“Laki-laki kok nganggur di rumah! Makan di belakang saja. Jangan duduk semeja sama tamu.” Selama tiga tahun, Arkana Pramudya—Arkan—dianggap pengangguran dan beban oleh keluarga istrinya, Laras Wijaya. Pada hari jadi pernikahan mereka, Laras menjatuhkan talak karena malu memiliki suami yang dianggap miskin. Ia tak tahu Arkan adalah pewaris tunggal Grup Pramudya sekaligus pemegang saham pengendali PT Nusa Karya, tempatnya bekerja. Setelah perceraian resmi, Arkan mengambil tanggung jawab sebagai CEO. Namun, kebangkitan Arkan bukan sekadar pamer kekayaan: pelanggaran anggaran harus dibuktikan, konflik warisan mengancam perusahaan, dan Reno—orang yang memanfaatkan ambisi Laras—kembali membawa fitnah. Saat penyesalan datang terlambat dan Laras meminta kesempatan kedua, Arkan harus memilih hidup yang dibangun atas rasa hormat, bukan rasa bersalah. Bersama Nadine Prasetya, teman lama sekaligus CEO yang setara dengannya, Arkan belajar bahwa memaafkan tak berarti harus kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BayouDarda Novelis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 – Tanda Tangan
Pagi itu, map cokelat yang kusiapkan semalam sudah berada di atas meja.
Aku memeriksa isinya sekali lagi. Surat pernyataan, dokumen untuk proses perceraian, serta beberapa lembar yang harus ditandatangani. Tidak ada yang tertinggal. Dokumen pribadi yang tidak berkaitan dengan perceraian tetap kusimpan terpisah.
Di samping map, cincin kawinku tergeletak di dalam kotak kecil.
Aku tidak memasukkannya kembali ke jari.
Pukul delapan lewat sepuluh menit, ponselku bergetar. Pesan dari Pak Surya muncul di layar.
Pak, jadwal penandatanganan sudah dikonfirmasi. Pihak pendamping hukum menunggu di kantor sesuai waktu yang disepakati. Ada beberapa dokumen yang perlu diperiksa sebelum proses dilanjutkan.
Aku membalas singkat.
Pastikan semuanya mengikuti prosedur.
Setelah mengirim pesan, aku menutup map. Keputusan untuk berpisah sudah dibuat. Aku hanya perlu memastikan langkah terakhir ini tidak menimbulkan persoalan baru, baik untuk Laras maupun untuk diriku sendiri.
Koper berisi pakaian sudah siap. Foto lama yang kutemukan semalam kusimpan di antara barang-barang pribadi. Aku tidak membawanya untuk mengubah keputusan hari ini.
Ada kenangan yang tidak perlu dibuang hanya karena akhirnya tidak bisa dipertahankan.
Rumah masih ramai ketika aku turun.
Ibu Retno duduk di ruang tengah, sementara Laras berada di meja makan dengan secangkir teh yang belum habis. Sebuah map terbuka di depannya.
Ibu Retno mengangkat wajah.
“Jangan sampai urusan tanda tangan ini berlarut-larut. Rumah juga harus jelas urusannya.”
“Saya akan memastikan semuanya sesuai ketentuan, Bu.”
“Bagus. Jangan mencari masalah.”
Aku mengambil gelas, mengisinya dengan air, lalu meminumnya.
Laras memperhatikan tas yang kubawa.
“Kamu sudah memeriksa semua berkasnya?” tanyanya.
“Sudah.”
“Termasuk yang kemarin?”
“Sudah.”
Ia mengangguk kecil. Sepertinya masih ada yang ingin ditanyakan, tetapi akhirnya ia kembali menatap cangkirnya.
Aku mengambil tas dan berjalan menuju pintu.
“Arkan.”
Aku menoleh.
“Kita berangkat sendiri-sendiri?” tanyanya.
“Kalau kamu ingin berangkat bersama, silakan. Aku akan langsung ke tempat yang sudah ditentukan.”
Laras terdiam sebentar.
“Aku menyusul.”
“Baik.”
Aku keluar tanpa memperpanjang percakapan.
Di mobil, aku meletakkan tas di kursi penumpang, lalu memastikan map berada di dalamnya. Setelah mesin menyala, aku meninggalkan halaman.
Tempat penandatanganan itu belum terlalu ramai ketika aku tiba.
