Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Semangat Agustus dan Tatapan Sang Kapten
Satu bulan telah berlalu. Waktu terus berjalan tanpa pernah peduli pada luka yang masih menganga di lubuk sanubari terdalam Mita Septia. Hari-hari berganti, matahari tetap terbit dari ufuk timur, dan malam selalu datang membawa kesunyian yang kadang terasa lebih menyakitkan daripada apa pun. Namun, kehidupan tidak pernah memberi kesempatan kepada siapa pun untuk berhenti terlalu lama, bahkan kepada mereka yang hatinya tengah remuk berkeping-keping.
Bulan Agustus kini telah dimulai.
Desa terpencil yang biasanya hanya diramaikan oleh suara kendaraan sesekali melintasi jalan berdebu, kini berubah menjadi lautan warna. Bendera merah putih berkibar di sepanjang jalan utama, terikat pada tiang-tiang bambu yang berdiri di depan rumah penduduk. Umbul-umbul warna-warni menghiasi halaman kantor desa Sumber Harapan, sementara anak-anak berlarian membawa bendera plastik kecil sambil meneriakkan kata merdeka.
Semangat kemerdekaan menyebar ke seluruh penjuru desa. Para pemuda sibuk mendirikan panggung hiburan. Ibu-ibu menyiapkan konsumsi untuk panitia dan peserta lomba. Sementara itu, perangkat desa bersama para ketua RT mengatur jadwal pertandingan yang tahun ini direncanakan lebih meriah daripada tahun-tahun sebelumnya.
Di tengah kesibukan itu, Mita memilih menenggelamkan diri dalam berbagai kegiatan. Baginya, kesibukan adalah cara terbaik untuk menjauh dari kenangan yang terus berusaha mengejarnya.
Ia tidak ingin lagi menghabiskan malam dengan menatap layar ponsel yang tak menyisakan apapun. Karena semua yang mengingatkannya pada Denis telah bersih tak tersisa. Tetapi ingatan tentang obrolan lama bersama Denis, atau keinginan untuk mempertanyakan sejak kapan laki-laki yang pernah begitu dipercayainya berubah menjadi seseorang yang tega mengkhianati kesetiaan mereka.
Tiga minggu pertama setelah mengetahui pengkhianatan Denis merupakan masa yang paling berat. Ada malam-malam ketika Mita menangis sampai tertidur, ada pagi-pagi ketika ia harus memaksa dirinya bangun dan mengajar meskipun matanya sembap. Bahkan, beberapa kali ia hampir menyerah pada keinginan untuk meninggalkan desa dan kembali ke kota.
Namun, setiap kali pikiran itu datang, Mita selalu mengingat satu hal.
Ia datang ke perbatasan bukan untuk Denis. Ia datang untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang guru, memberikan pendidikan kepada anak-anak yang membutuhkan, dan membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri dengan kaki sendiri.
Mengapa ia harus menghancurkan masa depannya hanya karena seorang laki-laki tidak mampu menjaga kesetiaan?
Pertanyaan itulah yang berulang kali ia tanamkan dalam hati.
Maka, ketika pemerintah desa membentuk panitia perayaan kemerdekaan, Mita menawarkan diri untuk membantu hampir semua kegiatan yang membutuhkan tenaga dan pikirannya. Ia terlibat dalam penyusunan jadwal perlombaan, mendata peserta, mengatur kebutuhan pertandingan, hingga menjadi penanggung jawab sekaligus kapten tim utama bola voli putri desanya.
Pekerjaan itu melelahkan. Namun, kelelahan fisik terasa jauh lebih mudah ditanggung daripada rasa sakit yang muncul ketika ia sendirian.
Setidaknya, selama ia sibuk, pikirannya tidak memiliki cukup waktu untuk kembali memutar kenangan.
Di sisi lain, Batalyon Infanteri yang dipimpin Kapten Reihan Andrean terus meningkatkan aktivitas mereka karena dilibatkan dalam rangkaian kegiatan tersebut. Pasukan yang ditugaskan menjaga garis batas negara selama tujuh bulan itu mendapat tanggung jawab membantu pengamanan, meningkatkan patroli selama perayaan, serta mendukung pelaksanaan berbagai perlombaan.
Kehadiran mereka disambut baik oleh warga desa. Bagi masyarakat perbatasan, para prajurit bukan hanya penjaga wilayah negara, melainkan juga bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka membantu ketika dibutuhkan, ikut bergotong royong, dan sesekali menjadi hiburan tersendiri bagi anak-anak yang selalu antusias melihat seragam loreng.
