NovelToon NovelToon
Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Fantasi
Popularitas:424
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.

Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Rasa sakit yang membakar di leher dan tempurung kepalanya membuat Ren jatuh bertumpu pada kedua lututnya di atas lantai besi yang bergetar.

Kedua tangannya mencengkeram kepalanya kuat-kuat, meremas rambutnya yang basah oleh keringat dingin bercampur darah. Dari kedua lubang hidung, sudut mata, dan sela telinganya, darah hangat mengucur lambat menodai kisi-kisi besi di bawahnya. Beban memori dari dua puluh tujuh kematian beruntun dalam pertempuran melawan monster mesin itu menumpuk menjadi badai yang menyiksa jaringan saraf otaknya.

Dua puluh tujuh kali lehernya terpenggal.

Sensasi bilah gergaji baja merobek kulit ari, memotong otot trapesius, dan meremukkan ruas tulang leher ketiga masih terekam utuh dalam ingatan sensoriknya. Ia mengingat dengan jelas bagaimana pandangannya berputar di udara saat kepalanya terlempar dari tubuh, menyaksikan raganya sendiri ambruk menyemburkan darah ke lantai jembatan sebelum kesadarannya ditarik paksa tiga puluh detik ke masa lalu.

Rasa ngilu dari urat leher yang terputus tidak hilang saat waktu diputar balik. Rasa sakit itu bertumpu di korteks otaknya, memicu kejang otot hebat di rahang dan pelipisnya.

Setiap tarikan napas terasa seperti menelan serpihan kaca panas yang menyayat dinding paru-paru.

Penglihatannya bergetar hebat. Roda-roda gigi tembaga raksasa yang berputar lambat di langit-langit bengkel, jembatan besi yang berguncang, dan sosok kolosal sang Algojo di hadapannya tampak berbayang ganda dalam pusaran warna merah pekat yang membingungkan orientasi ruangnya.

Keputusasaan dingin mulai merayap di sudut kesadarannya.

Tubuhnya hanyalah raga fana prajurit jelata yang dipaksa menahan trauma puluhan kematian dalam rentang hitungan menit. Di hadapan golem mesin yang kebal terhadap rasa sakit, tidak membutuhkan tidur, dan tidak memiliki rasa takut, setiap upaya perlawanan terasa seperti membenturkan kepala ke dinding karang cadas.

Jemarinya yang gemetar hebat tak sanggup lagi menggenggam senjata, membiarkan belati taringnya berdenting jatuh ke pelat jembatan.

"Ren! Berdiri, keparat!"

Raungan parau membelah dengingan pekak di telinga Ren.

Sebuah tangan berbalut sarung tinju besi berlumur jelaga mencengkeram kerah bajunya dengan kasar, menyentakkan tubuhnya berdiri tegak di lantai jembatan.

Vargas menatap tajam ke dalam pupil mata Ren yang mulai kehilangan fokus. Darah mengalir dari pelipis sang veteran, mengotori janggut kasarnya, namun rahang pria tua itu mengeras kokoh di balik perisainya yang ringsek.

"Aku tidak peduli hantu apa yang sedang mencekik kepalamu, Bocah!" teriak Vargas seraya menahan hempasan angin dari putaran sabit sang Algojo. Ludah bercampur darah menyembur dari bibirnya yang pecah-pecah. "Kalau kau menyerah di sini, pengorbanan kita sejak Lantai 10 akan berakhir jadi lelucon para bangsawan! Tarik napasmu! Kau yang memandu kami melewati jurang dan rawa beracun, dan kau yang harus memimpin kami keluar dari bengkel terkutuk ini!"

"Kak Ren, awas!" seru Riku dari balik pilar besi seraya melemparkan sepotong pipa bekas ke arah roda penggerak golem untuk memecah perhatian musuh.

Shizuka berlari maju menyongsong bahaya tanpa memedulikan percikan api yang menyembur di sekitarnya. Gadis tabib itu menempelkan kedua telapak tangannya ke pelipis Ren. Cahaya hijau samar memancar dari jemarinya, mengalirkan sisa energi sihir pemulihan untuk meredakan kejang saraf di kepala pemuda itu.

