Season 1 dan Season 2
Sugar daddyku berbeda. Temukan bedanya dalam kisahku ini. Percayalah! Ia benar-benar berbeda.
Tidak selamanya sugar daddy merupakan lelaki berperut buncit dengan kepala plontos. Pria mesum yang liurnya menetes setiap kali melihat gadis muda nan cantik.
Sugar Daddyku buktinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bemine_97, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Tawaran
“Apa ada yang kamu butuhkan, Queen?” tanyanya padaku saat ia tak sengaja menangkap basah mataku yang memperhatikannya.
“Hah?”
“Apa kamu ingin membeli beberapa pakaian? Tas Kosmetik? Kamu ingin ke salon? Kamu butuh mobil? Bagaimana dengan Jazz keluaran terbaru? Sepertinya cocok untukmu, Kapan kamu akan pindah ke apartemen? Area tempatmu tinggalmu sulit sekali dimasuki mobil.” Itu kalimat terpanjang yang keluar dari mulut Om Gabriel selama aku mengenalnya.
Aku terdiam. Apa maksud semua penawaran yang ia berikan itu? Ia benar-benar menganggapku Sugar Baby-nya? Itu artinya suatu saat aku akan membayarnya dengan tubuhku? Seperti yang dilakukan gadis di kafe tadi?
“Maaf Om, saya tidak mengerti.” Aku menuntut penjelasan darinya, ini sebuah penghinaan bagiku. Aku memang terlampau miskin, tapi menjual diriku pada lelaki kaya tidak pernah masuk dalam daftar alternatif hidupku.
“Pikirkan apa yang kamu butuhkan, lalu hubungi aku kembali dengan Ponsel ini.” Tangannya mengulurkan sebuah ponsel terbaru sama seperti miliknya yang kulihat di kafe tadi. Hanya saja warnanya Rose Gold, sepertinya ia memilihkannya sambil memikirkanku.
“Ponsel itu, gunakan untuk menghubungiku saja ya, aku sudah menyimpan nomorku di sana, nomor Wahyu, Bagas dan Jey jika kamu butuh bantuan mereka. Kartu debit yang kuberikan kemarin juga sudah kuisi sejumlah uang untuk kamu jajan. Jika ada hal lain yang kamu butuhkan, jangan sungkan-sungkan memberitahuku.”
Aku bengong sempurna, kepala kecilku tak bisa memikirkan kalimat lainnya untuk menolak dirinya, apa-apaan ini semua? Aku benar-benar bergelar Sugar Baby Om Gabriel sekarang? Apa pria ini sudah kehabisan pilihan hingga menjadikanku simpanannya?
“Besok, Bagas dan Jey akan membantumu pindahan ke apartemen yang sudah kusiapkan untukmu, apartemennya cukup luas untukmu dan temanmu. Lokasinya dekat dengan kampus dan lingkungannya aman. Aku sudah memastikan semua perabotnya lengkap dan baru, aku hanya bisa menemuimu di sana Queen, aku tidak bisa menemuimu secara bebas seperti ini jika kau tidak mau masuk berita utama esoknya.” Aku masih saja tercekat dengan penjelasan Om Grabiel dan wajah tak berdosanya itu. Ia sama sekali tidak berniat bertanya kesediaanku untuk pindah ke apartemen yang ia sebutkan.
“Kamu bisa mengajak temannmu tinggal di sana, dengan satu syarat, saat aku berkunjung, ia tidak boleh ada di sana.” Kali ini ia menoleh ke arahku, telunjuk tangannya membuat angka 1.
“Aku akan membiayai semua biaya pendidikanmu Queen, bahkan jika kamu berniat melanjutkan studi doktoralmu, aku juga bersedia. Selama kamu menurut padaku.” Aku bisa gila, lelaki ini tidak memberikanku kesempatan menolak. Ia tahu benar keadaanku dan terus-menerus menamparku dengan uang.
Sejujurnya aku tergiur dengan semua penawaran yang ia berikan untukku, bahkan bekerja seumur hidupku pun aku tidak akan bisa meraih semuanya. Jika aku bersedia menjadi simpanan Om Gabriel, semuanya bisa kumiliki dalam 24 jam. Apalagi status Om Gabriel yang single semakin memperkuat keinginanku menjadi kekasihnya. Sekarang aku paham kenapa gadis-gadis miskin sepertiku berakhir menjadi simpanan pria-pria kaya, karena hidup tak berbaik hati pada kemiskinan.
“Om ingin menjadikan saya sebagai simpanan? Kekasih gelap Om?” cecarku. Aku sengaja meninggikan suara untuk memberikan efek jual mahal padanya.
“Bukankah kamu memang kekasihku? Saat ini saja kamu duduk di sebelahku, apa menurutmu posisimu saat ini bisa diduduki siapa saja?”
Jleeb! Rasanya aku ingin melompat keluar dari mobil mahalnya ini. Ternyata aku sendiri yang bermain di kandang macan.
“Saya tidak pernah setuju menjadi simpanan Om, itu benar-benar menjijikkan. Om ingin saya bermanja-manja pada Om seperti yang dilakukan gadis di kafe tadi?” ujarku lagi. Aku masih tidak berniat mengarahkan pandangan padanya.
“Kamu sudah setuju sejak hari pertama kau menerima kartu debit pemberianku Queen.”
“Apa maksud Om? Bukankah itu ucapan terima kasih dari Om?"
“Tentu saja, ucapan terima kasih karena saat itu aku sudah memilihmu sebagai wanitaku.” Rasanya aku ingin menampar mulut kasarnya itu. Tapi kasihan, kulit mulusnya bisa lecet dan tanganku akan sakit.
