"Daddy, bagaimana bisa menjodohkan Lily dengan pria Arogan itu?" pertanyaan Lily meronta-ronta di hadapan Daddy-nya menunjuk Lucas yang duduk disofa dengan wajah datarnya.
"Lucas itu pria yang baik, Daddy sudah menjodohkan kalian sejak kecil" pernyataan Daddy menatap Lucas yang sejak kecilnya sudah dia anggap seperti anak sendiri.
"Sejak kecil apanya, Lily baru lahir dia sudah tua" komplen Lily, selain terkenal arogan Lucas juga beda 8 tahun darinya.
"Lily menolak perjodohan dengan pria Arogan itu" pernyataan Lily.
"Berani kamu menolak saya?" pertanyaan Lucas dengan suara beratnya.
Yuk baca cerita Lily.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 Terlalu Meremehkan
Setelah mengambil ponsel Lily, mereka menunggu bodyguard mengambil mobil di basement hotel.
"Selamat siang Tuan Lucas," kata seorang wanita menghampiri Lucas yang berdiri di lobi hotel bersama Lily.
"Perkenalkan nama aku Tiffany Tan, putri pemilik hotel ini," katanya mengulurkan tangannya pada Lucas.
"Aku tidak tertarik untuk berkenalan denganmu," ketus Lucas menarik tangan Lily dan mengajaknya berjalan.
Lily yang berjalan diseret Lucas hanya bisa geleng kepala menyaksikan secara langsung, bukan cuma rumor tapi ternyata Lucas benar-benar arogan dan dingin tak tersentuh.
Lily segera masuk begitu bodyguard membukakan pintu dan Lucas langsung menyetir dengan kecepatan sedang.
"Kak, kita jadi ke supermarket kan?" tanya Lily yang diangguki Lucas.
.....
"Nanti kalau ada lagi anak pemilik supermarket ingin berkenalan, bakalan langsung dibangkrutkannya," batin Lily curi-curi pandang menatap Lucas dengan perasaan ngeri-ngeri sedap.
"Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Lucas karena Lily terus menatapnya.
"Tidak, Kak Lucas ganteng," jujur Lily dengan spontan.
"Itu sudah dari lahir," kata Lucas dengan wajah cool-nya.
"Dihhhh, nyesel muji," ketus Lily jadi jijik melihat pria ke-PD-an itu.
......
Sesampai di supermarket Lily mengambil satu troli besar untuk menaruh belanjaannya, "Kalian temani gadis nakal itu belanja," perintah Lucas pada dua bodyguard-nya, sementara dua lagi berdiri memayungi Lucas yang berdiri di parkiran.
"Nyonya biar kami bawa," kata bodyguard itu pada Lily yang masih berdiri di luar dekat tempat troli, sepertinya menunggu Lucas.
"Kak Lucas mana?" tanya Lily.
"Tuan menunggu di parkiran," kata bodyguard melirik Lucas yang berdiri di luar mobil.
"Mmm, aku mau duduk dalam troli Om, capek jalan," kata Lily yang diangguki bodyguard itu.
Lucas yang sedang bersandar ke mobil menikmati segelas wine langsung melempar gelas melihat bodyguard mengangkat Lily.
"Mmmh, habislah," gemetaran bodyguard langsung menutup payung melihat Lucas yang sudah berlari ke arah sana.
"Ayo Om," rengek Lily yang sudah duduk dalam troli dengan tidak sabar ketika bodyguard malah diam.
"Kamu ingin belanja atau menjadi bahan belanjaan di dalam troli?" ketus Lucas berdiri memangku kedua tangannya menatap Lily dengan mata menyipit.
"Hehehehe, Lily capek jalan Kak, biasanya juga duduk dalam troli kalau belanja sama bodyguard," kata Lily nyengir.
"Kalau kamu capek itu pulang saja," kata Lucas menggendong dan mengeluarkan Lily dari dalam troli.
"Mmmh, mau belanja Kak," rengek Lily melingkarkan kedua tangannya di leher Lucas.
"Huhhhh, cepatlah," Lucas menarik napas berat lalu kembali menaruh Lily dalam troli dan mendorong sendiri troli-nya.
Setelah hampir satu jam belanja dan mendapatkan semua yang diinginkan Lucas mengeluarkan Lily dari dalam troli.
"Ayo kita bayar," kata Lily dengan kesenangan karena dapat semua barang yang dia cari.
"Ehhhh, jangan duluan, antre dulu," kata Lily memegang lengan Lucas yang langsung nyelonong melewati antrean panjang, orang-orang bisa marah.
"Aku bayar semua belanjaan kalian, biarkan aku duluan," kata Lucas langsung memotong 10 antrean sampai Lily syok dibuatnya.
"Pria arogan ini, bahkan sekadar antre saja tidak mau," batin Lily mau tidak mau mengikuti Lucas yang sudah jalan duluan sampai ke depan.
