NovelToon NovelToon
Isteri Sah Di Balik Bayangan

Isteri Sah Di Balik Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

**Isteri Sah di Balik Bayangan**

Sepuluh tahun menikah, Aina, PNS di Kantor Camat Pujut, Lombok Tengah, akhirnya hamil. Ia berniat memberi kejutan pada suaminya, Lalu Raka. Namun di dekat Pantai Kuta Mandalika, ia justru melihat Raka menggendong seorang bocah yang memanggilnya "Bapak", ditemani wanita bernama Baiq Sekar.

Hari itu juga, dari data kependudukan yang setiap hari ia urus, Aina menemukan kebenaran paling pahit: Sekar adalah istri pertama. Selama ini, dialah istri kedua yang hidup di balik bayangan.

Bertahan dalam kebohongan, atau pergi membawa buah hati yang telah lama ia nantikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jawaban yang Belum Selesai

"Belum sekarang, Mas."

Kalimat itu keluar pelan dari bibir perempuan bertubuh mungil itu. Suaranya nyaris tertelan debur ombak di kejauhan, tetapi cukup jelas untuk didengar oleh lelaki yang berlutut di hadapannya.

Raka tidak bergerak. Gelang perak kecil itu masih terbuka di telapak tangannya. Lesung pipi di sisi kiri wajahnya, yang biasanya muncul setiap kali tersenyum, kini tidak terlihat sama sekali.

"Belum sekarang," ulang Aina. "Bukan berarti tidak."

Lelaki berlesung pipi itu mengangkat wajah. Ada sesuatu yang bergerak di matanya. Bukan kekecewaan, melainkan harapan yang masih ragu untuk tumbuh.

Aina menarik napas panjang. Tangannya menyentuh perutnya sendiri, Seolah meminta kekuatan dari makhluk kecil di dalam sana.

"Selama sepuluh tahun, aku menjawab semua pertanyaanmu terlalu cepat, Mas. Waktu kamu melamarku, aku langsung menjawab iya. Waktu kamu bilang ada proyek di Mandalika, aku langsung percaya. Waktu kamu bilang biar Mas saja yang mengurus kartu keluarga, aku langsung setuju." Perempuan bermata sayu itu tersenyum getir. "Kali ini aku ingin menjawab dengan pelan. Aku ingin jawabanku lahir dari keyakinan, bukan dari rasa takut kehilangan."

"Aku mengerti, Na."

"Tanyakan lagi setelah anak ini lahir." Aina menatap gelang di telapak tangan Raka. "Sampai saat itu, tunjukkan kepadaku siapa Bayu. Bukan dengan janji. Bukan dengan surat. Dengan hari-hari yang kamu jalani."

Raka mengangguk perlahan. Lelaki beralis tebal itu menutup telapak tangannya, menggenggam gelang perak itu erat-erat, lalu berdiri. Lututnya kotor oleh pasir dan rumput kering. Lelaki itu tidak membersihkannya.

"Aku akan menunggu," katanya. "Dulu ayahku tidak berani menunggu dengan jujur. Aku akan belajar melakukannya."

Sementara itu dari arah mobil, terdengar isak tertahan. Aina menoleh, Disana terlihat Ibu Sumi berdiri di samping Sekar sambil menutup mulut dengan ujung kerudung. Perempuan berambut putih itu menangis, tetapi bibirnya tersenyum.

Di belakang mereka, Lale Rukmini berdiri paling jauh. Perempuan bersanggul itu menunduk, seolah tidak merasa pantas ikut berbahagia. Ketika Aina menatapnya, perempuan itu mengangguk kecil. Anggukan itu terasa seperti permintaan maaf sekaligus restu.

Lalu Hamdan pun membukakan pintu mobil. Lelaki jangkung itu menatap adiknya dengan pandangan bangga.

"Jawaban yang bagus Dik," bisiknya ketika Aina masuk ke mobil.

"Aku tidak tahu apakah itu bagus Kak, Aku hanya tahu itu jujur."

"Justru itu yang membuatnya bagus."

Mobil bergerak meninggalkan Desa Mertak. Matahari sore mulai turun di balik bukit. Dari jendela, Aina melihat Bidan Rohani masih berdiri di teras rumah biru mudanya. Perempuan renta bermata tajam itu terus melambaikan tangan sampai mobil hilang di tikungan.

Hari-hari berikutnya berjalan lebih tenang daripada yang Aina duga.

Raka tidak lagi tinggal di rumah Sengkol. Lelaki berlesung pipi itu memilih menumpang di rumah Ibu Sumi di Kawo. Setiap pagi, Raka bekerja sebagai buruh bangunan di sebuah proyek perumahan kecil di Praya. Pekerjaan itu berat dan upahnya tidak besar. Namun, untuk pertama kalinya, pekerjaan itu nyata.

"Proyek ini benar-benar ada Na," kata Raka suatu sore sambil tertawa kecil. Lelaki itu datang dengan baju penuh debu semen dan sekantong jeruk di tangan. "Kalau tidak percaya, datanglah melihat. Mandornya bisa jadi saksi."

Aina ikut tertawa. Lelucon itu terasa pahit dan manis sekaligus.

