasiswa membuat ego sang pemimpin preman terluka.

"Aku tidak peduli siapa pamanmu, aku cuma mau memberi pelajaran pada penjual sombong ini!" Pemimpin preman itu berbalik dan berlari menerjang ke arah Arka.

Ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, bersiap melayangkan pukulan keras ke wajah Arka.

Para pelanggan berteriak histeris melihat kejadian yang berlangsung sangat cepat itu.

Namun Arka tidak panik sama sekali, wajahnya tetap setenang air di danau.

Tangan kanannya dengan cepat menyambar sebuah pisau daging besar yang tergeletak di atas talenan.

Sringgg!

Bilah pisau itu memantulkan cahaya matahari siang yang menyilaukan mata.

Berkat Keterampilan Pisau Dasar tingkat menengah miliknya, pisau besar itu berputar di sela-sela jari Arka dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

Tak tak tak tak!

Arka mengayunkan pisaunya ke udara dengan sangat presisi, memotong sebuah wortel yang ia lemparkan ke atas.

Potongan wortel yang sangat tipis dan seragam berjatuhan tepat di depan wajah pemimpin preman yang sedang berlari itu.

Langkah preman itu terhenti mendadak hingga ia hampir terpeleset karena terkejut melihat keahlian pisau Arka yang mengerikan.

Pisau daging itu kini berhenti berputar dan ujungnya menunjuk tepat satu inci dari hidung sang preman.

"Kalau kau berani menyentuh gerobakku, aku pastikan jari-jarimu akan terpotong setipis wortel tadi." Suara Arka terdengar sangat rendah dan mengancam, membekukan darah siapa saja yang mendengarnya.

Pemimpin preman itu menelan ludahnya kasar, keringat dingin mulai membanjiri dahinya.

Ia menyadari bahwa pemuda di depannya ini bukanlah pedagang kaki lima biasa yang bisa ditindas dengan mudah.

Mata Arka memancarkan aura membunuh yang terbentuk dari rasa putus asa dan dendam yang selama ini ia pendam.

"Ayo kita pergi dari sini, orang ini orang gila!" Pemimpin preman itu berteriak mundur sambil melambaikan tangan kepada anak buahnya.

Keempat preman beringas itu langsung lari terbirit-birit menembus kerumunan pelanggan dan menghilang di belokan jalan.

Suasana hening sejenak sebelum akhirnya suara tepuk tangan meriah pecah dari para pelanggan yang menonton kejadian itu.

"Keren sekali Mas Arka, gerakan pisaumu persis seperti di film aksi." Puji seorang bapak-bapak sambil mengacungkan dua jempolnya.

Arka tersenyum tipis dan meletakkan kembali pisau dagingnya di atas talenan kayu.

"Terima kasih Mas Bima karena sudah membela warung saya tadi." Arka menundukkan kepalanya sedikit ke arah Bima sebagai tanda hormat.

"Santai saja Mas, aku cuma tidak mau tempat makan terenak di kota ini hancur gara-gara preman kampung." Bima menjawab dengan senyum lebar, bangga karena bisa membantu.

Keberanian Bima membuat Laras dan teman-temannya memandang pria itu dengan tatapan kagum.

Insiden kecil itu justru membuat antrean pelanggan semakin panjang karena mereka penasaran dengan sosok koki yang jago beladiri pisau.

"Baiklah semuanya, mohon maaf atas ketidaknyamanannya, mari kita lanjutkan pesanan yang tertunda." Arka kembali menyalakan kompor gasnya dengan semangat yang berlipat ganda.

Wushhh!

Api kembali menyala dan atraksi memasak Arka kembali menjadi pusat perhatian.

Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, lima porsi nasi goreng terakhir berhasil disajikan kepada pelanggan yang mengantre.

Arka memperhatikan wajah para pelanggannya dengan dada berdebar kencang, menunggu keputusan dari sistem.

Nyam nyam nyam.

Begitu suapan pertama masuk ke mulut mereka, ekspresi takjub dan bahagia langsung terpancar dari wajah kelima orang itu.

[Ding! Pelanggan Budi merasa Sangat Puas!]

[Ding! Pelanggan Siti merasa Sangat Puas!]

[Ding! Pelanggan Joko merasa Sangat Puas!]

[Ding! Pelanggan Andi merasa Sangat Puas!]

[Ding! Pelanggan Maya merasa Sangat Puas!]

