Kalian tahu Reuni itu apa?
Kalian tentu sudah tahu.
Pertemuan kembali setelah berpisah cukup lama.
REUNI betul-betul mengubah hidupku.
Aku bertemu dengan jodohku saat REUNI.
REUNI mempertemukanku kembali, dengan siswa terpintar saat SMA dulu. Sampai benih-benih cinta tumbuh diantara kami. Dan kami pun sepakat mengikat janji suci dalam pernikahan.
Namun siapa sangka?
REUNI yang telah mempertemukan aku dengan jodoh.
Namun REUNI pula membuat rumah tanggaku nyaris berantakan.
Ketika seorang pria yang tidak pernah diperhitungkan di masa lalu. Tiba-tiba hadir dengan segudang pesonanya.
Rumah tanggaku pun dipertaruhkan.
****************
Author : INA AS
Facebook : INA AS
Instagram: INA AS
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ina As, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Hakimah
Mau tidak mau Nadia harus mengalah dan mengakhiri peran dinginnya, manakala Tristan meletakkan travel bag dengan gaduh di atas lantai. Pertanda ia akan dinas ke luar kota lagi.
"Dinas keluar lagi?" tanya Nadia pada Tristan.
"Iya," jawab Tristan singkat.
"Kemana? berapa lama?"
"Jambi, dua minggu."
"Biar aku yang menyiapkan pakaianmu," tawar Nadia, dan tanpa menjawab Tristan menjauh dari travel bag nya, berarti Nadia boleh membantunya.
"Sarapanlah dulu," ujar Nadia setelah menyiapkan sepiring nasi goreng untuk Tristan. Berbeda dengan hari sebelumnya, kali ini Tristan sudah mau menyantap masakan Nadia.
Saat sudah berada di teras rumah hendak berangkat, Tristan tiba-tiba kembali masuk ke dalam rumah. Ia melupakan sesuatu. Sebuah kotak yang ia sembunyikan di meja kerjanya. Kotak itu ia masukkan ke dalam ransel laptopnya.
"Aku berangkat dulu," ucap Tristan setelah taxi online datang. Nadia hanya mengangguk. Tidak ada salaman ataupun ciuman. Mereka sudah lama tidak melakukan itu. Hanya pada saat awal berumah tangga.
Sebenarnya Nadia sudah siap mengantar Tristan ke Bandara seperti biasanya, namun ternyata Tristan menolak. Tristan lebih memilih ke Bandara menggunakan taxi online.
Ya setidak-tidaknya ketegangan antara mereka sudah mencair. Meskipun hubungan belum menghangat.
Menghangat?
Ah, kehangatan hubungan itu hanya terjadi saat-saat awal pernikahan. Sekarang Nadia tidak bisa mengatakan hangat lagi. Namun terlalu buruk bila dikatakan dingin.
********
Menjemput seseorang untuk ke Bandara menggunakan taxi online, apalagi jalur yang ditempuh tidak searah, merupakan hal yang sangat lucu.
Apalagi kalau bukan karena memiliki niat tertentu.
Seperti yang dilakukan Tristan, menjemput Hakimah di rumah kostnya. Yang membuat taxi yang ditumpanginya harus memutar arah.
"Kak Tristan naik taxi online?, waduh tahu begitu Imah nggak perlu dijemput, ngerepotin banget. Kirain Kak Tristan diantar Kak Nadia ke Bandara," ucap gadis muda itu, yang dari awal memang menolak dijemput Tristan, tapi Tristan sepertinya setengah memaksa. Dan ia harus menghargai senior yang selalu menjadi mentornya itu.
"Santai aja Imah, nggak ada yang repot kok," sahut Tristan sambil mengurai senyumnya. "Sudah tidak ada yang ketinggalan?" lanjutnya.
"Lengkap Kak," ucap Hakimah dengan semangat.
Gadis muda yang smart dan enerjik itu, auditor baru di kantornya. Menjadi semangat baru bagi Tristan, saat jenuh sudah melanda karena pekerjaan kantor menoton yang menguras energi, waktu dan pikiran, juga karena kehidupan rumah tangganya tidak seperti yang ia inginkan.
Gadis itu menjadi motivasinya sekarang, membuat fokus, kecepatan dan ketepatan kerjanya yang sudah menurun, kembali lagi seperti semula, saat ia baru masuk kerja.
Kriteria wanita yang ia idamkan dimiliki oleh gadis itu. Smart, enerjik, dan komunikatif.