Setiap sore, Raka datang membawa sesuatu. Kadang buah. Kadang sayur dari kebun Ibu Sumi. Kadang hanya cerita tentang hari yang dilaluinya. Lelaki itu tidak pernah menginap dan tidak pernah meminta apa pun. Raka hanya duduk di teras, menemani Aina minum teh, lalu pulang sebelum azan Isya.

Ibu Aina, yang kini tinggal sementara di Sengkol untuk menjaga putrinya, memperhatikan semua itu dalam diam. Suatu malam, setelah Raka pulang, perempuan berkerudung cokelat itu duduk di samping Aina.

"Dia sudah berubah Nak," katanya pelan.

"Aku tahu Ibu, Tapi aku masih takut."

"Takut itu wajar." Ibu Aina mengusap kepala putrinya. "Yang penting, jangan biarkan rasa takut memilihkan jalan untukmu. Biarkan hatimu yang memilih. Pelan-pelan saja."

Rini pun tampak datang berkunjung hampir setiap akhir pekan. Perempuan berpipi bulat itu selalu membawa kabar dari kantor. Siapa yang baru pindah tugas. Siapa yang baru melahirkan. Antrean warga yang semakin panjang sejak Aina tidak masuk kerja.

"Semua orang menanyakan Ibu," kata Rini suatu Sabtu. "Pak Sahnan bahkan menyapu halaman di bawah pohon ketapang setiap pagi, supaya tempat parkir motor Ibu tetap bersih."

Aina tertawa sampai matanya basah. Perempuan bertubuh mungil itu merindukan kantornya. Rindu suara printer yang macet. Rindu warga yang kebingungan karena namanya salah tulis di KTP.

Namun, kerinduan itu selalu diikuti rasa cemas. Hasil pemeriksaan belum juga keluar. Aina tidak tahu apakah masih ada tempat untuknya di kantor itu.

Jumat sore, Dua minggu setelah pemeriksaan, telepon dari Pak Mahsun akhirnya datang.

"Bu Aina, suratnya sudah keluar."

Aina mencengkeram ponselnya. "Bagaimana hasilnya, Pak?"

"Saya belum tahu Bu. Suratnya tertutup dan harus diterima langsung oleh Ibu di kantor kepegawaian kabupaten. Hari Senin pukul sembilan pagi." Lelaki berkumis tipis itu terdiam sejenak. "Saya akan menemani Ibu."

Akhir pekan itu terasa sangat panjang. Aina tidak bisa tidur nyenyak. Setiap kali memejamkan mata, perempuan bermata sayu itu membayangkan dua kemungkinan. Seragam cokelat khaki yang kembali dikenakan setiap pagi, atau seragam yang dilipat untuk terakhir kalinya dan disimpan di dasar lemari.

Minggu malam, Raka datang lebih lambat daripada biasanya. Lelaki berlesung pipi itu tidak membawa buah. Raka hanya membawa sebuah buku kecil bersampul hijau.

"Ini buku doa milik Ibu Sumi," katanya. "Ibu menitipkannya untukmu. Kata Ibu, doa di halaman yang ditandai ini selalu dibacanya selama tiga puluh tahun. Doa agar orang yang ditunggu bisa pulang dengan selamat."

Aina menerima buku itu dengan tangan gemetar. Di halaman yang ditandai, ada tulisan tangan kecil di pinggir kertas: Untuk Bayu. Di bawahnya, dengan tinta yang lebih baru, ada tulisan lain: Untuk Aina dan cucuku.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam dua minggu, Aina tidur nyenyak.

Senin pagi, kantor kepegawaian kabupaten sudah ramai seperti biasa.

Aina duduk di kursi plastik biru yang sama di lantai dua. Hamdan duduk di sampingnya. Pak Mahsun berdiri di dekat jendela. Raka menunggu di halaman bawah karena tidak ingin membuat Aina semakin tegang.

Pukul sembilan lewat sepuluh menit, pegawai perempuan berkacamata itu keluar membawa sebuah amplop cokelat bersegel.

"Saudari Aina?"

Aina berdiri. Lututnya terasa lemas. Perempuan bertubuh mungil itu menerima amplop tersebut dan menandatangani buku tanda terima.

Amplop itu tidak tebal. Isinya hanya beberapa lembar kertas. Namun, di dalamnya tersimpan nasib sepuluh tahun pengabdian, sekaligus masa depan anak yang sedang dikandungnya.

Aina duduk kembali. Hamdan menggenggam bahunya. Pak Mahsun melangkah mendekat.

Dengan jari yang gemetar, perempuan bermata sayu itu merobek ujung amplop perlahan.

1
falea sezi
si aina di jadikan ban serep saat istri. pertama gugat cerai🤣 najis amat bloon
niaww
semngat kak mampir cerita aku juga ya🥰
falea sezi
pake pengacara lah bodoh
falea sezi
🤣🤣🤣 goblok si aina suami berbagi aja dia mau
Emily: kesel ya klo ada istri oon
total 1 replies
falea sezi
cerai aina bloon🤣
falea sezi
cerai aina enak y berbagi batangan satu itu🤣🤣 cari batangan yg gk usah di bagi😒 begooo🤭
falea sezi
aina tololl menye menye
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!