NovelToon NovelToon
ASMARA DI HATIKU

ASMARA DI HATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"

Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.

Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.

Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.

PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 BULAN YANG BERANI MENIRU MATAHARI

Minggu pertama Ujian Tengah Semester di SMA Budi Bangsa berjalan layaknya mesin penggiling waktu yang bergerak monoton.

Suasana sekolah yang biasanya diwarnai oleh tawa, canda, dan kegiatan ekstrakurikuler di sore hari, kini digantikan oleh keheningan lorong, wajah-wajah tegang, serta aroma khas dari tinta pulpen, serutan pensil dua-B, dan lembar jawaban.

Di dalam kelas XI IPS 2, susunan meja yang dipisah satu-satu untuk ujian menjadi bukti fisik dari jarak yang kini membentang antara Asmara Putri dan Wira Aji Pratama.

Asmara duduk di barisan kedua, sementara Wira berada di barisan keempat, tepat di sudut belakang kelas dekat jendela.

Jarak fisik itu mungkin hanya terpaut beberapa meter, namun bagi Asmara, rasanya seolah mereka sedang duduk di dua benua yang berbeda.

Selama tujuh hari penuh, Asmara telah mencoba segala cara yang ia tahu untuk merobohkan dinding es yang dibangun pemuda itu.

Segala cara yang elegan dari sang Bulan Abdi Dalem Keraton, tentu saja.

.....

.....

Pada hari Senin...

Setelah ujian mata pelajaran Geografi yang menguras otak selesai, Asmara sengaja memperlambat langkahnya saat keluar kelas, berharap bisa berjalan bersisian dengan Wira di koridor. Ia sudah menyiapkan topik obrolan ringan tentang salah satu soal Geografi yang cukup menjebak.

Namun, ketika Wira menyadari Asmara berada di dekatnya, pemuda itu langsung menghentikan langkahnya. Ia menepi ke dinding koridor, menundukkan kepalanya sekilas, dan berkata, "Silakan jalan duluan, Asmara. Saya mau ke toilet." Nada suaranya begitu kaku, begitu profesional, tanpa sedikit pun celah untuk ditimpali.

.....

.....

Pada hari Rabu, Asmara mencoba lagi.

Saat jam istirahat antar ujian, ia melihat Wira sedang duduk sendirian di bangku taman sekolah, memakan sepotong roti tawar dalam diam dan keheningannya sendiri.

Asmara memberanikan diri mendekat, membawa buku catatan Sosiologi miliknya yang terkenal sangat lengkap.

"Mas Wira, ini catatan Sosiologi saya. Bab tentang Interaksi Sosial ada rangkuman di halaman belakang. Mungkin Mas mau pinjam untuk dibaca sebelum bel masuk?" tawar Asmara sambil menyodorkan buku bersampul biru tersebut, diiringi senyum paling ramah yang bisa ia berikan.

Wira menatap buku itu sejenak, lalu menatap Asmara.

Mata elang yang dulu selalu memancarkan percikan api provokasi itu kini tampak sekelam langit mendung.

"Terima kasih atas tawarannya, Asmara," tolak Wira dengan artikulasi bahasa Indonesia yang sangat sempurna, persis seperti seorang bawahan yang menolak tawaran atasannya dengan sopan.

"Tapi saya sudah merangkumnya sendiri semalam. Silakan dipakai untuk belajar teman-teman yang lain saja. Permisi, saya mau kembali ke kelas."

Pemuda itu berdiri, membuang bungkus rotinya ke tempat sampah, lalu berlalu pergi tanpa menoleh lagi.

Penolakan demi penolakan halus itu menghantam Asmara lebih keras dari tamparan fisik.

Wira benar-benar telah menjadikan unggah-ungguh dan kesopanan sebagai perisai terkuatnya.

Pemuda itu benar-benar mematuhi semua aturan, ia tidak lagi mengganggu, ia tidak lagi memanggil Asmara dengan sebutan 'lo-gue', dan ia tidak pernah lagi menaikkan nada suaranya.

Sang preman dari Bogor itu telah menjelma menjadi murid teladan yang kaku bak robot tanpa nyawa.

Dan Asmara membencinya. Ia sangat membencinya hingga rasanya ingin menangis.

.....

.....

Di malam-malam yang sepi selama minggu pertama UTS itu, Asmara sering termenung di meja belajarnya, memandangi lencana OSIS-nya.

