"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."
Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.
Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?
Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11: Permintaan Dongeng Sebelum Tidur
Pagi hari setelah malam yang penuh ketegangan itu membawa atmosfer baru yang lebih tenang di kediaman keluarga Oliver.
Viona terbangun tanpa sisa-sisa rasa sesak yang biasanya menggelayuti dadanya pasca-serangan panik.
Ingatan tentang bagaimana Oliver membawanya ke dalam pelukan hangatnya, membisikkan kata-kata penenang, dan mengakui bahwa mereka berbagi luka yang sama, menjadi obat penawar yang jauh lebih manjur daripada zat kimia apa pun dalam botol jingganya.
Hari itu berjalan dengan sangat damai.
Atas saran Viona, Yoyo menghabiskan waktu siangnya dengan bermain lempar bola bersama Goldie di taman belakang.
Tawa renyah anak itu sesekali terdengar hingga ke lantai atas, tempat Oliver yang sengaja bekerja dari rumah hari itu diam-diam memperhatikan dari balik jendela besar perpustakaannya.
Batasan-batasan kaku di mansion ini perlahan mencair, digantikan oleh kehangatan sebuah rumah yang sesungguhnya.
Namun, tantangan baru muncul ketika malam kembali menjemput kota.
Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam.
Hujan gerimis tipis mulai membasahi kaca jendela, menciptakan ketukan-ketukan ritmis yang monoton.
Yoyo sudah berada di atas tempat tidurnya, mengenakan piyama bermotif kelinci yang lucu.
Goldie seperti biasa sudah mengambil posisi siaga, merebahkan tubuh besarnya di atas karpet bulu di samping ranjang.
Viona duduk di tepi ranjang Yoyo, baru saja menutup buku cerita bergambar yang biasa ia bacakan.
Namun, berbeda dari malam-malam sebelumnya di mana Yoyo akan langsung memejamkan mata setelah cerita selesai, malam ini mata bulat gadis kecil itu masih terbuka lebar, menatap langit-langit kamar dengan gurat kegelisahan yang samar.
"Bibi Viona..."
panggil Yoyo pelan, jemari kecilnya memainkan ujung selimutnya.
"Iya, Sayang? Ada apa? Yoyo belum mengantuk?"
Viona mengusap lembut rambut dikucir dua Yoyo yang kini sudah digerai lepas.
Yoyo menoleh, menatap Viona dengan pandangan ragu.
"Cerita tentang Putri dan Ksatria Emas tadi sangat bagus. Tapi... Yoyo bosan. Yoyo ingin mendengarkan dongeng yang lain."
"Oh ya? Yoyo ingin dongeng tentang apa? Pangeran berkuda putih? Atau petualangan di luar angkasa?" tanya Viona dengan senyum sabar.
Yoyo menggelengkan kepalanya.
Ia terdiam sejenak, menggigit bibir bawahnya sebelum akhirnya menyuarakan permintaan yang membuat detak jantung Viona sempat terhenti.
"Yoyo ingin mendengar dongeng... tentang Ayah dan Ibu."
Suasana kamar seketika menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan suara ketukan gerimis di luar.
Viona terpaku.
Ia tahu dari Pak Pelayan bahwa topik tentang mendiang ibu kandung Yoyo adalah hal yang sangat tabu di rumah ini.
Kecelakaan tragis dua tahun lalu tidak hanya meninggalkan trauma mendalam pada Yoyo, tetapi juga menanamkan rasa bersalah dan luka batin yang begitu pekat pada diri Oliver hingga pria itu menutup rapat-rapat semua memori masa lalu.
"Yoyo..."
Viona berbisik ragu, mencoba mencari kata-kata yang tepat tanpa menyakiti perasaan sensitif anak itu.
"Bibi... Bibi tidak tahu banyak cerita tentang Ayah dan Ibu dulu."
"Tapi Ayah tidak pernah mau bercerita," potong Yoyo, sebutir air mata kecil mulai menggenang di sudut mata bulatnya.
"Setiap kali Yoyo bertanya tentang Ibu, Ayah selalu diam dan wajahnya menjadi sangat sedih. Lalu Ayah akan pergi ke lantai tiga dan tidak turun lagi sampai pagi. Yoyo rindu Ibu, Bibi... Yoyo juga ingin tahu, apakah dulu Ayah pernah tersenyum seperti saat Ayah bersama Bibi?"
Melihat air mata yang perlahan luruh di pipi tembam Yoyo, hati Viona terasa seperti diiris.
Rasa keibuan di dalam dirinya bergejolak.
