NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:220
Nilai: 5
Nama Author: Andinirhein

Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tepat Sebelum Sampai.

Aku tidak ingin terus berbohong kepada Oppa.

Lagipula, cepat atau lambat ia pasti akan mengetahuinya.

"Oppa... sebenarnya aku ingin menceritakan ini sejak beberapa hari yang lalu."

Hwi Sol hanya menatapku tanpa berkata apa-apa.

"Aku bertemu Eun Dam setelah kejadian waktu itu. Kami tidak sengaja bertemu lagi di bakery."

Aku mulai menceritakan semuanya.

Tentang bagaimana kami saling bertukar nomor telepon.

Bagaimana kami mulai mengobrol setiap hari.

Hingga akhirnya beberapa kali bertemu untuk makan bersama.

Selama aku bercerita, Hwi Sol tidak menyela sedikit pun.

Namun semakin lama, ekspresinya semakin sulit kubaca.

Tatapannya tetap tenang.

Terlalu tenang.

Justru itu yang membuatku semakin gugup.

Setelah aku selesai bercerita, ruangan itu mendadak hening.

Beberapa saat kemudian, Hwi Sol mengembuskan napas pelan.

"Telepon dia."

Aku mengerutkan kening.

"Hah?"

"Suruh Eun Dam datang ke rumah sekarang."

Nada suaranya datar, tetapi tegas.

Aku langsung menggeleng.

"Kalau Oppa menyuruhku memanggilnya hanya untuk memarahinya atau bahkan memukulnya, aku tidak mau."

Hwi Sol menatapku beberapa detik.

"Oppa tidak akan memukulnya."

"Benarkah?"

"Oppa hanya ingin mengenalnya."

Tatapannya tetap lurus ke arahku.

"Telepon dia, Seolhwa."

Aku masih ragu.

Namun akhirnya aku mengangguk pelan.

Dengan tangan sedikit gemetar, aku mengambil ponsel dan menghubungi Eun Dam.

Tak butuh waktu lama hingga panggilanku diangkat.

"Halo, Seolhwa?"

"Eun Dam..."

Aku menggigit bibir bawahku.

"Oppaku ingin bertemu denganmu."

Beberapa detik tidak ada jawaban.

"Apa sekarang?"

"Iya."

"Aku akan datang."

Jawabannya singkat.

Namun aku bisa mendengar kesungguhan dari nada suaranya.

Sekitar tiga puluh menit kemudian...

Bel rumah berbunyi.

Ting...

Aku segera membuka pintu.

Eun Dam berdiri di depan rumah dengan pakaian kasual berwarna hitam.

Meski wajahnya tetap tenang, aku tahu ia sedang gugup.

"Masuklah," kataku pelan.

Ia mengangguk.

Begitu memasuki ruang tamu, pandangannya langsung bertemu dengan Hwi Sol yang duduk di sofa.

Suasana mendadak menjadi canggung.

Tak seorang pun berbicara selama beberapa detik.

Akhirnya Eun Dam memecah keheningan.

"Sebelumnya... saya ingin meminta maaf sekali lagi atas kejadian malam itu."

Ia sedikit membungkukkan badan.

"Saya benar-benar tidak sengaja menabrak Seolhwa."

"Saya juga bersyukur lukanya tidak serius."

Hwi Sol memandangnya tanpa perubahan ekspresi.

"Aku sudah mendengar semuanya."

Eun Dam mengangguk pelan.

"Saya mengerti kalau Anda masih marah."

"Bukan."

Jawaban Hwi Sol membuat Eun Dam sedikit terdiam.

"Aku memanggilmu ke sini bukan untuk membahas kecelakaan itu."

Lelaki itu perlahan berdiri dari duduknya.

Tatapannya kini jauh lebih tajam.

"Aku hanya ingin mengatakan satu hal."

Ruangan kembali sunyi.

"Jauhi Seolhwa."

Aku langsung membelalak.

"Oppa!"

Eun Dam juga tampak terkejut.

Namun ia tetap berusaha menjaga sikapnya.

"Boleh saya tahu alasannya?"

Hwi Sol tidak langsung menjawab.

"Aku tidak mengenalmu."

"Tapi saya bersedia membuktikan kalau niat saya baik."

"Tidak perlu."

Jawaban Hwi Sol terdengar dingin.

"Mulai hari ini, berhentilah menemui adikku."

Suasana kembali membeku.

Aku mengepalkan kedua tanganku.

"Oppa, ini tidak adil."

Namun Hwi Sol sama sekali tidak menoleh ke arahku.

Tatapannya tetap tertuju pada Eun Dam.

"Aku sudah menyampaikan apa yang ingin kusampaikan."

"Kamu boleh pulang."

Untuk sesaat, Eun Dam menundukkan kepalanya.