Ia meneteskan cairan ekstrak daun penenang ke lidah Ren yang kelu.

"Tenangkan napasmu, Ren... pusatkan pikiranmu pada suara kami... kau tidak sendirian di tempat ini," bisik Shizuka dengan suara bergetar menahan tangis, jemarinya yang hangat menekan titik saraf di pangkal leher Ren.

Hawa sejuk dari sihir Shizuka meresap ke pembuluh darahnya. Rasa sakit di kepalanya tidak hilang seketika, namun kabut ilusi kematian yang menyiksa perlahan memudar. Kejang di kelopak matanya mereda, dan penglihatannya kembali fokus menatap medan tempur.

Ren menatap wajah Vargas yang berlumuran jelaga, Shizuka yang kelelahan hingga bibirnya membiru, dan Riku yang berdiri tegak membidikkan busurnya meski kakinya terluka.

Ketiga orang ini bertarung murni demi menyambung hidup keluarga mereka. Mereka mempercayakan nyawa mereka pada setiap aba-aba yang ia berikan.

Ren menghembuskan napas panjang, menegakkan bahunya yang kaku, lalu memungut kembali belati taring hitam dari lantai kisi-kisi besi.

"Terima kasih, Paman... Shizuka," bisik Ren pelan, suaranya kembali dingin dan terukur. "Aku sudah melihat seluruh celah putaran mesin itu."

Melalui dua puluh tujuh kegagalan yang dibayar dengan darah, Ren telah merekam seluruh siklus mekanis sang Algojo Ratapan hingga ke pecahan detik terkecil.

Setiap kali golem mesin itu memutar tubuhnya tiga ratus enam puluh derajat untuk menebas, katup pembuangan uap di bagian tulang belakang punggungnya harus membuka selama tepat dua koma lima detik demi membuang kelebihan tekanan panas agar tungku di dadanya tidak meledak.

Celah pelepasan uap di punggung itulah satu-satunya titik tanpa pelindung baja.

"Paman Vargas!" seru Ren memberi instruksi cepat dengan nada tegas. "Begitu sabitnya terangkat untuk menebas, hantamkan sudut bawah perisaimu ke engsel lutut kanannya! Paksa badannya berputar ke kiri!"

"Biar kuhancurkan engsel tembaganya!" sahut Vargas seraya memasang kuda-kuda rendah dengan lutut gemetar.

Sang Algojo melesat maju menyeberangi jembatan dengan raungan uap hidrolik yang memekakkan telinga. Sabit gergajinya terangkat tinggi ke udara, berputar mendesing tajam membelah uap panas, siap menghunjam dalam tebasan vertikal yang mematikan.

Vargas tidak menunggu bilah gergaji menyentuh perisainya dari depan. Sang veteran membanting badannya ke depan, menghantamkan sudut bawah perisai besinya tepat ke engsel tembaga lutut kanan golem dengan seluruh sisa tenaga fisiknya.

Brak!

Engsel hidrolik lutut golem pecah seketika, memuntahkan pelumas hitam ke lantai besi.

Keseimbangan mesin empat meter itu goyah ke samping, memaksa poros pinggangnya berputar seratus delapan puluh derajat untuk menstabilkan berat badannya yang oleng.

Saat punggung golem berputar menghadap mereka, katup pembuangan uap di tulang belakangnya membuka lebar, menyemburkan uap putih mendidih ke udara dengan desisan melengking.

Ren melompat ke atas pipa besi horizontal di samping jembatan, meluncur di udara tepat di belakang punggung sang monster.

Panas dari pipa membakar sol sepatu botnya, namun Ren tidak melambat. Ia menyambar sebatang pipa besi berongga yang patah di dekat kakinya, lalu menghunjamkannya sekuat tenaga ke dalam lubang katup uap yang sedang terbuka.

Kles!

Pipa besi itu menusuk mekanisme katup, mengunci saluran pembuangan panas dari dalam tungku.

