Menikahi seorang duda beranak tiga dipikirnya akan membawa kebahagiaan baru, namun kenyataan menjadi ibu tiri ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Di balik pintu rumah yang tampak sempurna, ia harus berhadapan dengan penolakan halus, bahkan kasar, serta dinamika tiga anak dengan karakter yang bertolak belakang.
Mampukah Ayu meluluhkan hati anak-anak tirinya dan mempertahankan rumah tangganya, atau justru menyadari bahwa ketulusan saja tidak pernah cukup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8: Tangisan Moana
Malam merambat makin larut. Suara jangkrik dari pekarangan samping rumah bersahut-satuan dengan hembusan angin malam yang menerpa dedaunan.
Di dalam kamar utama, setelah menyelesaikan makan malam yang tenang bersama Yoga, Ayu berdiri di depan meja rias. Ia melepaskan jilbab instannya, dan membiarkan rambut hitamnya yang panjang terurai rapuh, lalu mengoleskan sedikit pelembap pada kulit tangannya yang masih terbalut kasa tipis.
Yoga yang baru saja merebahkan diri di atas ranjang berukuran king size, bersandar pada kepala tempat tidur sambil memperhatikan gerak-gerik istrinya. Tatapannya hangat, dipenuhi pendar ketenangan yang sudah bertahun-tahun tidak ia rasakan.
"Ayu, kemarilah... Istirahatlah. Kamu pasti sangat lelah seharian ini," panggil Yoga lembut seraya menepuk bagian kasur yang kosong di sampingnya.
Ayu menoleh, dan mengulas senyum manis yang membuat wajah polosnya terlihat makin anggun di bawah pendar temaram lampu tidur. "Iya, Mas. Sebentar, saya matikan lampu utama dulu ya."
Namun, tepat saat jemari Ayu menyentuh sakelar lampu, sebuah suara isakan pelan memecah keheningan malam. Suara itu makin lama makin terdengar jelas, sebuah tangisan anak kecil yang ketakutan.
“Ibuuu... Hiks... Papa...”
Ayu membeku, matanya seketika membulat. "Moana?"
Yoga yang mendengar suara putri bungsunya langsung sigap membenahi posisi duduknya. "Moana terbangun? Biasanya dia tidak pernah terbangun malam-malam begini kecuali kalau mimpi buruk."
Tanpa memikirkan hal lain, Ayu langsung menyambar kain jilbab bergo simpel yang tergeletak di atas meja rias, dan memakainya secara terburu-buru, lalu bergegas menuju pintu. "Mas Yoga istirahat saja, biar saya yang cek ke kamar Moana."
"Kamu yakin, Ayu? Lenganmu masih sakit," ujar Yoga khawatir, seraya hendak bangkit berdiri.
"Tidak apa-apa, Mas. Saya bisa penanganinya," potong Ayu dengan cepat. Dengan langkah tergesa-gesa, ia membuka pintu kamar utama dan melangkah keluar menuju koridor lantai dua.
Sementara itu, di kamar lain di sepanjang koridor yang sama, pintu kamar Lea terbuka sedikit.
Gadis remaja berusia empat belas tahun itu sebenarnya belum tertidur. Sejak mendengar suara ayahnya dan Ayu makan malam di bawah tadi, hatinya diselimuti kekesalan yang membakar. Ketika suara tangisan Moana terdengar memecah sunyi malam, refleks Lea langsung bekerja.
Selama lima tahun ini, sejak ibu kandung mereka meninggal dunia, Lea lah yang selalu mengambil peran sebagai sosok pelindung bagi Moana.
Setiap kali Moana bermimpi buruk atau terbangun menangis di tengah malam, Lea yang paling gercep melangkah keluar dari kamarnya, berlari menghampiri sang adik, memeluknya, dan menyanyikan lagu bobo sampai Moana tertidur kembali di pelukannya.
Hubungan darah dan kenangan akan mendiang ibu mereka mengikat Lea begitu kuat pada Moana.
Dengan terburu-buru, Lea memutar gagang pintu dan melangkah keluar dari kamarnya, dan berniat berlari menuju kamar Moana yang terletak tepat di antara kamar utama dan kamar Kenzo.
