Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21.Bersembunyi melakukan perubahan.
Pagi itu, sinar matahari menyelinap masuk melalui celah jendela yang berhias ukiran kayu kuno, menyinari meja panjang di ruang utama tempat pertemuan mereka berlangsung. Li Hua berdiri di peta tempat itu yang digambar di atas kertas lebar, jari telunjuknya menunjuk satu per satu bagian bangunan, sementara Nyonya Li duduk di kursi empuk, menatapnya dengan pandangan yang mulai berubah dari keraguan menjadi rasa ingin tahu yang mendalam.
"Pertama-tama," ucap Li Hua lantang, suaranya tenang namun tegas, "kita ubah suasana. Saat tamu masuk, mereka harus merasa seolah-olah melangkah ke tempat yang berbeda — bukan sekadar rumah hiburan biasa, melainkan dunia yang memikat, tempat di mana setiap sudut menyimpan keindahan yang tak terlupakan."
Nyonya Li menyandarkan punggungnya, memutar cangkir teh di tangannya pelan. "Ubah bagaimana? Tempat ini sudah seperti ini puluhan tahun. Dindingnya tua, kayunya sudah kusam. Apa yang bisa kau ubah?"
"Justru karena kuno, ia punya keunikan," jawab Li Hua sambil tersenyum. "Kita tidak menghapus jejak masa lalu, melainkan menyinari keindahannya. Lihatlah panggung di tengah aula itu — gelap, suram, hanya diterangi dua lilin yang redup. Kita pasang lentera berwarna-warni di sekelilingnya. Bukan lentera biasa, tapi yang warnanya cerah — merah menyala, kuning keemasan, biru jernih, hijau segar. Lalu di bagian atas setiap lentera, kita pasang penutup kayu yang bisa berputar perlahan. Seseorang akan memutarnya dengan tali dari balik tirai, sehingga cahayanya tampak berkedip dan bergantian menyinari panggung, seakan ada bintang-bintang yang turun ke bumi."
Mata Nyonya Li melebar sedikit, ia membayangkan pemandangan itu. "Tanpa menggunakan api yang berlebihan?"
"Tanpa," jawab Li Hua mantap. "Lilin di dalamnya tetap aman, hanya penutup luarnya yang berputar. Cahayanya akan menari di dinding, di lantai, di wajah para penari. Tamu akan merasa seakan berada di tempat ajaib."
Nyonya Li mengangguk pelan, mulai tertarik. "Lalu para penari? Pakaian mereka sudah sopan dan tertutup, seperti yang aku inginkan."
"Dan itulah yang akan kita pertahankan — kesopanan, namun dibalut keanggunan yang memikat," ucap Li Hua sambil melangkah mendekat. "Pakaian yang dulu terlalu kaku dan tebal, kita ubah bahannya menjadi lebih tipis namun tetap tertutup hingga pergelangan kaki. Potongannya ketat namun tidak ketat berlebihan, mengikuti lengkuk tubuh tanpa menampakkan apa yang seharusnya tersembunyi. Saat mereka menari, kain itu akan mengalir lembut, menampakkan gerakan yang indah tanpa harus terbuka. Itu jauh lebih menggoda daripada kulit yang terlihat, Nyonya. Kerinduan yang terjaga jauh lebih kuat daripada kepuasan yang terlihat sekilas."
Nyonya Li tertawa pelan, tawa yang penuh kekaguman. "Kau benar-benar... berbeda. Siapa yang mengajarkanmu hal-hal seperti ini?"
"Dari buku," jawab Li Hua singkat, tidak menjelaskan lebih lanjut. "Selanjutnya, musik. Para pemusik memainkan nada yang sama berulang-ulang, selama bertahun-tahun. Tamu sudah hafal, sudah bosan. Aku akan mengajarkan mereka irama baru — perpaduan nada yang mereka kenal dengan ketukan yang lebih hidup, lebih berirama, membuat siapa pun yang mendengarnya ingin ikut bergerak. Alat musiknya tetap sama — kecapi, seruling, gendang — tapi cara memainkannya akan berubah."
