Angkasa adalah CEO sukses yang sudah beristri. Rumah tangganya terlihat sempurna di mata semua orang.
Tapi di balik kesempurnaannya, ia harus berjuang setiap hari.
Dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang menyayanginya dengan caranya masing-masing.
Ada yang menyayanginya seperti seorang ibu, ada yang mencintainya dengan gairah, ada yang memujanya dengan ketulusan, dan ada yang menantangnya dengan kebencian yang berubah menjadi cinta.
Godaan datang tanpa diduga. Di kantor, di rumah, bahkan di saat ia paling lengah.
Mampukah Angkasa menjaga rumah tangganya tetap utuh?
Mampukah ia menghalau setiap godaan dan tetap menjadi suami yang setia?
Dan mampukah ia bersabar menunggu... sampai akhirnya ia dipanggil dengan sebutan "AYAH"?
Karena menjadi CEO itu mudah.
Menjadi suami yang setia dan ayah yang dirindukan? Itu pertaruhan sesungguhnya.
Siimak kisah lengkapnya, hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 : DI MOBIL DAN MEETING
"Aku tunggu di mobil saja."Kalimat itu Bintang ucapkan tanpa menoleh. Langkahnya tegap meninggalkan kamar VIP tempat Damar memanggil Angkasa dengan sebutan "Ayah".
Di koridor RSUD yang bau antiseptik, Bintang berjalan cepat. Bukan lari. Perempuan yang hatinya hancur tidak boleh terlihat berlari. Harus tetap anggun, bahkan saat diremuk.
Angkasa mengejar.
"Tang! Bintang! Tunggu!"Bintang tidak menunggu. Ia terus berjalan masuk ke lift, menekan tombol parkiran basement, dan menutup pintu lift tepat di depan wajah Angkasa yang hampir sampai.
Di dalam lift yang dingin, sendirian, baru Bintang menghela napas. Panjang.
Berat.
Mobil Alphard hitam milik kantor sudah terparkir. Bintang masuk ke kursi belakang, mengunci semua pintu dari dalam, dan menyalakan AC paling dingin. Ia butuh udara dingin untuk menetralkan kepalanya yang panas.
Lima menit kemudian, Angkasa datang tergopoh-gopoh sambil membawa paperbag berisi baju kerjanya yang tadi tidak sempat dipakai. Ia mencoba membuka pintu belakang.
Terkunci.
"Tok tok tok." Angkasa mengetuk kaca.
Bintang menurunkan kaca setengah saja. Wajahnya datar.
"Buka, Tang. Kita bicara," kata Angkasa.
"Buka bagasi. Taruh baju kotornya di bagasi," jawab Bintang dingin. Bukan jawaban yang diharapkan Angkasa.
"Tang, jangan begini."
"Meeting 15 menit lagi, Pak Dirut. Kalau Bapak tidak masuk mobil sekarang, Bapak akan telat dan itu mempengaruhi kinerja."Angkasa terdiam. Panggilan "Pak Dirut" itu seperti tamparan.
Di rumah Bintang memanggilnya "Sa". Di kantor depan staf, Bintang memanggilnya "Pak Angkasa". Tapi "Pak Dirut" dengan nada sedingin ini, Angkasa merasa ia jadi orang asing di mata istrinya sendiri.
Percuma Angkasa memaksa Bintang untuk banyak bicara dengannya baru kali ini. Hati Bintang sudah terlanjur beku. Akhirnya Angkasa masuk ke kursi kemudi. Ia menyetir sendiri. Biasanya Bintang di sebelahnya, bergandengan tangan sambil cerita. Hari ini Bintang di belakang, seperti bos dan sopir yang tidak saling kenal. Sepanjang perjalanan 20 menit ke kantor, tidak ada musik. Tidak ada obrolan. Hanya suara AC dan klakson jalanan Surabaya yang macet.
Bintang menatap keluar jendela. Angkasa beberapa kali melirik dari spion tengah, mencari celah.
"Soal Damar tadi—" Angkasa mencoba membuka suara.
"Soal Damar sudah selesai. Damar sudah ketemu ayahnya. Saya sudah tidak ada kepentingan di sana," potong Bintang cepat.
