Dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya hukum, Luo Chen lahir sebagai "sampah" dengan bakat yang menyedihkan. Dihina, dikucilkan, dan dipandang sebelah mata oleh klan sendiri—namun, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki para jenius: Keinginan untuk bertahan hidup yang melampaui batas kewarasan dan tekad yang sanggup meruntuhkan hukum Langit dan Bumi.Tidak ada warisan agung, tidak ada guru besar, hanya teknik bela diri kuno yang terlupakan dan pil racikan dari tanaman liar. Ini bukan sekadar kisah bangkitnya seorang kultivator, ini adalah perjalanan penuh darah dan keringat untuk membuktikan bahwa takdir hanyalah belenggu yang harus dihancurkan. Akankah Luo Chen mengguncang langit, atau ia akan terkubur selamanya dalam ketidakadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JokyWong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pil Penawar Roh Es dan Kota Bintang Jatuh
Di hadapan kedua orang paruh baya yang tengah diliputi kebingungan tersebut, Luo
Chen mengalihkan pandangan matanya kembali ke arah tubuh Lin Tian. "Ini adalah
akibat dari penumpukan racun tanaman spiritual terlarang yang membekukan aliran
Qi secara perlahan. Jalur meridiannya tampak bersih karena racun es ini
menyembunyikan energinya di dalam paru-paru sebelum menyerang jantung."
"Untuk memurnikan obat penawar yang bisa melelehkan racun ini secara total, aku
membutuhkan resep Pil Penawar Roh Es yang merupakan pil tingkat tiga,"
batin Luo Chen menyelaraskan pikirannya dengan barisan aksara emas yang
memproyeksikan data dari dalam Kitab Maha Tahu di lautan kesadarannya. "Formula
ini adalah satu-satunya cara terbaik untuk menyelamatkan nyawa Tuan Muda Lin
Tian."
"Untuk menyembuhkan putra Anda secara total, kita membutuhkan sebuah pil tingkat
tiga yang sangat langka, yaitu Pil Penawar Roh Es," ujar Luo Chen
menatap lurus ke dalam manik mata Lin Changkong dengan wajah yang datar dan
tenang. "Ada tiga bahan baku utama yang harus disiapkan. Dua bahan pertama
adalah Rumput Api Merah tingkat dua dan Akar Penawar Es tingkat dua. Namun,
bahan ketiga adalah yang paling sulit, yaitu seikat Bunga Embun Beku Seratus
Tahun yang murni."
"Tuan Chen, herba berumur ratusan tahun?" tanya Lin Changkong dengan dahi yang
berkerut sangat dalam, wajahnya tampak kembali memucat mendengar nama bahan
terakhir yang sangat tidak asing di telinganya tersebut. "Herba berumur ratusan
tahun sangatlah langka di wilayah perbatasan kota seperti ini."
"Tetua Ran, apakah di dalam gudang persediaan Paviliun Seribu Obat memiliki
bahan-bahan yang disebutkan oleh Tuan Chen tadi?" tanya Lin Changkong
memutar tubuhnya dengan cepat menghadap ke arah juri kehormatan tersebut dengan
pandangan mata penuh harap.
"Dua bahan pertama yang disebutkan oleh Tuan Chen ada di dalam persediaan
paviliun kami, Patriark Lin," jawab Tetua Ran menggelengkan kepalanya
dengan helaan napas berat. "Namun, bahan terakhir—Bunga Embun Beku Seratus
Tahun—adalah herba yang sangat langka. Sejauh yang aku tahu, tidak ada satu
kelopak bunga pun yang tersisa di seluruh penjuru Kota Qingfeng saat ini."
Sambil meremas kedua telapak tangannya hingga terdengar suara derit sendi yang
keras, Lin Changkong mendadak dirundung oleh rasa putus asa yang kembali
mendalam. Harapan yang sempat muncul di dalam hatinya kini perlahan-lahan
kembali memudar menatap tubuh putranya yang tidak lagi berdaya di atas ranjang.
"Tuan Chen, tolong berikan saya saran yang terbaik. Apakah putra tunggalku ini
benar-benar sudah tidak memiliki kesempatan untuk diselamatkan?" tanya Lin
Changkong menatap Luo Chen dengan pandangan mata yang memohon bantuan.
"Jika dibiarkan tanpa adanya penanganan dan obat penawar yang tepat, racun es
ini akan menyebar membekukan jantungnya sepenuhnya," jawab Luo Chen dengan nada
suara yang sangat tenang namun tegas. "Kondisi fisiknya saat ini tidak akan bisa
bertahan hidup hingga satu bulan ke depan."
"Tunggu! Patriark Lin, aku mendadak memiliki satu ide bagus," sela Tetua Ran
menepuk dahinya sendiri dengan cepat ketika mengingat sesuatu. "Di pusat
Kota Bintang Jatuh yang merupakan pusat perdagangan bebas terbesar dan netral di
benua ini, mungkin ada pedagang herba kuno atau rumah pelelangan yang menjual
Bunga Embun Beku Seratus Tahun tersebut."
"Berapa lama jarak tempuh perjalanan dari kediaman ini menuju ke arah Kota
Bintang Jatuh, Tetua Ran?" tanya Lin Changkong dengan mata yang mendadak kembali
berbinar tajam.