Pikiran dan nuraninya berperang hebat. Ia mulai menyadari sebuah kebenaran filosofis yang menohok batinnya.

Selama ini...

Asmara selalu menganggap bahwa kedamaian, ketenangan, dan kepatuhan pada aturan adalah puncak dari kebaikan. Ia ingin Wira tunduk pada aturan Jogja. Ia ingin Wira berbicara dengan sopan. Ia ingin Wira menjadi seperti dirinya.

Namun kini...

Asmara benar-benar memahami bahwa Wira tetaplah Wira.

Sama seperti air yang tak bisa dipaksa menjadi api, Sang Matahari tidak bisa dipaksa untuk meredup dan menjadi Sang Bulan.

Memaksa Wira untuk mematikan sifat liar, spontan, dan begajulannya sama saja dengan mencabut paksa akar kehidupan pemuda itu.

Asmara menyadari bahwa dalam usahanya untuk "memperbaiki" Wira, ia secara tidak sadar telah bertindak egois. Ia memaksa Wira masuk ke dalam cetakan yang bukan miliknya, hingga jiwa pemuda itu hancur dan mati rasa.

"Aku merindukannya," batin Asmara suatu malam, membiarkan air matanya menetes di atas buku catatannya.

"Aku merindukan tawa sombongnya. Aku merindukan caranya menggebrak meja. Aku merindukan Wira yang hidup, bukan Wira yang patuh."

Asmara menemui jalan buntu.

Pendekatan ramahnya tidak mempan.

Kesopanannya dibalas dengan kesopanan yang lebih dingin.

Jika ia terus menggunakan cara-cara yang "wajar" dan "beradab", Wira tidak akan pernah kembali.

Pemuda itu akan terus bersembunyi di balik cangkang kepatuhannya hingga lulus nanti, dan mereka akan selamanya menjadi dua orang asing yang kebetulan duduk di kelas yang sama.

Asmara tidak ingin menyerah. Ia menolak untuk menyerah pada kekosongan ini.

Jika sang matahari menolak untuk bangkit karena terhalang oleh awan mendung, maka sang bulan lah yang harus berani turun dari langit malam, menerobos awan itu, dan menariknya kembali.

Dan jika bahasa kesopanan tidak lagi bisa menembus pertahanan Wira, maka Asmara harus berani mempelajari dan menggunakan bahasa yang dipahami oleh pemuda itu.

.....

.....

Hari-hari UTS terus bergulir.

Masuk ke minggu kedua, wajah-wajah kelelahan mulai terlihat jelas di antara para siswa. Kantung mata yang menghitam dan bahu yang merosot menjadi pemandangan biasa di kelas XI IPS 2.

Bagi Wira, kelelahan fisik itu tak seberapa dibandingkan dengan kekosongan di dalam dadanya. Ia terus menjalankan perannya dengan sempurna.

Ia datang, mengerjakan ujian, menolak setiap interaksi yang tidak perlu, dan pulang. Ia merasa aman di balik benteng kedinginannya. Dengan tidak membiarkan siapa pun masuk, terutama Asmara, ia tidak perlu lagi merasa sakit atau merasa dihakimi. Ia hanya perlu bertahan.

Hingga akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh murid SMA Budi Bangsa pun tiba.

Jumat. Hari terakhir Ujian Tengah Semester.

.....

.....

Pukul tiga sore....

Bel panjang berbunyi tiga kali dengan nada yang terasa jauh lebih merdu dari biasanya. Suara guru pengawas yang mengumumkan bahwa waktu ujian telah habis langsung disambut dengan helaan napas lega yang serempak dari tiga puluh siswa di dalam kelas XI IPS 2.

"Alhamdulillah! Bebas!" teriak salah satu siswa laki-laki dari barisan belakang, disusul oleh tawa lepas dan sorak-sorai tertahan dari murid lainnya.

"Akhirnya kelar juga penderitaan ini!" sahut Dinda sambil meregangkan kedua lengannya ke udara. "Nis, Ra, sore ini kita wajib makan mie ayam di pojok alun-alun. Otakku butuh MSG setelah dihajar soal Ekonomi tadi!"

Suasana kelas yang tadinya setegang ruang operasi kini berubah menjadi pasar malam yang riuh.