Yoyo bukan menolak untuk melupakan ibunya; anak ini hanya kesepian dalam kerinduannya karena tidak ada satu orang pun di rumah ini yang berani berbagi memori dengannya demi melindungi perasaan Oliver.
Sebelum Viona sempat memikirkan jalan keluar, sebuah langkah kaki yang familier terdengar berhenti di ambang pintu kamar yang terbuka setengah.
Viona menoleh cepat.
Oliver berdiri di sana. Pria itu tampaknya baru saja berniat memeriksa keadaan Yoyo sebelum tidur.
Ia masih mengenakan kemeja hitam kasualnya dengan lengan yang digulung. Wajah tegapnya tampak menegang sempurna; ia jelas telah mendengar seluruh perkataan putrinya dari luar.
Atmosfer kamar seketika berubah menjadi tegang.
Viona bisa melihat bagaimana rahang Oliver mengeras, dan kilatan luka lama kembali membayang di sepasang mata elangnya.
Viona khawatir pria itu akan kembali menarik diri ke lantai tiga atau menjadi dingin seperti biasanya.
Namun, alih-alih berbalik pergi, Oliver menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
Langkah kakinya bergerak maju, membelah keheningan kamar.
Ekor Goldie bergedak sekali di lantai, menyambut kedatangan tuannya.
Oliver berjalan mendekati sisi lain ranjang Yoyo, lalu dengan gerakan yang perlahan dan sedikit kaku, ia mendudukkan tubuh tegapnya di tepi kasur, berhadapan langsung dengan Viona yang berada di sisi sebelah.
Yoyo langsung terdiam, menyembunyikan sebagian wajahnya di balik selimut, takut ayahnya akan marah atau menjadi sedih lagi.
"Kau ingin mendengar dongeng tentang Ayah dan Ibu, Yoyo?"
suara berat Oliver memecah keheningan. Nadanya rendah, tidak membawa kemarahan, melainkan sebuah kepasrahan yang teramat dalam.
Yoyo mengangguk pelan dari balik selimutnya.
Oliver melirik Viona sekilas.
Tatapan mata jernih Viona yang memancarkan dukungan penuh dan kehangatan seolah memberikan kekuatan tambahan bagi Oliver untuk membuka kembali kotak pandora yang telah ia kunci rapat selama dua tahun.
"Baiklah,"
ucap Oliver, pandangannya beralih menatap lurus ke arah langit-langit kamar, seolah sedang memproyeksikan memori lama di sana.
"Dulu... ada seorang pemuda yang sangat keras kepala. Dia mengira dunia ini bisa ia kuasai hanya dengan uang dan kekuasaan. Dia tidak pernah tersenyum, dan dia menganggap semua orang di sekitarnya adalah musuh."
Yoyo menurunkan selimutnya hingga ke batas dagu, mendengarkan dengan saksama.
"Itu Ayah?"
Oliver tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kegetiran yang sangat langka.
"Iya, itu Ayah. Sampai suatu hari, di sebuah hari yang hujan deras seperti malam ini, pemuda itu bertemu dengan seorang gadis yang sangat ceria. Gadis itu tidak takut pada wajah galak si pemuda. Dia membawa payung kuning yang terang, dan dia memaksa si pemuda untuk berbagi payung dengannya."
"Itu Ibu?" tanya Yoyo lagi, matanya kini berbinar.
"Iya, itu Ibumu," lanjut Oliver, suaranya melembut, kehilangan seluruh aksen tirani bisnisnya. "Ibumu memiliki kekuatan sihir yang luar biasa. Setiap kali dia tertawa, seluruh ruangan yang tadinya gelap dan dingin mendadak menjadi hangat. Dia mengajarkan pemuda keras kepala itu bahwa hidup bukan hanya tentang memenangkan persaingan, tapi tentang menghargai setiap detik kebersamaan. Dan sihir terbesarnya... adalah ketika dia melahirkan seorang putri kecil yang sangat cantik, yang matanya persis seperti mata ibunya."
Oliver menurunkan pandangannya, menatap langsung ke dalam mata Yoyo.
Tangannya yang besar dan kokoh terulur, mengusap pipi lembut putrinya dengan kelembutan yang luar biasa.
"Putri kecil itu adalah kau, Yoyo. Kau adalah sihir terbaik yang pernah Ibu tinggalkan untuk Ayah di dunia ini."
Air mata Yoyo menetes lagi, namun kali ini wajahnya dipenuhi oleh senyuman yang sangat murni. Ia menjulurkan kedua tangan kecilnya dari balik selimut. "Ayah..."
Oliver mencondongkan tubuhnya ke depan, membiarkan Yoyo memeluk lehernya erat-erat.