Sedikit menyinggung mengenai Nadia istrinya, bagaimana ia bisa mengarungi biduk rumah tangga dengan Nadia.
Dahulu saat mereka SMA, Nadia adalah gadis idaman di sekolahnya. Gadis yang sering mengikuti lomba putri-putrian juga modelling. Kekasih Ketua Osis SMAnya.
Siapa yang tidak kenal Nadia zaman mereka SMA dulu?. Kecantikannya membuat banyak pria jatuh hati padanya. Bahkan ia juga diam-diam mengagumi kecantikan Nadia. Namun sama sekali tidak berharap memilikinya.
Mengapa?
Karena selera Nadia pasti yang sepadan dengannya. Yang tampan dan kaya, seperti Ketua Osis senior mereka. Dan dirinya, tidaklah masuk dalam kategori itu. Ia memang pintar, selalu menjadi peringkat satu di sekolahnya. Namun bukan seperti dirinya yang dicari Nadia.
Setelah bertahun-tahun tidak bertemu, reuni kembali mempertemukan dirinya dan Nadia.
Siapa sangka, sejak reuni itu hubungannya dengan Nadia menjadi akrab, dan dalam waktu yang relatif singkat berlanjut ke pelaminan.
Sejak mereka menikah, Nadia sudah menghentikan semua aktifitas modelling nya.
Tidak butuh waktu bertahun-tahun, baru menjalani beberapa bulan pernikahan mereka, dirinya dilanda jenuh pada Nadia.
Ternyata wanita yang diidamkan banyak pria saat sekolah dulu, tidak memiliki nilai istimewa dalam pandangannya. Namun ia tidak perlu berbicara banyak mengenai sisi lemah Nadia. Karena membicarakan keburukan istri bukanlah hal yang baik.
Kesalahannya adalah terlalu cepat memutuskan menikah dengan Nadia, sebelum mengenalnya terlalu dalam. Sehingga pernikahannya berlangsung dengan hambar, tanpa rasa.
Teman diskusi seorang suami yang tepat adalah istri, namun Nadia tidak bisa menjadi teman diskusinya. Pengetahuannya sangat terbatas. Bahkan untuk profesi yang ia geluti sendiri.
Mungkin benar, mencari pasangan itu harus sepadan. Sehingga tidak diperlukan proses adaptasi yang berlebihan.
Nadia harusnya memiliki suami yang tampan, sedangkan dirinya harusnya memiliki istri dengan intelejensi yang baik. Sehingga ia dan Nadia tidak perlu terjebak dalam rumah tangga beda dunia.
Mengapa juga ia harus ikut-ikutan dengan selera kebanyakan pria yang menetapkan kriteria calon istri yang ideal itu harus cantik dan seksi?.
Padahal ia membutuhkan wanita yang memiliki kecerdasan dan pendidikan yang tinggi untuk menjadi partner hidup, daripada seorang pendamping perempuan yang hanya duduk di kursi belakang.
Tapi semua sudah terlanjur.
Dan gadis yang duduk di sampingnya sekarang datang terlambat.
Ia sudah menyiapkan sebuah hadiah untuk Hakimah. Sebuah jam tangan. Namun ia masih ragu untuk memberikan kepadanya.
Takut mendapat penolakan.
Karena Hakimah bukan typical wanita mudahan. Terlebih lagi tidak ada momen yang tepat untuk memberinya hadiah.
Namun seperti itulah perempuan cerdas. Terlalu banyak pertimbangan mengenai orang yang tepat. Sehingga banyak dari mereka yang menjomblo. Karena mereka bisa mandiri dan tidak bergantung.
Begitu mobil yang ditumpangi melewati beberapa kontainer sampah yang isinya sudah meluap, Hakimah menggeleng-geleng, lalu mulai gadis itu mulai berceloteh riang.
"Sampai sekarang pengelolaan sampah di Jakarta masih menjadi momok ibukota."
"Di Estonia, Slovania dan Belgia, mereka fokus pada pencegahan sampah dan daur ulang. Sehingga volume sampah yang mereka hasilkan tidak banyak seperti di negara kita. Juga turut diimbangi dengan daur ulang dan kompos yang cukup terhadap jumlah sampahnya. Alhasil, warga ketiga negara itu menghasilkan sampah paling sedikit di seluruh Eropa."
"Lain lagi di Jepang. Jepang memberlakukan penyortiran sampah yang luar biasa rumit.