Anak-anak mulai mengemasi alat tulis mereka. Beberapa berkumpul di depan kelas untuk mencocokkan jawaban, sementara yang lain mulai menyusun rencana akhir pekan. Suara kursi yang digeser, tawa yang meledak, dan obrolan yang bersahut-sahutan memenuhi udara.

Di sudut belakang, Wira Aji Pratama sama sekali tidak terpengaruh oleh euforia tersebut.

Pemuda itu tetap tenang, wajahnya datar.

Dengan gerakan mekanis, ia memasukkan tempat pensil dan papan ujiannya ke dalam tas ransel. Ia menarik resleting tasnya, mencangklongkannya di sebelah bahu, lalu berdiri.

Wira menatap sekilas ke arah kerumunan teman-temannya. Danang yang sedang tertawa bersama beberapa anak laki-laki sempat menoleh dan melambaikan tangan ke arah Wira.

"Wira! Nongkrong dulu nggak di warung depan? Ngerayain kelar UTS nih!" ajak Danang dengan suara lantang.

"Duluan aja, Nang. Saya mau langsung pulang," jawab Wira sopan, mengangkat tangannya sekilas.

Ia mulai melangkah menyusuri lorong antar meja, menuju pintu keluar yang berada di bagian depan kelas.

Untuk bisa keluar, ia harus melewati barisan tempat Asmara duduk.

Di barisan kedua, Asmara sedang duduk mematung.

Jantungnya berdetak dengan kecepatan yang tak masuk akal, memompa darah ke seluruh tubuhnya hingga telinganya terasa panas. Tangan gadis itu mengepal erat di atas meja, menyembunyikan getaran yang tak bisa ia kendalikan.

Asmara melihat Wira berjalan mendekat dari arah belakang. Pemuda itu berjalan dengan pandangan lurus ke arah pintu. Sama seperti hari-hari sebelumnya, Wira bersiap untuk lewat begitu saja, berniat menghilang seperti bayangan yang tak meninggalkan jejak.

Asmara memejamkan matanya selama beberapa detik. Ia menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan keberanian yang belum pernah ia gunakan seumur hidupnya.

Seluruh aturan tentang tata krama keraton, tentang keanggunan seorang perempuan abdi dalem Jogja, tentang volume suara yang harus selalu dijaga rendah, semua itu ia kumpulkan lalu ia buang jauh-jauh dari kepalanya saat itu juga.

Ini adalah kesempatan terakhirnya.

Kelas belum sepenuhnya sepi, masih ada sekitar lima belas anak yang sedang mengobrol.

Jika ia tidak bertindak sekarang, Wira akan benar-benar pergi.

Tepat saat Wira melangkah melewati mejanya, Asmara berdiri dengan kasar.

Kursi kayunya bergeser mundur dan berdecit nyaring bergesekan dengan lantai kelas.

"Wira!"

Panggilan itu meluncur dari mulut Asmara.

Bukan "Mas Wira". Bukan dengan nada lembut yang mengalun. Panggilan itu disuarakan dengan intonasi yang tajam, keras, dan penuh dengan penekanan yang berani, membelah kebisingan kelas seketika.

Suara obrolan di kelas XI IPS 2 mendadak senyap. Tawa Danang terputus di udara. Nisa dan Dinda yang sedang bergosip di meja sebelah langsung menoleh dengan mata membelalak lebar, tak percaya dengan apa yang baru saja menyapa indra pendengaran mereka.

Sang ketua OSIS yang terkenal akan kelembutannya, baru saja berteriak memanggil nama seorang siswa laki-laki tanpa embel-embel kesopanan???

Langkah Wira terhenti mendadak, seolah sol sepatunya baru saja dipaku ke lantai kelas.

Tubuh pemuda itu menegang. Ia memutar kepalanya perlahan, menatap Asmara dengan kening berkerut dalam, matanya menyiratkan kebingungan yang nyata.

Asmara tidak menyia-nyiakan momen itu.

Ia melangkah keluar dari bangkunya, menghampiri Wira hingga jarak mereka hanya tersisa setengah meter.

Tanpa ragu, Asmara melipat kedua tangannya di depan dada—sebuah gestur menantang yang sangat identik dengan gaya Wira saat pemuda itu sedang marah.

"Kamu..." Wira membuka mulutnya, suaranya sedikit goyah karena terkejut. "Ada apa, Asmara? Ada yang—"

"Gue belum selesai urusan sama lo!" potong Asmara cepat.

DEGGG!!!

Satu kelas seolah lupa cara bernapas.

