Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Rania mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia menerima pinangan Arkan, seorang duda kaya raya berparas rupawan yang berusia 38 tahun. Kehidupan barunya tidak hanya membawanya pada gelimang kemewahan, tetapi juga menuntut Rania untuk beradaptasi dengan peran barunya sebagai ibu sambung bagi dua putra Arkan yang memiliki kepribadian sangat bertolak belakang.
Zidan, putra sulung Arkan ternyata bersahabat baik dengan keponakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Mak Lampir
"Aku berangkat, Om." pamit Zidan pada Axel sambil beranjak dari duduknya. Ia tak menoleh sedikit pun ke arah Luna, apalagi menyapa. Jangankan bicara, melirik saja enggan.
"Bareng, Zid." sahut Axel cepat, memutuskan cari aman. Dia tak ingin terjebak dalam drama yang mungkin akan segera pecah.
"Lu nggak icip sarapan dari tante Rosa, Xel?" tanya Luna, masih dengan nada manis yang terdengar dibuat-buat. Dia pun sama sekali tak menyapa Zidan meski tahu betul kalau remaja itu adalah anak dari pria yang sedang ia incar.
"Gue udah kesiangan, Lun. Gue duluan." ucap Axel singkat sebelum buru-buru menyusul Zidan yang sudah lebih dulu keluar dari ruang makan.
Luna tak ambil pusing. Dia langsung menuju dapur, berniat menyiapkan sarapan spesial untuk Arkan. Namun, langkahnya terhenti mendadak ketika mendapati sosok Rania sedang bersama Kenzie di sana. Keduanya terlihat akrab, tertawa kecil sambil menyiapkan bubur.
Luna terbelalak, ekspresinya langsung berubah. Suaranya naik satu oktaf. "Kamu ngapain di rumah calon suami saya pagi-pagi begini?" hardiknya tajam.
Rania dan Kenzie sontak menoleh. Mendengar suara ketus Luna, Rania langsung tahu siapa yang datang.
Dia menghela napas perlahan. Wajahnya tetap tenang. Dia ingat betul Luna perempuan yang dulu sempat memaksa pulang Kenzie saat mereka sedang bersantai di kafe bersama Karina.
"Mbak ngomong sama saya?" tanya Rania datar, menatap Luna tanpa gentar.
Kenzie, yang sejak tadi berdiri di samping Rania, langsung bersembunyi di balik tubuh sang tante. Wajahnya tampak gelisah, jelas tak nyaman dengan kehadiran Luna.
"Jawab aja!" sentak Luna, nada galaknya memenuhi ruangan.
Rania menghela napas panjang, tetap tenang meski nadanya mulai terdengar ketus. "Enggak lihat saya lagi masak bubur?"
"Buat siapa?" cecar Luna, jelas menaruh curiga.
"Bapaknya Kenzie." jawab Rania singkat dan jujur.
"Calon suami saya? Kamu lancang banget." tegur Luna dengan sorot mata menusuk.
Rania memutar mata malas. "Ada buktinya kalau Mbak calon istrinya Pak Arkan?" tantangnya dingin.
Luna tanpa ragu mengangkat tangannya, menunjukkan cincin di jarinya. "Kami sudah tunangan. Arkan sendiri yang kasih cincin ini!"
Rania tersentak, tapi wajahnya tetap berusaha tenang. Di dalam kepalanya berputar cepat. Arkan memberinya harapan, bahkan mengajaknya mengenal lebih dekat... tapi di sisi lain memberi cincin ke perempuan ini? Apa maksudnya? Sialan.
"Masih nggak pergi juga? Atau nunggu saya usir?" sindir Luna tajam.
Rania menghela napas. Ia sedang tak ingin bertengkar, apalagi di pagi hari. Dia menunduk sedikit, menatap Kenzie yang sejak tadi berdiri resah di sampingnya.
"Kamu mau ikut tante, sayang? Atau tetap di rumah?" tanyanya lembut.
"Daddy sakit..." lirih Kenzie, bingung.
"Daddy biarin dijaga sama tante itu juga nggak apa-apa. Ada mbak-mbak juga. Jadi, kalau kamu mau ikut tante, ayo.@ bujuk Rania lagi.
