Kecelakaan tragis menimpanya, dianggap sudah mati. Rinda kembali ke rumah setelah beberapa bulan.
Namun ketika kembali, bukan sebuah sambutan selamat datang, melainkan sebuah pesta pernikahan megah antara suami dan kakaknya.
"Jasad ku tak kau cari, Gani! Dan kalian malah menikah lalu menggelar pesta megah? Ingat, aku masih istrimu, dan aku masih pimpinan TBBA!"
Semua mata menatap Rinda dengan tubuh yang bergetar takut. Seolah dirinya bangkit dari kematian. Tak terkecuali dengan Gani dan Teani
Namun diantara ketakutan semua orang, ada satu orang yang tersenyum atas kembalinya dirinya. Sang asisten pribadi, Jexen. Pria muda itu terus saja tersenyum ke arahnya.
Lalu, apakah Rinda akan bertahan dalam pernikahannya lalu menerima Teani sebagai madunya, atau melepaskannya?
Dan bagaimana reaksi Rinda ketika Jexen mengungkapkan perasaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Hidup 07
"Bu Teani, syukurlah Anda sudah datang. Jadi bagaimana ini Bu, kita rug banyak. Perusahaan itu belum bisa membayar pelunasan karena uangnya dibawa kabur. Dan bukan hanya mandornya saja tapi bagian keuangannya ikut terseret."
Lina, orang yang merupakan bagian keuangan di TBBA langsung datang untuk memberikan laporan tentang kerugian yang dialami TBBA.
Wajah Lina tampak panik, dan juga Pucat. Meski belum tahu berapa kerugian yang dialami tapi Teani sudah merasa bahwa itu tidak akan sedikit.
"Berapa?" tanya Teani tampa basa-basi.
"12,4 Milyar."
Degh!
Teani terhuyung. Bagaimana bisa jumlahnya sebanyak itu? Teani sungguh kebingungan. Dia mengusap wajahnya kasar, Jumlah tersebut sama sekali tak pernah terbayangkan oleh Teani.
"Kenapa bisa sebanyak itu?" tanyanya dengan tubuh yang berkeringat hebat.
"Bahan awal sejumlah 8 milyar kita berikan, dan sisanya untuk biaya akomodasi serta lain-lain. Pihak finance dari kontraktor baru membayar sekitar 2 milyar, lalu sisanya akan diberikan setelah bagi hasil dari perusahaan sudah keluar."
{Guys aku nggak bikin detail untuk masalah ini. Kalau ada yang nggak pas atau nggak sesuai, maaf ya. Karena bukan ini maslaah pokoknya. Makassih}
Masalah ini jelas tidak sederhana. Bahkan kerugian yang dialami mungkin harus sampai menutup salah satu cabang agar aliran dana tetap aman.
"Baiklah, kumpulkan semua kepala bagian, kita akan rapat sekarang juga."
Teani menuju ke ruang rapat, menunggu semua orang untuk datang dan setelah mereka sampai, rapat pun dimulai.
Aina sebenarnya enggan sekali untuk hadir. Terlebih urusan sebelumnya juga belum selesai, dimana dia harus menyelesaikan semuanya sendiri. Lina yang duduk di sebelah Aina pun tahu bahwa Aina sedikit kesal dengan pimpinan baru mereka.
"Tahan ekspresi mu, Aina. Kamu kelihatan sekali kesalnya," bisik Lina tepat di telinga Aina.
"Sangat, kamu tahu kan aku kemarin sampai lembur-lembur dan dia sama sekali tidak peduli. Aku cuma minta dia untuk meninjau sebentar, tapi dia bilang sibuk. Benar-benar membuat kesal," balas Aina.
Lina mengangguk paham. Kepemimpinan Teani memang sedikit berantakan, bahkan wanita itu seolah tidak peduli dengan beberapa pekerjaan yang dianggapnya bukan job deskripsinya. Padahal sebagai pimpinan, dia harusnya memeriksa semua pekerjaan. Terlebih saat ada masalah pada suatu bagian, sudah jadi kewajibannya untuk mengurusnya.
Namun Teani tidak melakukannya. Dia malah menyerahkan semuanya kepada orang yang mengurusnya.
"Baiklah baiklah, aku tahu kamu kesal. Sekarang ayo kita dengarkan kebijakannya," ucap Lina.
Aina mengangguk cepat. Keduanya berteman baik karena sama-sama sudah bekerja di sini dalam waktu yang lama. Dan pergantian pimpinan ini, membuat mereka harus bekerja lebih keras dari sebelumnya.