Tekanan termal yang terkurung mendadak melonjak tak terkendali di dalam rongga dada golem. Suara derak kasar terdengar saat tekanan uap meremukkan roda-roda gigi internalnya. Percikan api dan asap jelaga hitam menyembur liar dari sela-sela pelat baja.

Putaran sabit gergajinya melambat drastis saat turbin internalnya meledak dari dalam.

Ren mendarat di atas bahu baja monster itu, mencabut belati taringnya dengan pegangan terbalik, lalu menghujamkan bilahnya menembus batu kristal pengendali di celah helm sang Algojo.

Prang!

Kristal pengendali hancur berkeping-keping. Pendar merah darah di celah mata sang Algojo berkedip liar sebelum akhirnya padam total.

Dengan satu letupan uap terakhir yang meremukkan lempengan dadanya, golem raksasa setinggi empat meter itu ambruk menghantam lantai jembatan besi dengan dentuman berat yang mengguncang aula pabrik.

Bilah sabit gergajinya berhenti berputar, dan kepulan asap minyak membubung dari bangkai mesin yang kini teronggok kaku tanpa daya.

Ren melompat turun dari bahu golem, jatuh terduduk di samping perisai Vargas seraya mengatur napasnya yang memburu.

Shizuka segera berlutut di samping Vargas, memeriksa retakan pada pelat bahu dan tulang sang veteran. Gadis itu mengambil bilah besi pipih dari lantai untuk dijadikan bidai darurat, membalutnya rapat dengan kain perban bersih. Vargas hanya mendengus pelan menahan nyeri, menolak memperlihatkan rasa sakit di hadapan anak-anak muda itu.

"Tulangmu hanya retak rambut, Paman, tapi jangan gunakan lengan kiri untuk menahan beban berat selama dua hari," ujar Shizuka seraya mengencangkan ikatan perban.

"Dua hari?" Vargas terkekeh parau seraya meludahkan darah dari bibirnya. "Di menara ini, dua jam tanpa mengangkat tameng saja sudah cukup untuk mengantar kita ke liang lahat. Tapi terima kasih atas balutannya, Gadis kecil."

Sementara itu, Ren menggunakan belatinya untuk mencongkel bola inti tembaga tebal dari dalam tungku dada golem, bersama gulungan rantai gergaji baja hitam yang masih utuh dari bilah sabitnya. Logam liat peninggalan peradaban purba ini memiliki ketahanan panas yang luar biasa. Ren melilitkan sebagian rantai baja hitam itu ke rangka perisai Vargas untuk menutupi bagian pelat yang telah sobek terkikis.

Riku menemukan sebuah tong air pendingin mesin yang masih jernih di dekat pos pengendali jembatan. Remaja itu membasuh wajahnya yang berjelaga, lalu membawakan wadah air kepada Ren dan Vargas.

"Air ini bebas dari bau belerang," kata Riku seraya menyodorkan wadah itu ke tangan Ren.

Air dingin itu membasuh tenggorokan mereka yang kering dan berdebu, melarutkan sisa rasa logam pahit di lidah Ren.

Di hadapan mereka, tangga spiral besi raksasa yang menghubungkan Lantai 12 menuju Lantai 13 membentang kokoh di ujung aula bengkel, menembus kubah langit-langit menuju zona kuil purba di lantai atas.

Ren meneguk sisa air bersih itu, menyeka darah di dagunya, lalu bangkit berdiri dengan tatapan dingin yang mantap. Rasa sakit di lehernya telah menjadi pengingat abadi bahwa hidupnya adalah pinjaman waktu yang harus ia tebus di setiap jengkal pendakian. Bersama ketiga rekannya, ia melangkah mantap menaiki anak tangga besi pertama, meninggalkan bangkai sang Algojo dalam keheningan bengkel purba.

1
Lusiana Dewi ♥
mengerikan
Lusiana Dewi ♥
sungguh kejam 😡
Lusiana Dewi ♥
mengerikan kuku nya besar lemari /Scare/
Lusiana Dewi ♥
kasihan /Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!