Ia menarik napas pelan sebelum akhirnya tersenyum tipis.

"Baik."

"Saya menghormati keputusan Anda."

"Tapi izinkan saya mengatakan satu hal."

Hwi Sol tetap diam.

"Saya memang baru mengenal Seolhwa."

"Namun saya tidak pernah berniat mempermainkan perasaannya."

"Saya datang ke sini karena menghormati Anda sebagai kakaknya."

"Dan saya akan tetap menghormati keputusan apa pun yang Anda ambil."

Setelah mengucapkan itu, Eun Dam membungkukkan badan sekali lagi.

"Lalu... saya pamit."

Ia berbalik dan berjalan menuju pintu.

Aku hanya bisa memandang punggungnya dengan perasaan bersalah.

"E-Eun Dam..."

Langkahnya berhenti sejenak.

Ia menoleh sambil tersenyum lembut.

"Jangan salahkan Oppamu."

"Beliau melakukan semua ini karena sangat menyayangimu."

Setelah mengatakan itu, Eun Dam benar-benar pergi.

Pintu rumah kembali tertutup.

Meninggalkan keheningan yang terasa jauh lebih berat daripada sebelumnya.

Aku masih memandangi pintu yang baru saja tertutup.

Entah mengapa, dadaku terasa sesak.

Aku menarik napas panjang, lalu berbalik menatap Hwi Sol Oppa yang masih berdiri membelakangiku.

"Oppa..."

Tidak ada jawaban.

"Kenapa Oppa melakukan itu?"

Ia tetap diam.

Aku menggigit bibir bawahku, berusaha menahan emosi yang sejak tadi memenuhi dada.

"Oppa kan sudah berjanji tidak akan memarahinya."

Hwi Sol akhirnya berbalik.

"Oppa tidak memarahinya."

"Tapi Oppa mengusirnya!"

Suaraku tanpa sadar meninggi.

"Oppa bahkan tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan."

Hening.

Beberapa detik berlalu tanpa sepatah kata pun.

Aku belum pernah membantah Oppa seperti ini.

Selama dua puluh tiga tahun hidupku, hampir semua perkataannya selalu kuturuti.

Namun kali ini...

Aku tidak bisa.

"Kenapa, Oppa?" tanyaku lirih.

"Apa hanya karena dia pernah tidak sengaja menabrakku?"

"Bukan."

"Lalu apa alasannya?"

Tatapan Hwi Sol berubah sendu.

"Karena Oppa tidak ingin ada pria mana pun yang menyakitimu."

"Bagaimana Oppa bisa tahu kalau Eun Dam akan menyakitiku?"

"Aku hanya ingin melindungimu."

Jawabannya membuatku menggeleng pelan.

"Melindungi bukan berarti mengatur seluruh hidupku, Oppa."

Kalimat itu membuat Hwi Sol terdiam.

Aku menarik napas panjang sebelum melanjutkan.

"Oppa..."

"Aku sudah dewasa."

"Usiaku dua puluh tiga tahun."

"Aku juga ingin mengenal seseorang."

"Aku ingin jatuh cinta."

"Dan suatu hari nanti aku juga ingin menikah."

Air mataku mulai menggenang.

"Apa itu salah?"

Melihat air mata yang mulai jatuh, ekspresi Hwi Sol langsung berubah.

Ia melangkah mendekat.

"Seolhwa..."

Namun aku mundur selangkah.

"Tidak, Oppa."

"Jawab pertanyaanku."

"Kenapa Oppa begitu membencinya?"

Hwi Sol mengembuskan napas panjang.

"Oppa tidak membencinya."

"Lalu kenapa?"

"Karena Oppa belum mengenalnya."

"Kalau begitu kenalilah dia."

Aku menatap mata Oppa dengan penuh harap.

"Eun Dam memang baru hadir dalam hidupku."

"Tapi selama mengenalnya, aku melihat dia pria yang baik."

"Dia mandiri."

"Dia bekerja keras sejak kecil demi membanggakan kedua orang tuanya."

"Dia juga selalu menghormati orang lain."

Aku mengusap air mataku.

"Bahkan setelah diperlakukan seperti tadi..."

"...dia masih menyuruhku agar tidak marah pada Oppa."

"Dia bilang Oppa melakukan semua itu karena terlalu menyayangiku."

Suara Hwi Sol melemah.

"Dia bilang begitu?"

Aku mengangguk.

"Iya."

"Dia sama sekali tidak membalas sikap Oppa."

"Dia hanya tersenyum."

"Dan itu justru membuatku semakin yakin kalau dia orang baik."

Ruangan kembali sunyi.

Hwi Sol memejamkan mata beberapa saat.

Entah apa yang sedang dipikirkannya.

Beberapa detik kemudian, ia kembali menatapku.