Pria itu memejamkan matanya, mendekap tubuh mungil putrinya dengan rasa bersyukur yang tak terhingga.
Beban rasa bersalah yang selama dua tahun ini menghimpit dadanya, membuat malam-malamnya dipenuhi insomnia, seolah terangkat sebagian hanya dengan membagikan cerita sederhana itu.
Viona yang menyaksikan pemandangan tersebut dari sisi ranjang tidak bisa menahan air mata yang ikut luruh di pipinya.
Ia menutup mulutnya dengan tangan agar tidak menimbulkan suara.
Keberanian Oliver untuk berdamai dengan masa lalunya demi kebahagiaan Yoyo adalah hal terindah yang pernah ia saksikan di rumah ini.
Setelah beberapa menit dalam pelukan hangat ayahnya, beban emosional yang terlepaskan membuat Yoyo perlahan-lahan merasakan kantuk yang luar biasa berat.
Pelukan kecilnya di leher Oliver mengendur, dan matanya terpejam sepenuhnya dengan napas yang teratur dan damai.
Kali ini, ia benar-benar tertidur tanpa ada lagi gurat kegelisahan di wajahnya.
Oliver membetulkan posisi tidur Yoyo dengan sangat hati-hati, lalu menarik selimut tebal hingga ke dada putrinya.
Ia berdiri dari tepi ranjang, memberikan isyarat dengan anggukan kepala kepada Viona untuk melangkah keluar bersamanya.
Mereka berdua berjalan keluar dari kamar Yoyo, menutup pintu kayu tebal itu dengan sangat perlahan.
Keheningan koridor lantai dua kembali menyambut mereka, namun kali ini atmosfernya terasa begitu hangat dan intim.
Oliver berdiri bersandar pada dinding koridor, melipat kedua tangannya di depan dada. Sisa-sisa emosi dari cerita tadi masih membayang di wajahnya yang tampan.
Ia menatap Viona yang sedang menghapus sisa air mata di sudut matanya dengan ujung lengan blusnya.
"Terima kasih, Viona,"
ucap Oliver tiba-tiba, suaranya terdengar sangat tulus dan rendah di lorong yang sepi.
Viona menoleh, sedikit terkejut.
"Untuk apa, Oliver? Saya tidak melakukan apa-apa. Anda sendiri yang memiliki keberanian untuk bercerita pada Yoyo."
"Jika kau tidak ada di sana, jika kau tidak memberikan lingkungan yang aman bagi Yoyo untuk bertanya, dan jika kau tidak memberiku kekuatan lewat kehadiranmu... aku mungkin akan melarikan diri ke lantai tiga lagi malam ini,"
ujar Oliver jujur, sepasang mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata jernih Viona, mengunci pandangan wanita itu.
"Kau benar-benar membawa keajaiban ke rumah ini, bukan hanya untuk Yoyo... tapi juga untukku."
Jantung Viona berdegup kencang mendengar pengakuan itu.
Langkah demi langkah, interaksi mereka telah melampaui batasan transaksi dalam kertas kontrak pernikahan.
Mereka saling menyembuhkan, saling menjadi jangkar di tengah badai trauma masing-masing.
"Kita melakukannya bersama-sama, Oliver," bisik Viona dengan senyuman paling manis yang pernah ia miliki.
"Kita berdua adalah tim sekarang, bukan?"
Oliver tertegun sejenak mendengar kata "tim", sebelum akhirnya sebuah senyuman tipis—senyuman tulus tanpa kepahitan—terukir di wajah sang tirani dingin.
Ia melangkah satu langkah mendekati Viona, menjangkau pucuk kepala wanita itu dan mengusapnya dengan kelembutan yang sama seperti yang ia berikan pada Yoyo tadi.
"Iya. Kita adalah tim sekarang,"
balas Oliver pelan.
"Sekarang masuklah ke kamarmu dan beristirahatlah. Jika iblis itu datang lagi malam ini... ingat janjiku semalam. Pintu lantai tiga tidak akan pernah terkunci untukmu."
Viona mengangguk patuh dengan pipi yang merona hangat.
Ia membalikkan tubuhnya dan masuk ke dalam kamarnya sendiri, menutup pintu dengan perasaan damai yang membuncah.
Di luar, gerimis tipis masih terus mengetuk kaca jendela, namun di dalam kediaman keluarga Oliver, dongeng sebelum tidur malam ini telah resmi menutup lembaran masa lalu yang kelam, membuka jalan bagi awal baru yang penuh dengan kehangatan dan rasa yang perlahan mulai tumbuh di antara sang nyonya kontrak dan sang tirani dingin.