Rentetan suara mekanis itu terdengar seperti alunan melodi terindah di telinga Arka.

[Selamat! Kemajuan Misi: 50/50]

[Misi Utama Pertama Berhasil Diselesaikan!]

Layar transparan berwarna biru muncul di depan wajah Arka, memancarkan cahaya kembang api digital yang meriah.

[Menyalurkan hadiah misi... Proses selesai.]

[Host mendapatkan hadiah uang tunai sebesar Rp. 50.000.000,-]

[Host mendapatkan Resep Rahasia Bumbu Serbaguna.]

Ponsel di saku celana Arka bergetar panjang, menandakan adanya pemberitahuan dari aplikasi banknya.

Arka buru-buru memeriksa ponselnya dengan tangan gemetar.

Matanya terbelalak melihat deretan angka nol yang tertera di layar ponselnya.

Total saldonya kini mencapai enam puluh lima juta rupiah lebih, jumlah uang terbanyak yang pernah ia miliki seumur hidupnya.

"Aku berhasil, Tuhan, aku benar-benar berhasil!" Arka berbisik pelan sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat, berusaha menahan air mata bahagianya agar tidak jatuh.

Rasa lelah di sekujur tubuhnya seketika sirna digantikan oleh energi yang meluap-luap.

Informasi tentang Resep Rahasia Bumbu Serbaguna juga langsung mengalir masuk ke dalam ingatannya dengan sangat jelas.

Bumbu ini bukan sekadar bumbu biasa, melainkan ekstrak rempah-rempah yang bisa meningkatkan cita rasa jenis masakan apa pun hingga berkali-kali lipat.

Jam makan siang pun akhirnya berlalu seiring dengan habisnya seluruh persediaan bahan makanan di warung Arka.

"Maaf semuanya, persediaan hari ini sudah habis terjual, silakan datang lagi besok pagi." Arka mengumumkan penutupan warungnya dengan senyum permintaan maaf kepada beberapa pelanggan yang tidak kebagian.

Meskipun sedikit kecewa, para pelanggan itu mengangguk mengerti dan berjanji akan datang lebih awal besok.

Langit perlahan berubah warna menjadi jingga kemerahan saat matahari mulai terbenam di ufuk barat.

Arka baru saja selesai membersihkan wajan dan menyusun kursi-kursinya ketika tiga buah sepeda motor besar berhenti tepat di depan warungnya.

Dari salah satu motor itu, turunlah seorang pria paruh baya bertubuh gempal dengan kepala plontos dan kalung emas besar yang melingkar di lehernya.

Pria itu adalah Bos Boni, lintah darat paling ditakuti yang semalam menyuruh anak buahnya menghancurkan warung Arka.

Di belakangnya, dua preman bertato yang semalam menganiaya Arka berdiri dengan wajah mengejek.

"Wah wah wah, sepertinya bisnis jualanmu lumayan lancar hari ini, bocah." Bos Boni berjalan mendekat sambil menghembuskan asap rokoknya ke udara.

"Meskipun warungmu ini terlihat menjijikkan, rupanya kau bisa membeli meja dan kursi baru." Tambahnya dengan nada meremehkan sambil menendang kaki meja merah milik Arka.

Arka menghentikan pekerjaannya mengelap meja dan menatap tajam ke arah Bos Boni.

Tidak ada lagi rasa takut atau gentar seperti tadi malam, kini ia berdiri tegak dengan penuh percaya diri.

"Ada keperluan apa kemari, Bos Boni?" Arka bertanya dengan nada santai, seolah sedang menyapa tetangganya.

"Jangan pura-pura bodoh, kau tahu betul kenapa aku ada di sini." Bos Boni membuang puntung rokoknya dan menginjaknya dengan kasar.

"Waktumu sudah habis, mana uang lima puluh juta yang kau pinjam itu?" Bos Boni menadahkan tangannya di depan wajah Arka.

Dua preman di belakangnya mulai meretakkan buku-buku jari mereka, bersiap untuk menghancurkan barang-barang Arka lagi jika ia tidak bisa membayar.

"Kalau kau tidak punya uangnya, kami akan menyita tanah ini sekarang juga, dan kau harus ikut kami untuk diambil ginjalnya." Preman yang semalam memukul Arka tertawa sinis.

Arka hanya tersenyum miring mendengar ancaman kuno itu.

Ia mengambil ponselnya dari saku celana dan membuka aplikasi perbankan digitalnya dengan santai.