Ia berhenti sejenak, lalu menunjuk ke arah pintu dapur yang terbuka sedikit. "Dan makanan serta minuman. Ini bagian yang paling penting. Tamu bisa melupakan tarian yang indah, tapi mereka tidak akan melupakan rasa yang lezat dan sehat. Saat ini dapurmu hanya menyajikan apa yang mudah dibuat. Kita ubah itu. Kita buat menu baru — hidangan yang tampak indah di piring, rasanya lezat, dan yang paling penting: menyehatkan. Minuman arak kita campur dengan madu, sari buah, bunga-bunga yang harum, sehingga rasanya lebih nikmat dan tidak menyakitkan perut. Dan para gadis... mereka harus makan bergizi, tidur cukup, terawat dengan baik. Gadis yang sehat akan bersinar dari dalam, Nyonya. Itu adalah harta paling berharga di tempat ini."
Nyonya Li berdiri perlahan, berjalan mendekat ke arah Li Hua. Ia menatap gadis itu dari atas ke bawah, lalu tersenyum tulus — senyum yang tidak lagi menyembunyikan keraguan.
"Kau mengatur semuanya dengan begitu rapi," ucapnya pelan. "Seakan kau sudah menjalankan tempat seperti ini seumur hidupmu."
Li Hua tersenyum. "Aku hanya melihat apa yang kurang, dan mencoba melengkapinya."
"Baiklah," Nyonya Li menepuk meja pelan, keputusannya sudah bulat. "Kau akan menjadi pengelola — manajer, sebagaimana kau menyebutnya. Semua orang di sini akan menuruti perintahmu. Mulai hari ini, kita tutup sementara. Aku akan memberitahu tamu-tamuku bahwa besok malam tempat ini akan tampil dengan wajah baru, sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Siapa yang datang, mereka akan terkesan."
"Terima kasih, Nyonya Li," Li Hua membungkuk hormat dengan senyum yang tulus. "Kau tidak akan menyesalinya."
"Semoga begitu," jawab Nyonya Li sambil tersenyum. "Dan panggil saja aku Nyonya Li, tidak perlu terlalu hormat. Kita sekarang rekan bisnis."
Pekerjaan pun dimulai. Siang itu, rumah hiburan yang biasanya ramai dan berisik kini hening, dipenuhi suara langkah kaki yang sibuk, ketukan paku, dan suara kain yang dipotong dan dijahit. Li Hua bergerak ke sana kemari, mengarahkan siapa yang memasang lentera, siapa yang mengatur panggung, siapa yang berlatih musik. Ia mengajarkan para pemusik cara memukul gendang dengan irama yang lebih hidup, melatih para penari mengatur gerakan agar selaras dengan cahaya yang berkedip, memeriksa bahan makanan di dapur dan menuliskan resep-resep baru di atas kertas.
Nyonya Li memperhatikannya dari kejauhan, sesekali tersenyum melihat ketegasan sekaligus kelembutan yang ditunjukkan gadis itu. Ia tidak berteriak, tidak memerintah dengan kasar, namun semua orang mendengarkannya dengan hormat dan rela bekerja keras.
"Li Hua..." panggilnya saat gadis itu berhenti sejenak untuk minum air. "Kau benar-benar berbakat."
Li Hua tersenyum sambil mengelap keringat di keningnya. "Aku hanya tidak ingin gagal, Nyonya. Aku sudah berjanji."
"Dan aku yakin kau akan menepatinya," jawab Nyonya Li lembut.
Sementara itu, di luar tembok tinggi rumah hiburan, suasana begitu berbeda. Para prajurit bayangan bergerak senyap di antara bayang-bayang bangunan, menyusuri lorong-lorong sempit dan gang-gang gelap, bertanya dengan suara rendah kepada siapa pun yang mungkin melihat kereta kotoran itu. Pelayan-pelayan Keluarga Zhang juga berkeliling, wajah mereka cemas, menanyakan nama Nona Kedua kepada penduduk kota, namun tak ada yang melihatnya. Jejak kereta itu hilang di tengah keramaian pasar, seakan lenyap ditelan bumi.