"Seolhwa."

"Iya?"

"Jawab Oppa dengan jujur."

Tatapannya begitu dalam hingga membuatku gugup.

"Apa kamu benar-benar menyukai Eun Dam?"

Aku terdiam.

Pertanyaan itu terdengar sederhana.

Namun jawabannya akan mengubah banyak hal.

Aku menarik napas perlahan.

"Iya."

Jawabanku lirih, tetapi penuh keyakinan.

"Aku menyukainya."

"Ini pertama kalinya aku merasakan perasaan seperti ini."

"Aku tidak tahu apakah ini cinta."

"Tapi setiap kali melihatnya..."

"...aku merasa bahagia."

"Setiap kali ponselku berbunyi..."

"...aku berharap itu pesan darinya."

"Dan ketika dia tersenyum..."

"...aku ikut tersenyum."

Air mataku kembali jatuh.

"Oppa..."

"Aku benar-benar ingin mengenalnya lebih jauh."

Hwi Sol tidak segera menjawab.

Tatapannya perlahan meredup.

Ada kesedihan yang begitu dalam di kedua matanya.

Kesedihan yang tidak mampu kupahami.

Ia mengangkat tangannya, lalu mengusap lembut pipiku yang basah oleh air mata.

"Jangan menangis."

Suaranya terdengar jauh lebih pelan dibanding sebelumnya.

"Oppa paling tidak bisa melihatmu menangis."

Aku menggigit bibir, berusaha menghentikan tangisku.

Beberapa saat kemudian, Hwi Sol menarikku ke dalam pelukannya.

Pelukan itu hangat.

Sama seperti yang selalu ia berikan sejak aku kecil.

"Maafkan Oppa."

Bisiknya lirih.

"Oppa hanya terlalu takut kehilanganmu."

Aku memejamkan mata.

"Oppa tidak akan pernah kehilanganku."

Pelukanku mengerat.

"Aku akan tetap menjadi adik Oppa."

"Aku hanya..."

"...ingin Oppa juga memberi kesempatan untuk orang lain menyayangiku."

Tubuh Hwi Sol menegang sesaat.

Namun perlahan ia mengangguk kecil.

"Baiklah."

Aku mendongak menatapnya.

"Kalau memang itu yang kamu inginkan..."

"...Oppa tidak akan melarangmu lagi."

Mataku langsung membesar.

"Benarkah?"

Ia mengangguk pelan.

"Tapi Oppa punya satu syarat."

"Apa?"

"Kalau suatu hari nanti pria itu membuatmu menangis..."

"...janji pada Oppa kamu tidak akan menyembunyikannya."

Air mataku kembali menetes.

Namun kali ini bukan karena sedih.

Aku langsung memeluk Hwi Sol erat.

"Terima kasih, Oppa."

"Terima kasih sudah mempercayaiku."

Hwi Sol membalas pelukanku sambil tersenyum tipis.

Namun senyum itu tidak pernah sampai ke matanya.

Karena di balik pelukan hangat itu...

Ia tahu.

Cepat atau lambat, ia harus merelakan perempuan yang paling ia cintai berjalan menuju kebahagiaan bersama pria lain.

Setelah mendengar pengakuanku, kulihat sorot mata Hwi Sol Oppa perlahan berubah.

Tatapannya yang biasanya hangat kini dipenuhi kesedihan yang sulit kujelaskan.

Seolah-olah ada sesuatu yang baru saja hancur di dalam dirinya.

Entah apa yang sedang Oppa rasakan saat itu.

Namun, pikiranku hanya dipenuhi oleh satu orang.

Eun Dam.

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya setelah diusir dari rumahku.

Beberapa saat kemudian, Oppa mengembuskan napas panjang.

"Baiklah..."

Suaranya terdengar pelan.

"Kalau memang kamu benar-benar menyukainya, Oppa tidak akan melarangmu lagi, Seolhwa."

Mataku langsung berbinar.

"Benarkah?"

Ia mengangguk pelan.

"Iya."

Tanpa berpikir panjang, aku segera memeluknya erat.

"Terima kasih, Oppa!"

Aku tersenyum lebar seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah impiannya.

"Janji ya... Oppa tidak akan menarik kembali ucapan Oppa."

Hwi Sol hanya membalas pelukanku sambil mengusap lembut kepalaku.

"Oppa janji."

Namun, senyum yang ia tunjukkan tak pernah benar-benar sampai ke matanya.

Di balik senyum itu, ada luka yang perlahan mulai menganga.

Di tempat lain...

Sesi latihan taekwondo baru saja memasuki waktu istirahat.

Seorang pria duduk bersandar di dinding aula latihan dengan wajah murung.

Handuk putih menggantung di lehernya, sementara napasnya masih terdengar berat setelah berlatih.

