NovelToon NovelToon
MODEL RAHASIA TEMAN KAKAK

MODEL RAHASIA TEMAN KAKAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.

Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.

Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.

"Jangan sentuh!"

Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.

"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8

Mobil sedan hitam yang dikendarai sopir Hayden membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi. Di dalam kabin, Aluna meremas ujung kaosnya erat-erat. Pikirannya melayang kacau, dipenuhi rasa cemas yang tak tertahankan bercampur emosi yang masih membakar dadanya akibat perlakuan Hayden di studio perbukitan tadi.

Begitu mobil berhenti di pelataran Rumah Sakit Medika, Aluna tidak menunggu sopir membukakan pintu. Ia langsung melompat keluar dan berlari kencang menaiki tangga menuju lantai tiga, menembus bau karbol yang menusuk hidung.

Langkahnya memelan saat mendekati pintu kaca ruang ICU.

Di balik kaca transparan itu, Aluna melihat sosok Berta berdiri di dekat ranjang dengan sekeranjang buah di tangannya. Dan di atas ranjang... sosok pria dengan perban membungkus kepala itu tampak sudah membuka kedua matanya.

"Kak Romeo..." bisik Aluna dengan napas terengah-engah, matanya seketika berkaca-kaca.

Aluna mendorong pintu ruang steril itu tanpa memedulikan baju pelindung yang belum sempat ia kenakan sempurna. "Kak Romeo!"

Romeo memalingkan kepalanya yang kaku dengan sangat perlahan. Manik matanya yang redup dan penuh selaput rasa sakit menatap lurus ke arah Aluna.

"A...luna..." panggil Romeo lirih, suaranya sangat serak dari balik kanula oksigen.

Aluna berlari mendekati ranjang, mengabaikan Berta yang berdiri membisu dengan raut wajah serba salah di sampingnya. Aluna langsung merengkuh jemari Romeo yang dingin, menempelkannya ke pipinya sembari menumpahkan air mata kebahagiaan yang tak lagi bisa ditahan.

"Kakak sudah sadar... Terima kasih, Ya Tuhan... Kakak benar-benar sudah bangun..." tangis Aluna pecah. "Aluna takut banget, Kak. Aluna takut..."

Romeo tersenyum tipis, sangat tipis hingga hampir tak terlihat di bibirnya yang kering. Jemari tangannya yang lemas berusaha meremas balik tangan adiknya. "Ma...afkan... Kakak... Aluna..."

"Tidak, Kak. Jangan minta maaf," potong Aluna cepat, menyapu air matanya. "Yang penting Kakak sudah sadar. Sekarang Kakak cuma perlu istirahat sampai pulih total."

Berta yang berdiri di sisi lain ranjang menatap Aluna dengan binar mata yang campur aduk—antara iba, sedih, dan memendam pertanyaan yang belum terjawab.

"Aluna..." panggil Berta pelan.

Aluna mendongak menatap sahabatnya. "Berta? Kamu... kamu dari kapan di sini?"

"Aku baru sampai sekitar setengah jam lalu, Na," jawab Berta, suaranya agak ragu. Ia melirik Aluna yang tampak berantakan dengan raut wajah kelelahan. "Aku tadi... sempat bingung nyariin kamu. Soalnya jam dua belas lewat kamu sudah langsung pergi dari kampus."

Aluna menegang sejenak. Bayangan sedan mewah Hayden dan peristiwa di studio mendadak terlintas, namun ia berusaha menguasai diri di depan kakaknya. "Maaf ya, Berta... Tadi aku ada urusan pekerjaan sebentar."

Romeo yang mendengar kata 'pekerjaan' mengedipkan matanya perlahan. "Aluna... Berta... bilang... kamu kerja...?"

Jantung Aluna berdesir kencang. Ia melirik Berta sebentar sebelum kembali menatap Romeo, memaksakan senyuman manisnya.

"Iya, Kak," sahut Aluna cepat, memotong pembicaraan sebelum Berta sempat menimpali. "Aluna kerja paruh waktu di kafe. Hasilnya lumayan untuk bantu-bantu kebutuhan harian kita selama Kakak di rumah sakit. Kakak tidak usah pikirkan biaya apa-apa lagi, ya?"