Kenzie menatap Rania lalu mengangguk pelan, langsung meraih tangan perempuan itu. Luna sempat membuka mulut hendak melarang, tapi melihat mata Kenzie mulai berkaca-kaca, dia mengurungkan niat.
Biar saja anak kecil itu pergi, batinnya. Toh ini kesempatan untuk berduaan dengan Arkan. Bagus malah.
Sepeninggal Rania dan Kenzie, Luna langsung bersikap seolah-olah dirinya nyonya rumah.
"Siapkan semuanya. Saya mau lihat keadaan Arkan dulu." perintahnya dengan nada tinggi dan angkuh.
Para pelayan yang masih berada di dapur hanya mengangguk pelan. Tak ada yang berani membantah meski wajah mereka terlihat tak suka.
"Gaya banget. Baru juga datang udah nyuruh-nyuruh."
"Kalau jadi nyonya rumah beneran, bisa kacau hidup kita."
"Beda jauh sama Non Rania."
"Gak ikhlas aku, Pak Arkan jodohnya sama lampir begitu."
"Tapi katanya Bu Luna itu calon yang disiapin langsung sama Bu Rosa..."
Bisik-bisik para pelayan semakin ramai, nyaris seperti rapat kecil penuh keluhan.
Tiba-tiba Mbok Sum datang dari arah paviliun belakang dengan wajah heran. "Kalian ngapain ribut pagi-pagi begini?"
Salah satu pelayan buru-buru menjawab,
"Ada lampir datang, Mbok. Non Rania sama Kenzie aja pilih pergi."
Mbok Sum hanya mendengus, sudah bisa menebak siapa yang dimaksud. "Terus, lampirnya ke mana sekarang?"
"Ke kamar Pak Arkan." jawab salah satu pelayan cepat.
"Haduuh..." Mbok Sum langsung ketar-ketir. Wajahnya berubah cemas. "Pasti ngamuk tuh Pak Arkan."
Selama bertahun-tahun mengabdi, dari Arkan remaja sampai sekarang sudah berbuntut dua, Mbok Sum tahu betul watak pria itu. Arkan bukan tipe yang sembarangan mengizinkan orang masuk ke ruang pribadinya termasuk Luna. Sejak dulu, perempuan itu tak pernah berhasil menembus kamar Arkan.
Yang membuat Mbok Sum benar-benar terkejut adalah Rania. Wanita itu bukan hanya bebas keluar masuk kamar Arkan, tapi juga diizinkan memasak sendiri untuknya. Padahal, Arkan adalah orang yang sangat perfeksionis, apalagi soal makanan.
"Waduh... semoga aja gak kejadian ribut besar." gumam Mbok Sum, pelan tapi sarat makna.
Ceklek.
Arkan menoleh dengan wajah lesu pura-pura sakit seperti rencana awal. Ia siap menyambut Rania dengan gaya dramanya.
Namun, sosok yang masuk justru membuat ekspresinya langsung berubah masam.
"Ar, aku dengar kamu sakit..." ujar Luna dengan suara dibuat lembut, melangkah mendekat ke tempat tidur.
"Siapa yang izinin lu masuk, Lun?" suara Arkan dingin, tanpa basa-basi.
"Aku sendiri. Aku cuma mau lihat keadaa—"
"Keluar." potong Arkan tajam, bahkan sebelum Luna menyelesaikan kalimatnya.
"Ar, aku cuma—"
"Gue bilang keluar, Lun!" ulangnya dengan nada keras, kali ini jelas tak bisa dibantah.
Luna mengepalkan tangannya erat, menahan amarah, lalu berbalik keluar dari kamar.
dengan perasaan dongkol.
Begitu pintu tertutup, Arkan langsung meraih ponselnya dan menghubungi pos keamanan. "Siapa yang kasih izin Luna masuk ke rumah saya?" tanyanya dingin.
"Loh... katanya sudah dapat izin dari Bapak. Bu Rosa yang kirim beliau untuk antar sarapan, Pak." jawab satpam terdengar hati-hati.
"Lain kali, apapun alasannya, Luna dan Mama saya nggak boleh masuk rumah ini tanpa seizin saya. Paham?"
"Ba... baik, Pak."
Setelah itu, Arkan menghubungi dapur. Mbok Sum yang mengangkat.
"Rania masih di dapur, Mbok?" tanya Arkan buru-buru.
