Lahir tanpa sihir (Nirmala) di dunia yang memuja kekuatan membuat Askara dibenci oleh ayahnya sendiri. Namun, sebuah rahasia besar terungkap: Askara tidak kosong, ia adalah "pemangsa sihir" yang mampu menyerap, menggabungkan, dan memantulkan kembali setiap serangan musuh. Berbekal kemampuan unik ini dan stamina fisik yang terlatih, Askara memulai perjalanan jauh demi membuktikan bahwa seorang tanpa sihir pun mampu mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Kegelapan di Altar Kuno dan Keputusasaan Tim
Langkah kaki kelompok Wild Boar terasa semakin berat saat mereka menapakkan kaki di lantai batu yang permukaannya dipenuhi oleh ukiran relief kuno. Lorong sempit yang mereka lalui sejak tadi mendadak runtuh ke sebuah ruang terbuka yang luar biasa megah. Tempat itu menyerupai sebuah amfiteater bawah tanah raksasa. Di langit-langit ruangan, stalaktit-stalaktit besar menggantung berjejer seperti taring monster, meneteskan air yang menguap sebelum menyentuh lantai akibat sisa hawa panas pertarungan sebelumnya.
Di tengah-tengah ruangan yang luas itu, terdapat sebuah altar batu yang bertingkat. Di atas altar tersebut, melayang sebuah benda berbentuk lingkaran logam ganda yang terus berputar lambat, memancarkan pendaran cahaya keperakan yang sangat menawan. Itulah item sihir langka yang dirumorkan oleh informan serikat kota. Keberadaannya begitu memikat, namun atmosfer di sekitar altar itu justru terasa mencekam dan sangat menindas.
"Itu... item sihirnya," bisik Jaka dengan suara yang bergetar.
Tangannya yang memegang kapak tampak basah oleh keringat. Rasa serakah yang sempat membakar dadanya mendadak surut, digantikan oleh insting waspada yang berteriak kencang di dalam kepalanya. "Tapi, di mana penjaganya?"
Guntur tidak segera menjawab. Pria paruh baya itu mengangkat sebelah tangannya, mengisyaratkan seluruh anggota tim untuk menghentikan langkah dan membentuk formasi lingkaran pertahanan. Matanya yang tajam menyisir setiap sudut kegelapan yang berada di balik pilar-pilar batu hancur di sekeliling altar.
"Jangan lengah, Jaka. Energi di ruangan ini tidak beres. Ini bukan sihir elemen biasa," ucap Guntur dengan nada suara yang sangat rendah, hampir menyerupai bisikan yang tertahan di tenggorokan.
Tepat setelah Guntur menyelesaikan kalimatnya, kegelapan di belakang altar mendadak bergolak. Bayangan hitam yang pekat seolah terlepas dari dinding batu, berkumpul dan memadat membentuk sesosok makhluk yang mengerikan.
Monster itu bertubuh jangkung, kurus, namun memiliki empat lengan panjang yang berakhir dengan kuku-kuku setajam belati.
Wajahnya tidak memiliki mata maupun hidung, hanya ada sebuah rahang besar yang dipenuhi gigi berlapis-lapis. Tubuh monster itu diselimuti oleh aura hitam pekat yang terus berdesis, seolah-olah mengikis cahaya di sekitarnya.
Ugh...
Secara serentak, beberapa anggota Wild Boar memegangi dada mereka dan jatuh bertumpu pada satu lutut. Wajah mereka mendadak pucat pasi, dan napas mereka menjadi sangat memburu.
"Sial... kekuatan apa ini?!" erang salah seorang penyihir pemulih di barisan belakang. "Manaku... aliran manaku di dalam tubuh mendadak kacau dan macet! Aku tidak bisa merapalkan mantra!"