Aku benar-benar tidak berniat menjawabnya, mulutku kubungkam dan pandanganku lurus ke jalanan. Berdebat dengan lelaki berduit ini tak akan ada habisnya, ia pasti sudah sering melakukan hal seperti ini, karena itulah ia sangat lihai bersilat kata.
“Kamu kekasihku Queen, aku tak pernah menjadikanmu simpananku. Kamu sendiri yang menyebut dirimu simpanan. Bagaimana bisa kamu jadi simpananku saat aku tidak punya wanita lain di sisiku selain kamu?” Lelaki itu berusaha membujukku saat melihatku terdiam di sebelahnya.
“Hei, Queen, ayolah? Kamu akan mendiamkanku? Aku tahu kamu juga menyukaiku!” ucapannya barusan merobohkan pertahananku. Aku menoleh ke arahnya, ia kembali tersenyum seperti biasa.
Benarkah aku menyukainya? Rasa penasaranku selama ini karena aku menyukainya? Rasa gugupku saat di auditorium juga karena aku menyukainya? Kenapa aku tidak tahu tentang perasaanku sendiri?Nyatanya selama ini, aku mengikutinya bukan karena Naila, tapi karena hatiku yang berharap bisa bersamanya.
“Berapa usia Om?”
“Kamu tidak mencari tahu tentangku? Kamu bisa menemukannya dimana-mana Queen, perhatianlah sedikit padaku!”
“Ga, males!” jawabku ketus.
“Kamu ngambek? Pada pria 35 tahun ini? Apa hal seperti itu selalu berhasil pada mantan pacarmu Vino?”
Mataku membulat saat nama Vino disebut.
“Matamu hampir melompat keluar tuh!”
“Biar saja mata saya lompat keluar, biar Om ga suka lagi sama saya.”
“Kamu benar-benar tidak ingin menjadi kekasihku? Kamu terus-menerus menolakku sedari tadi, kamu membuatku berbicara terlalu banyak hari ini Queen, hal itu melelahkan.” Ia masih saja berbicara dengan suara berat yang menggoda jiwa itu.
“Sayang...” Panggilannya membuatku merinding. Sikapnya benar-benar berbeda dengan Vino dulu, ia memperlakukanku dengan cara yang sangat elegan, dan aku sudah terjatuh dalam jebakannya.
Mobilnya berhenti di mulut gang tempat ia menjemputku tadi. Aku membuka seatbelt lalu meraih tasku di kursi belakang. Mataku menangkap Om Gabriel yang sedang membuka seatbelt-nya, aku menoleh padanya hendak berpamitan.
Belum sempat mulutku berkata, ia sudah mengunci mulutku dengan bibirnya. Menahan tengkukku memperdalam ciuman kami. Hembusan nafasnya yang dingin menyapu wajahku, wangi mint ikut merongrong jiwaku. Aku tidak ingin menolak dirinya sama sekali, bibirnya benar-benar membuatku candu. Aku menginginkannya lebih dan lebih, membalas setiap pergerakan darinya hingga kami kehabisan nafas.
Ciumannya turun menelusuri leherku, ia mengecup beberapa kali di sana yang membuat tubuhku merinding hebat. Aku sadar benar, saat ini aku sedang membayar semua yang ia berikan untukku dengan tubuhku. Namun akal sehatku seakan menguap bersama deru nafas kami yang membara. Sepertinya aku benar-benar menyukainya.
Perlahan, bisa kurasakan ia melepaskan satu persatu kancing kemejaku, aku mendesah pelan saat ciumannya turun di bahuku dan menelusuri tulang selangka. Semakin turun mendekati dadaku. Ia mengecup di sana beberapa kali, aku masih saja tidak berdaya menolaknya.
Ia kembali menatap mataku, sorot matanya mengartikan sesuatu yang aku sendiri tidak paham. Belum selesai aku mengatur nafasku, ia kembali menciumi bibirku, hanya beberapa detik sebelum ia akhiri semuanya.
Kedua tangannya dengan cepat mengaitkan kembali kancing kemejaku, lalu menyeka bibirku yang basah dan lipstikku yang berlepotan. Bahkan bisa kulihat lipstikku yang tertinggal di sudut bibirnya. Harusnya kupakai lipstik Moly yang mahal itu.
“Besok, pulanglah ke apartemen yang sudah kusiapkan untukmu, jangan samakan dirimu dengan gadis di kafe tadi. Aku tidak suka itu!” Sebelum ia kembali duduk di kursi kemudi, ia mengecup keningku, lalu turun ke kelopak mataku dan berakhir dengan kecupan di bibir.
“Aku tidak akan mengantarmu sampai ke depan kost, aku harus kembali ke kantor Queen, liburanku sudah usai satu jam yang lalu.” Kalimatnya barusan membuyarkan lamunanku.
Aku segera turun dari mobilnya, mengumpulkan sisa-sisa nyawa dan akal sehatku. Kulangkahkan kakiku yang lemah menelusuri gang sempit itu. Rasanya gang sempit itu jadi luas, kiri-kanannya bukan lagi tembok-tembok yang dipenuhi coretan hingga tumpukan sampah, melainkan ladang bunga yang menghamburkan wangi semerbak.
Beginikah rasanya menyukai seseorang? Perasaan ini benar-benar berbeda dibandingkan saat bersama Vino dulu. Aku bahkan larut dalam cumbuan Om Gabriel, seandainya ia tidak menghentikannya, aku juga tidak akan menghentikannya.
.
.
.
.
To Be Continued,
Ahh,, gerah nulis beginian
huhuhu 🥺🥺🥺🥺🥺
**Terima kasih sudah membaca, **
jangan lupa klik like dan tinggalkan komentar untuk mendukung Author ya
tambahkan ke favorit juga biar dapat info updatenya,
terima kasih,
love,
bemine_97