Sore itu, babak penyisihan turnamen bola voli putri dewasa antar-Desa dan Kelurahan tingkat kecamatan resmi dimulai di lapangan semen di salah satu sekolah yang telah ditunjuk. Event pertandingan vola putra dan putri tingkat dewasa ini menjadi penutup lomba yang paling diminati. Semua lomba bagi anak-anak dan remaja telah diselesaikan lima hari yang lalu.
Matahari perlahan merendah, menyisakan cahaya keemasan yang menyapu atap-atap rumah dan pucuk pepohonan. Ratusan warga memadati pinggir lapangan yang dibatasi tali rafia merah. Anak-anak berlarian, sementara para ibu bertepuk tangan mengikuti irama yel-yel yang diteriakkan kelompok pendukung masing-masing.
Di tengah lapangan, Mita berdiri sebagai kapten tim.
Ia mengenakan kaus olahraga biru tua dengan nomor punggung tujuh, dipadukan dengan celana training senada. Rambut sebahunya dikuncir tinggi sehingga memperlihatkan wajah manis yang kini kembali memancarkan semangat. Tubuhnya yang tinggi semampai dan atletis membuatnya tampak menonjol di antara para pemain lain.
Keringat mulai membasahi dahinya. Kedua pipinya merona akibat terik matahari dan aktivitas fisik. Namun, sorot matanya menyala penuh konsentrasi.
"Jangan terburu-buru! Perhatikan posisi lawan. Kalau bola datang ke belakang, biarkan aku yang mengambil!" serunya kepada rekan-rekannya.
"Siap, Kapten!"
Mita tersenyum. Ia menepuk bahu salah seorang pemain yang tampak gugup, kemudian mengangkat kedua tangannya untuk memberi aba-aba.
Peluit pertandingan berbunyi.
Permainan berlangsung sengit sejak menit pertama. Kedua tim saling menyerang, berusaha memanfaatkan celah pertahanan lawan. Mita bergerak lincah, sesekali melompat untuk melakukan blok, lalu berlari cepat mengejar bola yang hampir menyentuh lantai.
Ketika bola melambung tinggi di dekat net, ia mengambil ancang-ancang.
Satu lompatan. Satu ayunan tangan.
Smash!
Bola menghantam area kosong di pertahanan lawan.
Poin!
Sorak-sorai penonton langsung membahana, "Kapten Mita memang luar biasa!"
"Begitu dong! Jangan kasih kesempatan lawan!"
Mita tertawa kecil sambil bertos dengan rekan-rekannya. Untuk beberapa saat, ia benar-benar melupakan segala hal yang pernah menyakitinya.
Di lapangan itu, ia bukan perempuan yang dikhianati. Ia adalah Mita Septia, seorang guru yang tangguh, seorang kapten yang dipercaya timnya, dan seorang perempuan yang masih memiliki banyak alasan untuk melanjutkan hidup. Tanpa disadarinya, seseorang terus memperhatikan setiap gerakannya.
Di pinggir lapangan, Kapten Reihan Andrean berdiri dengan seragam PDL loreng, baret hijau, dan jam tangan taktis hitam melingkar di pergelangan tangannya. Kedua tangannya bersedekap di depan dada, sementara wajahnya mempertahankan ekspresi tenang yang selama ini dikenal oleh anak buahnya.
Di sampingnya berdiri beberapa prajurit, termasuk Sersan Yanto dan Budi.
Awalnya, Reihan patroli dan mengetahui bahwa pertandingan voly putri telah dimulai. Mereka pun datang sekalian memastikan kegiatan berlangsung tertib. Ia juga harus mengawasi anggota yang bertugas menjaga keamanan di sekitar lapangan. Namun, sejak pertandingan dimulai, perhatiannya perlahan beralih kepada seorang perempuan berkemeja olahraga biru tua.
Mita.
Nama itu kini menjadi sesuatu yang sangat istimewa baginya. Ia mengenal perempuan itu sebagai guru yang membantu anak-anak di wilayah perbatasan, sosok yang tiga minggu lalu pernah ia temui dalam kondisi kecelakaan Tunggal, dengan wajah murung dan berusaha menyembunyikan kesedihan di balik senyum sopan.
Saat itu, ia sempat bertanya-tanya tentang luka yang tersimpan di mata Mita.