Danang sampai menjatuhkan buku dari tangannya.

Nisa menutup mulutnya dengan kedua tangan, shock setengah mati.

Kata ganti 'gue' dan 'lo' baru saja keluar dari bibir seorang Asmara Putri???

Putri abdi dalem yang bahkan saat marah pun masih menggunakan bahasa Indonesia baku yang sangat tertata rapi???

Wira sendiri terlihat seperti baru saja dihantam petir di siang bolong. Mata elangnya melebar maksimal.

Topeng kedinginan dan profesionalisme yang ia bangun selama berminggu-minggu itu retak seketika, memperlihatkan ekspresi terkejut yang benar-benar telanjang.

"H-hah?" Wira tergagap, mundur satu langkah kecil tanpa sadar. "Kamu... kamu ngomong apa barusan?"

Logat santai dan bahasa pergaulan Bogor itu terasa asing, aneh, dan sedikit kaku saat diucapkan oleh lidah Jawanya, namun Asmara menolak untuk mundur.

Ia menatap lurus tepat menembus pertahanan mata Wira, membiarkan seluruh frustrasi, kehilangan, dan kerinduannya meledak keluar.

"Lo denger gue, Wira Aji Pratama," ucap Asmara, suaranya kini sedikit bergetar oleh luapan emosi, namun ia terus menaikkan volumenya agar pemuda itu tidak bisa lagi lari darinya.

"Lo pikir, lo bisa cabut gitu aja setelah nyuekin gue berminggu-minggu? Lo pikir, gaya lo yang sok sopan, sok patuh, dan sok kaku kayak robot nggak punya nyawa ini keren? Nggak! Gue muak lihat lo kayak gini!"

Wira membeku.

Tas ranselnya perlahan merosot turun dari bahunya, namun ia bahkan tidak menyadarinya. Seluruh fokusnya tersedot pada gadis di hadapannya yang kini terlihat seperti versi cermin dari dirinya sendiri.

"Ra... K-k-kamu kenapa?" tanya Wira parau, pertahanan formalitasnya mulai runtuh perlahan.

"Gue kenapa? Harusnya gue yang nanya, lo kenapa?!" balas Asmara, matanya kini mulai memanas dan berkaca-kaca, namun ia tetap mendongak menantang.

"Lo sengaja kan? Lo sengaja ngehukum gue pakai cara ini? Lo sengaja pakai aturan dan kesopanan yang gue bangga-banggain buat bikin gue ngerasa bersalah? Iya kan?!"

"Asmara, aku..." Wira kehilangan kata-kata.

Ia melihat air mata yang menggenang di pelupuk mata gadis itu, dan untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, dinding es di dalam dada Wira mencair, digantikan oleh rasa panik yang meronta-ronta.

"Gue kangen elo yang asli, Wir!" seru Asmara, suaranya kini pecah, namun kejujurannya menggema di seluruh ruang kelas yang sunyi senyap.

Kata 'Wir', tanpa panggilan 'Mas', meluncur begitu saja.

"Gue kangen Wira yang berisik! Gue kangen Wira yang suka gebrak meja! Gue kangen sama gaya lo yang tengil, yang angkuh, yang selalu berusaha bikin gue jengkel tiap sore di Ruang Budaya!" lanjut Asmara, menumpahkan segala bebannya.

"Lo itu matahari, Wir! Lo panas, lo berisik, dan lo liar! Lo tetaplah Wira dari Bogor! Jangan pura-pura jadi orang lain, jangan matiin jiwa lo sendiri cuma karena aturan konyol di kota ini, atau... atau cuma karena tekanan dari gue!"

Napas Asmara memburu setelah meneriakkan semua itu.

Dadanya naik turun dengan cepat. Wajah kuning langsatnya memerah padam. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya menetes membasahi pipinya, namun ia tidak menghapusnya. Ia membiarkan Wira melihat keruntuhannya. Ia membiarkan Wira melihat bahwa demi mengembalikan sang matahari, ia rela membakar dirinya sendiri.

Di sekeliling mereka, belasan pasang mata teman-teman sekelasnya menatap adegan itu dengan rahang yang nyaris jatuh ke lantai.

Sebuah keajaiban dunia baru saja terjadi.

Sang ketua OSIS yang terkenal tak pernah marah, baru saja mengamuk menggunakan bahasa begajulan khas anak Bogor itu.

