DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Festival Sekolah dan Pengawalan Ketat
Atmosfer SMA Nusa Bangsa hari itu berubah meriah. Panggung megah, stan makanan, dan dekorasi warna-warni memenuhi seluruh penjuru sekolah dalam rangka Festival Tahunan. Namun, bagi Aira, keriuhan ini justru menjadi beban tersendiri karena kelas 12 IPS 2 mendapat tugas mengelola stan rumah hantu dan kedai minuman.
Sejak pagi, Aira sibuk memotong buah dan menyiapkan es sirup di belakang meja stan.
"Aira, tuang es batu ini ke wadah besar!" perintah Vino yang berdiri di samping meja seraya melipat lengan kemejanya hingga ke siku.
Aira menghela napas pelan, meraih kantong es yang cukup berat. "Iya, Vin..."
Sebelum jemari Aira sempat mengangkat kantong itu, Vino sudah menyambar plastiknya lebih dulu.
"Lelet lu. Gue yang tuang," omel Vino ketus, menumpahkan es batu itu ke dalam wadah besar dengan sekali angkat. Vino lalu menyerahkan segelas teh manis dingin yang baru ditariknya dari mesin pendingin ke hadapan Aira. "Nih. Minum. Lu dari pagi belum duduk."
Aira menerima gelas plastik itu dengan dahi berkerut. Tatapannya tertuju pada Vino yang buru-buru memalingkan wajah ke arah deretan pengunjung stan.
Meskipun sejak kejadian insiden binder kemarin suasana di antara mereka sempat memburuk, sikap Vino di festival ini sangat membingungkan. Vino sengaja "menugaskan" Aira untuk terus berada di dalam area stan kelas mereka—tidak mengizinkannya berkeliling sekolah sendirian, tetapi Vino sendiri tidak pernah melangkah lebih dari dua meter dari posisi Aira.
Setiap kali ada cowok dari kelas lain yang mencoba berkenalan atau membeli minuman seraya menggoda Aira, Vino langsung melangkah mendekat, melipat tangan di dada, dan melempar tatapan intimidatif yang membuat para pembeli itu buru-buru pergi setelah membayar.
"Kamu tuh sebenarnya nyuruh aku bantu-bantu, atau cuma mau ngawasi aku sih, Vin?" tanya Aira pelan, keberaniannya akhirnya terkumpul saat stan mulai agak sepi.
Vino berdeham keras, dadanya mendadak terasa makin sesak oleh rasa canggung. "Si—siapa yang ngawasi lu? Gue ketua pelaksana stan kelas! Gue cuma memastikan anak buah gue gak ada yang pemalas!"
"Tapi dari tadi kamu gak izinin aku jalan ke stan lain," gumam Aira menunduk.
Vino terdiam sejenak. Tangannya yang masuk ke saku celana meremas selembar kupon permainan di dalam sana.
"Yaudah," sahut Vino cetus seraya melempar dua lembar kupon ke atas meja. "Gue butuh orang buat bawain hadiah kalau gue menang di stan tembak-tembakan. Lu ikut gue sekarang. Ini perintah."
Di area stan permainan, Vino memegang senapan angin mainan dengan sangat mahir. Dalam lima kali tembakan, ia berhasil menjatuhkan seluruh target kaleng. Petugas stan menyerahkan sebuah boneka beruang berukuran sedang dengan pita merah di lehernya.
Vino menerima boneka empuk itu, lalu memutar badannya dan menjejalkannya kasar ke pelukan Aira.
"Nih, pegang," kata Vino gengsi, wajahnya agak memerah. "Bikin penuh tangan gue aja."
Aira memeluk boneka beruang itu dengan binar mata yang tak bisa dibohongi. "Ini... buat aku?"
"Gue katakan pegang, bukan buat lu!" celoteh Vino cepat, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Tapi kalau lu mau simpan... ya terserah lu. Gue gak sudi bawa boneka begitu di depan umum."
Aira menahan senyum tipisnya. Untuk pertama kalinya di tengah keriuhan festival, rasa hangat yang tulus kembali hadir di dadanya. Perhatian galak Vino yang serba salah ini terasa jauh lebih nyata daripada kebaikan mana pun yang pernah ia rasakan.
Dari balik kerumunan pengunjung festival, Darel berdiri membisu di dekat stan osis.
Mata Darel menatap lurus pada boneka beruang di pelukan Aira dan bagaimana Aira tertawa pelan melihat Vino yang salah tingkah. Cengkeraman tangan Darel pada HT panitia yang dipegangnya mengerat hingga plastik wadahnya berderit keras.
Upayanya memanfaatkan insiden binder tempo hari rupanya tidak cukup untuk menjauhkan Aira dari pengaruh Vino. Darel merapatkan giginya, senyuman manisnya lenyap berganti kegelapan murni.
Kalian pikir bisa bersenang-senang di atas panggung saya? batin Darel tajam.