Kini, ia melihat sisi lain perempuan tersebut. Mita begitu hidup ketika berada di lapangan. Ia mampu memimpin tim, memberi arahan tanpa merendahkan siapa pun, dan menyemangati rekan-rekannya ketika mereka kehilangan poin. Bahkan, ketika salah seorang pemain melakukan kesalahan, ia tidak memarahinya.
"Sudah, jangan dipikirkan. Kita perbaiki di bola berikutnya," katanya.
Sederhana, tetapi cukup untuk membuat pemain itu kembali tersenyum.
Reihan mengamati semuanya dalam diam.
Rasa kagum dan simpatik membuatnya sulit mengalihkan pandangan. Bukan semata-mata karena parasnya yang manis atau gerakannya yang lincah. Ada ketegaran yang memancar dari perempuan itu, ketegaran yang justru terasa semakin kuat karena Reihan tahu bahwa senyum tersebut mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan isi hatinya.
"Kapten." Suara Yanto memecah lamunannya.
Reihan menoleh singkat. "Apa?"
Yanto mengikuti arah pandangan komandannya, kemudian kembali menatap wajah Reihan dengan senyum tertahan, "Sepertinya pertandingan sore ini cukup menarik, ya, Kapten?"
"Memangnya kenapa?"
"Tidak ada apa-apa." Yanto berdeham, berusaha menahan tawa. "Saya hanya baru tahu kalau Kapten begitu teliti mengawasi pergerakan pemain nomor tujuh."
Reihan mengerutkan kening, "Saya mengawasi pertandingan."
"Siap, Kapten." Jawaban Yanto terdengar terlalu cepat untuk dianggap tulus.
Budi yang berdiri di sisi lain ikut menyeringai. "Kalau begitu, Kapten pasti sudah hafal juga berapa kali pemain nomor tujuh melakukan smash."
Reihan melirik tajam.
Kedua prajurit itu langsung berdiri lebih tegak.
"Fokus pada tugas kalian."
"Siap!"
Namun, setelah Reihan kembali memandang lapangan, Yanto mendekatkan wajahnya kepada Budi dan berbisik pelan.
"Sudah jelas."
"Apa yang jelas?" tanya Budi.
"Kapten kita sedang jatuh hati."
Budi hampir tertawa keras, tetapi buru-buru menutup mulutnya. Ia tidak yakin dengan ucapan Yanto. Bagaimana mungkin sekelas Kapten Reihan menyukai guru di SD terpencil.
Sementara itu, di lapangan, Mita kembali mencetak poin. Ia mengepalkan tangan dengan gembira, lalu berlari menghampiri rekan-rekannya.
Reihan tidak dapat menahan senyum tipis yang muncul di sudut bibirnya. Senyum yang sangat jarang terlihat oleh anak buahnya. Yanto menyaksikannya dengan mata membesar, seolah baru saja melihat kejadian luar biasa.
Dalam hati, Reihan merasa ada ketertarikan. Pertemuan demi pertemuan telah mengubah rasa penasarannya menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam.
Ia mulai menyukai perempuan itu. Bukan hanya karena parasnya, melainkan juga karena caranya menghadapi kehidupan. Ada luka yang belum sembuh di balik tatapan Mita, tetapi perempuan itu tetap memilih berdiri, bekerja, dan memberikan kebahagiaan kepada orang lain.
Reihan tidak tahu siapa yang membuatnya terluka.
Perasaannya semakin menguat. Ia ingin mengenal Mita lebih dekat. Ia ingin mendengar cerita di balik senyumnya. Dan, meskipun belum berani mengakuinya kepada siapa pun, Reihan mulai berharap suatu hari nanti perempuan itu akan tersenyum kepadanya bukan sekadar sebagai seorang guru yang mengenal seorang kapten, melainkan sebagai seorang perempuan yang merasa nyaman berada di dekat seorang laki-laki.
Peluit panjang mengakhiri pertandingan.
Tim Mita memenangkan babak pertama.
Sorak-sorai kembali memenuhi lapangan. Mita mengangkat kedua tangannya, lalu merangkul rekan-rekannya dalam lingkaran kecil.
Reihan mengembuskan napas perlahan. Ia merasa ada sesuatu yang mulai berubah dalam hatinya saat memandang perempuan yang kini sedang menampilkan performa terbaiknya. Dan ia sama sekali tidak menyadari bahwa di antara anak buahnya, bukan hanya dirinya yang sedang menyimpan perasaan terhadap Mita Guru PJOK itu.