Sementara itu, Wira Aji Pratama berdiri tak berdaya di hadapan Asmara.

Otak pemuda itu terasa berhenti berfungsi. Matanya terpaku pada wajah Asmara yang berlinang air mata, namun memancarkan keberanian yang luar biasa gila.

Semua yang diucapkan gadis itu...

Asmara meniru gaya bahasanya.

Asmara mendobrak harga dirinya.

Asmara merelakan reputasinya di depan teman-teman kelasnya.

Hanya untuk... menerobos masuk ke dalam benteng kekosongannya???

Rasa sakit, kehampaan, dan kesepian yang selama tiga minggu ini membekukan jiwa Wira, mendadak hancur berkeping-keping.

Tembok beton tak kasat mata itu runtuh tanpa sisa.

Wira menatap Asmara dengan pandangan yang perlahan berubah. Sorot mata yang tadinya kosong dan mati itu, kini kembali menyala. Percikan kehidupan kembali memercik di dalam sana.

Sudut bibir pemuda itu perlahan-lahan mulai berkedut, menahan gejolak emosi yang meledak-ledak di dalam dadanya.

Lalu, di tengah keterkejutan seisi kelas, Wira menundukkan wajahnya, dan sebuah tawa kecil yang parau lolos dari tenggorokannya.

"Hehe... Hehehe... Hehehehe..."

Tawa itu perlahan membesar, berubah menjadi kekehan panjang yang sangat lepas, sangat nyata, dan dipenuhi oleh rasa lega yang tak terlukiskan.

"HEHEHE... AHAHAHA... HAHAHAHAHAHAHA..."

Wira mengusap wajahnya yang tiba-tiba memerah karena tawa sekaligus haru, lalu ia mengusap tengkuknya—gestur khas Wira yang arogan namun salah tingkah telah kembali.

Ia mengangkat wajahnya, menatap Asmara dengan sepasang mata elang yang kini kembali bersinar terang, lengkap dengan senyum miring andalannya yang selama berminggu-minggu ini hilang.

"Bahasa lo... kaku banget sumpah, Ra!" ucap Wira dengan suara aslinya yang berat, santai, dan penuh dengan kejahilan yang merindukan. "Ngomong 'lo-gue' tapi intonasinya masih medok Jawa gitu? Hah? Aneh denger lo sok preman kayak gini, tau lo?!"

Asmara tersentak. Ia mengusap air matanya dengan kasar, sedikit terhina oleh tawa pemuda itu, meski jauh di lubuk hatinya ia merasa lega luar biasa mendengar suara asli Wira kembali.

"Gue lagi marah sama lo, jangan diketawain!" protes Asmara, kembali menggunakan bahasanya yang belepotan itu.

Wira melangkah maju satu tindak, memangkas sisa jarak di antara mereka, tak lagi peduli pada aturan atau profesionalisme kaku yang mengikatnya selama ini.

Ia menunduk sedikit...

Menatap langsung ke dalam mata teduh Asmara dengan tatapan yang sangat dalam dan mengunci.

"Iya, iya, gue tahu lo marah," jawab Wira lembut, namun dengan gaya santainya. Senyum di bibirnya tak mau luntur. "Tapi makasih, Ra... Makasih udah berani jadi 'preman' buat narik gue balik."

Wira merunduk sedikit lebih rendah...

Memiringkan kepalanya agar wajahnya sejajar dengan Asmara.

"Dan karena lo udah bilang kangen sama gue yang tengil..." Wira menyeringai lebar, sebuah senyuman nakal yang membuat jantung Asmara seketika berdebar sepuluh kali lipat lebih cepat. "...jangan nyesel ya, kalau mulai Senin besok, hidup lo bakal berisik lagi gara-gara gue!"

Di tengah sore hari yang diwarnai tatapan shock seluruh teman sekelas...

Sang Bulan akhirnya berhasil menggunakan bahasa liar Sang Matahari untuk menghidupkannya kembali.

Dan Asmara tahu, mulai detik ini, ritme hidupnya di Jogja tak akan pernah lagi sama.

Dan...

Asmara sangat menantikannya.

1
Kesya Ohilitean
aku senang sekali kerana novel mau membantu aku untuk mehilakan sertes
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih banyak, Kak Kesya... 😍😍😍

Semoga Kakak selalu sehat, ya... Selalu bahagia juga buat Kak Kesya... 😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!