"Ini Sihir Kutukan Kegelapan murni," desis Guntur, giginya mengatup rapat menahan tekanan aura yang membuat atmosfer ruangan menjadi sangat berat. "Monster ini memancarkan gelombang energi yang bisa menekan dan merusak sirkulasi mana siapa pun yang berada di dekatnya. Sialan, pantas saja tidak ada tim pengintai yang kembali hidup-hidup!"
Askara yang berdiri di barisan paling belakang meremas tas kainnya. Berbeda dengan rekan-rekannya yang memiliki aliran mana dasar dan kini sedang tersiksa, Askara justru merasa tubuh fisiknya baik-baik saja. Karena dia seorang Nirmala—manusia yang terlahir tanpa wadah mana dasar—gelombang kutukan yang merusak sirkulasi mana itu sama sekali tidak memiliki objek untuk dihancurkan di dalam dirinya. Namun, Askara tetap memasang wajah meringis dan berpura-pura kesakitan agar tidak memancing kecurigaan.
"Kita tidak bisa diam saja di sini dan mati perlahan karena kehabisan mana, Ketua!" teriak Jaka, mencoba mengusir rasa takut yang menggerogoti mentalnya. Ia memaksakan kakinya yang terluka untuk menerjang maju. "Biar kuhancurkan makhluk keparat ini!"
"Jaka, tunggu! Jangan gegabah!" seru Guntur menahan. Namun, Jaka sudah terlanjur melompat ke depan.
Melihat anggotanya bergerak, Guntur tidak punya pilihan lain selain ikut menyerang demi melindungi Jaka. Mengumpulkan sisa-sihir tanahnya yang kini terasa sangat seret dan menyakitkan untuk dialirkan, Guntur menghentakkan kapak besarnya ke lantai batu.
"Sihir Tanah: Pasak Bumi Beruntun!"
Kreeek... BOOM!
Serangkaian tombak batu yang tajam bangkit dari dasar lantai, melesat cepat mengunci pergerakan kaki monster bayangan tersebut. Di saat yang sama, Jaka yang sudah berada di udara mengayunkan kapaknya dengan kekuatan penuh, memanfaatkan momentum gravitasinya.
"Sihir Penguat: Tebasan Pembelah Batu!"
Bilah kapak Jaka memancarkan cahaya kuning keemasan yang padat. Ini adalah serangan kombo terbaik yang bisa mereka lakukan dalam kondisi tubuh yang tertekan hebat. Tombak batu Guntur mengunci musuh, dan kapak Jaka siap membelah kepala monster itu menjadi dua bagian.
Namun, monster bayangan itu bahkan tidak menggerakkan kakinya. Salah satu lengan atasnya terangkat perlahan. Dari telapak tangannya yang hitam, keluar selembar tirai kegelapan tipis yang berdesis.
Wusss... BLAAM!
Tombak batu raksasa milik Guntur hancur berkeping-keping menjadi debu sesaat setelah menyentuh tirai hitam tersebut, seolah-olah batuan padat itu membusuk dalam hitungan detik. Sementara itu, kapak Jaka yang menghantam tirai tersebut terhenti total di udara. Cahaya sihir penguat di kapaknya langsung padam, dan sebuah gelombang kejut fisik yang luar biasa besar memantul kembali dari tirai kegelapan itu.
KRAAAK!
"AAARRRGGGHHH!"
Jaka menjerit histeris saat merasakan tulang pergelangan tangannya retak. Tubuhnya terpental ke belakang dengan sangat mengenaskan, meluncur di atas lantai batu hingga menghantam pilar pembatas altar. Kapak kesayangannya terlempar jauh, patah menjadi dua bagian.
Belum sempat Guntur memproses keterkejutannya, monster itu bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk ukuran tubuhnya yang jangkung. Menggunakan lengan fisiknya yang panjang, monster itu melayangkan pukulan horizontal yang sangat cepat.
BUGH!