Saking rumitnya Kak, setiap warga Jepang dibekali dengan buklet, termasuk instruksi detail, agar mampu menyortir sampahnya sendiri."
"Lipstik misalnya Kak, masuk ke kategori sampah yang akan dibakar, tetapi tabung lipstik, setelah isinya terpakai semua, dikategorikan sebagai "logam ringan" atau plastik."
"Kapan Negara kita bisa seperti negara-negara itu ya Kak?. Sayang kita kerjanya di BPK, bukan di Kementerian Lingkungan Hidup, jadi tidak punya kewenangan untuk mengurusi persoalan sampah." lanjut Hakimah sambil terkekeh.
Nah itu baru bicara soal sampah, belum bicara soal lain. Soal sampah saja pengetahuan gadis itu sudah luar biasa. Keren bukan?
Jadi keren mana, dada besar atau otak besar?
********
Nadia terlambat datang ke salonnya karena harus menunggu Tristan berangkat ke Bandara.
Biasanya begitu ia datang, maka ia akan mengabsen satu persatu karyawannya. Atau menyapa pelanggan yang sudah hadir pagi-pagi sekali.
Namun kali ini begitu ia datang, ia langsung duduk di sofa, tempat ia duduk kemarin. Memandangi kursi kosong di depannya, tempat seorang pria duduk kemarin.
"Mbak, kemarin tamunya cakep benar, nampaknya tajir lagi, siapa sih?" seru Andriani salah satu karyawannya.
Membuat Nadia tersipu, bagaimana bisa saat Nadia memikirkan pria itu, pada waktu yang sama Andriani juga menanyakannya.
Apa Andriani bisa menebak isi kepalanya?.
Atau hanya penasaran saja pada sosok itu?.
"Oh itu, dia teman lama." Cukup informasi itu yang dibagi untuk karyawannya. Mereka tidak perlu tahu lebih banyak.
Segera Nadia masuk ke dalam ruang kerjanya agar pembicaraan mengenai Bimasena tidak berlanjut. Sebab bisa berujung fatal.
Ia membuka buku catatan yang berisi produk-produk kecantikan yang sudah hampir habis dan perlu diorder kembali. Namun ternyata ia belum bisa fokus pada catatan itu. Apalagi harus mengorder produk yang hampir habis.
Tamu tak terduga kemarin masih mengganggu pikirannya. Beserta seluruh ucapan-ucapan pria itu tersimpan baik dalam ingatannya.
Ucapan Bimasena dengan sorotan netra yang menghujam ke hati terus terngiang-ngiang di telinga Nadia.
Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk mengobrol denganku.
Seolah dirinya adalah wanita karir super sibuk, yang waktunya sangat terbatas, dan sudah meluangkan waktu berharga untuk Bimasena.
Padahal hampir setiap hari ia hanya duduk di belakang meja kerjanya, nyaris tanpa bekerja, sekali-kali turun tangan bila pelanggang sedang banyak. Itupun hanya waktu-waktu tertentu.
Dan ucapan terakhir Bimasena sebelum meninggalkan salonnya,
Aku sering bertemu wanita.
Namun jarang menemui wanita.
Aku baru menemui wanita,
untuk urusan pekerjaan.
Atau karena ia wanita yang spesial di mataku.
Bagaimana ia harus mengartikan ucapan itu?
Apakah ia perlu mengartikannya?
Atau ia abaikan saja?
Ah....
Mengapa harus kembali ada getar rasa?
Yang membawa wajah yang berbeda.
Wajah yang tak semestinya datang.
Karena waktunya sudah tidak tepat,
dan tidak mungkin melompat mundur.
Pada waktu-waktu dimana ia belum terikat.
Sehingga memikirkannya merupakan sebuah kesalahan.
Memikirkannya adalah sebuah pengkhianatan. Tidak boleh berulang.
Ah Bimasena,
Bukan hanya merayu mata.
Sekarang mulai merayu rasa.
Nadia: Apakah kamu sering tidur dg banyak wanita sblm denganku, Bim.karena sbg seorang jejaka kamu sangat pro dlm sex?
itu diotakku, ternyata beda yg diotak kak Ina..🤣🤣
tentulah kalo jadi iatri Tristan, akan pilih selingkuh dg Bima.Kalau istri Adit akan pilih setia,krn suami sdh baik, sayang, kaya lagi..hehe
.hehehe