"Jika Anda menggunakan kereta kuda spiritual tercepat tanpa
henti, jarak pergi dan pulang dari kota ini menuju ke sana akan membutuhkan
waktu sekitar satu minggu penuh," sahut Tetua Ran memberikan estimasi
waktu perjalanan dengan serius.
Sambil mengepalkan tangannya dengan sangat erat, Lin Changkong membalikkan
tubuhnya menghadap ke arah pintu luar kamar perawatan dengan raungan keras yang
penuh tekad mutlak.
"Panggil Kepala Pengawal dan siapkan kereta kuda spiritual tercepat milik
keluarga sekarang juga!" teriak Lin Changkong memanggil pelayan setianya dari
balik pintu kamar. "Aku sendiri yang akan berangkat hari ini menuju ke Kota
Bintang Jatuh untuk mendapatkan Bunga Embun Beku Seratus Tahun tersebut dengan
segala cara dan harga berapa pun!"
"Sebelum Anda berangkat menuju ke kota pusat perdagangan tersebut, tolong
persiapkan selembar kertas kosong dan kuas hitam untuk saya," sela Luo Chen
sebelum sang patriark sempat melangkah pergi meninggalkan ruangan.
Satu kuas hitam dan lembaran kertas segera diletakkan di atas meja kamar oleh
pelayan keluarga Lin dengan tergesa-gesa. Luo Chen memegang kuas tersebut dengan
gerakan jemari yang terampil, menuliskan sebaris resep ramuan obat darurat di
atas permukaan kertas dengan sapuan yang sangat cepat dan rapi.
"Selama kurun waktu seminggu Anda pergi mencari herba tersebut, berikan ramuan
obat berdasarkan resep darurat ini kepada Tuan Muda Lin Tian secara teratur tiga
kali sehari," ujar Luo Chen menyerahkan lembaran kertas tersebut ke
tangan Lin Changkong. "Ramuan ini tidak bisa melelehkan racun es di dalam
tubuhnya, tetapi bisa membantu menahan dan menekan reaksi dinginnya agar jalur
meridian jantungnya tidak membeku lebih lanjut."
"Terima kasih yang sebesar-besarnya atas kebaikan dan pertolongan Anda yang luar
biasa ini, Tuan Chen!" sahut Lin Changkong menerima resep tersebut dengan
kedua tangan yang gemetar halus menahan haru, membungkukkan tubuhnya sangat
dalam sebagai tanda terima kasih klan Lin.
"Kirimkan pesan rahasia ini ke tempat kediamanku di pinggiran desa begitu Anda
berhasil membawa pulang Bunga Embun Beku Seratus Tahun tersebut," tambah Luo
Chen merapikan kembali lipatan lengan jubah biru tuanya.
"Baiklah Tuan Chen. Dan mohon maaf saya tidak bisa mengantar kalian sampai pintu keluar" Lin Changkong membungkuk badan memberikan rasa hormat kepada kedua tamu nya itu.
Setelah berpamitan dengan Lin Changkong dan memberikan beberapa instruksi
perawatan tambahan kepada pelayan kamar, Luo Chen dan Tetua Ran segera melangkah
keluar meninggalkan kediaman Keluarga Lin untuk berjalan kembali menuju ke
arah paviliun kota.
Langkah kaki kedua praktisi tersebut menyusuri jalanan paving Kota Qingfeng yang
mulai lengang di sore hari. Sepanjang jalan setapak, Tetua Ran berulang kali
mencuri pandang ke arah wajah Luo Chen yang berjalan tenang di sampingnya dengan
pandangan mata yang dipenuhi oleh rasa takjub yang teramat sangat.
"Reputasi Tuan Chen sebagai seorang Alkemis Tingkat Dua saat ini benar-benar
sangat tidak sepadan dengan kapasitas keahlian medisnya yang sesungguhnya,"
batin Tetua Ran mengelus janggut putih panjangnya perlahan.
"Pengetahuannya tentang reaksi racun es spiritual terlarang dan herba langka
tingkat tiga bahkan mungkin telah sejajar atau melampaui kemampuan seorang
Alkemis Tingkat Empat di asosiasi pusat klan!"
"Tuan Chen, bagaimana Anda bisa mendeteksi gejala rasa dingin yang membakar di
ulu hati Lin Tian hanya dengan mengamati warna kuku jarinya dari jauh?" tanya
Tetua Ran memecah kesunyian perjalanan mereka dengan nada suara penuh
rasa ingin tahu yang besar.
"Saya hanya kebetulan membaca banyak catatan medis kuno yang tersisa di dalam
gubuk selama masa pengasingan saya di kaki gunung, Tetua Ran," jawab Luo Chen
menyembunyikan kedua telapak tangannya di balik lipatan jubahnya dengan
senyum tipis. "Perubahan fisik luar sering kali memancarkan petunjuk yang jauh
lebih jujur dan akurat daripada denyut nadi yang dimanipulasi oleh racun."
Sambil mengangguk kagum mendengar jawaban yang sangat rendah hati tersebut,
Tetua Ran terus menatap wajah Luo Chen dengan rasa hormat yang semakin bertambah
di dalam batinnya saat mereka perlahan-lahan kembali melangkah mendekati gerbang
Paviliun Seribu Obat.