Setelah Lucas membayar belanjaan bodyguard membawanya, "Aku meninggalkan 10 juta untuk kalian," kata Lucas sebelum pergi yang diangguki orang-orang itu dengan tatapan terima kasih.
.....
Di mobil Lily membuka es krim kerucut yang dibelinya dan memakannya sambil menikmati angin sepoi-sepoi ketika Lucas membuka sunroof mobilnya.
"Habis ini kita ke mana Kak?" tanya Lily melirik Lucas yang fokus sekali menyetir mobil.
"Ke neraka," ketus Lucas ketika gadis itu masih bertanya padahal sudah jelas mereka akan pulang begitu urusan selesai.
"Dihhhhh, Kakak kenapa sih dingin banget, nggak enak diajak ngobrol," ketus Lily langsung mengunyah es krimnya, sudah bad mood untuk sekadar menikmati.
"Ya kamu sudah tahu bakalan pulang ke apartemen masih saja bertanya," ketus Lucas melirik Lily.
"Ya kali aja Kakak mau ke tempat lain, nggak langsung pulang ke apartemen, misalnya mampir di kantor dulu," kata Lily memberikan perumpamaan.
"Ngapain ke kantor, aku masih cuti," kata Lucas.
"Kakak cuti berapa hari, kenapa tidak ajak aku jalan-jalan?" tanya Lily yang baru teringat, pasti Lucas cuti pernikahan.
"Kamu ingin bulan madu sekarang?" tanya Lucas to the point.
"Enggaklah," jawab Lily dengan begitu cepat sampai Lucas menoleh menatapnya.
"Cepat banget jawabnya," kata Lucas memandang gadis itu sebelah mata.
"Hehehehe, belum siap Kak," senyum terpaksa Lily menatap Lucas takut-takut.
"Ingat satu hal Lily, jika kamu melakukan kesalahan fatal aku akan mengambilnya secara paksa," kata Lucas menegaskan satu hal.
"Jadi kita tidak nikah kontrak ya Kak?" tanya Lily yang berpikir Lucas akan membuat kesepakatan mengingat mereka dijodohkan.
"Kebanyakan nonton drama kamu," kata Lucas geleng kepala.
"Hahhhh, jadi Lily bakalan jadi istri Kakak selamanya?" terkejut Lily sampai melotot.
"Terus selain menjadi istriku kamu ingin menjadi istri siapa lagi?" judes Lucas sampai Lily terdiam dibuatnya.
"Boleh jadi istri pria lain?" tanya Lily dengan polos, yang langsung dipelototi Lucas sampai Lily menunduk takut.
Sesampai di apartemen Lucas keluar dari mobilnya dan berjalan beriringan dengan Lily menuju apartemen mereka.
"Cepat Kak, lift-nya hampir penuh," kata Lily sedikit berlari melihat lift yang sudah diisi banyak orang.
Lucas langsung memegang kerah baju Lily untuk mencegah gadis itu berlari.
"Berjalan pelan, kita naik lift khusus," ucap Lucas.
"Kita naik lift biasa saja Kak, nambah-nambah biaya," kata Lily yang tahu kalau naik lift khusus selain orang berkepentingan akan dikenakan tarif tambahan saat pembayaran sewa apartemen.
"Kamu meragukan keuanganku?" tanya Lucas berhenti berjalan.
"Aku tahu Kakak kaya tapi..."
"Seluruh gedung apartemen ini milikku," kata Lucas memegang tangan Lily dan mengajaknya naik lift khusus.
"Beneran semuanya Kak?" tanya Lily lagi dengan tatapan tidak percaya.
"Apa aku semiskin itu di matamu sampai punya kompleks apartemen saja tidak mampu?" tanya Lucas dengan angkuhnya.
"Mmmh, kalau punya apartemen dua Lily percaya, tapi kalau seluruh gedung ini tidak," kata Lily merasa itu tidak masuk logika.
"Iya kan Om, dia mengarang cerita," tanya Lily menatap para bodyguard yang membawa belanjaan mereka begitu lift jalan.
"Iya Nyonya, semua ini memang punya Tuan Lucas, seluruh unit di sini hanya disewakan dan tidak diperjualbelikan," jelas bodyguard yang menyatakan kepemilikan penuh Lucas atas seluruh kompleks apartemen ini.
"Tahu gitu mending minta mahar 20 unit apartemen bukan 1 T, mana mobilnya cuma Mini Cooper lagi," menyesal Lily merasa mahar yang dimintanya terlalu rendah padahal Lucas sekaya itu.
"Kamu terlalu meremehkan aku sejak awal, Lilyana Brisbane," ucap Lucas dengan senyum penuh kemenangannya.
"Jangan bandingkan aku dengan pria yang mendekatimu, mereka tidak sebanding denganku," ucap Lucas dengan begitu arogan sampai Lily mendelik mendengarnya.