Di kediaman Keluarga Zhang, suasana malam terasa berat dan sunyi. Di kamar yang luas dan diterangi cahaya remang, Shi Yin duduk di depan cermin, menyisir rambutnya yang hitam panjang. Wajahnya memantul jernih di kaca — cantik, tenang, namun di balik ketenangan itu tersembunyi kepuasan yang tak bisa disembunyikan.
"Tanpa saudara kampungan itu, hidup di sini jauh lebih tenang," gumamnya pelan, suaranya penuh kebencian yang tertahan. "Seandainya dia tidak pernah kembali dari desa... untuk apa dia di sini? Tidak ada yang membutuhkannya."
Ia meletakkan sisir perlahan, menatap bayangannya sendiri di cermin, lalu tersenyum dingin.
"Walaupun kau kembali nanti... kau sudah kotor," bisiknya tajam. "Siapa yang tahu apa yang dilakukan orang-orang kepadamu di tempat itu? Kaisar tidak akan memilih wanita yang sudah tidak suci menjadi calon istri Putra Mahkota. Bahkan tidak pantas menjadi pengantin penggantiku yang akan dikirim ke Negeri Tang Liang. Hanya aku — Shi Yin — yang cantik, murni, dan terhormat — yang pantas berdiri di samping Pangeran Jun Yi."
Ia memadamkan lampu minyak di meja rias, berjalan perlahan menuju tempat tidurnya yang empuk dan hangat, lalu menarik selimut hingga ke bahu. Tidurnya tenang, tanpa beban, tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Di kamar yang lain, di ujung lorong yang panjang dan sepi, Nyonya Zhang duduk di tepi tempat tidur, matanya bengkak dan merah. Tuan Zhang berjalan mondar-mandir di ruang tengah, wajahnya tegang, keningnya berkerut dalam.
"Sudah ditanya ke mana-mana?" tanyanya dengan suara berat, berhenti di depan pintu. "Tidak ada kabar sama sekali?"
"Tidak ada, suamiku..." jawab Nyonya Zhang pelan, suaranya bergetar. "Bibi Niang sudah mengirim orang ke setiap gerbang kota, ke setiap penginapan, ke rumah kerabat. Tidak ada yang melihatnya."
Tuan Zhang menghela napas panjang, duduk di kursi kayu yang kokoh, menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Kita tidak bisa tidur tenang, istriku... bagaimana jika kaisar mendengar berita ini? Bagaimana jika ia mengira kita menyembunyikan Li hua dengan sengaja?"
Nyonya Zhang mendekat, meletakkan tangan di bahu suaminya. "Kita jelaskan saja... pasti kaisar akan mengerti..."
"Apakah kau yakin?" Tuan Zhang menoleh, matanya memancarkan ketakutan yang mendalam. "Ini bukan sekadar putri yang hilang, istriku. Ini adalah calon Putri Mahkota yang dipilih sendiri. Jika dia tidak ada saat titah turun... Kaisar bisa menganggap ini pengkhianatan. Bukan hanya keluarga kita yang hancur, bisa-bisa seluruh daerah ini terkena dampaknya."
Nyonya Zhang menahan isak tangisnya. "Li Hua... di mana kau, Nak... pulanglah...ibu harap kamu baik-baik saja."
Mereka tidak tahu, bahwa gadis yang mereka cari bukanlah terbaring lemah dan menangis di suatu tempat yang gelap. Ia justru berdiri tegak, memimpin, bekerja, dan menyusun rencana — bukan hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri, tapi juga untuk mengubah nasib semua orang di sekitarnya. Dan di kejauhan, seseorang tidak berhenti mencarinya, tidak berhenti berharap, tidak berhenti berjanji untuk datang menyelamatkannya.
"Li hua, dimanapun kamu berada aku pasti menemukanmu. " gumam pelan Li yun menatap langit malam disinari bintang di kediaman Li hua.
Malam semakin larut, namun cahaya di rumah hiburan milik Nyonya Li masih menyala terang, lentera-lentera berwarna-warni yang baru dipasang memancarkan cahaya lembut ke arah langit malam, seakan menandakan lahirnya sesuatu yang baru. Besok malam, pintu akan terbuka, dan semua orang akan melihat perubahan itu. Dan Li Hua tahu — ini hanyalah awal.