Romeo memejamkan matanya rapat-rapat. Setetes air mata meluncur dari sudut matanya menuju bantal. Pria itu merasa hatinya tercabik-cabik karena harus membiarkan adik kecilnya membanting tulang di luar sana.

Saat momen haru itu menyelimuti mereka, pintu kaca ICU terdorong terbuka. Dokter spesialis bedah saraf yang menangani Romeo masuk bersama Suster Maya dengan membawa map rekam medis.

"Selamat sore," sapa Dokter ramah, mengamati kondisi Romeo yang makin stabil. "Perkembangan yang sangat pesat, Mas Romeo sudah bisa merespon suara dan membuka mata dengan penuh."

"Dokter," panggil Aluna penuh harap sembari berdiri dari kursinya. "Kakak saya sudah sadar penuh... Apakah ini artinya Kak Romeo sudah melewati masa kritisnya dan bisa segera dipindahkan ke ruang rawat biasa?"

Dokter mengangguk pelan. "Masa kritis utama dari pendarahan otaknya sudah berhasil kita atasi, Mbak Aluna. Operasinya sangat sukses menekan pembengkakan di kepala."

Aluna bernapas lega, mengusap dadanya. "Terima kasih banyak, Dokter."

Namun, raut wajah Dokter mendadak berubah agak redup dan serius. Ia memandangi rekam medis di tangannya, lalu menatap Romeo dan Aluna bergantian dengan nada bicara yang lebih memelan dan hati-hati.

"Tapi... ada satu hal penting yang harus saya sampaikan terkait dampak cedera saraf akibat benturan keras saat kecelakaan kemarin," ujar Dokter lambat laun.

Senyum di wajah Aluna mendadak luntur. Atmosfer di dalam ruangan steril itu mendadak mendingin seketika. Berta yang berdiri di samping ranjang ikut menahan napasnya.

"Maksud... maksud Dokter apa?" tanya Aluna dengan suara yang mulai bergetar.

Dokter melangkah mendekati sisi ranjang Romeo. Ia menyingkap sedikit selimut putih yang menutupi bagian bawah tubuh Romeo, lalu mengambil sebuah alat kecil berbentuk jarum tumpul dari saku jas laboratoriumnya.

"Mas Romeo, bisa dengar suara saya?" tanya Dokter lembut.

Romeo mengangguk lemah. "...Bisa... Dok..."

"Saya akan menekan beberapa titik di bagian kaki Mas Romeo. Tolong beri tahu saya jika Mas merasa ada tusukan, sentuhan, atau rasa geli, ya?" instruksi Dokter.

Dokter mulai menekan alat itu agak keras di telapak kaki kanan Romeo.

Hening.

Romeo hanya memandangi kakinya tanpa reaksi apa pun.

Dokter berpindah menekan bagian betis dan paha kanan Romeo dengan tekanan yang lebih kuat. Romeo tetap bergeming, tak ada sedikit pun kedutan refleks pada otot kakinya. Dokter kemudian mengulangi hal yang sama pada kaki kiri Romeo, namun hasilnya tetap sama.

"Mas Romeo terasa ada tekanan atau tusukan?" tanya Dokter memastikan.

Romeo menatap kakinya sendiri dengan kening berkerut bingung. Ia mencoba mengerahkan otaknya untuk menggerakkan jemari kakinya. Namun, kedua kakinya terasa begitu asing—seolah-olah bagian bawah tubuhnya dari pinggang ke bawah telah lenyap ditelan kegelapan.

"...Tidak... ada... rasa... apa-apa, Dok..." bisik Romeo, suaranya mulai diwarnai kepanikan yang teramat sangat. "Kenapa... kaki saya... tidak bisa dirasakan...?"

Mata Aluna membelalak lebar. "Dokter! Kenapa dengan kaki Kak Romeo?!"

Dokter menghembuskan napas berat, menutupi kembali kaki Romeo dengan selimut, lalu menatap Aluna dengan pandangan penuh simpati.