Aku datang lebih awal agar bisa memeriksa dokumen tanpa terburu-buru. Seorang petugas menyambutku dan menunjukkan ruang yang telah disiapkan. Beberapa berkas sudah tersusun di atas meja.
Aku mengeluarkan map cokelat, lalu mencocokkan nama, tanggal, dan keterangan yang berkaitan dengan proses perceraian.
Tidak ada bagian yang boleh dibiarkan keliru hanya karena kedua pihak ingin segera menyudahi hubungan mereka.
Petugas menjelaskan urutan yang perlu dilakukan. Aku mendengarkan, mengajukan pertanyaan tentang bagian yang perlu dipastikan, lalu meminta waktu untuk membaca kembali halaman terakhir.
“Silakan, Pak. Tidak perlu terburu-buru.”
Aku mengangguk.
Di halaman itu, namaku tercetak jelas.
Arkana Pramudya.
Di rumah, aku dikenal sebagai suami yang dianggap tidak menghasilkan apa-apa. Di perusahaan, ada keputusan yang tidak bisa berjalan tanpa persetujuanku.
Namun, hari ini bukan waktunya membuktikan siapa diriku. Aku datang untuk menyelesaikan satu urusan pribadi.
Aku membaca ulang bagian yang menyangkut hak dan kewajiban masing-masing. Tidak ada tuntutan terhadap penghasilan Laras. Tidak ada permintaan atas barang pribadi miliknya. Apa yang menjadi haknya tetap menjadi miliknya.
Aku juga tidak akan melepaskan hak yang secara hukum melekat padaku hanya untuk menciptakan kesan bahwa aku telah mengalah.
Ketika petugas kembali, aku menyerahkan satu lembar yang sudah kuperiksa.
“Bagian ini sudah sesuai,” kataku. “Namun, dokumen lain yang berkaitan dengan kepemilikan rumah tidak dicampurkan ke dalam berkas perceraian ini. Itu urusan yang berbeda dan harus diperiksa melalui jalurnya sendiri.”
Petugas membaca catatan yang kutunjuk.
“Baik, Pak. Kami akan memisahkannya sesuai prosedur.”
“Terima kasih.”
Aku tidak ingin persoalan rumah menjadi senjata untuk menekan Laras. Namun, dokumen yang berbeda tidak bisa diperlakukan seolah-olah semuanya selesai dengan satu tanda tangan.
Aku menutup map setelah pemeriksaan selesai.
Beberapa menit kemudian, pintu ruangan terbuka.
Laras masuk dengan tas hitam yang sering dipakainya ke kantor. Wajahnya terlihat lelah, tetapi penampilannya tetap rapi.
Ia menyapaku dengan anggukan.
“Kamu sudah lama menunggu?”
“Tidak terlalu.”
Petugas mempersilakan Laras duduk dan menjelaskan kembali bagian-bagian yang perlu diperiksa. Laras membaca berkas di hadapannya. Sesekali ia menggeser halaman, lalu berhenti pada satu bagian cukup lama.
Aku tidak bertanya apa yang sedang dipikirkannya.
Jika ada yang tidak dipahami, ia berhak meminta penjelasan. Jika ada yang ingin diperbaiki, ia berhak mengajukannya. Aku tidak akan mendesaknya menandatangani sesuatu yang belum ia mengerti.
“Bagian ini,” katanya akhirnya, menunjuk salah satu halaman, “tidak ada tuntutan atas penghasilanku? Termasuk tabungan pribadi?”
“Sepanjang itu memang milikmu, tidak ada alasan bagiku untuk menuntutnya.”
Laras kembali melihat dokumen tersebut.
“Barang-barang yang kubeli sendiri juga?”
“Bawa saja barang pribadimu. Kita tidak perlu memperpanjang persoalan yang tidak perlu.”
Ia terdiam.
Selama beberapa hari terakhir, percakapan kami selalu dipenuhi kewaspadaan. Setiap kalimat seolah bisa berubah menjadi pertengkaran. Pagi ini, aku tidak ingin mengulanginya.
Petugas memberi kami waktu untuk menyelesaikan pemeriksaan masing-masing. Setelah membaca seluruh bagian yang diperlukan, Laras mengembuskan napas dan meletakkan halaman terakhir di atas meja.
“Kalau begitu, kita tanda tangan?”
Aku mengangguk.
“Kalau semuanya sudah kamu pahami dan sesuai, silakan.”
Laras mengambil pena.