Guntur yang mencoba menahan serangan dengan gagang kapaknya tetap tidak mampu membendung kekuatan fisik monster yang masif tersebut. Tubuh kekar Guntur terseret belasan meter, meninggalkan jejak goresan dalam di lantai batu. Ia terbatuk, memuntahkan darah segar yang mengotori zirah kulitnya. Kelompok Wild Boar benar-benar runtuh total dalam satu kali pertukaran serangan.
Monster bayangan itu mengaum rendah, rahang besarnya terbuka lebar memperlihatkan kegelapan yang tak berujung di dalam tenggorokannya. Dari dalam mulutnya, monster itu mulai menembakkan belasan bola sihir hitam pekat berukuran sebesar buah kelapa ke segala arah, berniat untuk menghabisi seluruh anggota tim yang kini sudah tidak berdaya di lantai.
Wusss! Wusss! Wusss!
Bola-bola sihir hitam itu melesat membelah ruangan, membawa hawa kematian yang pekat.
Melihat situasi yang sudah kritis dan di ambang kepunahan tim, Askara tahu dia tidak bisa lagi hanya menjadi penonton yang diam di belakang pilar. Ia bergerak dengan kecepatan penuh, memanfaatkan kekacauan dan kepulan debu yang membubung tinggi di dalam ruangan untuk menyembunyikan gerakannya.
Sebuah bola sihir hitam melesat lurus ke arah seorang penyihir wanita yang sedang menangis ketakutan. Sebelum bola itu menghantam wajah wanita tersebut, Askara melompat ke depannya, membelakangi wanita itu, dan dengan cepat menjulurkan tangan kirinya ke samping tubuhnya, sedikit tersembunyi di balik bayangan pilar.
Syuuuut—!
Bola sihir hitam itu lenyap seketika begitu menyentuh telapak tangan Askara. Rasa dingin yang menusuk tulang langsung menjalar lewat lengan kiri Askara, membuat staminanya tersedot cukup drastis dalam sekejap. Sihir ini... sangat pekat dan berat, batin Askara sambil menggeram menahan rasa lelah yang mendadak menghimpit fisiknya.
Tidak berhenti di situ, Askara kembali melihat dua bola sihir hitam melesat ke arah Guntur yang sedang berusaha bangkit.
Askara berlari zigzag, melewati reruntuhan batu, dan dengan gerakan yang sangat halus seolah-olah dia hanya sedang mencoba menghindari ledakan, ia menyenggol kedua bola sihir tersebut dengan ujung jemarinya yang terbuka.
Syuuuts! Syuuuts!
Kedua serangan mematikan itu kembali menghilang tanpa menimbulkan suara ledakan di dekat Guntur. Di tengah kegelapan ruangan, kepulan debu, dan kepanikan para anggota yang sedang menyelamatkan diri masing-masing, tidak ada yang menyadari bahwa hilangnya beberapa bola sihir hitam itu adalah perbuatan Askara. Mereka semua mengira bola-bola itu meledak di dinding atau meleset di dalam kegelapan.
Askara kembali melompat ke balik pilar terdekat, memegangi dadanya yang kini bergemuruh hebat. Di dalam wadah kosongnya, tiga bola sihir hitam misterius itu kini mengalir, berputar bersama sisa energi sihir api dari Inferno Kong yang belum sempat ia gunakan seluruhnya. Campuran energi ini terasa sangat tidak stabil dan menuntut stamina fisik yang sangat besar untuk tetap menyimpannya.
Napas Askara terengah-engah, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Dia menatap ke arah altar, di mana monster bayangan itu kini mulai berjalan perlahan mendekati Guntur dan Jaka dengan kuku-kukunya yang siap merobek daging.
Askara mengepalkan tinjunya hingga berdarah. Dia tahu, batas staminanya sudah mulai terkuras bahkan sebelum pertarungan murninya dimulai, dan dia masih belum sepenuhnya paham bagaimana cara mengendalikan efek dari sihir hitam misterius yang baru saja diserapnya ini. Namun, melihat rekan-rekan satu guild-nya yang berada di ambang maut, Askara tahu bahwa waktu untuk bersembunyi telah habis.