"Berapa nomor rekeningmu, Bos Boni?" Arka bertanya tanpa menatap wajah lintah darat itu.

Bos Boni mengerutkan keningnya, merasa sedikit bingung dengan sikap tenang pemuda di depannya ini.

"Kau mau pamer ponsel murahanmu itu? Jangan banyak gaya, bayar tunai sekarang!" Bentak salah satu preman dengan tidak sabar.

"Aku bilang, sebutkan nomor rekeningmu sekarang sebelum aku berubah pikiran dan melaporkan pemerasan ini ke polisi." Arka menatap lintah darat itu dengan pandangan membunuh.

Bos Boni sedikit tersentak melihat tatapan tajam Arka, namun ia akhirnya menyebutkan deretan angka rekeningnya dengan nada curiga.

Jari-jari Arka bergerak cepat di atas layar ponselnya, memasukkan nominal lima puluh juta rupiah dan menekan tombol transfer.

Ting!

Hanya dalam hitungan detik, ponsel di dalam saku kemeja Bos Boni berbunyi nyaring menandakan ada pesan masuk.

Bos Boni mengambil ponselnya dengan lambat dan membuka pesan notifikasi tersebut.

Mata pria berkepala plontos itu seketika membelalak lebar hingga hampir keluar dari kelopaknya.

"L-lima puluh juta? Berhasil masuk?" Bos Boni bergumam dengan suara bergetar dan wajah pucat pasi.

Kedua preman di belakangnya saling pandang dengan raut wajah kebingungan melihat bos mereka yang tiba-tiba gagap.

"Hutang ayahku lunas malam ini juga beserta bunga gilamu itu, Bos Boni." Arka menyilangkan tangannya di dada dengan senyum kemenangan.

"Sekarang bawa anjing-anjing peliharaanmu ini pergi dari tanahku, dan jangan pernah menampakkan wajah kalian lagi di sini." Usir Arka dengan suara lantang dan penuh penekanan.

Bos Boni masih terdiam mematung, tidak percaya bahwa seorang pemuda miskin yang semalam ia injak-injak bisa mendapatkan uang lima puluh juta dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.

"Tunggu apa lagi? Pergi!" Bentak Arka sambil meraih gagang sapu di dekatnya.

Bos Boni yang masih shock akhirnya berbalik arah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Ia memberi isyarat kepada kedua anak buahnya untuk segera naik ke motor dan pergi meninggalkan tempat itu.

Deru mesin motor mereka terdengar menjauh, membawa pergi bayang-bayang kelam yang selama ini menghantui hidup Arka.

Arka menghela napas panjang yang terasa sangat melegakan, beban berat di pundaknya akhirnya terangkat sepenuhnya.

Ia menoleh ke arah restoran bintang lima milik Kevin di seberang jalan yang tampak sepi pengunjung.

"Ini baru permulaan Kevin, aku akan membuatmu berlutut memohon ampun di depanku nanti." Arka tersenyum dingin sambil meremas celemeknya.

Dengan dukungan Sistem Kuliner Sakti dan resep-resep dewa, jalan Arka untuk menjadi raja kuliner tidak akan bisa dihentikan oleh siapa pun.

1
Ponny Sagita
serius thor? restoran mahal pake kursi plastik?
Ponny Sagita
kok masih pinggir jalan? othor niiih yaaa
Nissa Safira: mungkin iyaa outdoor kak, soalnya si Arka lagi proses membangun restoran mewahnya sendiri kak🤣
total 1 replies
Ponny Sagita
masak nasinya kan baru pagi pagi, kok bisa didinginkan semalaman?
Nissa Safira: hahaha dari semalem nasi nya belum habis kak gara2 malem nya di datengi preman🤣
total 1 replies
Wega Luna
keterlaluan udah hutang bunga tempat dagang dirusak ,itu bisa dilaporkan, loh
Nissa Safira: hahahaa namanya juga utang sama rentenir sadis kak😅
total 1 replies
Mohd Harmizi
berhasil jual 3 ribu kok poin kepuasan hanya 500?
Nissa Safira: iyaa juga iyaa.. kelupaan kak🤣
total 1 replies
m_reynaldi
mantapp.. update bab yg banyak thorr 😍
Fariq Banafsaj
lanjut🤩
Dewa Naga 🐲🐉
mantappp.. lanjut...💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!