"Benturan hebat saat kecelakaan kemarin tidak hanya memicu pendarahan di otak, Mbak Aluna, tapi juga menyebabkan trauma berat pada jaringan saraf tulang belakang bagian bawah," terang Dokter dengan hati-hati. "Akibatnya... Mas Romeo mengalami kelumpuhan total pada kedua kakinya."

BLAR!

Pernyataan Dokter menghantam Aluna bagai petir di siang bolong. Bumi di bawah pijakannya seolah runtuh seketika. Tubuhnya membeku, napasnya tercekat di tenggorokan, dan seluruh persendiannya mendadak lemas tak berdaya.

"Lu... lumpuh...?" bisik Aluna dengan bibir gemetaran, matanya menatap tak percaya pada Dokter. "Tidak... tidak mungkin, Dok! Kaki Kak Romeo cuma kaku karena ketindih, kan?! Kak Romeo itu pekerja keras, dia setiap hari berdiri di pabrik! Kaki Kakak saya tidak mungkin lumpuh!"

"Aluna..." panggil Berta menahan tangis, memeluk bahu Aluna yang mulai berguncang hebat.

"Dokter pasti salah periksa!" jerit Aluna hysteris, berlutut di samping ranjang dan memegang kaki Romeo yang terbalut selimut. "Kak Romeo, coba gerakkan jarinya, Kak! Coba gerakkan sedikit saja untuk Aluna! Tolong, Kak!"

Romeo terpaku. Air mata meluncur kian deras membasahi pipinya yang pucat. Pria itu memandangi kedua kakinya yang terkulai kaku tak bernyawa di balik selimut. Kenyataan bahwa dirinya kini menjadi seorang pria lumpuh yang tak berdaya—tidak bisa bekerja, tidak bisa melindungi adiknya, dan hanya akan menjadi beban—menghancurkan mentalnya dalam sekejap mata.

"Gak... gak bisa... Aluna..." erang Romeo dengan suara pecah meluapkan keputusasaan yang teramat dalam. "Kaki Kakak... gak bisa... dirasakan lagi..."

Isak tangis Romeo pecah di dalam ruangan steril itu. Seorang pria yang selama ini menjadi benteng kokoh tempat Aluna bersandar kini meraung dalam kelemahan yang tak tertahankan.

Aluna menangkup wajahnya sendiri dengan kedua tangan yang bergetar hebat, merosot jatuh ke lantai dingin di samping ranjang kakaknya. Tangisnya pecah menggelegar, memenuhi sudut ruangan ICU.

Di tengah badai duka yang menghancurkan hatinya, bayangan Hayden mendadak kembali berputar di benak Aluna. Janji-janji pria itu, utang ratusan juta yang kini makin membelenggunya, serta kenyataan bahwa kakaknya kini tak akan pernah bisa berdiri lagi untuk melindunginya.

*

*

*

1
diga pues
rome.. bawa adikmu pergi, jauh 🌚
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Mia Camelia
Hayden makin gak bisa melepaskan Aluna nih🤭
𝐀⃝🥀Weny
baru aja baca, udah disuguhin Bombay banyak sama othor😭
Mia Camelia
siap thor 😁penasaran nih visual ny gimana😂
diga pues
+21☻️☻️☻️
diga pues
☻️☻️☻️
diga pues
serigala☻️
diga pues
ugh☻️
Mia Camelia
hayden obsesif banget ini mah ke aluna🤭
sukaa banget nih sama modelan ky hayden 😁
diga pues
ugh🌚
Ita Putri
haduuhh
bahaya Aluna
sudah dong Hayden kasihan aluna
Mia Camelia
lanjut thor😁
Mita Paramita
Thor nih novelnya sampai tamat kn? gak kayak novel kemarin yang dihapus? padahal lagi seru cerita ny
Mita Paramita: siap Thor 🔥🔥🔥🔥
semangat Thor 🔥🔥🔥
total 2 replies
Mia Camelia
seru banget thor😁😁😁
MissSHalalalal: terimakasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!