Tangannya berhenti sesaat di atas kolom tanda tangan. Aku melihatnya, tetapi tidak mengatakan apa-apa.
Ia akhirnya menuliskan namanya.
Laras Wijaya.
Tulisannya masih sama seperti yang kuingat dari catatan kecil yang pernah ia tinggalkan di meja makan. Huruf-hurufnya rapi, sedikit condong ke kanan.
Aku mengalihkan pandangan ke berkas di depanku.
Petugas memeriksa tanda tangan Laras, kemudian mendorong lembar yang menjadi bagianku.
“Silakan, Pak.”
Aku mengambil pena dan menuliskan nama lengkapku pada tempat yang sudah disediakan.
Arkana Pramudya.
Tanda tanganku selesai dalam beberapa detik.
Tidak ada suara khusus yang menandai berakhirnya sebuah pernikahan. Petugas hanya memeriksa kelengkapan berkas, menyusun halaman, lalu menjelaskan tahapan berikutnya yang masih harus dilalui sesuai ketentuan hukum.
Aku mendengarkan sampai selesai.
“Apakah ada hal lain yang perlu kami siapkan?” tanyaku.
Petugas menyampaikan beberapa hal administratif yang harus dipastikan. Aku mencatatnya dan mengonfirmasi bahwa dokumen akan diproses melalui jalur yang benar.
Setelah semuanya jelas, aku memasukkan salinan yang menjadi bagianku ke dalam map.
Laras masih duduk di seberang meja. Ia memandang pena yang tadi dipakainya, lalu melihat berkas di tangannya.
Aku tidak tahu apakah ia merasa lega, kecewa, atau belum memahami sepenuhnya apa yang baru saja kami lakukan.
“Sudah?” tanyanya.
“Untuk bagian yang perlu kita selesaikan hari ini, sudah.”
Ia mengangguk pelan.
Aku berdiri dan merapikan kursi. Petugas mengucapkan terima kasih, lalu mengingatkan kami agar menyimpan dokumen dengan baik.
Aku mengucapkan salam sebelum berjalan menuju pintu.
“Arkan.”
Aku berhenti.
Laras berdiri di dekat meja. Mapnya dipeluk di depan tubuh, sementara tas hitamnya menggantung di bahu.
“Kamu tidak mau memeriksa lagi?” tanyanya.
“Semua sudah diperiksa.”
“Maksudku, tidak ada yang ingin kamu tambahkan?”
Aku memandangnya.
“Kalau ada hal yang perlu diperbaiki dalam dokumen, kita bisa membicarakannya melalui jalur yang benar.”
“Bukan soal dokumen.”
Aku tidak langsung menjawab.
Laras menurunkan pandangan. Jemarinya merapat pada tepi map, lalu melepaskannya kembali.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, tidak ada Ibu Retno yang menyela. Tidak ada Reno yang mengalihkan pembicaraan. Hanya kami berdua, berdiri di ruangan yang sama.
Namun, ketika kesempatan itu akhirnya datang, aku tidak menemukan alasan untuk memulai percakapan yang selama ini selalu berakhir dengan saling menyalahkan.
Aku pernah berharap Laras mau mendengarkan sebelum memutuskan bahwa hidup bersamaku adalah kesalahan. Aku juga pernah membayangkan bahwa jika suatu hari ia mengetahui semuanya, ia akan mengerti mengapa aku memilih diam.
Harapan itu sudah terlalu lama kusimpan.
Aku tidak ingin menjadikannya syarat bagi perpisahan kami.
“Aku rasa tidak ada lagi yang perlu kita perdebatkan hari ini,” kataku.
Laras menatapku cukup lama.
“Kamu benar-benar tidak meminta apa-apa?”
Aku menggeleng.
“Tidak ada yang perlu kutuntut darimu hanya untuk membuat perpisahan ini terasa adil. Yang penting, semua diselesaikan sesuai hak dan kewajiban masing-masing.”
Ia membuka mulut, tetapi tidak segera berbicara.
Aku melanjutkan dengan suara datar.
“Aku tidak akan menggunakan urusan pribadi kita untuk mengganggu pekerjaanmu. Hal-hal yang berkaitan dengan perusahaan akan tetap diproses melalui kewenangan dan prosedur yang berlaku. Keduanya tidak boleh dicampur.”
Laras mengangguk kecil.