Namun, baru saja dua langkah Lea menginjak karpet koridor, langkah kakinya terhenti mendadak.
Dari pintu kamar utama yang terbuka, sosok Ayu keluar dengan tergesa-gesa. Ayu melangkah cepat menyeberangi lorong, dan sama sekali tidak menyadari keberadaan Lea yang berdiri membeku di kegelapan sudut koridor.
Ayu membuka pintu kamar Moana, menyusup masuk, dan menutup pintunya kembali dari dalam.
Lea berdiri terpaku. Tangannya yang mengambang di udara perlahan mengepal sangat erat hingga kuku-kukunya memutih.
Rasa sesak yang menyengat mendadak membakar dadanya. Posisinya yang selama lima tahun ini selalu menjadi orang pertama untuk Moana, kini telah direbut begitu saja oleh wanita asing yang baru dua hari tinggal di rumah ini.
Yang membuat hatinya makin sakit dan marah, kamar Moana yang sengaja dirancang dekat dengan kamar utama memudahkan wanita itu untuk bertindak seolah-olah dialah ibu kandung Moana.
"Dasar wanita penjilat..." bisik Lea dengan suara bergetar menahan amarah dan air mata cemburu yang mulai menggenang di pelupuk matanya. "Bahkan Moana pun mau kamu rebut dari aku!"
Dengan napas memburu dan rasa marah yang meluap-luap, Lea berbalik badan secara kasar. Ia menghentakkan kakinya dan melangkah kembali ke dalam kamarnya, lalu membanting pintu kayu tebal itu dengan sangat keras.
BAM!
Dentuman pintu kamar Lea menggelegar menembus sunyinya malam, hingga membuat koridor lantai dua kembali mencekam.
Di dalam kamar Moana yang bernuansa serba merah muda, Ayu yang sedang memeluk tubuh mungil Moana sempat terlonjak kaget mendengar suara bantingan pintu dari luar.
Namun, ia memfokuskan seluruh perhatiannya pada Moana yang masih terisak-isak dengan mata terpejam rapat.
"Ibuuu... Ada hantu... Moana takut..." tangis Moana sesenggukan, sambil menyusupkan wajahnya yang basah oleh air mata ke ceruk leher Ayu.
Ayu lalu berbaring di samping Moana, dan menarik selimut tebal sampai menutup dada gadis kecil itu.
Ia memeluk tubuh Moana yang gemetar dengan sangat lembut, menepuk-nepuk punggungnya pelan seraya membisikkan bacaan ayat-ayat suci dan selawat dengan suara yang begitu merdu dan menenangkan.
"Ssstt... Anak pinter Ibu... Gak ada hantu, Sayang. Kan ada Ibu di sini yang jagain Moana," bisik Ayu penuh kehangatan, sambil mengusap peluh di kening Moana dan mengecup pipinya berulang kali. "Ibu gak akan ke mana-mana. Ibu ada di sini..."
Kehangatan dekapan Ayu dan elusan lembut di kepalanya perlahan-lahan meredakan tangisan Moana, hingga deru napas anak berusia enam tahun itu mulai teratur kembali. Jemari mungil Moana memegang erat ujung baju Ayu, seolah takut jika ibu tirinya itu akan pergi meninggalkannya.
Ayu terus mengeloni Moana dengan sabar. Dalam keheningan kamar anak itu, Ayu menatap langit-langit dengan mata yang berkaca-kaca. Ia menyadari sepenuhnya betapa besar tanggung jawab yang kini ia pikul. Suara bantingan pintu dari luar tadi, Ayu tahu betul itu berasal dari Lea.
Ayu menghela napas panjang, lalu berbisik lirih dalam hatinya, "Ya Allah, bukakanlah pintu hati anak-anak Mas Yoga untukku... Berikan aku kesabaran untuk merangkul mereka, sampai mereka paham bahwa ketulusanku ini tidak akan pernah mengikis kenangan dan cinta mereka pada almarhumah ibunya..."
Dengan setia, Ayu tetap berbaring di samping Moana, mengeloni dan memeluk anak kecil itu hingga terlelap masuk ke dalam mimpi indahnya kembali.
Bersambung...