"Non Rania sudah pergi, Pak. Sama Den Kenzie juga. Tadi waktu saya ke paviliun, Bu Luna datang. Kayaknya sempat adu mulut sama Non Rania. Maaf, saya nggak lihat langsung."
Arkan menghela napas panjang. Tangan kirinya memijat pelipis. Niat pura-pura sakit malah berujung sakit kepala sungguhan. Sekarang Rania mungkin sudah salah paham dengan kehadiran Luna.
"Tolong bilang ke sopir siapin mobil. Saya turun lima belas menit lagi." ucapnya sebelum menutup telepon.
Tanpa buang waktu, Arkan langsung beranjak ke kamar mandi.
Luna duduk menunggu di ruang keluarga, berlagak tenang meski jelas terlihat gelisah.
Begitu Arkan keluar dan hendak pergi, Luna segera menghadangnya. "Kamu kan sakit. Mau ke mana?" tanyanya, mencoba terdengar peduli.
"Lu pulang, Lun. Dan mulai sekarang, jangan asal datang ke rumah gue. Orang mungkin salah paham dengan hubungan kita." ujar Arkan tegas sambil berjalan lewatinya.
Luna memutar tubuh, menatap punggung Arkan dengan emosi memuncak. "Orang?" ulangnya dengan suara meninggi. Tangan mengepal di sisi tubuh. "Orang siapa yang kamu maksud, Ar? Cewek itu? Memangnya dia siapa kamu? Kenapa dia
bisa bebas ke sini, masak buat kamu, sementara aku bahkan nggak bisa deketin kamu?"
Langkah Arkan terhenti. Ia berbalik, kini menatap Luna lempeng-lempeng saja.
"Dia calon ibunya anak-anak gue. Kenapa nggak boleh masak buat gue? Bahkan kalau dia mau ngekepin gue di kamar juga, itu hak dia."
Lagi-lagi, mulut Arkan memang kadang kelewat nyablak.
Luna terdiam di tempat. Matanya membulat, napasnya tertahan. Butuh beberapa detik untuk mencerna ucapan Arkan barusan.
"Calon ibu... anak-anak kamu?" ulangnya pelan, seolah ingin memastikan ia tak salah
dengar.
Arkan tidak menjawab. Ia hanya menatap Luna dengan wajah tanpa ekspresi dingin dan tanpa simpati.
Sementara itu, dada Luna terasa sesak. Hatinya perih bukan main. Ia datang pagi-pagi, membawakan sarapan dari Rosa, berharap bisa menunjukkan kepeduliannya tapi yang didapat malah tamparan kenyataan.
"Kamu serius sama perempuan itu?" suaranya nyaris bergetar, namun masih berusaha tegar.
"Gue nggak main-main kalau udah bawa nama anak-anak." jawab Arkan singkat.
Luna mengatupkan rahang, mencoba menahan air mata dan harga diri agar tidak runtuh sepenuhnya. "Kalau gitu, kenapa kamu izinkan tante Rosa menjodohkan kita?"
"Itu masa lalu. Pas kita masih SMA. Gue juga nggak pernah iyain. Gue cuma capek bantah Mama. Tapi mulai sekarang, cukup." ucap Arkan lalu berbalik melangkah, meninggalkan Luna yang berdiri mematung dengan perasaan penuh luka.
Tangannya yang tadi mengepal kini menggigil pelan.
"Sialan. Kenapa Arkan harus selalu berurusan dengan perempuan sialan." Geramnya dengan suara nyaris tak terdengar, tapi matanya menyala penuh amarah.
Ia menoleh ke arah dapur sejenak, seolah masih bisa melihat bayangan Rania dan Kenzie di sana. Rahangnya mengeras.
"Perempuan itu harus tahu diri. Dia pikir siapa dia sampai bisa seenaknya masuk ke hidup Arkan?" gumam Luna, bibir bergetar menahan emosi.
Ia menghela napas kasar, lalu merogoh ponsel dari tasnya. Jemarinya lincah mengetik sesuatu. Wajahnya mengeras tanda bahwa Luna tidak akan tinggal diam. Ada amarah dan rasa sakit yang siap ia ledakkan.
Luna: Cari tahu perempuan itu. Urus dengan tenang!
Dia mengetik pesan itu pada seseorang.