"Kita baru saja mendengar berita buruk. Tentang kerugian yang dialami pada perusahaan kita. Aku harus mengambil keputusan yang cepat untuk menjaga aliran dana perusahaan tetap stabil, yakni menutup cabang TBBA yang ada di Pekalongan."
Semua mata langsung melihat ke arah Teani. keputusannya dinilai terburu-buru.
Penutupan cabang jelas sebuah jalan keluar yang akan menyisakan banyak buntut panjang.
Cabang ditutup, maka akan ada banyak akibat yang ditimbulkan. Dan yang paling mengkhawatirkan adalah karyawan dari perusahaan tersebut harus dimutasi, atau lebih parahnya dirumahkan.
"Tapi Bu, ini terlalu gegabah," ucap Aina. Dia yang merupakan bagan HRD merasa ikut bertanggungjawab memikirkan nasih para karyawan yang ada di cabang. Pasalnya orang-orang yang bekerja di seluruh cabang adalah hasil dari seleksinya, karena memang penerimaan karyawan dilakukan di kantor pusat.
"Kamu bilang seperti itu, apa kamu punya solusi lain? Atau mungkin kamu punya uang 12,4 M untuk menutup kerugian perusahaan?"
Teani bicara dengan tegas kepada Aina. Dimana membuat Aina langsung terdiam.
Bukan seperti itu yang dia maksud, Aina hanya ingin Teani berpikir lebih matang sebelum mengambil keputusan. Jangan terburu-buru karena banyak akibat yang akan ditimbulkan. Dimana itu tidak sederhana sama sekali.
"baiklah bubar. Lina, siapkan pesangon untuk semua karyawan di cabang Pekalongan. Kita menutup cabang itu beserta semua yang ada di dalamnya."
Tak ada yang bicara lagi. Mereka semua diam, bukan karena takut tapi karena mereka tahu bahwa bicara pun percuma, pasti tidak didengarkan. Buktinya sudah jelas yaitu saat Aina tadi mengemukakan pendapatnya.
Semua orang membubarkan diri. Ketika menuju ke tempatnya masing-masing, Aina kembali menggerutu. Lina mencoba menangkan temannya tersebut.
"Aku rindu Bu Rinda, sungguh," ucap Aina. Air matanya mengalir deras. Kenangannya bersama Rinda kembali muncul.
Rinda tak hanya atasan yang baik, dia adalah pribadi yang baik juga. Meski mereka memiliki keyakinan yang berbeda, tapi Rinda selalu menghormati Aina.
Ketika mereka tengah melakukan pekerjaan di luar dan waktunya sholat, Rinda akan mengingatkan Aina. Dia juga akan menunggu dengan sabar. Maka dari itu Aina sungguh sangat kehilangan Rinda.
"Lin, apa mungkin akan ada keajaiban. Bu Rinda pulang gitu?" ujar Aina.
"Entahlah Aina, aku tak tahu. Cuman kalau boleh bilang, aku pun berharap beliau muncul. Aku punya feeling kalau Bu Teani yang terus memimpin, mungkin TBBA akan runtuh," tukas Lina. Dia berbicara dengan pelan.
Aina juga berpikir demikian. Menurutnya Teani kurang kompeten untuk jadi pemimpin. Jabatan sebelumnya adalah direktur, dimana dia hanya menangani beberapa permasalahan saja dari TBBA. Tak seperti pimpinan yang mengurusi semuanya.
Teani juga lebih suka menghabiskan waktunya untuk kepentingan pribadi. Dan itu tidak berubah. Faktanya, saat perusahaan membutuhkannya untuk melalukan perbaikan, dirinya malah sangat sibuk dengan pernikahannya dengan sang adik ipar.
Ya saat ini Teani malah terlihat jarang berada di perusahaan. Setiap ada yang harus dilaporkan, Teani selalu bilang nanti saja setelah pernikahannya selesai. Bahkan saat mereka datang ke rumah, Teani menolaknya mentah-mentah.
"Jadi kita harus bagaiamna?" ucap salah satu kepala bagian yang pulang tanpa hasil sama sekali.
"Tak tahu lah, pusing sekal aku tuh," jawab yang lainnya.
Sebuah pesan masuk, bukan soal pekerjaan namun sebuah undangan global untuk pesta pernikahan Teani dan Gani.
"Aku semakin tidak tahu, dan pikiran buruk itu terus menggema di kepalaku. Apa mungkin ini adalah rencana Teani?"
"Membunuh Rinda? itu adiknya sendiri?"
"Adik beda ibu."
TBC