Aku tahu ia pernah menganggap pekerjaanku tidak lebih dari kegiatan di depan laptop. Aku tidak perlu mengoreksinya sekarang. Ada hal yang akan ia pahami pada waktunya, dan ada pula yang tidak harus lagi menjadi bagian dari hidupnya.
Aku menggeser tas ke bahu.
“Jaga dirimu, Ras.”
Kalimat itu keluar lebih pelan daripada yang kurencanakan.
Laras mengangkat wajah. Untuk sesaat, aku teringat perempuan yang dahulu menungguku di depan rumah ketika hujan turun, lalu mengomel karena aku pulang dengan baju basah.
Aku tidak menahan kenangan itu.
“Aku pergi dulu.”
Aku melangkah keluar sebelum percakapan berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi bisa kukendalikan.
Di lorong, aku berhenti sebentar untuk memastikan semua dokumen tersimpan dengan aman.
Ponselku bergetar. Pak Surya mengirim pesan tentang permintaan Hendra atas dokumen yang berkaitan dengan keputusan mendiang ayahku.
Aku membaca pesan itu dua kali.
Pak, tim hukum meminta arahan terkait permintaan dokumen dari Hendra. Pemeriksaan awal sedang disiapkan. Kami belum menyerahkan salinan apa pun sebelum kewenangan pemohon dan dasar permintaannya terverifikasi.
Aku membalas setelah memastikan kalimatku tidak menyisakan ruang untuk salah tafsir.
Lanjutkan pemeriksaan. Verifikasi dasar permintaan, kewenangan, dan dokumen pendukungnya. Jangan menyerahkan salinan hanya karena yang meminta masih memiliki hubungan keluarga. Semua harus mengikuti prosedur.
Pesan terkirim.
Aku memasukkan ponsel ke saku dan berjalan menuju pintu keluar.
Satu urusan telah mencapai tahap yang seharusnya. Urusan lain masih menunggu pemeriksaan. Aku tidak bisa membiarkan persoalan pribadi membuatku ceroboh dalam mengambil keputusan perusahaan.
Ayah pernah mengajarkanku bahwa dokumen yang sah tidak membutuhkan pembelaan emosional. Jika benar, ia akan bertahan ketika diperiksa. Jika ada bagian yang keliru, bagian itu harus diperbaiki.
Aku memegang prinsip tersebut sampai hari ini.
Di halaman depan, matahari sudah meninggi. Aku membuka pintu mobil, meletakkan tas di kursi penumpang, lalu duduk di belakang kemudi.
Aku menyalakan mesin, tetapi tidak segera menjalankan mobil.
Tanganku sempat bergerak ke arah ponsel, mencari sesuatu yang sebenarnya tidak perlu kucari.
Tidak ada pesan baru.
Aku teringat pesan yang kutulis semalam, lalu kuhapus sebelum terkirim. Kalimat yang tidak pernah sampai itu kini tidak lagi membutuhkan jawaban. Aku telah mengambil keputusan tanpa meminta Laras membalas apa pun.
Aku tidak meminta hartanya. Aku tidak meminta ia mengakui kesalahannya hari ini. Aku juga tidak meminta kesempatan terakhir untuk menjelaskan siapa diriku.
Bukan karena semua itu tidak pernah berarti. Justru karena pernah berarti, aku tidak ingin mengubahnya menjadi alat tawar-menawar.
Aku memasukkan ponsel kembali ke saku, memindahkan persneling, lalu membawa mobil keluar dari halaman.
Di dalam tas, dokumen yang kutandatangani tersimpan rapi. Tidak ada lagi yang harus kuubah pada lembar tersebut.
Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Laras setelah membaca namaku di bawah dokumen itu. Aku tidak tahu apakah ia merasa lega karena aku tidak menuntut apa pun, atau justru menganggap sikapku sebagai sesuatu yang tidak ia pahami.
Itu bukan lagi bagian yang bisa kuatur.
Aku hanya bisa memastikan bahwa keputusanku hari ini tidak lahir dari keinginan membalas luka dengan luka yang lain.
Laras telah menandatangani namanya. Aku pun telah melakukan hal yang sama.
Namun, satu hal masih tertinggal: aku telah menyelesaikan perceraian tanpa menuntut apa pun, bahkan tanpa meminta kesempatan bicara terakhir.
Dan Laras belum memahami alasannya.
Mungkin, untuk pertama kalinya, ia harus menghadapi pertanyaan itu tanpa jawabanku.