"Damar itu anak kecil, Tang. Dia belum ngerti silsilah perkawinan. Menurutnya laki-laki yang bersama ibunya ya... ayah." Angkasa membela diri.
Bintang akhirnya menatap spion, menatap mata Angkasa balik.
“Damar memang anak kecil tapi kalian orang dewasa yang sangat salah jika menormalisasikan hal itu." Satu kalimat.
Telak.
Mobil kembali hening. Angkasa tidak berminat melanjutkan obrolan mereka yang menurutnya bisa jadi kembang api. Bisa meledak kapan saja. Ia memilih diam dan fokus menyetir.
Ruang meeting bidang sudah penuh. Semua manager menunggu.
Ketika pintu terbuka, semua berdiri. Angkasa masuk dengan kemeja yang masih kusut karena buru-buru sekali. Di belakangnya, Bintang masuk dengan blazer rapi, membawa laptop dan map coklat, wajahnya profesional tanpa cela.
"Selamat pagi, Pak Dirut, Bu Sekretaris," sapa semua staf.Bintang mengangguk.
"Pagi. Kita mulai. Pak Dirut ada 30 menit karena setelah ini ada meeting dengan investor." Selama meeting, Bintang benar-benar berubah menjadi sekretaris paling profesional di dunia. Ia tidak menatap Angkasa sebagai suami. Ia menatap Angkasa sebagai atasan yang harus ia laporkan.
"Pak Dirut, laporan keuangan Q2 sudah saya kirim tadi pagi jam 5. Sudah dibaca?" tanya Bintang. Angkasa yang semalaman tidak tidur, di RS jelas belum baca.
"Belum sempat, Tang. Eh, Bu Bintang," jawabnya agak terbata.
"Baik. Saya ringkas. Penurunan 3% karena biaya operasional RS—" Bintang sengaja menekankan kata RS. Beberapa manager saling lirik.
"Eh maksud saya, biaya operasional cabang Sidoarjo," ralat Bintang cepat, tapi semua orang sudah menangkap jika pasangan suami istri ini sedang tidak baik-baik saja.
Meeting berjalan tegang. Angkasa beberapa kali salah jawab karena tidak fokus. Bintang beberapa kali mengoreksi dengan data yang tajam dan dingin. Selesai meeting, semua keluar. Tinggal Angkasa dan Bintang di ruangan.
Pintu tertutup.
"Bintang, kamu kenapa sih?" Angkasa akhirnya meledak pelan.
"Kamu sengaja permaluin aku di depan staf?" Bintang menutup laptopnya pelan. Ia berdiri, merapikan blazer.
"Saya tidak permaluin Bapak, Pak Dirut. Saya cuma melakukan pekerjaan saya. Sebagai sekretaris, tugas saya mengingatkan atasan yang lupa baca laporan karena semalaman jaga anak orang lain."
"Dia bukan anak orang lain! Dia anak Samudra!"
"Oh iya maaf lupa. Anak kalian," jawabnya setengah menertawakan.
Senyum yang lebih menyakitkan daripada makian.
"Gak gitu konsepnya, Tang."
"Terserah. Izin pamit Pak Dirut. Rapat sudah selesai dan saya gak sempat sarapan tadi pagi. Demi cepat mengantarkan pakaian untuk suami saya tercinta." Bintang dengan cueknya meninggalkan Angkasa yang pikirannya sudah macam-macam.
Kalimat terakhirnya sarkas, tapi jujur. Ia memang belum sarapan karena sibuk mengurus suaminya.
"Kamu kira aku sudah sarapan?" Setengah berteriak Angkasa mengejar Bintang tanpa peduli mungkin ada beberapa mata staf yang melihat interaksi mereka.
Di depan pintu pantry, Bintang berbalik sebentar. Jari telunjuknya di bibir.
"Stt... jangan berisik. Ini kantor. Bapak Dirut harus jaga wibawa." Lalu tetap pergi meninggalkan Angkasa yang masih berharap Bintang membenarkan apa yang sudah ia lakukan.
Tapi Bintang tidak menoleh lagi. Langkahnya tetap tegap, tetap anggun, bahkan saat hatinya remuk.
Bersambung...
bagus Tang......biarkan angkasa merasakan kesendiriaannya tanpa bintang......masihkah Bintang diperlukan atau semakin bebas dengan para wanitanya......