Pria itu adalah Eun Dam.

Tatapannya kosong menembus lantai.

"Jadi begini rasanya..."

"...kalah bahkan sebelum sempat berjuang."

Ia tertawa pelan, tetapi tawanya terdengar begitu pahit.

"Aku bahkan belum sempat mengungkapkan perasaanku pada Seolhwa."

Sejak pertama kali bertemu gadis itu, ada sesuatu yang membuat hatinya terusik.

Awalnya ia memilih memendam perasaannya.

Ia mengira Seolhwa sudah memiliki kekasih.

Namun setelah mengetahui bahwa pria yang selalu bersamanya ternyata adalah kakaknya sendiri, harapan itu kembali tumbuh.

Karena itulah ia memberanikan diri mendekati Seolhwa.

Sayangnya...

Harapan itu seolah runtuh hanya dalam satu malam.

Lamunannya buyar saat ponselnya bergetar.

Nama Seolhwa muncul di layar.

Tanpa menunggu lama, ia segera mengangkat panggilan itu.

"Seolhwa?"

Suara gadis itu terdengar pelan dari seberang sana.

Ia menjelaskan semuanya.

Tentang pertengkarannya dengan Oppa.

Tentang bagaimana akhirnya Hwi Sol mengizinkan mereka untuk saling mengenal lebih dekat.

Semakin lama Eun Dam mendengarkan, senyum di wajahnya perlahan kembali muncul.

"Jadi..."

"...aku masih punya kesempatan?"

Ia mengembuskan napas lega.

"Bisa dibilang begitu."

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah pulang dari rumah Seolhwa, ia bisa tersenyum dengan tulus.

Sebelum menutup telepon, Eun Dam memberanikan diri mengajaknya bertemu keesokan malam.

Dan Seolhwa menerimanya.

Keesokan harinya...

Entah mengapa, pagi ini terasa jauh lebih cerah dari biasanya.

Aku bangun lebih awal dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Sepanjang perjalanan menuju bakery, aku beberapa kali tersenyum sendiri hingga membuat Hwi Sol Oppa melirik ke arahku.

"Ada apa? Kelihatannya hari ini suasana hatimu bagus sekali."

"Masa sih?" jawabku pura-pura tidak tahu.

"Iya. Bahkan dari tadi kamu senyum-senyum sendiri."

Aku hanya terkekeh pelan sambil mengalihkan pandangan ke luar jendela.

Sesampainya di bakery, aku langsung menjalankan rutinitasku seperti biasa.

Memeriksa stok bahan.

Mengawasi para karyawan.

Melayani pelanggan yang datang silih berganti.

Namun hari itu pikiranku sama sekali tidak fokus.

Mataku berkali-kali melirik jam dinding.

Rasanya waktu berjalan jauh lebih lambat daripada biasanya.

Hingga akhirnya sore pun tiba.

Aku menutup toko lebih awal, lalu pulang menggunakan taksi karena Oppa masih harus menyelesaikan pekerjaannya di kantor.

Sesampainya di rumah, aku segera mandi dan mulai memilih pakaian.

Setelah mencoba beberapa pasang baju, akhirnya aku memilih dress berwarna pink pastel dengan motif bunga-bunga kecil.

Sederhana.

Namun tetap terlihat anggun.

Kupadukan dengan flat shoes berwarna putih dan tas selempang kecil favoritku.

Aku menatap bayanganku di depan cermin.

"Semoga tidak berlebihan..."

gumamku pelan sambil merapikan rambut.

Pukul tujuh malam.

Aku sudah berdiri di bawah gemerlap lampu Namsan Tower.

Udara musim semi yang sejuk berembus lembut, membuat suasana malam terasa begitu romantis.

Di sekelilingku, banyak pasangan yang sedang menikmati waktu bersama.

Ada yang sibuk berfoto.

Ada yang tertawa sambil menikmati jajanan.

Ada pula yang menuliskan nama mereka pada gembok cinta sebelum menguncinya di pagar menara.

Tanpa kusadari, senyum tipis menghiasi bibirku.

Sementara itu...

Beberapa kilometer dari sana.

Eun Dam melaju dengan motor Harley kesayangannya.

Di tangan kirinya tergenggam sebuah buket mawar berwarna merah muda.

Sesekali ia melirik bunga itu sambil tersenyum gugup.

Malam ini...

Ia sudah memantapkan hati.

Ia akan mengungkapkan seluruh perasaannya kepada Seolhwa.

Namun...

Saat jarak menuju Namsan Tower tinggal sekitar tiga menit lagi...

Dari arah berlawanan, sebuah truk bermuatan besar melaju dengan kecepatan tinggi.

Lampu sorotnya menyilaukan mata.

Semuanya terjadi begitu cepat.

BRAAAKKK!!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!